Konfirmasi resmi atas wajah di foto dua puluh dua tahun itu datang dari jalur yang paling membosankan dan paling tidak bisa dibantah: arsip kepegawaian.
Mahmud menariknya lewat relnya yang lambat dan sah: permintaan resmi data pejabat dari dua puluh dua tahun lalu, dicocokkan dengan foto kamera Anjani oleh dua orang yang mengenalnya di dua zaman — Jamil dari zaman lapangan, dan seorang pegawai tua kecamatan yang mengenalnya dari zaman kantornya. Dua pengenalan, dua zaman, satu wajah: lelaki berseragam yang berdiri mengawasi patok-patok dicabut itu adalah pejabat perizinan yang sekarang dipanggil untuk klarifikasi, dan namanya, untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, tertulis dalam satu berkas dengan foto yang memotretnya di tempat kejadian.
Dan dengan konfirmasi itu, garis panjangnya berdiri utuh dari hulu ke hilir.
Mahmud membentangkannya di papan pos polisi hutan, untuk Renung dan Jamil, dengan pin-pin kecil yang berdiri seperti titik-titik di peta manusia: wajah di foto dua puluh dua tahun lalu, di pin paling bawah, dengan keterangan staf lapangan kecamatan. Di atasnya, serangkaian posisi yang bergerak naik seiring tahun — dipindah ke kabupaten, naik perizinan, dan setiap kenaikannya dibaca Mahmud dengan pola yang sama: selalu di wilayah yang sama, selalu di sekitar kertas-kertas lahan dan konsesi yang sama, selalu dengan konsesi yang sama berdiri di dekatnya. Dan di pin paling atas, kursi perizinan hari ini — kursi yang dilewati kertas perluasan konsesi, kursi yang menandatangani atau menahan, kursi yang dipanggil untuk klarifikasi oleh berkas yang mereka bangun.
"Satu orang, dua puluh dua tahun, satu garis lurus ke atas," kata Mahmud. "Dan di setiap titik garisnya, konsesi yang sama ada di dekatnya — bukan sebagai lawan, bukan sebagai kawan resmi, melainkan sebagai kepentingan yang selalu berdiri di sisi yang sama dengannya. Jaringan ini tidak mempekerjakannya, Dokter. Jaringan ini membesarkannya, dari lapangan ke kursi, dengan sabar dua puluh dua tahun — dan orang yang dibesarkan jaringan tidak pernah perlu dibayar dengan amplop. Ia dibayar dengan karier, dan karier adalah pembayaran yang tidak pernah bisa difoto di atas meja."
Jamil memandang papan itu lama, dan tangannya bergerak ke foto lama itu, ke wajah muda yang berdiri mengawasi di tepi patok-patok yang dicabut, dan ia berkata dengan suara yang dua puluh dua tahun umurnya:
"Aku melihatnya berdiri di sana, di foto ini, dan aku mengingatnya berdiri di sana di zamannya — muda, berkeringat, selalu ada di mana-mana ada proyek, selalu tersenyum ke orang-orang besar. Dan aku bertanya-tanya selama dua puluh dua tahun apakah dia yang menembak Anjani, atau memerintahkannya, atau hanya berdiri di dekatnya saat itu dijadwalkan." Ia menggeleng pelan. "Dan sekarang aku membaca garisnya di papan ini, dan aku berhenti bertanya-tanya, karena pertanyaannya salah. Bukan dia. Bukan satu orang. Garis inilah yang menembak Anjani — garis yang membesarkan orang-orangnya dari lapangan ke kursi, yang memerlukan patok-patok dicabut, yang memerlukan satu jagawana berhenti memotret. Dia hanya titik di garisnya, Nung. Dan titik-titik tidak menembak. Garis yang menembak, melalui tangan-tangan yang tidak pernah kita kenal namanya."
Setelah itu tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama, dan papan itu berdiri di antara mereka seperti sesuatu yang akhirnya selesai diucapkan.
Mahmud yang membuka suaranya lebih dulu, dengan suara orang yang kembali ke pekerjaan karena pekerjaan adalah satu-satunya cara berdiri di depan papan seperti itu tanpa roboh: "Klarifikasinya dijadwalkan minggu depan. Dia akan datang dengan pengacara, dengan senyum yang sudah dua puluh dua tahun dilatihnya, dengan jawaban-jawaban yang tidak pernah menyentuh garisnya. Dan itu tidak apa-apa. Klarifikasi bukan untuk membuatnya mengaku. Klarifikasi untuk membuatnya bergerak. Orang yang dipanggil mulai menelepon, mulai membakar, mulai memindahkan — dan setiap gerakannya dicatat oleh orang-orang yang sudah menunggu gerakan itu."
Jamil meminta satu hal sebelum mereka bubar malam itu: salinan kecil foto lama itu, untuk dibawa pulang. Bukan untuk bukti — buktinya sudah di berkas, sudah difoto dari semua sisi, sudah aman di tiga tempat. Untuk dirinya, untuk diletakkan di samping dua buku catatan Anjani di rumahnya, supaya tiga benda itu berdiri bersebelahan seperti yang seharusnya sejak dua puluh dua tahun lalu: kamera yang memotretnya, catatan yang menuliskannya, dan foto yang menangkap wajahnya.
"Kalian berdua menunggu garis ini lebih lama dari umur sebagian orang di berkas ini," kata Mahmud, menyerahkan salinan itu dengan dua tangan, dengan cara orang menyerahkan sesuatu yang dihormatinya. "Maka foto ini dibawa pulang oleh orang yang berhak membawanya."
Renung memandangnya dari samping — Jamil dengan foto kecil di tangannya, dengan wajah yang membaca wajah muda di foto itu untuk kesekian kalinya — dan membaca satu hal yang tidak tertulis di papan mana pun: garis dua puluh dua tahun itu tidak hanya berdiri di pin-pin Mahmud. Garis itu berdiri juga di antara dua buku catatan ayahnya, satu kamera dari balik balok, dan satu lelaki tua yang akhirnya boleh membawa pulang sesuatu dari titik temunya — dan semuanya menunjuk ke arah yang sama, ke ujung garis yang masih berdiri tanpa nama di pin paling atas papan itu.
Dan di luar pos polisi hutan, hujan rintik turun ke kawasan — hujan yang biasa, belum hujan besar — dan Renung membaca langitnya seperti membaca kalender: air sedang menghitung mundurnya sendiri di hulu, dengan sabar yang tidak bisa ditawar siapa pun.
Renung menuliskannya malam itu, di bawah papan garis dua puluh dua tahun itu: wajah di foto lama terkonfirmasi resmi, dan garisnya berdiri utuh dari lapangan ke kursi — dan Jamil benar, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menembak ayahku, melainkan garis mana yang menembaknya dan bagaimana garis itu berhenti. Titik-titik akan jatuh satu per satu: Restu sudah, pejabat perizinan dalam proses, Pawang Dulah sudah bernyanyi. Dan garisnya akan berdiri telanjang di ujungnya, di satu nama yang tidak pernah ditulisnya di mana pun, menunggu dibaca oleh orang-orang yang sudah belajar membaca garis.