Telepon itu datang ke nomor pusat di sore yang biasa, dan suaranya adalah suara yang sudah lama mereka tunggu tanpa pernah mengakuinya: suara bandar itu sendiri.
Sari yang mengangkatnya, dan ia menyerahkan gagangnya ke Renung dengan tangan yang berubah warna, dan Renung mengangkatnya dengan satu gerakan kecil yang sudah menjadi kebiasaannya sejak lama: menekan tombol rekam di ponselnya yang diletakkan di samping gagang — pelajaran dari semua yang sudah berjalan, bahwa suara tanpa rekaman adalah suara yang tidak pernah ada.
"Dokter Anjani. Akhirnya kita bicara langsung, setelah sekian lama saling membaca dari jauh."
Suaranya tenang, dan muda secara mengejutkan — bukan suara orang tua yang dibayangkan semua orang tentang bandar yang tidak pernah datang sendiri, melainkan suara lelaki yang mungkin tidak lebih tua dari Renung sendiri, dengan artikulasi orang yang bersekolah dan nada orang yang tidak pernah perlu menaikkan suaranya untuk mendapatkan apa-apa.
"Anda punya nomor pusat ini dan nama saya. Itu berarti Anda juga punya yang lain-lainnya. Saya mendengarkan."
"Langsung dan tidak bertele-tele. Saya suka." Suara itu berhenti sebentar, seperti mempertimbangkan sesuatu. "Maka saya juga langsung, Dokter. Anda sudah memenangkan sungai, dan Anda sudah memenangkan warung, dan Anda sedang memenangkan kertas. Saya membaca semuanya dengan teliti, dan saya menghargai pekerjaan yang teliti. Maka saya menawar sekali, satu kali, terakhir kali, dengan harga yang tidak akan pernah saya tawarkan kepada orang yang tidak teliti: berhenti di sini. Pusat Anda dibiayai penuh — bukan oleh yayasan yang kemarin, oleh sumber yang lebih bersih, dengan kertas yang tidak ada pasal-pasal kecilnya. Kampung Anda dibiarkan damai. Dan Anda menjadi dokter hewan terbaik di kawasan ini, dengan semua yang Anda butuhkan, untuk sisa karier Anda. Harganya satu: Anda berhenti membaca garis yang sedang Anda baca. Berhenti di sungai dan warung yang sudah Anda menangkan, dan biarkan kertas berjalan dengan caranya."
Di sampingnya, Sari berdiri dengan kertas dan pensil yang sudah disiapkannya sejak gagang itu berpindah tangan, menuliskan setiap kalimat dengan huruf-huruf cepat yang tidak lengkap tapi cukup untuk dibaca kembali — pelajaran yang sama dari malam-malam yang sudah berjalan, bahwa dua ingatan lebih kuat dari satu, dan kertas tidak pernah lupa dengan cara yang berbeda dari mesin rekam. Sesekali matanya bertemu mata Renung di atas gagang telepon itu, dan tidak ada kata yang lewat di antara mereka, hanya satu anggukan kecil: aku menuliskannya, lanjutkan.
Di luar, sore berjalan biasa dengan cara yang hampir mengejek: Item berbunyi pendek dari kandangnya, suara beruang yang meminta makan sorenya tepat waktu seolah tidak ada apa pun yang bergerak di dunia; dua sukarelawan bergeser di halaman dengan ember dan pakan; dan dari arah jalan kampung, satu motor lewat dan hilang. Pusat itu berdiri di sorenya yang biasa sementara di gagang teleponnya seorang bandar menawarkan sisa karier dengan harga satu kata — dan Renung membaca kebiasaan sore itu sebagai sesuatu yang justru sedang ditawar: hari-hari biasa ini, ember-ember ini, suara Item ini, kampung yang damai ini, semuanya diletakkan di atas meja oleh suara yang tenang itu sebagai barang yang bisa dibeli, seolah damai adalah sesuatu yang bisa diberikan orang dan bukan sesuatu yang sudah mereka rebut sendiri, warung demi warung, kuitansi demi kuitansi, malam demi malam.
Renung membiarkan satu jeda lewat sebelum menjawab — jeda yang dihitung, bukan jeda yang ragu — karena orang yang menawar dengan matematika umur harus dijawab dengan napas yang tidak terburu-buru, supaya matematikanya sendiri yang terdengar di seberang sana. Dan di dalam jeda itu, rekaman terus berjalan, dan kertas Sari terus terisi, dan tawaran itu tersimpan dari dua arah sekaligus — suara dan tulisan, dua saksi yang tidak bisa disangkal keduanya.
Renung mendengarkannya dengan tangan yang stabil di gagang, dan bertanya satu hal, dengan nada yang sama tenangnya:
"Dan kalau saya menolak harga terakhir itu?"
"Kalau Anda menolak, tidak ada ancaman, Dokter. Ancaman untuk orang-orang kecil. Untuk orang seperti Anda, yang saya baca sudah membangun struktur yang tidak bisa ditembak satu titik, ancaman hanya membuang waktu saya." Suara itu diam sebentar, dan ketika kembali, ada sesuatu di dalamnya yang lebih dingin dan lebih jujur dari semua kalimat sebelumnya: "Yang ada adalah waktu. Saya sudah berdiri di garis ini lebih lama dari yang Anda kira, dan saya akan berdiri lebih lama dari satu berkas, satu kursi perizinan, satu kampung yang berdiri musim ini. Anda bisa memenangkan semua yang Anda menangkan sekarang, dan saya masih akan ada di sini sepuluh tahun dari sekarang, dengan harga yang sama di meja, untuk Anda atau untuk orang yang datang setelah Anda. Jadi pikirkan harga terakhir itu bukan sebagai tawaran, Dokter. Pikirkan sebagai matematika umur: Anda lelah pada akhirnya, dan saya tidak."
Dan Renung menjawabnya dengan kalimat yang sudah ia siapkan sejak malam ia menemukan kamera di balik balok, kalimat yang sudah menunggu di ujung garis dua puluh dua tahun itu:
"Kamera ayahku masih hidup."
Hening di seberang itu panjang sekali — dan dalam keheningan itu, untuk pertama kalinya, suara bandar itu tidak tenang, dan Renung membaca apa yang tidak terbaca dari semua kalimatnya yang rapi: orang itu sudah menghitung berkas, sudah menghitung patok, sudah menghitung kampung — dan tidak menghitung satu kamera film tua dari dua puluh dua tahun lalu yang disembunyikan jagawana di balik balok untuk orang yang benar.
"Baik, Dokter," kata suara itu akhirnya, dan suaranya sudah menjadi suara orang yang menghitung ulang seluruh papan. "Kalau begitu kita membaca matematika umur dengan cara masing-masing. Selamat bekerja."
Telepon ditutup. Dan Renung berdiri dengan gagang di tangannya dan rekaman di ponselnya, di pusat yang sunyi sore itu, dan menulis di buku catatannya dengan tangan yang mantap: Toba turun ke telepon hari ini, dan harganya ditolak, dan rekaman suaranya sudah di tiga tempat. Dia benar tentang satu hal: ini matematika umur. Dan dia salah tentang satu hal yang lebih besar: umurku bukan umurku sendiri. Umurku adalah umur struktur ini — kampung yang berdiri, pembukuan yang tersebar, dan satu kamera dari balik balok yang sudah berumur dua puluh dua tahun dan masih bekerja.