Kasus jagawana Anjani dibuka kembali secara resmi di minggu yang sama, dan pembukaannya bukan upacara — pembukaannya adalah satu ruang sidang kecil di kota kabupaten, dengan dua penyidik dari tingkat yang lebih tinggi dari kabupaten, dengan Jamil bersaksi di dalamnya untuk kedua kalinya, dan dengan dua buku catatan dan satu kamera film tua yang akhirnya duduk di meja resmi negara.
Renung tidak hadir di ruangan itu — ia menunggu di luar, di koridor, dengan tangan yang tidak bisa diam, dan dengan satu hal yang berdenyut di dadanya sepanjang dua jam itu: dua puluh dua tahun, dan meja yang akhirnya benar.
Dua jam itu dihabiskannya dengan cara yang tidak produktif sama sekali dan tidak bisa dihindari: duduk, berdiri, berjalan ke ujung koridor dan kembali, membaca papan pengumuman yang isinya sudah ia hafal di sepuluh menit pertama. Koridor itu koridor gedung pemerintah yang sama di mana-mana — cat hijau pucat sampai setinggi bahu, kursi-kursi kayu yang berderit, kipas angin tua yang berputar dengan suara orang menghela napas — dan Renung membaca setiap detailnya berkali-kali, karena membaca detail adalah satu-satunya cara supaya tangannya tidak mengetuk pintu ruangan itu. Dua kali seorang petugas lewat dengan map di tangannya dan menatapnya sebentar, dan dua kali ia menjawab tatapan itu dengan anggukan kecil orang yang memang berhak berada di sana.
Di tasnya ada satu dari dua buku catatan ayahnya, yang pertama, yang lebih tua, dan akhirnya ia membukanya di kursi koridor itu — halaman-halaman yang sudah dibacanya sampai hafal tapi belum pernah dibacanya di tempat seperti ini. Catatan patroli yang kering, jumlah rusa di denai timur, satu sarang owa di dahan tinggi, harga umpan yang naik di pasar — ayahnya menulis semuanya dengan huruf yang sama rata, halaman demi halaman, tanpa tahu bahwa halaman-halamannya akan dibaca dua puluh dua tahun kemudian di koridor gedung resmi oleh anaknya sendiri, dengan dua penyidik di balik pintu yang sedang membaca halaman-halaman yang sama. Dan di margin satu halaman, kecil sekali, ayahnya menulis satu kalimat yang bukan catatan patroli: hujan tiga hari, sungai naik, dan hutan tidak pernah salah membaca air — hanya orang yang salah.
Renung membacanya sampai huruf-hurufnya berenang, lalu menutup buku itu pelan-pelan dan memegangnya di pangkuan dengan dua tangan, seperti orang memegang sesuatu yang masih hangat. Tidak ada air mata yang jatuh — air mata untuk halaman-halaman itu sudah lama berubah menjadi sesuatu yang lain, menjadi kaki yang terus berjalan.
Pikirannya berjalan ke tempat-tempat yang sudah dijaganya agar tidak berjalan ke sana selama dua jam itu: ke malam yang tidak pernah bisa diingatnya utuh karena umurnya terlalu kecil untuk menyimpan malam; ke dua puluh dua tahun hidup dengan satu kata resmi yang salah menempel di nama ayahnya seperti label di kandang yang keliru isi. Dan sekarang, di balik pintu itu, label itu sedang dilepas dengan cara yang benar, oleh orang-orang yang membaca dengan stempel — dan ia tidak ada di dalam ruangannya. Ia di luar, di koridor, dengan buku catatan di pangkuan, dan itu tempat yang tepat untuknya, karena kesaksian di dalam bukan kesaksiannya. Kesaksian itu milik Jamil dan dua buku catatan dan satu kamera film tua. Tugasnya hanya satu, dan sudah dikerjakannya tanpa tahu sedang mengerjakannya: menjadi anak yang tidak berhenti membaca garis.
Kipas angin itu berputar. Koridor itu panjang. Dan dua jam itu berjalan dengan kecepatan yang hanya dipahami orang yang pernah menunggu pintu.
Jamil keluar dari ruangan itu dengan wajah orang yang sudah menyerahkan beban dua puluh dua tahunnya ke meja yang kuat memikulnya, dan ia menceritakannya di koridor, dengan suara yang lebih ringan dari yang pernah Renung dengar darinya sejak mereka mengenal satu sama lain:
"Mereka membaca catatannya dari halaman pertama sampai margin terakhirnya, dan mereka memotret kamera itu dari semua sisi, dan mereka menanyakan balok itu, dan pos itu, dan malam-malamnya. Dan kemudian mereka bertanya satu hal yang tidak pernah ditanyakan siapa pun kepadaku dalam dua puluh dua tahun: menurutmu, dengan semua yang kau tahu sekarang, siapa yang menembaknya? Dan aku menjawab dengan jawaban yang sudah kutulis dalam kepalaku dua puluh tahun untuk malam ini: aku tidak tahu tangannya, tapi aku tahu garisnya, dan garis itu ada di dua buku catatan ini dan satu foto di kamera ini, dan tugas kalian adalah membaca garisnya, bukan bertanya tangannya kepadaku. Dan penyidik itu menulisnya, Nung. Menulisnya, di kertas resmi, dengan stempel resmi — kasus dibuka kembali, bukan sebagai bunuh diri atau catatan kosong, sebagai pembunuhan yang belum terungkap, dengan garis yang sedang dibaca."
Dua puluh dua tahun, dan catatan resmi yang salah itu akhirnya dibuka kembali dengan nama yang benar: pembunuhan yang belum terungkap.
Dan di koridor itu, Jamil menangis — diam-diam, dengan punggung ke dinding dan tangan menutupi wajahnya, tanpa suara, dengan cara orang tua yang menangis untuk sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan — dan Renung berdiri di sampingnya tanpa menyentuhnya, membiarkannya, karena beberapa beban hanya bisa turun dengan cara itu, di koridor gedung resmi, setelah dua puluh dua tahun.
Dan di perjalanan pulang, di truk yang berguncang di jalan konsesi dengan matahari sore di kaca depan, Jamil berkata satu hal yang dicatat Renung di bukunya malam itu dengan garis bawah dua kali:
"Dia terbuka kembali hari ini, Nung. Kasusnya. Dan aku sudah selesai dengan titik temu itu. Dua puluh dua tahun aku berdiri di titik temu itu setiap malam dalam kepalaku, menunggu orang yang tidak pernah datang — dan hari ini, di ruangan itu, dengan dua buku catatannya di meja dan kasusnya terbuka kembali, aku akhirnya berjalan pulang dari titik temu itu. Ayahmu sudah diantarkan ke meja yang benar. Dan penantian itu, yang paling tua dari semua penantianku, akhirnya boleh berhenti."