LATIHAN-LATIHAN itu berjalan dua minggu sebelum banjir penuh, dan berjalannya tanpa satu pun orang luar yang membacanya sebagai persiapan: dibaca sebagai patroli biasa, sebagai latihan rutin, sebagai kegiatan-kegiatan yang membosankan.
Polisi hutan berlatih di air — perahu-perahu di hulu dan hilir dengan pergerakan yang dibaca orang luar sebagai patroli meningkat di musim hujan, dengan waktu tempuh yang dihitung ke dua tikungan dari dua arah. Balai berlatih di daratan — jalur evakuasi satwa yang dirancang dan diuji dengan dua simulasi kecil yang tercatat sebagai latihan rutin kawasan, dengan kandang-kandang cadangan yang disiapkan di titik-titik aman tanpa satu kata pun tentang untuk apa. Dan kampung berlatih di jembatan-jembatan — jaga malam bergilir yang diperkuat dengan alasan musim dan ancaman yang sudah biasa, dengan kode-kode sederhana yang dipahami semua penjaga tanpa pernah ditulis di mana pun.
Dan Jamil mengajar di tengah semuanya, dengan suara lelaki yang membaca sungai sejak sebelum sebagian besar dari mereka lahir.
Ia mengajar polisi-polisi muda membaca air banjir: bahwa perahu bermuatan bergerak berbeda di air yang naik, lebih berat dan lebih malas, dan membacanya dari bunyi mesin yang lebih dalam. Bahwa antrean perahu di tikungan bergerak seperti rantai — satu berhenti, semua berhenti, dan yang paling belakang tidak pernah tahu mengapa. Dan bahwa orang-orang di perahu di malam banjir bukan pembunuh bayaran yang berdiri tegak — mereka orang-orang yang mengantar barang, dengan senjata yang dipegang untuk menakuti bukan untuk perang, dan satu tembakan ke air dari arah yang benar biasanya cukup untuk membuat mereka mengangkat tangan.
"Kau tidak menyerang perahu-perahu itu seperti menyerang musuh," katanya kepada tim di dua tikungan itu, di latihan terakhir sebelum langit membuka. "Kau menyambutnya seperti menyambut antrean yang sudah terjebak: tutup ujungnya, tutup ekornya, dan biarkan air dan kegelapan yang bekerja. Orang-orang di perahu itu sudah berkali-kali melintasi sungai ini tanpa pernah ditangkap, dan orang yang tidak pernah ditangkap tidak pernah belajar melawan. Mereka belajar kabur, dan kabur di air banjir dengan perahu berat adalah kabur yang paling lambat di dunia. Jangan jadi lebih berani dari yang diperlukan. Jadi lebih sabar dari mereka, dan air akan menyelesaikan sisanya."
Di jembatan-jembatan, latihannya berjalan dengan wajah yang paling biasa dari semuanya, karena di situlah letak kekuatannya: jaga malam bergilir yang diperkuat, dengan alasan musim hujan dan pencurian yang memang selalu naik saat banjir. Pak Lurah Bahrum mengaturnya seperti mengatur jadwal panen — nama-nama diputar supaya tidak ada wajah yang sama dua malam berturut-turut di satu titik, dan kode-kodenya sederhana sampai tidak perlu ditulis: satu kedipan lampu untuk perahu lewat, dua untuk perahu berhenti, dan bunyi kentongan hanya untuk sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada satu pun kata operasi diucapkan di jembatan-jembatan itu. Yang diucapkan hanya jaga malam, dan orang kampung sudah menjaga malam sejak kampung ini berdiri — kali ini saja, matanya dilatih membaca ke satu arah.
Dan Bujang melatih dua hal yang tidak bisa dilatihkan Jamil, karena Jamil tidak pernah berdiri di sisi seberang: cara orang-orang perahu membaca daratan — lampu mana yang biasa dan lampu mana yang membuat mereka curiga, suara apa yang menenangkan dan suara apa yang membuat mereka memutar haluan. "Mereka takut pada dua hal di darat," katanya kepada penjaga-penjaga jembatan. "Lampu yang bergerak dengan tujuan, dan sunyi yang datang terlalu cepat. Maka berjagalah seperti biasa. Mengobrollah, menyalakan rokok, biarkan radio kecil menyala. Jembatan yang hidup adalah jembatan yang tidak dibaca. Jembatan yang diam penuh orang yang menahan napas adalah jembatan yang memberitahu air bahwa malam ini bukan malam biasa."
Dan para penjaga itu berlatih menjadi biasa — latihan yang paling aneh dari semua latihan minggu itu, dan yang paling penting: belajar mengobrol dengan suara yang benar sementara matanya menghitung perahu, belajar tertawa di waktu yang benar sementara tangannya menyiapkan lampu, belajar menjadi jembatan yang hidup di atas air yang sedang dibaca dari dua arah. Itu latihan yang tidak kelihatan dari luar, dan justru karena itu latihan yang paling sulit. Maka mereka berlatih tertawa, dan tertawa yang dilatih adalah tertawa yang paling berat di dunia — tapi di atas air banjir nanti, tertawa itulah yang akan menjaga semuanya tetap tampak biasa.
Dan Renung berlatih dengan caranya sendiri: dengan Sari, dengan kandang-kandang kosong yang disusun di perahu medis dan di titik-titik darat, dengan tas anestesi yang dibongkar dan disusun ulang sampai setiap sumpit dan setiap dosis bisa ditemukan dalam gelap tanpa cahaya, dengan simulasi-simulasi kecil di kandang-kandang pusat — seberapa cepat satu satwa dinilai, ditenangkan, dipindahkan, dicatat, dalam kondisi air dan suara dan gelap yang berubah-ubah.
Dan di malam terakhir latihan, di perahu medis yang bergoyang di tepian dengan hujan rintik mulai turun, Sari berkata satu hal yang dicatat Renung di bukunya:
"Dua tahun aku menunggu pekerjaan seperti ini, Bu. Dua tahun membersihkan kandang dan menghitung dosis dan membaca spesifikasi, dan selalu dengan satu pertanyaan di kepalaku: untuk apa semua ini kalau yang tiba di kandang kita selalu yang sudah terlambat. Besok malam, untuk pertama kalinya, kita menerima yang belum terlambat — yang masih di kandang mereka, masih hidup, masih bisa dipulangkan. Itu yang selalu kumimpikan dari pekerjaan ini, dan besok malam aku berdiri di perahu itu untuk itu."
Renung menuliskannya malam itu, di bawah jadwal-jadwal latihan yang sudah selesai: dua minggu latihan air tanpa satu pun yang membaca, dan semua tiang sudah berdiri di tempatnya masing-masing — polisi di dua tikungan, balai di daratan, kampung di jembatan, dan kami di perahu medis dengan kandang-kandang kosong dan dosis yang bisa ditemukan dalam gelap. Besok langit membuka hujannya tiga hari berturut-turut, dan malam ketiganya adalah malam yang sudah dua puluh tahun disiapkan jaringan itu tanpa pernah tahu bahwa malam itu juga disiapkan untuk mereka.