Telepon kedua itu datang tiga minggu setelah tikungan, dan suaranya adalah suara yang sama — tenang dan muda — tapi dengan sesuatu yang berubah di bawahnya, sesuatu yang dibaca Renung sebelum satu kalimat pun diucapkannya: bukan lagi suara orang yang menawar dari atas, melainkan suara orang yang mengukur dari sebelah.
"Dokter Anjani. Selamat atas tikungannya. Pekerjaan yang rapi, di malam yang dipilih dengan benar."
"Saya mendengarkan."
"Saya tidak menelepon untuk menawar kali ini. Penawaran itu sudah lewat tanggalnya, dan saya tidak pernah menawar dua kali." Suara itu berhenti sebentar, dan ketika kembali, suaranya membawa sesuatu yang mendekati jujur dengan cara yang membuatnya lebih berbahaya dari semua kerapiannya: "Saya menelepon untuk memberi tahu satu hal, dan Anda boleh membacanya sebagai ancaman atau sebagai fakta, dua-duanya benar: Anda menang sungai, Dokter. Sungai bukan segalanya. Saya berdiri di atas tanah yang lebih luas dari sungai, dan tanah itu tidak bisa ditikung dalam satu malam dengan dua perahu dan satu buku besar. Buku itu bisa menyakitkan saya. Buku itu tidak bisa menguburkan saya. Dan harga-harga yang Anda bayar untuk tikungan itu — kampung yang harus dijaga terus, pusat yang harus dipertahankan terus, struktur yang harus dibayar orang-orangnya terus — harga-harga itu berjalan setiap hari, setiap minggu, setiap tahun. Harga saya hanya berjalan sekali. Itu matematika umur yang sudah pernah saya bicarakan, dan matematika itu tidak berubah karena satu malam di tikungan."
Renung mendengarkannya dengan gagang di satu tangan dan ponsel perekam di tangan lain, dan menjawab dengan suara yang setenang suaranya:
"Kau salah hitung satu hal, dan kau sudah salah hitung sejak telepon pertama: harga kami tidak berjalan sendirian. Kampung yang dijaga itu dijaga kampungnya sendiri sekarang, tanpa dibayar. Pusat yang dipertahankan itu dipertahankan oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya karena pekerjaan itu rumah mereka, bukan karena gajinya. Dan struktur yang berdiri di sini tidak dibayar dengan uang — ia dibayar dengan orang-orang yang berdiri karena mereka memilih berdiri, dan orang yang memilih berdiri tidak punya tanggal berhenti di kontraknya. Matematika umurmu benar untuk orang-orang yang dibayar. Tapi tidak satu pun dari kami yang dibayar untuk berdiri di sini. Kami berdiri karena memilih, dan pilihan tidak punya tanggal kedaluwarsa. Itu matematika yang tidak bisa kau masukkan ke buku besarmu, dan itu sebabnya kau akan selalu salah hitung melawan kami."
Hening di seberang itu panjang, dan dalam keheningan itu Renung membaca sesuatu yang belum pernah ia baca di suara bandar itu sebelumnya: bukan kemarahan, bukan perhitungan ulang — sesuatu yang lebih kecil dan lebih jujur dari dua-duanya, sesuatu yang hampir seperti mengakui.
"Kalau begitu kita membaca matematika masing-masing sampai habis waktunya, Dokter," kata suara itu akhirnya. "Sampai bertemu di salah satu halamannya."
Dan telepon itu ditutup, dan tidak pernah ada telepon ketiga.
Untuk waktu yang lama setelah nada putus itu, Renung tidak bergerak dari kursinya.
Di luar jendela kantor kecil pusat, sore turun dengan warna yang sudah mulai jinak — musim hujan yang mundur pelan-pelan, langit yang belajar lagi menjadi biru di sela-sela awannya, dan bunyi hutan yang kembali ke susunannya yang biasa: owa-owa pusat di kandang-kandang pohon berbunyi sekali-sekali ke satu sama lain, Item berdehem di kandang besarnya dengan bunyi orang tua yang menggerutu tanpa marah, dan dari arah dapur kecil, bunyi Sari mencuci tempat-tempat makan dengan irama yang sudah menjadi bagian dari jam-jam sore di tempat itu.
Jamil mengetuk pintu tanpa menunggu jawaban dan berdiri di ambangnya dengan dua cangkir kopi, dan satu pandangan ke wajah Renung cukup untuk membuatnya meletakkan kedua cangkir itu di meja dan duduk tanpa bertanya dulu.
"Dia menelepon lagi," kata Renung akhirnya.
"Kedengarannya dari tadi. Sari membaca punggungmu dari dapur." Jamil mendorong satu cangkir ke seberang meja. "Menawar lagi?"
"Tidak. Mengukur. Dan di akhirnya — pamit, kalau aku membaca suaranya dengan benar." Renung memutar cangkirnya pelan. "Dia bilang kita akan bertemu di salah satu halaman matematika masing-masing. Dan cara ia mengucapkannya bukan cara orang yang sedang menulis halaman baru, Pak Jamil. Cara orang yang sedang menutup buku."
Jamil mengangkat kopinya dan menyesapnya lama, dengan mata yang keluar ke jendela, ke arah kandang-kandang dan hutan di belakangnya. "Bandar yang menutup bukunya masih bandar yang berbahaya. Mungkin paling berbahaya justru di saat itu, karena tidak ada lagi yang dijaganya kecuali dirinya sendiri. Jangan membaca pamit sebagai damai, Nung."
"Tidak kubaca sebagai damai. Kubaca sebagai peta." Renung menatap ponsel perekam di mejanya. "Orang yang pamit selalu memberi tahu ke mana ia pergi, kalau kau mendengarkan bukan kata-katanya tapi arahnya. Dan arahnya bukan ke sungai — sungai sudah ditutupnya sendiri. Arahnya ke tanah yang lebih luas dari sungai, katanya. Ke kertas-kertas. Ke yayasan dan konsesi dan dua puluh dua tahun patok-patok." Ia berhenti sebentar. "Dia baru saja memberi tahu kita di mana dia akan berdiri, Pak Jamil, dengan matematika umurnya sendiri. Dia pikir dia mengukur kita. Dia sedang menunjukkan kakinya."
Jamil memandanginya lama, dan sesuatu yang sangat lama bergerak di wajahnya — sesuatu yang berdiri di antara seorang ayah yang hilang dua puluh dua tahun dan seorang anaknya yang sekarang membaca bandar seperti membaca denai.
"Ayahmu akan mengenali kalimat itu," katanya pelan. "Dia sedang menunjukkan kakinya. Anjani menulis hal yang sama tentang orang-orang patok di bukunya: mereka selalu memberi tahu di mana mereka berdiri, pada akhirnya, karena orang yang menghitung sepanjang hidupnya tidak bisa berhenti menghitung keras-keras."
Renung menuliskannya di buku catatannya malam itu, di bawah rekaman yang sudah disalin ke tiga tempat seperti semua rekaman sebelumnya: telepon kedua datang dan pergi, dan tidak akan ada telepon ketiga — aku membaca itu dari suaranya, dari cara ia berkata sampai bertemu di salah satu halamannya, yang bukan kalimat orang yang masih memiliki banyak halaman. Dia sudah membaca akhir jaringannya sendiri, dan telepon ini bukan ancaman dan bukan penawaran. Telepon ini pamit, dari bandar yang mengakui halaman berikutnya bukan miliknya lagi, dengan matematika umurnya yang salah hitung sejak awal: karena tidak satu pun dari kami yang dibayar untuk berdiri, dan yang tidak dibayar tidak pernah bisa dihentikan gajinya.