Toba akhirnya datang sendiri, dan ia datang persis seperti yang sudah dibaca semua orang yang mempelajarinya: bukan karena dipaksa, melainkan karena matematikanya sendiri yang memanggilnya.
Yayasan itu mulai digeledah resmi dua minggu setelah tikungan — dengan buku besar induk di satu tangan penyidik dan nyanyian perantara di tangan lainnya, dan rekening-rekening yayasan yang ternyata tidak bisa dibersihkan secepat yang dihitungnya. Dan yayasan itu, dari semua bentuk Toba yang berdiri di atas kertas, adalah bentuk yang tidak bisa dipotongnya tanpa memotong seluruh dirinya: di dalamnya mengalir bukan hanya uang sungai, melainkan uang dari usaha-usaha lain yang lebih besar, dari konsesi, dari tempat-tempat yang dia pindahkan ke sana setelah membaca akhir jaringan sungainya. Memotong yayasan berarti membakarnya sendiri di atas kertas. Menyelamatkannya berarti turun sendiri ke kabupaten untuk mengatur pembelaannya — dan pembelaan yayasan yang digeledah tidak bisa diatur dari jauh.
Maka ia turun, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ke wilayah yang dibacanya dari jauh.
Mahmud membaca kedatangannya bukan dari mata — dari gerakan: satu perusahaan pengacara dari kota besar tiba-tiba bergerak ke kabupaten dengan tim penuh, dan tim pengacara sebesar itu tidak bergerak untuk direksi yayasan yang namanya tertulis di kertas. Tim sebesar itu bergerak untuk pemilik yang sebenarnya, dan pemilik yang sebenarnya tidak akan pernah menyerahkan pembelaannya kepada tim yang tidak bisa ia awasi dari dekat.
"Dia sudah di kabupaten ini," kata Mahmud, di pos polisi hutan dengan papan yang sudah berubah dari peta sungai menjadi peta kota. "Bukan di kertas — di tubuh. Dan orang yang turun pertama kali ke wilayah yang dibacanya dari jauh selalu melakukan tiga hal dalam tiga hari pertama: mengamankan orang-orang kertasnya, memindahkan yang bisa dipindahkan, dan menyiapkan jalan keluarnya sebelum membaca bahwa jalan itu diperlukan. Kita tidak menyentuhnya di tiga hal pertama. Kita membacanya, dan membiarkan jaring yang sudah berdiri sejak tikungan bekerja."
Jaring itu sudah berdiri sejak tikungan, disiapkan dengan kesabaran yang sama dengan kesabaran bandarnya: setiap pintu keluar dari kabupaten itu dibaca — bandara kecil di kota seberang, pelabuhan-pelabuhan di dua arah, jalan-jalan darat ke dua kota besar — dengan orang-orang yang tidak terlihat, dengan daftar dari buku besar dan dua nama pelabuhan luar negeri sebagai petanya. Dan di dalam kabupaten itu, orang-orang kertas yayasan mulai digali satu per satu, dan setiap galian yang bergerak ke arahnya dilaporkan ke satu titik, dan titik itu berdiri diam menunggu.
Dan Toba, dalam tiga hari pertamanya di kabupaten, melakukan tiga hal persis seperti yang dibaca Mahmud: mengamankan orang-orang kertasnya dengan pengacara-pengacara besar, memindahkan dua rekening ke bentuk yang baru, dan memesan satu perahu cepat di pelabuhan kecil di arah salah satu nama pelabuhan dari buku besarnya sendiri — nama yang tidak pernah ia tahu sudah terbaca di tangan polisi.
Tiga hari itu adalah tiga hari paling panjang yang pernah dijalani Renung di kota kabupaten itu. Ia menginap di rumah singgah polisi hutan di pinggir kota, dan setiap pagi berjalan ke pos dengan buku catatan di tasnya, dan kamera ayahnya — yang kini disimpan resmi sebagai barang bukti — terasa seperti masih berdiri di pundaknya. Jamil menemaninya, dan Jamil membaca kota kecil itu dengan mata jagawana tua: bukan jalan-jalannya, melainkan iramanya — toko-toko yang buka lebih siang dari biasanya karena pemiliknya berdiri di depan membicarakan satu hal yang sama, warung-warung yang penuh dengan satu topik, dan satu rumah makan terbaik di kota itu yang tiba-tiba penuh dengan wajah-wajah kota besar yang tidak pernah tersenyum.
"Satu kota kecil ini membaca mereka semua, Nung," kata Jamil, di pagi kedua, dengan kopi yang sudah dingin di tangannya. "Orang sebesar itu tidak bisa turun ke kota sekecil ini tanpa dibaca. Warung sudah membaca pengacaranya. Pelabuhan sudah membaca perahu cepatnya. Dan orang yang dibaca semua orang sudah kehilangan satu-satunya bentengnya — ketakterlihatannya."
Bujang datang di sore ketiga, dari pelabuhan kecil tempatnya berdiri dua hari dengan topi rendah dan mata yang tidak pernah berhenti bekerja — mata yang dulu dipakai membaca titik sandar untuk sindikat, dan sekarang dipakai membaca titik yang sama untuk sisi yang lain. "Perahunya sudah dipesan, Bu," katanya, dengan suara orang yang menyampaikan kabar yang sudah lama ditunggunya. "Besok atau lusa. Yang memesan bukan dia sendiri — perantara, dua lapis. Tapi polanya pola lama, aku mengenalnya dari dulu: bayar penuh di muka, tidak menawar, dan minta perahu yang tidak tercatat." Mahmud menuliskannya tanpa banyak kata, menambahkan satu baris ke papan kotanya, dan papan itu perlahan-lahan menjadi peta seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya sedang dipetakan.
Malam itu Renung menulis di bukunya, di rumah singgah dengan lampu yang kuning: bandar itu sudah di dalam jangkauan, dan jangkauan itu tidak dibangun dalam tiga hari — dibangun dalam bulan-bulan sejak tikungan, dalam dua puluh dua tahun sejak patok pertama dicabut, oleh orang-orang yang tidak pernah berhenti membaca. Besok wajahnya akan punya bentuk, pikirnya. Dan untuk pertama kalinya sejak telepon kedua itu, ia tidak merasa sedang menunggu orang yang lebih kuat. Ia merasa sedang menunggu matematika selesai menghitung dirinya sendiri.
Wajahnya akhirnya punya bentuk di hari keempat, dari jarak yang aman, melalui kamera yang dibaca Mahmud dan Renung bersama di pos polisi hutan: seorang lelaki muda, rapi, lebih muda dari yang dibayangkan semua orang — seumuran dengan suaranya di dua telepon itu — berjalan ke gedung yayasan dengan tim pengacara di belakangnya, dengan wajah orang yang membaca kota kecil itu seperti membaca papan yang sudah selesai dihitungnya.
"Itu dia," kata Renung, memandang wajah di layar itu, bandar yang dua puluh tahun tidak pernah datang sendiri, yang menembak ayahnya dengan garis yang tidak pernah menyentuh tangannya, yang menawar hidupnya dengan dua telepon yang tenang. "Itu orangnya. Lebih muda dari kita, Jamil. Dia mewarisi garisnya, sama seperti lelaki di foto ayahku mewarisinya. Dua generasi pembaca papan, dan papan yang sama."
"Dan kali ini," kata Mahmud, menutup layarnya, "papannya dibaca oleh orang-orang yang berdiri di setiap pintunya. Dia sudah di dalam, dan jalan keluarnya sudah dipesan dengan nama dari buku besarnya sendiri. Tiga hari, Dokter. Kita memberinya tiga hari untuk menyelesaikan pemindahannya, dan kemudian kita menyambutnya di pintu yang sudah ia pesan sendiri."