Penangkapan itu berjalan di dermaga kecil di hari keempat, di pagi yang berkabut, dengan cara yang paling tidak dramatis untuk akhir dua puluh tahun: dua petugas dengan surat, satu nama yang dibacakan, dan satu lelaki muda rapi yang tidak berlari.
Toba berdiri di dermaga itu dengan kopernya, di depan perahu cepat yang dipesannya untuk membawanya ke salah satu nama pelabuhan dari buku besarnya sendiri — dan dua petugas itu berdiri di depannya dengan surat penangkapan yang dibacakan dengan suara yang rata, dan lelaki muda itu memandang surat itu, memandang perahu cepatnya, memandang kabut di atas air, dan tersenyum kecil dengan cara orang yang sudah membaca akhirnya dan menerimanya dengan disiplin yang sama dengan disiplinnya membangun semuanya.
"Anda menang, Dokter," katanya, ketika Renung berdiri di antara petugas-petugas itu — dipanggil Mahmud untuk satu halaman yang ia minta: satu pertemuan dengan orang yang menembak ayahnya dengan garis, sebelum orang itu dibawa ke halaman-halaman resminya. "Saya sudah membaca berkas Anda. Rapi. Lebih rapi dari yang saya hitung untuk seorang dokter hewan. Buku besar itu satu-satunya kesalahan saya dalam dua puluh tahun, dan kesalahan itu bukan kesalahan saya — itu kesalahan orang yang menyimpannya terlalu lama karena menyayanginya lebih dari menghitungnya. Buku-buku besar memang selalu menjadi kuburan bandar-bandar seperti saya."
"Kau membunuh ayahku," kata Renung, dan suaranya tidak naik, dan tidak turun, dan itu adalah suara yang paling berat yang pernah ia keluarkan. "Dua puluh dua tahun lalu, di hutan yang sama, untuk patok-patok yang sama. Bukan dengan tanganmu — kau seumuran denganku, kau bahkan belum berdiri di garis itu saat itu. Tapi garis yang kau warisi dan kau jalankan membunuhnya, dan garis itu berhenti di dermaga ini pagi ini, di atas air yang sama yang sudah lama menjadi jalannya."
Lelaki muda itu memandanginya lama, dan untuk pertama kalinya, sesuatu di wajahnya yang rapi itu bergerak ke arah yang lebih manusia: bukan penyesalan — pengakuan.
"Saya mewarisi garis itu dari ayah saya, seperti Anda mewarisi garis Anda dari ayah Anda," katanya. "Dan dua garis itu berdiri berhadapan sejak sebelum kita lahir, Dokter. Saya tidak meminta maaf untuk garis saya, karena garis itu adalah seluruh dunia saya sejak saya bisa membaca. Tapi saya mengakui satu hal, dan ini gratis, tidak untuk berkas Anda: garis Anda menang karena garis Anda berdiri di atas orang-orang yang memilih berdiri, dan garis saya kalah karena garis saya berdiri di atas orang-orang yang dibayar berdiri. Anda benar di telepon itu. Itu matematika yang tidak bisa saya beli, dan saya sudah menghitungnya salah sejak awal dengan mengira semua orang punya harga di kontraknya."
Ia diangkat ke kendaraan petugas dengan tangannya terikat di depan, dengan kopernya di belakang, dengan perahu cepat yang tidak pernah berangkat di dermaga berkabut itu.
Mahmud berdiri di samping kendaraan itu sebelum pintunya ditutup, dan mengatakan satu hal yang tidak masuk berkas mana pun — dikatakan pelan, hanya untuk lelaki muda itu dan untuk dirinya sendiri: "Dua puluh tahun kau berdiri di atas kertas, dan kertas tidak pernah punya pintu keluar yang tidak bisa dibaca. Lain kali — kalau ada lain kali untuk orang sepertimu — hitung juga orang-orang yang tidak bisa dibeli. Jumlah mereka selalu lebih besar dari yang tertulis di kontrak." Lelaki muda itu tidak menjawab, dan pintu ditutup, dan kabut menelan kendaraan itu perlahan.
Jamil datang ke dermaga itu dari tempatnya menunggu di ujung jalan — ia tidak ikut mendekat, sudah diatur begitu sejak semula, supaya tidak ada satu pun halaman resmi yang bisa diganggu oleh kemarahan seorang jagawana tua. Ia berdiri di samping Renung dengan tangan di saku dan mata yang memandang perahu cepat yang tertambat sia-sia itu, dan berkata dengan suara yang ringan seperti orang yang menarik napas penuh pertama setelah dua puluh dua tahun: "Air yang sama, Nung. Dulu mereka membawa barangnya lewat air seperti ini, dengan nama-nama yang tidak pernah tertulis. Hari ini air yang sama membawa pergi bandarnya, dengan namanya tertulis resmi untuk pertama kalinya. Air memang tidak memihak. Tapi air ingat."
Di Talang Rambai, kabar penangkapan itu sampai sebelum tengah hari, dan sampainya dibaca Renung dari satu pesan Sari yang pendek: warung berhenti bekerja satu jam, dan Wak Saleh berdiri di depan radionya lama sekali tanpa bicara, dan kemudian berkata kepada orang-orang di sekitarnya satu kalimat yang diulang Sari persis seperti bunyinya — jadi yang selama ini soal kambing dan kebun itu, kita semua cuma alatnya. Kampung yang dua puluh tahun dibaca bandar itu sebagai angka di kolom pengeluaran membaca namanya tertulis di berita sore itu, dan membacanya dengan cara kampung: bukan dengan sorak, melainkan dengan diam yang panjang, dan kemudian dengan kerja yang dilanjutkan.
Dan kesaksian-kesaksian yang berbaris menunggu di halaman-halaman berikutnya: Pawang Dulah dengan tarif-tarifnya, lelaki bertato dengan jalur-jalurnya, Restu dengan meja dan tanda tangannya, Bujang dengan jalan-jalan yang dulu ditunjukkannya, dua perantara dengan rekening-rekeningnya, dan satu buku besar induk dengan tiga tahun dan dua pelabuhan dan satu kolom dua huruf yang akhirnya berdiri untuk satu nama yang tertulis resmi di surat penangkapan. Dua puluh tahun bandar itu berdiri tanpa nama di atas kertas mana pun, dan namanya tertulis pertama kali di surat penangkapan di dermaga berkabut, di atas air yang sama yang menjadi jalan-jalannya selama ini.
Renung berdiri di dermaga itu setelah kendaraan petugas pergi, dengan kabut yang mulai terangkat dari air, dan tidak merayakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana lama, di ujung garis yang berjalan dua generasi, dan menulis di kepalanya satu kalimat yang akan ia tulis di bukunya nanti: garis mereka berhenti di dermaga ini pagi ini, dan garis kami berjalan terus — ke hutan yang harus dijaga, ke satwa-satwa yang harus dipulangkan, ke kampung yang berdiri di tanahnya. Dua garis bertemu di dermaga berkabut, dan satu berhenti, dan satu berjalan terus. Itu akhir dari perang dua generasi itu, dan awal dari semua yang datang setelahnya.