Keputusan atas konsesi itu turun dalam musim yang sama, dan turunnya adalah buah dari semua yang sudah berdiri dalam satu bangunan: bandar yang ditangkap di dermaganya, buku besar yang membacakan tiga tahunnya, patok-patok dalam dua zaman yang berdiri berdampingan, dan satu kursi perizinan yang sedang membaca halaman-halamannya sendiri di meja terdakwa.
Konsesi itu dibatalkan untuk ditinjau ulang — bukan dicabut selamanya, karena kertas besar tidak pernah bekerja dengan cara itu, melainkan dibekukan, dibatalkan sementara, dengan seluruh kegiatannya dihentikan dan seluruh batasnya ditinjau ulang dari awal dengan peta yang benar. Dan di lapangan, di sektor timur yang sudah lama menjadi medan perang patok, keputusan itu datang dengan wajah yang bisa dilihat: tim balai dan polisi berdiri mengawasi pencabutan patok-patok kayu oranye, satu per satu, dengan kamera resmi yang mencatat setiap satu yang dicabut.
Renung berdiri di sana bersama Jamil, menyaksikan tujuh patok kayu oranye itu dicabut satu per satu dari tanah yang mereka pasangi dengan cara yang sama seperti mereka dicabut patok-patok beton dulu — dengan alat, dengan catatan, dengan orang-orang resmi di sisinya. Dan di setiap lubang patok beton yang dulu dicabut, patok-patok beton baru dipasang kembali, dengan nomor yang dipahat baru, di garis yang benar, di garis yang dibaca dari peta kawasan resmi dan dari buku catatan jagawana Anjani yang tercatat dua puluh dua tahun lalu.
Tiga ratus empat puluh hektar lebih, kembali menjadi hutan di atas kertas — dan kali ini, kertasnya benar.
Pencabutan itu memakan dua hari penuh, dan dua hari itu disaksikan lebih banyak mata dari yang diperkirakan siapa pun. Pak Lurah Bahrum datang di hari pertama dengan dua orang tetua kampung, berdiri di tepi garis dengan tangan di belakang punggung, memandang patok kayu oranye dicabut satu per satu seperti memandang gigi yang tumbuh salah dicabut dari rahang yang sudah lama sakit. "Dua puluh dua tahun, Bu Dokter," katanya kepada Renung, tanpa memandanginya, memandang tanah. "Dua puluh dua tahun garis ini dipindah-pindah orang yang tidak pernah datang ke sini, dan kami yang tinggal di tepinya yang selalu dianggap tidak bisa membaca. Hari ini garis itu dipasang kembali oleh orang yang membaca buku jagawana. Kampung akan ingat hari ini."
Bujang berdiri di sisi lain garis itu, dan tugasnya hari itu bukan tugas resmi — tidak ada namanya di surat tugas mana pun — tapi tidak ada satu pun orang di lapangan yang menanyakannya: ia berjalan di sepanjang garis dengan mata yang membaca tanah, dan dua kali ia berhenti dan menunjuk titik-titik di mana denai satwa lama memotong garis, dan dua kali titik itu dicatat di peta kerja tim balai, supaya patok-patok baru tidak berdiri menutup jalan satwa yang sudah lebih tua dari semua peta. "Denai ini sudah ada sebelum ada konsesi, sebelum ada kawasan, sebelum ada kita," katanya kepada petugas muda yang mencatat, dengan suara orang yang pernah berdiri di sisi yang salah dan tahu persis harganya. "Jangan pasang patok menutupinya. Patok yang menutup denai adalah patok yang salah, di mana pun kertasnya."
Tim peninjau dari kabupaten bekerja dengan peta resmi di satu meja lapangan dan buku catatan Anjani di meja yang lain, dan Renung menyaksikan seorang petugas muda mengonversi koordinat cara lama dari buku ayahnya — sistem tandanya sendiri, jarak dari sungai, arah dari pohon besar — menjadi koordinat yang bisa dibaca alat ukur modern, dan titik-titik itu berdiri di tanah dengan selisih yang tidak pernah lebih dari satu langkah orang dewasa. "Jagawana ini mengukur dengan mata dan langkah," kata petugas muda itu, setengah kepada dirinya sendiri, dengan nada yang membuat Jamil tersenyum kecil di kejauhan. "Dan ukurannya mengalahkan peta konsesi yang dibuat dengan alat."
Dan Wak Saleh datang di hari kedua — tidak diundang, tidak dilarang — dan berdiri lama memandang satu patok beton baru dipasang di dekat garis kebunnya sendiri, dan kemudian berkata kepada tidak ada siapa-siapa secara khusus, dengan suaranya yang besar yang sudah lama tidak dipakai untuk marah: "Kalau begini caranya dari dulu, tidak ada kambing yang hilang, tidak ada kebun yang rusak, tidak ada orang kampung yang diadu dengan hutan." Tidak ada yang menjawabnya, dan ia tidak membutuhkan jawaban. Ia membantu memikul satu patok beton sebelum pulang, dan tidak ada yang berkomentar tentang itu juga.
Dan Renung berdiri di salah satu lubang patok itu, dengan patok beton baru yang berdiri tegak di sebelahnya, dengan nomor baru yang dipahat di mukanya, dan berkata kepada Jamil yang berdiri di sampingnya dengan tangan di pinggang dan mata yang basah oleh sesuatu yang bukan hujan:
"Patok ini berdiri di titik yang sama dengan yang difoto ayahku dua puluh dua tahun lalu. Dari buku catatannya. Koordinat cara lamanya, dikonversi dengan benar, dan titiknya berdiri di sini, di tanah ini. Ayahku menandainya dulu, dan sekarang patok ini berdiri di tandanya, dengan nomor baru, dengan kertas yang benar — dan tidak ada satu pun garis kayu oranye lagi di tanah ini."
Jamil berlutut di sisi lubang patok itu, dan menyentuh tanahnya dengan tangannya, dan berkata dengan suara yang datar seperti batu yang sudah dua puluh dua tahun menunggu:
"Anjani. Patokmu berdiri lagi, di garis yang benar, dengan anakmu berdiri di sebelahnya. Selesai, kawan. Bagian yang ini, selesai."
Dan ratusan hektar itu berdiri lagi di atas kertas sebagai hutan, dengan patok-patok beton baru di garis yang benar, dengan satu patok di antaranya yang berdiri di titik yang ditandai jagawana dua puluh dua tahun lalu oleh tangan yang tidak pernah melihatnya berdiri — dan malam itu, di buku catatannya, Renung menulis dengan tangan yang mantap dan hangat sekaligus: konsesi dibatalkan, patok kayu dicabut, patok beton dipasang kembali di garis yang benar, dan satu patok berdiri di titik Anjani. Batas yang ditandai dengan benar, seperti yang ditulisnya di margin bukunya — supaya anaknya tumbuh di dunia yang batasnya ditandai dengan benar. Dunia itu, hari ini, berdiri di sektor timur, dengan tujuh patok baru di tanah yang benar.