Keputusan untuk melepas Tunggak kedua kalinya adalah keputusan paling berat yang pernah ditimbang di pusat itu, dan ditimbangnya memakan berminggu-minggu, dengan semua orang yang mencintainya berdiri di dua sisi yang sama-sama benar.
Sisi pertama: jangan lepaskan. Tunggak sudah ditembak sekali dari pohon yang dipilihkan untuknya, dan orangutan yang ditembak dari pohon yang dipilihkan akan membaca setiap pohon berikutnya seperti membaca pohon itu — dan satu tembakan kedua akan menghancurkannya dengan cara yang tidak bisa diperbaiki perawatan mana pun. Sisi kedua: lepaskan. Orangutan tidak diciptakan untuk kandang, dan kandang yang aman tetap kandang, dan lima tahun di kandang sebelum rilis pertama sudah dibayar penuh harganya oleh Tunggak — dan menjaganya di kandang selamanya untuk melindunginya adalah menjadikannya barang kami sendiri, dengan alasan yang lebih baik tapi bentuk yang sama.
Dan Tunggak sendiri, dari kandangnya yang pulih pelan-pelan, memberikan jawabannya dengan cara yang hanya bisa diberikan satwa: ia mulai memanjat lagi.
Dimulai dari yang rendah — rangka-rangka rendah di kandang dalamnya, yang sudah berminggu-minggu tidak ia sentuh sejak pulang dari kandang kayu. Lalu kandang luar, di pagi-pagi yang sepi, dengan Sari yang menangis diam-diam menyaksikannya dari jauh: Tunggak memanjat ke tempat tinggi kandang luarnya, dan duduk di sana menghadap hutan di kejauhan, dan berdiri di sana lama — bukan takut, menilai. Dan di minggu-minggu berikutnya, menghadap hutan itu menjadi kebiasaan paginya, dan kebiasaan pagi itu dibaca Renung dengan dada yang hangat: ia tidak membaca pintu terbuka seperti tembakan lagi. Ia membaca hutan seperti rumah lagi — dan menilai apakah rumah itu aman, dengan mata orangutan yang sudah ditembak sekali dan belajar.
Sebelum malam panjang itu, Renung menyiapkan bagiannya dengan cara dokter: berkas kesehatan Tunggak yang lengkap, dibaca ulang dari halaman pertama. Luka tembak di bahunya sudah menutup dengan jaringan yang baik — peluru kaliber kecil itu diambil di malam penyelamatan dari gudang kelapa sawit tua, dan lukanya dirawat Sari dengan kesabaran yang tidak pernah terburu-buru — dan yang tersisa darinya adalah kisar gerak yang berkurang sedikit di bahu kiri, sesuatu yang diukur Renung berminggu-minggu dengan pita ukur dan buku catatan: sudut angkat lengan, kekuatan genggam, cara ia memindahkan berat tubuhnya dari satu tangan ke tangan yang lain saat bergelantungan. Angka-angkanya berkata satu hal yang jelas: bahu itu cukup untuk hidup di kanopi, dengan catatan ia tidak dipaksa berlomba dengan siapa pun — dan di blok pedalaman yang jauh dari denai manusia, tidak ada yang memaksanya berlomba.
Berat badannya naik pelan-pelan ke angka yang layak, dan yang lebih penting dari beratnya adalah perilakunya: ia kembali membuat sarang setiap sore, melipat dahan dengan cara yang tidak diajarkan siapa pun, dan sarang-sarangnya makin rapi dari minggu ke minggu — pertanda orangutan yang kepalanya sudah berdiri lagi di tempat yang benar. Sari mencatat semuanya di buku khusus yang tulisannya makin penuh, dan di malam sebelum keputusan itu, buku itu dibawa ke kantor pusat dan diletakkan di tengah meja di antara semua argumen, dan menjadi saksi yang tidak bisa dibantah oleh sisi mana pun.
Jamil membawa argumennya sendiri, dan argumennya bukan dari buku: dari blok utara, dari kalung GPS Sintung, dari dua anak harimau yang berjalan di denai-denai induknya. "Satwa yang dipulangkan dengan benar akan mengurus sisanya sendiri," katanya di malam panjang itu. "Sintung membuktikannya. Pertanyaannya bukan apakah Tunggak bisa. Pertanyaannya apakah kita berani membuat tempat yang cukup benar untuknya — dan kali ini, kita sudah tahu semua kesalahan yang dulu tidak kita tahu."
Keputusan itu ditimbang dalam satu malam panjang di kantor pusat dengan Jamil dan Sari, dan keputusannya lahir dari satu kalimat Sari yang berdiri di atas semua argumen: "Dia memilihnya sendiri, Bu. Lihat dia menghadap hutan setiap pagi. Kita tidak memutuskan untuk melepasnya. Kita memutuskan untuk tidak menahannya dari yang sudah ia pilih sendiri — dan rilis kedua ini bukan rilis pertama diulang. Rilis kedua ini rilis yang dibuat pantas untuk orangutan yang sudah ditembak sekali: lebih jauh, lebih dalam, lebih dijaga, dan dengan waktu yang miliknya, bukan milik kalender."
Blok pedalaman itu dipilih dengan hati-hati yang dua kali lipat dari rilis pertama: jauh dari jalan konsesi mana pun, jauh dari denai-denai yang dibaca Bujang dari masa sindikat, di kawasan yang dijaga oleh dua pos jagawana yang berdiri di dua sisinya, dengan pohon-pohon ara tua yang lebih tua dari semua konflik di kawasan itu. Jendelanya tidak dihitung dengan minggu — dihitung dengan Tunggak, dengan kesiapannya, dengan musim buah ara yang berdiri di blok itu seperti berdiri sejak sebelum manusia datang.
Dan persiapannya berjalan dengan kesabaran yang baru: bukan hitungan mundur, melainkan pembangunan kesiapan — hari-hari Tunggak di kandang luar yang makin lama, pembacaan blok itu dengan kamera-kamera jebak yang dipasang berminggu-minggu lebih dulu untuk membaca apakah blok itu bersih dari jejak manusia yang salah, dan satu halaman rencana rilis yang tidak disalin ke meja mana pun kecuali satu: kepala balai langsung, dengan kode yang sudah menjadi cara mereka.
Renung menuliskannya di buku catatannya di malam keputusan itu: rilis kedua Tunggak disetujui, di blok pedalaman, dengan waktu yang miliknya dan blok yang sudah dibaca berminggu-minggu lebih dulu. Rilis pertama kami memulangkannya ke pohon yang kami pilihkan, dan ia ditembak dari pohon itu oleh orang yang membaca pilihannya. Rilis kedua ini kami memulangkannya ke blok yang dipilih lebih dalam dari pembacaan mana pun, dan kami tidak memilihkan pohonnya — ia yang memilih, dari ketinggian bloknya, dengan matanya yang sudah belajar dua kali. Rilis yang pantas untuk orangutan yang sudah ditembak sekali: bukan yang paling aman di atas kertas, melainkan yang paling ia pilih sendiri, dengan semua yang sudah kami pelajari berdiri di sekelilingnya.