Seakan terombang abing keadaan serba salah Liem tidak punya pilihan lain, selain mengharuskan istrinya berbunyi dan dia harus menjaga gawang.
“Cepat ke rumah Bu Ros, sekarang!” pinta Liem dengan wajah sangat cemas. “Lewat pintu belakang!” suara keras dan lantas keluar dari mulut Liem.
Suri tanpa menjawab langsung setengah berlari menuju pintu belakang menuju rumah Bu Ros. Dan Liem berusaha menutup rolling door namun, saat baru separuh sebuah batu yang melayang mendarat tepat di dadanya. Di susul dengan batu-batu lain melayang menghujam setiap jengkal kulitnya.
Liem jatuh tersungkur dengan kening yang mengeluarkan darah. Tak lama kemudian segerombolan orang berhasil masuk ke dalam rukonya.
“Babi!” sebuah kaki dengan sepatu gunung menendang Liem tepat di kepala hingga terbentur kaca etalase hingga pecah .
“Bakar saja rumahnya!” salah seorang pria dengan kulit gelap menyiram satu jerigen minyak tanah ke beberapa sudut rumah Liem. Sedangan sebagian orang sibuk mengais uang di laci dan beberapa barang dagangan.
Liem yang setengah sadar hanya bisa mengaduh dan mengadukan semua yang ia lihat pada Tuhan. Kejadian itu terjadi sangat singkat hanya beberapa menit saja setelah seorang berteriak.
“Ayo keluar kita bakar saja rumah ini dengan si Babi ini!” orang itu kembali menendang d**a Liem hingga mati detik itu juga.
Tanpa perintah dua kali semua orang keluar kemudian dari salah seorang mereka melemparkan sebatang korek yang tengah menyala ke lantai yang sudah disiram bensin.
Langkah Suri setengah berlari sambil meraba perut buncitnya. Jarak rumahnya dengan Pak Soleh hanya dua puluh meter namun terasa puluhan kilo meter bagi dirinya yang sedang berbadan dua. Sambil menahan kram dan kencang perutnya langkahnya terus berpacu.
“Pak Soleh tolong suami saya!” jerit Suri di ambang pintu rumah Pak Soleh.
Terlihat si kecil Jiao sedang duduk bersama Abdulloh; anak Pak Soleh yang usianya satu tahun lebih tua dari Jiao. Melihat ibunya yang panik Jiao berlari memeluk Suri, dan Bu Ros muncul dari balik tirai batik.
“Ada apa?” tanya Bu Ros sambil merapikan jilbabnya.
“Anu ... suami saya Bu. Tolong!”
Tak lama kemudian Pak Soleh muncul di balik tirai dengan jubah putih lengkap dengan peci warna hitam. “Ada apa?”
“Suami saya ...” Suri yang diserang panik tak mampu mematakan apa pun selain dua kata tersebut.
Pak Soleh yang menatap kepanikan di wajah Suri seakan paham hal buruk telah menipa tetangganya itu. Tanpa berkata banyak Pak Soleh berlari ke rumah Liem dengan jubah dan peci.
Tepat di persimpangan jalan samping rumah Liem, Pak Soleh melihat banyak sosok merusak kawasan ruko, lampu-lampu jalan raya dicabut dan sebagian orang membawa sejata tajam berhadapan dengan aparat.
Pak Soleh yang tak perduli dengan semua itu kemudian melangkah menuju ruko milik Liem, namun terhenti kala melihat kobaran api telah menjilat rumah Liem di lantai satu. Melihat bahaya yang menerpa Liem menjauh dan berlari berusaha mencari bantuan.
Singosari bak seperti kebun binatang, manusia tak perduli dengan sesama. Sebagian orang sibuk berlari mencari tempat yang aman dan sebagian sibuk menjarah, merampok, membakar rumah milik pegadang orang China.
Pak Soleh yang melihat kekerasan didepan mata lantas tak menuruskan usahanya memadamkan api di rumah Liem. Dengan langkah tergopoh dirinya berlari kembali ke arah rumah.
Suri tak bisa diam saja karena banyak kemungkinan yang terjadi kepada Liem. Bagaimana jika Liem butuh bantuan apakah Pak Soleh sanggup menolongnya? Dengan tekat nekat Suri melangkah keluar rumah Pak Soleh namun Jiao memaksa untuk ikut. Terpaksa, Suri yang segandeng Jiao lengkap dengan kucuran air mata.
Tetapi baru separuh jalan Suri di hadang Pak Soleh. “Ayo ke rumah saya! Di sana bahaya!” ucap Pak Soleh dengan wajah sangat panik.
“Gimana suami saya?”
“Wes! Ayo pulang dulu! Bahaya!” bujuk Pak Soleh tak mampu mengatakan sebenarnya.
Percakapan itu terhenti kala letusan api dari arah rumah Liem disusul dengan kobaran api menjilat-jilat ke udara. Suri yang melihat itu lantas terduduk lemas, pelan tangannya melepas jemari Jiao.
Jiao kecil yang menyadari hal buruk telah terjadi. “Mama, ayah mana?”
“Ayo dirumah saya dulu! Di luar bahaya!” bujuk Pak Soleh kembali. “Koh Liem nanti menyusul.”
Suri yang mendengar ucapan Pak Soleh lantas berdiri seakan apa yang dipikirkannya salah. Kemudian kembali meraih tangan Jiao melangkah ke rumah Pak Soleh.
“Hey Chino!” Suara lantang dari belakang menghentikan langkah mereka kemudian tiga orang itu berlari mendekati Pak Soleh.
“Matamu picak! Aku Jowo!” (Matamu buta aku orang Jawa) betak Pak Soleh.
“Kamu harus mati!” sebuah golok diarahkan ke Jiao yang nampak ketakutan memeluk kaki Suri. Sesaat kedua bola mata pria itu tertuju pada wajah Suri yang begitu ketakutan.
Mata Pak Soleh melotot ke arah tiga orang pemuda itu. “g****k! Matamu melek iki Jowo! Iki ibune!” (Buka matamu ini orang Jawa! Ini ibunya)
Tanpa menjawab tiga pemuda itu lantas menarik goloknya kemudian berbalik dan berlari menuju jalan raya. Suri yang melihat itu lantas berbalik mengakat tubuh Jiao ke dalam pelukannya.
Tak perduli dengan kram perut yang sangat menyakitkan Suri berjalan sambil mengendong Jiao yang ketakutan. Dengan nafas tersengal-sengal nyaris putus Suri yang hamil berjalan tertatih-tatih sambil mengendong Jiao hingga masuk rumah Pak Soleh.
“Bagaimana suami saya Pak?” Suri menurunkan perlahan Jiao.
Pak Soleh tak menjawab, wajahnya tertuju pada putra kecilnya yang berdiri di sebelah Bu Ros. Nampak kecemasan luar biasan di antara goresan dan keriput di wajah laki-laki yang usianya hampir memasuki kepala empat. “Abdullah, ajak Jiao main ya di kamar!”
Jio yang berdiri di sebelah Suri mendongak, menatap Suri. Lantas mereka saling berpandangan. “Sana kamu main dulu sama Mas Abdul!” senyuman Suri terlihat di sudut bibirnya.
Tidak ada jawaban dari bibir kecil Jiao, hanya saja anak itu bisa membaca wajah cemas ibunya. Sebenarnya ingin sekali bertanya tentang ayahnya, namun Bu Ros justru meraih tangan Jiao dan Abdullah untuk masuk ke kamar.
“Dah, mainan di sini dulu! Kalian boleh kok nonton tv. Nanti ibu panggil kalo boleh mainan diluar.” Bu Ros lantas menutup pintu kamar Abdullah dan kedua anak itu larut dengan mainan seabrek milik tuan rumah.
Di rumah tamu Suri terus melihat ke arah luar lewat jendela. Sosok yang ditunggu tak kunjung datang, justru pemandangan sekelompak pemuda dan pria yang tak karuan berlari kesan kemari.
“Koh Liem tadi jualan?” tanya Pak Soleh.
Suri mengagguk dua kali dengan wajah tetap ke arah jendela. Hatinya begitu cemas akan suaminya tak yak kunjung muncul.
“Saya-kan sudah bilang, jangan jualan dulu. Apa yang terjadi tadi?” Pak Soleh tak kuasa mengatakan yang ia lihat di rumah perempuan di hadapannya.