Suri memilih terdiam tak menjawab ucapan Pak Soleh, dia tahu benar bahwa dirinya dan suaminya orang paling konyol yang pernah ada. Di saat pedagang lain menutup toko, Liem dengan percaya diri tepat berjualan. Suri mengalihkan pandanganya ketika Bu Ros duduk di sebelahnya. “Segerombolan orang tadi ke rumah Pak, terus saya sama suami saya suruh ke sini!”
Suri kembali menatap jedela namun yang di lihatnya justru asap tebal yang berasal ruko miliknya. “Pak sebenarnya apa yang terjadi?” Suri menatap Pak Soleh.
“Aku tidak bertemu dengan Koh Liem.” Pak Soleh dengan wajah kecewa. “Saya tidak bisa masuk ke rumah karena api sudah rata di lantai satu.”
Bak disambar petir Suri terdiam kaku, membisu. Dugaannya benar asap tebal itu berasal dari rumahnya. Tanpa berfikir panjang, Suri berdiri siap melangkah keluar memastikan sendiri apa yang dikatakan oleh Pak Soleh adalah kebohongan. Atau paling tidak suaminya bisa selamat dari musibah itu.
Tak bisa ditahan oleh siapa pun Suri berjalan cepat menuju rumahnya. Dan sepasang suami istri yang berhati malaikat itu mengikuti dari belakang. Asap terlihat hitam mengumpal di atap rumah Liem membuat jantung Suri menakin berdekat kencang.
Setiap langkahnya Suri selalu berfikir optimis, jika Liem masih hidup. Mungkin dia sedang menyelamatkan barang-barang dari kebarakan atau sedang kebinggungan mencari pemadam kebakaran, pikiran Suri. Bukan hanya asap yang berasal dari rumah Liem tapi juga berasal dari jalan raya jalan, beberapa rumah dan ruko yang di bakar paksa oleh massa.
Suri yang melihat kekacauan dari sepanjang jalan lima puluh meter tidak perduli. Dia terus berjalan hingga pintu belakang, sayangnya pintu itu sudah dikuasai kobaran api.
“Ayo pulang saja! Di sini terlalu berbahaya!” Bu Ros yang berjalan di belakang Suri terus saja mengatakan hal itu secara berulang.
Tapi, Suri tak perduli dia tak putus asa, langkahnya tertatih menuju pintu utama ruko. Sekilas matanya menatap kobaran api menyala-nyala di atap, jendela kayu ruko miliknya. Hanya butuh 2 menit Suri sampai pintu depan rolling door dan matanya menatap ruko berserta rumahnya telah habis di makan si jago merah. Dia terduduk lemas tak berdaya, bibir ya keluh seolah serangan bisu mendadak, perlahan di sudut kelopak matanya menetes lembut air mata. Dengan tatapan kosong Suri menatap api bangunan di hadapan.
Hawa panas dari kobaran api tak mengganggu Suri yang termenung, fikirnya kosong, dadanya terasa sesak. Ingin menjerit namun kesulitan bersuara, ingin menangis tapi bahu yang biasa menjadi tempat bersandar telah mati.
Bu Ros dan Pak Soleh masih terus saja mengucapkan hal yang sama untuk mengajak Suri berlindung. Mereka sudah tidak tahan dengan panasnya api dan rasa takut yang teramat luar biasa melihat massa bentrok dengan aparat.
“Kalo Koh Liem mati dan Mbak Suri itu mati lalu Sinyo(Jiao) jadi anak yatim piatu? Mbak mau?” Kalo Mbak Suri mau, silahkan di sini!” ucap Bu Ros yang sudah tidak tahan dengan panasnya api.
Suri yang tepat terdiam kemudian berdiri, perlahan Bu Ros merangkul Suri dan mengiring ke rumahnya. Sejak saat itu Suri tak banyak bicara, dia memilih terdiam dengan air mata yang terus berderai. Untung saja saat itu Jiao terlalu asik dengan Abdullah hingga tidak memperhatikan Suri yang sedang bersedih hati.
Jiao, kecil hanya bertanya saat menjalang malam. “Ayah ke mana Ma?”
“Pergi! Nanti pulang. Kamu jangan banyak tanya!” ucap Suri sambil memajamkan mata pura-pura tidur.
Malam ini dan entah sampai kapan Suri dan Jiao menumpang di rumah Pak Soleh. Mereka tidur di kamar bekas gudang. Hanya kamar itu yang tersisa, tembok berjamur dan atap plafon separuh jebol. Untung saja tidak angker.
“Syukurlah,” ucap Suri getir. Tempat itu lebih baik dari pada dirinya harus kembali ke rumahnya yang sudah hancur.
Ke esok harinya Solo menjadi kota mencekam. Yang ada hanya aparat yang terus berjaga-jaga, wora wiri sepanjang jalan memastikan massa tidak ada yang melakukan kerusuhan.
Selama dua hari itu pula rumah berserta ruko milik Liem dibiarkan begitu saja.
Dan evakuasi dilakukan dua hari kemudian. Bersama tim kepolisian dan TNI Angkatan Darat, Pak Soleh mengoyak-oyak puing-ping mencari sosok tubuh Liem.
Jika nyawa dipastikan tak tertolong setidaknya mayat ketemu.
Setelah jam pencarian sosok yang dicari ketemu dengan seadaan lebih mirip ikan bakar. Wajahnya tak bisa dikenali, seratus persen tubuhnya gosong dan lengkap bau khas mayat. Pak Soleh yang menemukan tak kuasa menahan air mata dan juga mual dengan bau mayat.
Bagaimana pun keadaan tubuh Liem, Suri sedikit lega suami tercinta telah ketemu. Hari itu juga ritual pemakaman dilakasanakan tanpa jas yang mewah, tanpa dirias apalagi dimandikan, tubuh Liem dimasukan kedalam peti mati lalu di kubur dengan tata cara Nasrani
Aroma kematian di kuburan itu benar-benar nyata. Terlihat jelas gundukan tanah yang masih merah dan bunga berbagai warna bertaburan di atasnya. Suara tangisan wanita malang dan anak kecil membuat ngilu setiap telinga yang mendengar
Termasuk Jiao. Ya, Jiao Sholikin.
Jiao menangis memeluk nisan yang terbuat dari kayu berbentuk salip, di sanalah nama ayahnya terukir, Liem Li Jung. Ayahnya mati kemarin karena ulah manusia biadab.
Suri di sampingnya mengusap-usap punggung Jiao. Tak ada kata yang keluar dari mulut wanita itu yang ada air mata yang menetes pelan membasahi pipi. Terlihat perutnya buncit dengan usia kandungan lima bulan, dengan gerakan sangat pelan dirinya jongkok sejajar dengan Jiao kemudian memeluk putranya.
Kehilangan suami dengan cara tak manusiawi benar-benar membuatnya tepukul, saking sedihnya dirinya tak mampuh mengeluarkan suara. Bukan hanya kehilangan suami tercinta namun juga kehilangan rumah dan toko yang ia rintis dari nol bersama Liem.
Sepasang suami istri masih setia mendampingi Suri berdiri tepat di hadapanya. Pak Soleh dengan jubah putih kedua tanggannya menadah dan mulut komat kamit berdoa, berharap Liem mendapatkan surga.
Kedekatan dua keluarga ini memang sangat erat, melebihi ikatan keluarga mana pun. Awalnya Pak Soleh membeli rumah di belakang ruko milik Liem, saat itu Abdulloh baru berusia satu tahun. Sama-sama seorang pedagang, sama-sama memiliki anak usia sepadan dan istri-istri mereka berasal dari satu rumpun; suku Jawa. Menjadikan hal itu mereka akrab dan bersaudara meskipun berbeda kepercayaan.
Bahkan Bu Ros hanya tersenyum tanpa menyalahkan apa lagi menghakimi ketika Suri bercerita tentang masalalunya. Ketika Liem masih menjadi kekasihnya mencoba melamar namun ditolak oleh keluarga Suri, karena calon suami pilihan Suri bukan pribumi. Hanya kepada Bu Ros-lah Suri mencurahkan betapa dia merindukan orang tuanya selama ini.