Hampir tiga puluh menit di pusaran makam tanpa percakapan. Pak Soleh, istri dan anaknya masih tetap menunggu Suri. Karena merasa tak enak hati dengan kebaikan keluarga Pak Soleh akhirnya Suri membuka percakapaan di atas pusaran makam Liem, dengan ungkapan terima kasih.
Bukan hanya basa basi semata Suri benar-benar merasa bersyukur telah bertemu dengan sebaik keluarga Pak Soleh. Bersama percakapan itu mereka berjalan meninggalkan kuburan Liem. Jiao masih dirundung pilu, dia begitu terpukul ayahnya tiba-tiba mati, kedua bola matanya semakin memerah dengan linang air mata tak mau berhenti.
Suri terus menepuk pundak, terkadang memeluk seakan menyalurkan kekuatan dan ketabahan untuk putranya. Selama perjalanan dari makam hingga sampai di ruang tamu Jiao tetap menangis.
Hati bocah kecil itu begitu hancur, pahlawan ke banggannya telah pergi untuk selamanya. Tak ada lagi orang yang menajaknya keliling kota Solo, tak ada permainan kuda-kudaan, tak akan ada yang menjawab segala pertanyaannya. Pikir Jiao kelam.
Bocah dengan kulit tipis dan mata sipit yang terkenal cerewet kini yang terdengar hanya suara tangisan di bawah ketiak Suri. “Menangislah sayang! Mama tahu kamu sangat kehilangan.”
Suasana ruang tamu Pak Soleh begitu haru, bahkan Bu Ros ikut meneteskan air mata melihat Jiao kecil dengan suara lirih memanggil ayahnya. Lima belas menit berlalu Jiao masih terus menangis hingga Pak Soleh dan Bu Ros beranjak pergi seakan memberi kesempatan untuk Jiao dan Suri.
“Puaskan tanggismu hari ini! Tapi kamu harus janji menjadi anak yang kuat. Seperti kata ayah. Jiao harus jadi anak kuat dan pintar.”
“Kenapa ayah mati?” kepala Jiao mendongak menatap wajah Suri.
Butiran lembut dari kedua kelopak mata Suri jatuh membasahi pipi Jiao. “Karena Tuhan Yesus menginginkan ayah.”
“Tuhan jahat Ma, dia mengambil ayahku,” rengek Jiao.
“Bukan tuhan yang jahat, namun kita yang belum iklas.”
Kematian Liem membuat Jiao bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa ayah yang mati tanpa penjelasanya yang ia bisa terima. Mengapa ayahnya bisa mati dibawa rentuhan puing-puing rumah yang hangus terbakar? Dia sudah mencoba bertanya pada Suri akan tetapi hal itu justru membuat Suri menangis sambil memeluknya.
Melihat ibunya begitu sedih Jiao tak berani bertanya lagi. Dia takut. Dia kuatir pertanyaannya membuat Suri semakin sedih. Karena Liem selalu mengatakan jika Jiao harus membuat ibunya selalu tersenyum.
Jiao kecil sama sekali tak terpikirkan ayahnya mati karean ulah tangan manusia biadab. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu penjarahan dan pembunuhan.
Yang semakin membuat Jiao senewen adalah ia teringat ucapan ayah jika tuhan itu baik, tapi mengapa tuhan sendiri yang mengambil nyawa ayah. Jiao kecil dirundung sejuta pertanyaan yang meresahkan.
Sepasang suami istri datang membawa makanan dan Abdullah membawa teko berisi air putih. Membuyarkan pikiran Jiao.
“Lebih baik kita makan dulu! Kalian belum makan dari pagi!” ucap Bu Ros sambil merilik jam dinding di atas Suri, telah menunjukan pukul satu.
“Terima kasih Bu ... maaf saya dan anak saya sangat merepotkan.” Suri tersenyum sambil membelai Jiao yang masih sembunyi di bawah ketiaknya.
“Yang merepotkan itu jika kalian menolak makanan yang aku hidangkan.”
Akhirnya mereka makan siang bersama dengan lauk yang sangat sederhana. Sepiring nasi putih, sambal, tahu kukus dan daun singkong rebus, yang di petik Bu Ros di tanah kosong belakang rumah yang tumbuh liar.
Waktu itu ada nasi dan sedikit lauk sudah menjadi anugrah karena pasca kerusuhan orang-orang terutama warga menengah ke bawah yang paling merasakan imbasnya.
Warung-warung tutup, kalau pun warung buka pasca kerusuhan sebagian orang tak punya uang untuk membeli. Termasuk Pak Soleh yang hanya bisa memberikan beberapa lembar uang bergambar prau dan monyet setelah negara Indonesia di landa krisis moneter di awal 1998. Dengan uang itu Bu Ros memberi beras. Yang penting beras, untuk lauk bisa masak apa saja yang bisa dimakan.
Apa pun yang dimakan tidaklah menjadi masalah siang itu, namun Suri semakin gelisah saat makan siang itu. Dirinya tak mungkin akan terus-terusan makan dan tidur di rumah itu. Biar bagaimana pun dia harus keluar dari rumah itu.
“Tinggalah di rumah ini Mbak Suri sampai rumahmu dibangun kembali!” ucap Bu Ros seakan tengah berhasil membaca kegelisahan Suri. “Jika Mbak Suri dan Jiao tidak keberatan tidur di kamar bekas gudang.”
Sesaat Suri berhenti menguyah, kedua bolanya menatap Bu Ros yang tengah tersenyum tulus padanya. “Apakah aku tidak menganggu?” Kedua bola mata Suri berkaca-kaca.
“Itu tugas kita sesama manusia untuk menolong manusia lain.”
“Terima kasih.”
Suri menguyah daun singkong dengan penuh suka cita dengan wajah yang jelas menampakan keharuan yang luar biasa. Setidaknya dia akan tinggal di rumah Pak Soleh hingga bocah dalam perutnya.
Sedangkan Jiao masih larut dengan gema suara di dalam kepalanya dengan sejuta pertanyaan mengapa ayahnya mati. Sambil menikmati makan dengan sepiring nasi putih dan tahu goreng.
Hingga kesedihan bocah kecil itu terkikis di hari ketiga. Abdullah selalu menghiburnya dengan kata-kata yang diucapkan ayahnya ‘bahwa semua yang hidup akan mati, di surga Allah.’
“Jadi kamu jangan sedih terus, kata ayah nanti juga akan mati ketemu paman Liem,” ucap bocah itu dengan sangat polos.
Di hari ketiga pasca ditemukan mayat Liem, Suri selalu memakai baju milik Bu Ros. Untuk celana dalam Bu Ros memberikan satu buah celana dalam yang baru sekali ia pakai. Jika selepas mandi Suri langsung mencuci celana dalamnya. Agar besok bisa dipakai kembali.
Di hari ke empat waktu mandi pagi celana dalam yang hendak ia gunakan jatuh di kubangan air kamar mandi. Sedangakan celana dalam yang lain telah ia cuci karena kepepet Suri tetap mengenakan celana yang basah.
Karena rasa risih mengenakan celana dalam basah dan Suri sudah tidak tahan, akhirnya ia berinisiatif pulang. Berharap ada beberapa lebar baju atau celana yang tak ikut terbakar.
“Ma, Jiao ikut ya!” rengek Jiao kecil.
“Mama hanya sebentar kamu tunggu di sini dulu!” ucap Suri sambil melangkah meninggalkan rumah Pak Soleh.
Tiga jam Jiao menunggu ibunya ternyata tak kunjung kembali. Ingin hatinya melangkah berlari menyusul namun ia teringat ucapan ibunya untuk tetap menunggu di rumah Pak Soleh. Sudah puluhan kali Jiao coba melihat ke arah luar namun sosok yang ditunggu tak nampak.
“Mamamu belum kembali?” tanya Bu Ros ketika melihat Jiao berdiri bersandarkan pintu.
Jiao menjawab dengan angkukan dua kali.
“Kamu tunggu di sini ya! Bibi akan tekok ibumu!” ucap Bu Ros sambil melangkah melewati Jiao.
Bocah kecil itu nampak lega, ia terus menatap Bu Ros hingga bayanganya menghilang.
Tiga menit berlalu Bu Ros kembali dengan wajah teramat cemas, air mata berlinang dan menjerit memanggil suaminya.