Azan ashar mengema di sudut kampung bersama suara Bu Ros yang menjerit memanggil Pak Soleh. Saat itu Pak Soleh sudah rapi dengan jubah putih dan kopiyah hitam siap untuk sembahyang tergopoh keluar.
“Ada apa Bu?”
“Ya Allah Pak ... Suri!”
“Kenapa?”
“Jatuh di rumahnya!”
Secepat kilat Pak Soleh dan Bu Ros berlari ke lokasi. Jiao pun ikut berlari di belakang bersama Abdullah. Mereka berempat susah payah melangkah menuju lantai dua rumah yang lebih mirip rumah hantu, puing-puing reruntuhan bekas kebakaran berserakan seperti kayu bakar, kursi dan meja yang terbuat dari besi kini tinggal kerangka.
Terlihat jelas Suri terlentang dengan tubuh besimbah darah di lantai beralas pecahan genting. Dengan cepat Pak Soleh meraih tangan Suri menekan bagian nadi. Nihil. Tak ada detak jantung. Namun Pak Soleh tak menyerah begitu saja dia coba menekan d**a Suri dengan kedua tangannya namun butuh wanita itu tetap diam.
Jiao di samping tubuh Suri terus berteriak, mendorong tubuh ibunya namun wanita itu tetap tenang dalam tidurnya.
“Kita bawa ke bidan saja!” Pak Soleh meraih tubuh Suri tak peduli dengan darah yang membasahi jubah putihnya.
Sampainya di bawah Pak Soleh menjerit pada mobil pick up yang melintas meminta dengan paksa mengantarkan dia ke rumah sakit atau bidan terdekat. Tubuh Suri telentang di bak pick up dengan kepala di atas paha Bu Ros, bibirnya pucat membiru dengan mata tertutup seperti orang tertidur.
Berkali-kali sudah Pak Soleh menekan urat dadi di leher dan tangan Suri.
“Bagaimana Pak?” wajah Bu Ros berhadap ada keajaiban untuk teman dekatnya.
Dengan sangat lesu Pak Soleh menggeleng dua kali. Seketika itu Bu Ros menangis membuat kedua bocah di sebelahnya ikut lebih kencang menangis.
Lima menit perjalanan menuju bidan, namun tetap si bidan menggelengkan kepala dan mengatakan, “dia sudah meninggal beberapa jam yang lalu, dia pendarahan hebat dan hal itu membuat bayi di dalam kandungannya ikut mati.”
Lengkap sudah penderitaan Jiao sekarang. Dia yatim piatu. Sebatang kara. Sebutan apa yang pantas untuk seorang anak yang ditinggal mati bapaknya dengan cara di bakar seperti babi guling, kini ibunya ikut mati pula?
Ucapan bidan itu membuat Jiao kaku berdiri memandang wajah Suri yang terpejam seperti tengah malam saat terakhir mereka tidur bersama. Tak ada suara namun air matanya terus menetes.
Hari itu juga Suri di makamkan samping pas kuburan suaminya. Terlihat kembang di atas pusaran Liem hampir mengering. Jiao duduk di antara kuburan orang tuanya. “Ayah, mama, kenapa kalian ke surga Bapa tak mengajaku?” ucapnya polos.
“Aku tak punya siapa-siapa di dunia ini,” ucap Jiao sekali lagi.
Di apitlah tubuh kecil Jiao oleh Pak Soleh dan Bu Ros, mereka berpelukan disusul Abdullah memeluk Jiao. “Kamu masih punya aku! Dan semua mainanku untukmu!” Abdullah mencoba menghibur.
Jiao tak menjawab wajahnya tertunduk. Tubuhnya kecil, umurnya baru seumur jagung muda namun kenyaatan memaksanya untuk bersikap lebih dewasa dari semua itu.
“Kamu akan jadi anakku. Panggil aku Abi.” Pak Soleh tersenyum ke arah istrinya. “Panggil dia Umi. Kamu sekarang memiliki dan dimiliki kita.”
Itu sama sekali tak menghibur hati Jiao, ia ingin keluarganya yang dulu. Ayah Liem dan Mama Suri. Meski pun keluarga barunya baik bak malaikat namun bukan itu yang bocah kecil itu harapkan.
“Dan aku abangmu sekarang!” Abdulloh tersenyum terus berusaha menghibur hati Jiao.
Sejak saat itu Jiao menjadi keluarga baru bagi Pak Soleh. Dia tidak bisa membiarkan bocah kecil itu sebatang kara. Meski pun resikonya akan besar. Ya, itu artinya dia harus punya dana doble untuk menyekolahkan dua anak.
Padahal kenyataannya untuk makan saja Bu Ros memilih serba kukusan, bukan karena pertimbanan jauh lebih sehat dari pada di goreng. Tapi tak ada uang untuk membeli minyak sawit.
Dari hari ke hari kerusuhan itu menghilang bersama kemunduran Presiden Soeharto, digantikan BJ Habibi pada tanggal 21 Mei 1998 tepat hari kematian Suri. Hingga bulan Mei; bulan berdarah bagi Indonesia sudah terlewati dengan sangat memprihatinkan bagi. Kini yang tersisa hanya kenangan mencekam bagi warga non pribumi. Rasa trauma bagi mereka yang berdarah Tionghoa seakan merong-rong sepanjang masa.
Rumah mereka dijarah, tubuh mereka dibakar hidup-hidup, wanita diperkosa seperti mensetubuhi seekor anjing. Tanpa ada keadilan di tengah-tengah mereka.
Persetan omong kosong tentang keadilan!
Kini tetangga Pak Soleh yang berdarah Tionghoa memilih menutup diri dan mengunci pintu bagi warga pribumi, mulai membangun tembok tinggi yang mengelilingi rumah mereka. Sebagian memasang tralis besi di pintu dan jedela yang membuat rumah-rumah mereka mirip sangkar macam.
Itu semua demi membeli rasa aman bagi mereka yang bertahan di Indonesia.
Satu bulan berlalu, Jiao sangat lambat untuk menerima kenyataan jika dia telah ditinggal mati oleh orang tuanya. Yang ia terima kini bahwa memiliki keluarga baru dengan pola yang baru. Setiap azan berkumandang tiga anggota kelurganya berkumpul untuk sembayang. Dan Jiao duduk di belakang penuh dengan pertanyaan memandang gerakan mereka.
Kadang saat rukuk Abdulloh sengaja menjulurkan lidah di antara kedua kakinya menggoda Jiao. Dua anak itu menahan tawa di tengah-tengah sembayang. Kadang Abdulloh sering mengajak Jiao untung sembayang namun bocah itu selalu menolak.
“Kamu Islam jadi sholatlah! Aku Nasrani.”
Yang paling unik di antara mereka ketika makan. Abdulloh seperti biasa dia pemimpin doa makan, sambil menadahkan kedua tangan dia membaca doa makan dengan lantang. Dan kedua orang tuanya yang akan meng-aminkan. Di sampingnya Jiao merapatkan kedua tangannya memejamkan mata dan berdoa dengan caranya sendiri.
Tapi lama-lama suara Abdulloh benar-benar menganggunya. Mau tak mau kadang Jiao merapatkan tangan tapi dalam hati mengucap doa sama yang di lantunkan Abdullah.
Kini mereka benar-benar seperti kakak adik. Namun, wajah khas Jiao benar-benar tidak bisa ditipu. Putih, rambut lurus, dengan mata sipit. Jika tertawa pasti kedua bola mata itu tertutup sempurna.
Hingga sebulan berlalu, orang-orang mulai beraktifitas, anak-anak mulai diperbolehkan main di lapangan. Saat itu Jiao bersama Abdulloh bermain di lapangan dekat rumah. Tampak jelas di antara mereka yang berbeda adalah Jiao.
Di lihat dari lubang sedotan pun kelihatan yang paling bersinar adalah Jiao. Tiga anak usia lima belas tahun menghampiri Jiao yang asik bermain bola.
“Pulang sana ke negaramu!” salah seorang anak laki-laki bertubuh besar dengan rambut ikal.
Jiao tertunduk tak berkutik, diam. Diliriknya Abdulloh yang nempak jauh lebih ketakutan.
“Minggir babi!” bocah bertubuh besar itu mendorong Jiao hingga jatuh tersungkur. Kemudian ke tiga anak itu mengelilingi Jiao.
Ucapan, ejekan dan sebutan-sebutan tak pantas itu terus terlontar dari bibir seorang anak kecil usia tanggung. Jiao terdiam dengan tangan bergetar, bibirnya mengatup dan kedua tangannya meremas ujung bajunya. Di cela-cela kaki yang berjejer di hadapanya terlihat jelas Abdulloh tak kalah ketakutan.
Salah tangan bocah itu meraih baju Jiao dan diseret keluar lapangan. Rasa takut telah berubah menjadi geram, Abdulloh berlari mendekati bocah yang masih menyeret Jiao bak kucing.
Tanpa berpikir panjang Abdulloh menarik celana bocah itu, terlihat jelas belalai gajah menjulur keluar. Sontak anak putri yang di sana menjeri dan menutup mata. Dan anak laki-laki tertawa terpingkal-pingkal melihat belalai gajah dengan biji pelir yang besar sebelah.
“Hahaha ngak pake sempak!” ucap salah seorang anak yang melihat.
Spontan tangan yang mencekam baju Jiao terlepas, berganti meraih celananya. Saat itu juga Abdulloh dan Jiao berlari sambil tertawa.
Sampai di rumah keadaan baju robek nan kotor menjadi bahan intrograsi Pak Soleh. Setelah mendengar dongeng dari dua anaknya. Dia terdiam kemudian menatap Jiao dalam-dalam.
“Sekarang namamu Goman!”