Dua bocah itu saling berpandangan ketika abi mereka menyebut nama Goman.“Iya, Goman. Itulah namamu sekarang!” ucap Pak Soleh sambil tersenyum.
Wajah Jiao seketika itu tertunduk kecewa, ingin sekali bertanya tapi tak berani meskipun ia sangat penasaran mengapa namanya diganti dengan nama yang sangat aneh. Lebih aneh dari namanya sebelumnya; Jiao Solikhin.
“Kenapa jadi diganti, Abi?” tanya Abdullah membuat Jiao mengakat wajah memandang Pak Soleh.
“Karena untuk melindungi adikmu dari orang jahat.”
“Eh ... tapi?” Jiao tertunduk kecewa, jawaban Pak Soleh benar-benar tidak bisa diterima oleh Jiao. Apa yang salah dari namanya. Mana bisa ganti nama bisa menghindari dari anak nakal? Otak Jiao seakan berputar-putar menyangkal argumen pria yang berdiri di hadapanya.
Handai saja yang di hadapanya sekarang itu ayahnya pasti untuk memutahakan isi pikiran semudah buang air besar.
Namun, dengan cepat Pak Soleh menangkap bahasa tubuh anak angkatnya itu. Pak Soleh merunduk sejajar dengan tubuh Jiao. “Kamu tetap bernama Jiao Solikhin, tapi sekarang abi tambah dengan nama Goman di belakang. Ngak apa-apakan?”
Jiao mendongkak dan tersenyum kemudian mengangguk pelan. Hati Jiao sedikit lega namanya tidak diganti namun ditambah. Biar bagaimana pun Jiao tak punya pilihan lain selain menuruti apa kata Pak Soleh.
Dengan nama Goman, Pak Soleh berharap nama itu lebih lokal dan orang-orang bisa sedikit mengaggap anak angkatnya itu seorang pribumi. Jadi tidak alasan mereka yang tidak suka dengan kaum entis lalu mendiskriminasi semaunya.
Bukan itu saja yang dilakukan Pak Soleh untuk melindungi Jiao alias Goman. Keesok harinya Pak Soleh meminta kedua anaknya bermain di bawah terik matahari. Kedua anak itu nampak asik bermain kelereng, petak umpet kadang sepak bola. Dengan cara itu lelaki itu berharap kulit putih Goman akan sedikit hitam atau coklat.
Hasil sangat mengecewakan setelah proses penjemuran itu, kulit Goman tetap terlihat cemerlang. Dan Abdulloh yang semakin hitam. Hanya kulit Goman sedikit berubah menjadi coklat s**u. Dengan pikiran matang Pak Soleh menghentikan usaha konyolnya.
Suatu ketika hal buruk juga terjadi pada Bu Ros saat membeli seikat bayam di tukang sayur keliling. Ibu-ibu keliling di tengah-tengah keranjang, memanang sinis Bu Ros yang diikuti dua anak yang tampak berbeda. Bak bumi dan langit.
“Anaknya Bu?” tanya seorang perempuan usia hampir kepala empat.
“Ya.”
“Beda ya? Satu putih yang satu coklat tua.”
Sejenak Bu Ros memandang wanita itu dengan tatapan sedikit geram. Sedangkan dua anak yang berada di belakangnya hanya berpandangan menunggu sesuatu keluar dari mulut Umi-nya.
“Iya beda. Yang satu saya mandikan bayclin, yang satunya mandi s**u coklat. Kalo ibu ingin kulitnya putih coba saja.” Senyuman kejam Bu Ros membuat semua yang memandangnya menjadi bisu. “Jangan lupa baiklin dibuat kumur biar mulut selalu bersih!”
Dua bocah itu tertawa kecicikan membayangkan bagaimana rasanya kumur dengan pemutih pakainan, sedangakan Bu Ros meraih satu ikat bayam kemudian membayar dengan beberapa uang koin ke tukang sayur.
Rutinitas selepas magrip di keluarga Pak Soleh adalah mendudukan ke dua putranya bak rapat pria dewasa. Saat itu Bu Ros mengambil singkong yang telah dikukus dan segelas teh khusus untuk Pak Soleh. Kemudian wanita itu duduk di sebelah.
Pembukaan pembicaraan dibuka dengan sekelumit kisah nabi-nabi, wali songo dan yang paling Pak Soleh sebut adalah seorang panglima perang Islam salah satunya Muhammad Al Fatih. Dengan gaya dan bahasa anak-anak Pak Soleh menceritakan bagaimana hidup Al Fatih; seorang anak raja yang sudah mendapatkan pendidikan keras sejak dini. Bahkan pada usia dua belas tahun kesatria sudah diajarkan menunggang kuda dan memainkan pedang.
Bak sang pendongeng Pak Soleh selalu antusis mengakat tangan seolah-olah dialah Al Fatih yang menceritakan pengalaman di medan perang.
Goman yang tak pernah mendengar cerita itu pun merasa terhibur, meskipun pendekar perang dari negeri timur baru kali ini ia dengar. Menurutnya cukup hebat sama seperti pendekar-pendekar dari Negri Tirai Bambu, yang sering ayahnya ceritakan.
Persahabatan dua bocah itu semakin hari semakin erat. Mereka sedemikian dekat bukan karena sebab. Sesederhana pola pikir bocah. Abdulloh sangat kasihan pada Goman karena dia tak punya orang tua dan rumah. Sedangkan Goman sayang kepada Abdulloh karena hanya dialah yang mau berteman dengannya.
Setiap pagi mereka akan mandi bersama, saling adu burung hingga Bu Ros menjerit marah, baru mereka akan berajak dari kamar mandi. Lalu, mereka akan sarapan dan berangkat ke sekolah. Di sekolah mereka sering dijuluki t*i cicak. Selayaknya t*i cicak yang memiliki dua warna yang cukup mencolok. Hitam dan putih yang selalu menyatu.
Awalnya mereka akan marah namun lama-lama Goman atau Abdulloh tidak perduli.
Hari berganti minggu, lalu berganti bulan dan begitu seterusnya. Peristiwa kelam di tahun 1998 telah terlewati dengan setuja trauma dan kenangan. Seperti Goman, setiap kali melintasi jalan depan rumahnya ia akan selalu tertunduk meneteskan air mata. Rumah itu sekarang lebih buruk dari kandang ayam. Lebih hancur dari rumah hantu yang dilihatnya di film-film.
Untung saja perasaan teriris-iris itu hanya saat bocah itu melintas di depan rumah jika sudah lewat rasa kelam itu tak akan terasa kembali. Terganti dengan rasa riang dan asik bermain.
*
Musim penghujan masih saja nguyur bumi Solo di bulan Januari di akhir bulan,yang biasanya musim kemarau sudah datang saat memasuki bulan Januari entah mengapa kali ini berbeda. Layaknya anak kecil Goman dan Abdulloh paling senang bermain air di bawah ritik hujan. Bermain kejar-kejaran, membuat sungai dengan air hujan atau membuat kolam-kolaman lalu di isi cebong yang diambilnya dari got depan rumah.
Saat itulah Bu Ros akan mengomel bak kultum di hari Jumat. Sesaat mereka akan berhenti jika Bu Ros mengeluarkan suara melengking namun besok akan kembali lagi. Mencari cebong lalu dibuatkan tempat tinggal di pojok halaman rumah.
Tapi permainan mereka yang begitu mengasikan terhenti ketika Abdulloh terjangkit demam tinggi beberapa hari dan disertai muntah-muntah. Bocah sebelas tahun itu lemas tak berdaya di atas kasur.
“Kamu butuh apa? Katakan saja!” ucap Goman sambil duduk menatap Abdulloh.
“Tidak ada.”
Abdulloh kembali menutup matanya yang terasa sangat panas karena efek dari demam tinggi yang ia rasakan. Berkali-kali Goman meganti kompres handuk basah yang berada di kening Abdulloh.
Tak lama kemudian Bu Ros masuk membawa ramuan yang terbuat dari temulawak dan kunyit yang dihaluskan kemudian diambil sari patinya. Memaksa Abdulloh menegak ramuan yang membuat buruk rasa lidahnya.
Abdulloh beberapa kali menolak namun Pak Soleh dan Goman turut ikut memaksanya. Akhirnya dengan air mata berderai menahan getir bocah itu minum ramuan itu. Tak disangka tiga kemudian tubuh Abdulloh mulai merasakan sedikit segar.
Senyuman diterlihat di antara bibirnya yang sedikit pasi. Semangat untuk bermain pun pulih. Ingin rasanya Abdulloh pergi kelapangan, namun Bu Ros sudah cerewet wanti-wanti tidak boleh keluar meskipun selangkah.
Akhirnya dua bocah itu bermain mobil-mobilan di ruang tamu.
“Aku tadi bermimpi, kau sholat denganku,” sekilas Abdulloh menatap Goman yang sedang bermain mobil-mobilan.
Goman tak terlalu perduli dengan mimpi saudaranya itu, jelas baginya itu mimpi yang aneh. “Mimpi ngak jelas.”
Di kursi tua Pak Soleh yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum kemudian ia kembali melanjutkan membaca kitap kuning. Tiga puluh menit kemudian azan magrip berkumandang Pak Soleh berdiri lalu menuju bilik kamar mandi, bersiap sembayang.
Tanpa perlu perintah Abdulloh segera menyusul abinya ke bilik dan sholat berjamaah. Setelah tiga hari bocah itu terjangkit demam dan tak mampu sholat, malam ini ia akan sholat berjamaah. Seperti biasanya Goman di belakang mereka menunggu mereka selesai sembayang.
Kali ini Abdulloh lebih khusuk. Bocah itu tak menjulurkan lidah ketika rujuk atau sujud. Goman menatap gerakan tubuh Abdulloh lebih tenang dari biasanya. Dari awal takbir hingga salam.
Selesai berzikir Pak Soleh memanggil Goman untuk duduk di dekatnya. Ikut mendengar kisah nabi-nabi yang terus diulang-ulang. Namun anehnya dua bocah itu tak merasa bosan. Kali ini kisah tentang Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail.
Hingga azan isyak berkumandang kisah itu belum juga kelar. Akhirnya Bu Ros meminta untuk sembayang baru Pak Soleh kembali berkisah.
“Dongengnya besok lagi Bi! Biar Abdulloh istirahat,” tutur Bu Ros melepas mukenah.
“Ya sudah kalian masuk kamar! Tidur!”
Dua bocah itu tak menyangkal, kemudian masuk ke dalam kamar. Berbicara ngalor ngidul kemudian memejamkan mata dan tertidur.
Tepat pukul sebelas malam Goman kebelet pipis. Sialnya untuk ke kamar mandi sendiri menjelang tangah malam ia tak punya keberanian. Dari pada ngombol ia berniat membangunkan Abdulloh yang telah tertidur meringkuk. Di ayun pelan lengan Abdulloh tetapi yang terasa panas di telapak Goman. Digoyangkan kembali tubuh Abdulloh.
“Ayo temeni aku ke kamar mandi! Kebelit nih!”
Abdulloh tak bergerak. Nampak bibirnya pucat nan kering. Giginya mengatuk seperti menahan sakit. Goman kebingungan berdiri, berlari menuju bilik kamar Pak Soleh. Membangunkan mereka dengan setengah menjerit.
Dalam hitungan detik pintu kamar terbuka. Pak Soleh yang telanjang d**a menutupi separuh tubuhnya dengan sarung keluar kamar dan berlari menuju kamar Abdulloh. Di susul Bu Ros yang mengenakan baju terbalik melangkah tergopoh-gopoh. Bu Ros meletakakan tangan ke kening lalu ke leher Abdulloh. Rasanya hampir mirip panasnya mejikom yang menghangatkan nasi.
Karena kwatir bocah itu tak kunjung sadar, Pak Soleh meraih tubuh Abudolloh dan membawa berlari menuju rumah tetangganya yang berkerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit. Untung saja tak perlu waktu yang lama untuk membangunkan seseorang di jam istirahat. Ketukan pintu yang ke lima dokter muda itu membuka pintu, dengan wajah lesu dan kantuk.
Namun kedua bola mata yang lengket segera sadar ketika melihat wajah pucat Abdulloh di gendongan ayahnya. Dengan sigap dokter itu menyarankan untuk bocah itu dibaringkan sofa ruang tamu.
Tak perlu waktu lama dokter muda itu melakukan pemeriksaan. Beberapa kali , berkali-kali membuka mata Abdulloh menyenter dengan senter kecil.
“Pak, maaf anak bapak telah tiada. Baru beberapa menit yang lalu.”