Bendera kuning berkibar di depan rumah Pak Soleh. Orang-orang berbaju hitam berjalan beriringan. Pelayat perempuan lengkap membawa wadah yang berisi beras
Terlihat Pak Soleh dan Bu Ros menangis sesenggukan di pinggir mayat Abdulloh yang terbalut kain jarik motif batik. Goman meringkuk diantara para pelayat, mulutnya terdiam tanpa suara tangis. Tapi bahasa kedua bola matanya tak bisa dibohongi jika dia juga orang yang paling merasa kehilangan Abdulloh.
Sebelum matahari meninggi acara pemakaman dimulai. Goman itu berjalan beriringan dengan Bu Ros mengantar jasad Abdulloh. Pemakaman itu letaknya bersebelahan dengan pemakaman Kristen.
Goman memandang sekilas terlihat kayu berbentuk salip menacap di antara gundukan tanah. Goman yakin sekarang di sanalah orang tuanya menatapnya. Sedih.
Tak sampai satu jam acara pemakaman dan doa yang dipimpin langsung oleh Pak Soleh untuk putra semata wayangnya. Ketika para pelayat berhampuran pulang. Tinggalkah Pak Soleh, Bu Ros dan Goman duduk di samping gundukan tanah. Beberapa menit Pak Soleh membujuk Bu Ros yang enggan untuk pulang.
“Ayolah pulang! Jika kau seperti ini nanti sakit!”
Bu Ros diam. Masih dengan tangisan yang sama. Air mata yang terus mengalir di pipi tanpa suara.
Goman menghapus keringat yang menetes di antara kening dan pelipisnya. Wajahnya yang putih kini berubah kemerahan. Persis udang rebus. Di liriknya sekilas matahari yang silau. Benar matahari itu tepat di ubun-ubun. Panas luar biasa.
“Ayolah pulang!” ucap sekali lagi Pak Soleh dengan sangat lembut. Ia terlihat lebih tabah dan menerima. “Kasihan Goman kepanasan.”
Sejenak Goman menatap Pak Soleh. Tersenyum lalu kembali menghapus keringat di kening dengan ujung baju panjangnya.
Tiba-tiba Bu Ros menatap Goman kemudian memeluknya sangat erat. Goman terdiam. Pasrah dengan pelukan itu. Bahkan tangisan Bu Ros semakin menjadi. Goman teringat dengan mamanya. Pelukan itu benar-benar mengingatkan dirinya dengan Suri.
Rindu sekali Goman dengan wanita yang telah melahirkannya. Bu Ros terus memeluknya. Entah apa maksutnya, Goman tak tahu. Tapi dia memilih diam.
“Sekarang aku cuma punya kamu Man.”
Satu kalimat itu saja yang keluar dari bibir Bu Ros. Pak Soleh mendekat dan menepuk bahu Bu Ros. Akhirnya mereka berpelukan. Goman yang sudah tidak tahan dengan panasnya mentari akhirnya memberanikan diri.
“Bi, Goman pulang dulu boleh? Panas sekali.” Goman kembali menyapu keringat dengan ujung bajunya. Terlihat wajahnya keseluruhan memerah. Seperti udang saos tiram.
Ucapan itu membuat dua orang yang saling pelukan saling melepaskan.
“Mari kita pulang!” ucap Bu Ros.
Sejenak wajahnya menatap batu nisan Abdulloh. Lalu melangkah dan meraih tangan mungil Goman membimbingnya pulang. Goman lega akhirnya pulang. Bukan ia tak sedih, tapi panasnya surya membuatnya lupa akan kehilangan. Dasar bocah.
Sesampai di rumah seorang bertubuh kurus beralis tebal telah menyambut kedatangan mereka. Rusdy, adik Pak Soleh sudah berdiri menunggu di depan teras. Dengan mengenakan kemeja warna biru tua dan tas ransel warna hitam yang sudah tampak usang nan lusuh melekat di punggung. Terlihat wajahnya sangat kusut. Kurang tidur. Hal biasa yang dialami mahasiswa akhir semester.
“Mas, maaf aku telat.” Rusdy meraih tangan Pak Soleh kemudian menciumnya.
“Tidak apa. Tidak ada yang tahu kapan kematian sebenarnya akan datang.”
Kemudian mereka berjalan memasuki rumah duduk di ruang tamu. Sedangkan Bu Ros sibuk di dapur membuat minuman. Goman yang binggung harus apa memilih duduk sendiri di teras. Biasanya jika para orang tua sedang sibuk ia dan Abdulloh akan bermain di luar atau kamar.
Namun saat ini Goman benar-benar canggung.
Kikuk.
Karena Abdulloh sudah tak berada di sampingnya, Goman termenung sendirian di teras memperhatikan apa pun yang lewat di hadapannya. Untung saja hal itu tidak terlalu lama setelah namanya dipanggil.
“Goman! Sini Nak!” seru Pak Soleh dari dalam rumah.
“Iya Bi!”
Goman berlari kecil menghampiri Pak Soleh.
“Duduk sini!” Tubuh Pak Soleh bergeser sedikit lalu Goman duduk di sebelahnya.
“Di sini saja! Di luar panas!” ucap Pak Soleh sambil menepuk bahu Goman.
Goman tak menjawab.
Pandangan Rusdy terarah pada Goman. Tajam menikam. Jelas itu tatapan aneh bagi Goman. Sorot mata itu berbeda dengan Pak Soleh yang tak pernah menatap keras padanya.
“Ini anak siapa Mas?” tanya Rusdy sambil berarah menatap Pak Soleh.
“Dia anak Koh Liem, tetangga. Rumahnya terbakar waktu kerusuhan kemarin. Ayahnya meninggal. Dan ibunya juga meninggal beberapa hari setelah kebakaran waktu itu.”
“Di mana keluarga yang lain.”
Senyum Pak Soleh melebar. Tangannya meraih pundak Goman dan dirapatkan dengan dirinya.
“Sekarang aku keluarganya.”
“Tapi dia Chin...”
Belum sempat Rusdy melanjutkan ucapannya Pak Soleh lebih dulu mebatahnya. “Lalu kenapa?”
“Anak komunis!”
Rusdy membuang muka, terlihat jelas ia tidak setuju dengan keputusan Pak Soleh. Goman yang tak mengerti dengan ucapan Rusdy hanya terdiam menunduk. Tapi ia mengerti sikap Rusdy tak suka padanya.
“Dia masih anak-anak! Jangan ngomong sembarangan!”
Suara Pak Soleh lembut, sikapnya teramat tenang. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Goman kecil. Goman pasrah.
“Kalo gede paling-paling juga pelit! Peritungan!”
“Sudahlah Rus! Kamu selalu seperti itu!”
“Orang-orang seperti dia ini yang membuat kita jadi sengsara di negara sendiri!” telunjuk Rusdy pas ke arah Goman. Benar-benar membuat bocah itu membeku. Goman tak mengerti semua kata-kata yang terlontar dari mulut Rusdy.
Pak Soleh menarik nafas panjang. Mengusap separuh wajahnya. Ada sesuatu yang ia tahan dalam dadanya. “Rus, aku baru saja berduka!”
Rusdy tak menjawab, sekilas wajahnya menatap Goman. Lalu buang muka acuh.
Sejenak ruangan itu hening. Lalu Bu Ros datang membawa teh panas di atas nampan. Meletakan satu persatu di hadapan Pak Soleh dan Rusdy.
Bu Ros memecah suasana dengan bertanya kabar, seputar kuliah. Hingga Rusdy membuka pertanyaan soal kematian Abdulloh. Pak Soleh lebih banyak diam menikmati teh. Untuk pertama kalinya Goman ditawari teh satu mug dengan Pak Soleh. Goman mengeleng tak mau. Ia tak terbiasa minum teh.
Kali ini Bu Ros lebih banyak bicara. Meluapkan kesedihanya. Sesekali air mata itu menetes namun tak sederas waktu di pemakaman.
Sesaat kemudian Rusdy bercerita tentang persiapan sekripsi. Ia juga cerita telah diterima kerja di salah satu bank menjadi tukang bersih-bersih. Terlihat sekali wajahnya semangat ketika mengatakan ia akan naik jabatan jika sudah lulus.
“Lumayan gaji tukang sapu kantor bank, bisa buat beli rokok.” Senyum lebar Rusdy menghiasi pipinya.
Saat itulah Pak Soleh mulai bertanya tentang ini itu. Dan perbincangan mulai kembali hangat. Goman yang tak mengerti percakapan orang dewasa cukup membuatnya mengatuk. Beberapa kali ia telah menguap.
“Ngantuk?” tanya Pak Soleh ketika Goman menguap ke tiga kalinya.
Goman mengangguk. Lalu Pak Soleh meraih tubuh Goman dirapatkan dengan dirinya. Goman yang sudah tak tahan dengan kantuk memilih pasrah tidur di bahu Pak Soleh.