Hari baru berlalu. Semua berjalan sedemikian rupa. Pak Soleh kembali dengan akivitas jualan. Bu Ros menjadi ibu rumah tangga dengan segudang aktivitas tanpa mengenal waktu. Kadang ia masak atau menyulam sambil bercerita ini itu pada Goman. Meskipun bocah itu lebih banyak mengangguk dan menjawab singkat, Bu Ros nampak terus berbicara.
Sebenarnya Goman adalah obat untuk wanita tua yang kesepian. Setelah anaknya mati. Oleh sebab itu Bu Ros dan Goman semakin dekat setelah Abdulloh meninggal.
Minggu pertama sangatlah sulit tanpa Abdulloh. Goman tak punya teman di rumah apalagi di sekolah. Tak ada yang mau berteman dengannya karena berbeda. Itu kata teman-temannya. Kulit lebih putih, mata terlalu sipit, yang jelas dia paling tampan dari pada yang lain, perbedaan fisik yang mencolok membuat ia dikucilkan.
Hanya Suli yang masih baik denganya. Mungkin karena ia juga tak punya teman. Bukan ia berbeda seperti Goman tapi ingus yang terus menetes, di bawah kaca mata tebal diwajahnya membuat teman-temannya jijik.
Setelah minggu kedua Goman merasa lebih terbiasa dengan kesendirian. Jika waktu istirahat ia akan ke perpustakaan. Lalu meminjam buku yang ia sukai untuk di bawa pulang. Hari-harinya habis dengan buku dan tugas sekolah. Dan kegiatan rutinnya sekarang di kala libur adalah ikut Pak Soleh jualan kain batik dan baju di pasar Klewer.
Dia sering mendengar pertanyaan aneh dari pada pembeli dagangan Pak Soleh.
“Anaknya impor ya?”
“Ibunya China?”
“Istri bapak China?”
Masih banyak lagi pertanyaan aneh yang dilontarkan para pembeli. Namun yang jelas Pak Soleh selalu menjawab jika Goman anaknya. Ibunya Jawa tulen. Tak pernah sekalipun mejawab siapa sebenarnya Goman.
Goman pun tak mengerti dan tak mau ambil pusing dengan semua itu. Lama-lama terbiasa. Terbiasa dengan pertanyaan dan pandangan aneh terhadapnya. Toh berasal dari nama, warna kulit bahkan berasal dari mana itu tak ada yang salah.
Yang sulit sekarang baginya jika ingin bertanya. Ia rindu sekali diskusi dengan ayahnya, Liem. Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab. Ya, meskipun kadang terjawab dari buku yang ia baca. Sebenarnya ingin sekali bertanya pada Pak Soleh. Tapi Goman merasa malu, rikuh.
Namun kebiasaan seperti sedia kala masih saja terus berulang di kala Magrib. Pak Soleh sholat bersama Bu Ros, setelah selesai Pak Sholeh akan memanggil Goman untuk mendengar dongeng singkatnya.
Dongeng seputar panglima Islam, para nabi, wali songo yang sudah diulangnya entah berapa kali.
“Goman apakah kamu tahu siapa penakluk Konstantinopel?” tanya Pak Soleh sambil menatap atas rumah.
“Sultan Muhammad Al Fatih.” Suara Goman terdengar lantang. Dari kisah yang ia pernah dengar salah satu yang membuat isi kepalanya melayang.
Pak Soleh menepuk pundak Goman dengan sangat halus. “Dia anak muda yang tangguh. Sebagai anak seorang raja dia tidak menjadi manja,” ucap Pak Soleh mulai bercerita.
Mata Goman tertuju pada wajah Pak Soleh, dia begitu antusias mendengarkan bagaimana Pak Soleh bercerita. Kepalanya mulai membayangkan bagaimana jika dirinya menjadi sosok Al Fatih yang mengusasi tehknik perang dan menugang kuda di usia 13 tahun. Membayangkan dirinya menjadi seorang raja yang ditakuti saat usianya masih belasan.
Bukan halnya Al Fatih yang menjadi cerita favorit tapi juga kisah Laksamana Cheng Ho. Dulu ketika ayahnya masih hidup sering bercerita tentang bajak laut, Laksamana Cheng Ho yang berasal dari Negri Tirai Bambu.
Namun, bedanya dari Pak Soleh mendapatkan cerita yang lebih lengkap. Dari armada kapal yang besar hingga misi penyebaran agama Islam di Indonesia.
Hingga satu tahun berlalu. Goman telah genap berusia dua belas tahun, ia masih setia duduk di belakang kedua orang tua angkatnya saat sembayang. Yang berbeda dari sekarang adalah keinginan untuk mengenal Islam lebih jauh. Ya, pengetahuan baru yang ia dapatkan dari Pak Soleh benar-benar mengusik pikirnya.
Bahkan buku tentang Islam telah ia baca. Namun, bocah itu terus saja dilanda rasa penasaran.
Bukan itu saja, bayang-bayang Abdulloh ketika menjelang ajal selalu menghantui. Ketika Abdulloh bercerita tentang mimpi dan keinginannya untuk sembayang bersama.
“Bi, Goman pengen ikut sholat boleh?” ucap Goman ketika Pak Soleh hendak sembayang asar.
Kedua mata Pak Soleh menatap Goman penuh keharuan. Lelaki itu memeluknya erat, mencium Goman berkali-kali. Sungguh Goman sebenarnya tidak mengerti mengapa Pak Soleh bertidak begitu berlebihan.
Namun, Goman tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia dengan kasih sayang dua orang tua angkatnya itu.
Tanpa berkata panjang Goman diajarkan melafalkan dua kalimat syahadat. Disaksikan oleh Bu Ros. Yang saat itu menangis dan berkali-kali mencium kening Goman. Kemudian mereka melakukan sholah berjamaah untuk pertama kalinya.
Terdengar jelas suara serak, berat penuh haru ketika Pak Soleh mengucapkan takbir. Lelaki tua itu tak mengira jika anak angkatnya ikut memeluk keyakin yang sama. Tanpa ajakan apalagi paksaan. Tak menunggu ke esok harinya Goman sunat.
Hari berlalu minggu, saat liburan telah tiba di mana Goman sudah siap berangkat ke pasar bersama Pak Soleh. Dirinya termenung menunggu lelaki itu berbenah, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang lelaki dengan rambut acak-acakan yang mengendarai motor bebek dan berhenti tepat di halaman. Dengan langkah cepat menuju ke arah teras rumah dan masuk begitu saja.
“Assalamulaikum,” ucap Rusdy ketika setelah melewati pintu dua langkah.
Dari dalam kamar terdengar jelas suara Pak Soleh. “Wallaikumsallam.”
Sesaat Pak Soleh keluar di balik tirai, lalu duduk di kursi kayu ruang tamu. “Goman, tolong buatkan teh untuk om-mu!”
“Iya Bi!” ucap Goman sambil berjalan cepat masuk rumah.
Belum sampai melewati ruang tamu suara Rusdy memanggilnya dengan nada lembut, beda dari biasanya. “Man...tidak usah aku tidak lama kok.”
Goman menatap Pak Soleh, terlihat wajah lelaki itu mengangguk dua kali. “Ya sudah kau duduk sini.”
Langkah Goman pelan lalu tubuhnya duduk di sebelah Pak Soleh.
“Ada apa? Tumben pagi-pagi sudah sampai sini?”
Wajah Rusdy tertunduk. “Jadi begini Mas, a...aku butuh duit. Bu...buat bayar kos.”
Seketika itu wajah Pak Soleh berubah muram, jelas kedua alisnya ditekuk. “Goman, kamu ke dapur dulu ya! Ikut umi.” Pak Soleh mengulum senyuman, tanganya menepuk pundak bocah di sampingnya.
“Iya Bi,” jawab Goman sembil berdiri melangkah dan menghilang di balik dapur.
Terlihat jelas Bu Ros sedang berdiri di balik tirai yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang tengah. “Sini, umi bikinkan s**u. Allhamdullilah Abi ada rizki lebih. Bisa beli s**u buat kamu.”
Goman menatap wajah masam sama seperti wajah Pak Soleh, hanya saja wanita tua itu mampu tersenyum lebih tulus.
“Bukankah minggu lalu kamu habis saya kasih uang buat bayar kos. Bahkan awal bulan aku sudah kasih uang untuk wisudamu!”
Suara Pak Goman terdengar hingga dapur.