Terdengar jelas nada tinggi Pak Soleh hingga menembus dinding-dinding dapur. “Mau buat apa uang sebanyak itu?”
Goman berdiri di sebelah Bu Ros dengan wajah ciut. Pasalnya baru kali ini ia mendengar Pak Soleh berbicara sekeras itu. Bukan hanya Goman yang merasakan hal itu tapi Bu Ros. Wajah wanita itu terlihat cemas mendengar perdebatan dua laki-laki di ruang tamu.
“Saya pokoknya butuh Mas! Kalau saya sudah kaya nanti aku ganti!”
“Bahkan aku dan keluargaku setiap hari makan seadanya. Lalu kamu datang setiap minggu minta uang dengan jumlah di luar kemapuanku.”
Bu Ros yang menelan ludah, sambil menuangkan s**u sacet ke dalam gelas blimbing. Awalnya wanita itu menyambut baik kedatangan saudara iparnya, hanya saja setiap datang untuk urusan uang. Lama-lama jadi jengah.
“Dari pada biaya buat anak komunis itu mending buat bantu saya Mas!”
“Dia bukan anak komunis tapi dia anakku.” Jelas dari tekanan nada suara Pak Soleh tidak suka dengan ucapan Rusdy.
Rusdy acuh tak acuh. “Jadi begini Mas, di bank tempat aku bekerja membutuhkan staf baru. Aku bisa diangkat jadi staf kalo bayar dengan jumlah uang itu.”
Ini bukan kali pertama perdebatan antara kakak dan adik berlangsung di rumah itu. Entah berapa kali perseteruan itu berlangsung selama dua bulan terakhir dengan masalah yang sama. Duit. Rusdy, adik tiri Pak Soleh terus-terusan meminta uang dengan jumlah semakin banyak. Entah untuk makan, bayar kos, hingga urusan perkuliahan.
Awalnya Pak Soleh memberikan uang yang adiknya minta. Lama kelamaan Pak Soleh tak mampu. Karena satu minggu sekali dalam dua bulan terakhir Rusdy datang hanya karena urusan uang.
Bahkan, Goman sekarang sudah hafal dengan kebiasaan Rusdy di akhir pekan dan tak ambil pusing lagi jika pria itu selalu menyebutnya “anak komunis”. Sebenarnya biasa saja dengan sebutan itu karena Goman tak tahu artinya.
Namun, lama kelaman karena terlalu sering menyebut anak komunis membuat Goman muak. Bahkan setelah tahu arti komunis membuat kebencian dengan Rusdy semakin menjadi.
“Maaf Rus, saya tidak bisa. Saya tidak mengizinkan kamu meraih jabatan dengan menghalalkan cara. Kamu bakal jadi sarjana kalo mau bisa dengan mudah dapat kerja.”
Dengan cepat Rusdy memotong ucapan Pak Soleh. “Sejak Mas Soleh pelihara anak komunis jadi ketularan pelit!”
Tanpa menunggu reaksi dari Pak Soleh, pria muda itu melangkah meninggalkan ruang tamu. Lalu melangkah cepat dan dipacu sepedah motornya dan dengan sengaja memutar gas sekencang-kencangnya.
Di balik dinding tempok suara Rusdy terdengar jelas di dapur membuat Goman semakin teiris-iris. Apa yang sebenarnya membuat lelaki itu sepertinya sangat membenci dirinya? Hati kecil Goman terus bertanya-tanya.
Tak lama setelah kepergian Rusdy, Pak Soleh masuk ke dapur menepuk pundak Goman. “Jangan terlalu dipikirkan apa ucapan Rusdy, dia memang emosional.”
Gomah tak menjawab hanya tersenyum tipis, menutupi hatinya yang tumbuh kebencian dengan lelaki bernama Rusdy.
“Tolong kopi ya Mi! yang pait.” Wajah Pak Soleh dengan sedikit senyuman menatap Bu Ros.
Dan akhirnya jadwal ke pasar kali ini sedikit terlambat, setelah Pak Soleh menceritakan sedikit hal tentang Rusdy kepada Goman.
Sebenarnya nasip Pak Soleh jauh lebih beruntung ketimbang Rusdy. Hingga usia tujuh tahun ia masih merasakan kasih sayang ibu. Hingga penyakit malaria menerpa ibunya selama tujuh hari tujuh malam lalu meninggal.
Beberapa tahun kemudian bapaknya Pak Soleh menikah lagi. Lahirnya Rusdy, namun sial ibunya meninggal pasca melahirkan. Sejak saat itu Rusdy selalu mendapatkan kasih sayang lebih dari sosok bapak. Semua hal dituruti semata-mata membayar kehadiran seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan.
Dan Pak Soleh yang sudah meijak usia remaja paham betul situasi buruk yang menimpa bapaknya, akhirnya memilih menurut.
Puncaknya ketika bapak mereka mengadaikan rumah kepada renternir. Untuk Rusdy kuliah. Namun, sayangnya bapaknya meninggal seminggu kemudian. Pak Soleh yang mengambil alih urusan utang piutang itu lantas tak mampu membayar dan bungga semakin membesar.
Akhirnya rumah terjual dengan harga murah untuk membayar semua hutang dan sisanya untuk kebutuhan hidup.
Seperti biasa Goman mendengar dengan seksama, sesekali bertanya. Namun, cerita masa lalu perih yang dialami Rusdy tidak sama sekali membuat Goman iba. Toh sebenarnya nasibnya sama. Sama-sama yatim piatu. Justru Rusdy masih merasakan seorang ayah hingga dewasa. Lalu bedanya apa dengan dirinya, pikir Goman dalam hati.
Akhirnya hari ini Pak Soleh sedikit terlambat pergi ke pasar. Berangkat menjelang matahari hampir berada di atas ubun-ubun. Telat memang tapi setidaknya tetap ke pasar. Adanya Goman yang ikut berjualan di akhir pekan sangat membantu Pak Soleh.
Bisa dipastikan Pasar Klewer dibanjiri pembeli dan pedagang dari luar kota di hari Sabtu dan Minggu . Saat itulah Goman ikut membantu melayani pelanggan. Sekarang dirinya sudah pintar berhitung tanpa bantuan kalkulator. Meski pun kikuk kalau ada yang bertanya soal identitasnya.
Lama-kelaman ABG itu bisa membedakan mana batik Solo dan Pekalongan; kebetulan Pak Soleh hanya menjual dua jenis batik itu. Bahkan banyaknya jenis motif batik Goman sudah hafal beserta maknanya. Itu semua berkat buku-buku Pak Soleh yang ia baca kala di rumah.
“Ini batik Sidomukti Bu, cocok buat rok pengantin. Melambangkan kemakmuran dan sejahtera oleh sebab itu sering digunakan untuk acara pernikahan.”
Hanya karena sedikit obrolan akrab dengan pembeli Goman berhasil mengaet pelanggan. Sudah dipastikan mereka akan datang lagi atau kalo tidak merekomendasikan ke orang lain.
Pak Soleh yang merasa bangga memiliki anak cerdas, tak pelit mengeluarkan sejumlah uang untuk Goman selepas dagang.
“Ini untukmu!” Pak Soleh menyerahkan beberapa lembar uang. “Beli apa yang kamu Nak!”
Mata Goman berbinar sambil meraih uang itu. “Terima kasih Abi.”
Uang dari hasil membantu Pak Soleh dagang ia gunakan untuk membeli buku, peralatan sekolah sendiri dan sisanya ia simpan di balik kasur tempat tidurnya. Goman tak tertarik beli mainan. Dia tak punya sahabat untuk berbagi mainan. Dan, buku hanya satu-satunya benda yang mengisi waktu luangnya.
Secara tidak langsung Goman belajar jualan dan menghasilkan uang. Membuatnya semakin senang membantu Pak Soleh karena bisa membeli sesuatu tanpa harus meminta. Toh dia sudah punya uang sendiri.
Untuk meminta pun Goman malu, karena dia sadar diri. Siapa dirinya sesungguhnya.
Hatinya begitu bahagia ketika melihat uang receh bercampur dengan uang kertas telah terkumpul banyak. Meski pun belum cukup untuk membeli televise impian Bu Ros. Ya, Goman ingin sekali membelikan televisi untuk ibu angkatnya itu. Karena merasa kasihan sering kesepian di rumah kala dirinya sekolah dan Pak Soleh di pasar.
Setiap malam uang itu selalu dihitung, meski pun jumlahnya sama. Dan akan selalu bertambah di akhir pekan, setelah ikut jualan dengan Pak Soleh. Ditutuplah uang itu dengan bantal lalu tertidur di atasnya sambil membayangkan wajah Bu Ros bahagia melihat tv baru.
Namun, impian itu hanya sekedar impian setelah uang itu terkumpul selama tiga bulan. Tepatnya saat Rusdy menginap.