Dari apa yang pernah dia alami di masa lalu, Anggun sadar, menangis dan pasrah bukan pilihan yang benar.
Pengalaman pahit yang pernah dirasakannya, membentuk Anggun menjadi versi lebih tegas. Air matanya sudah tidak pernah dia keluarkan untuk hal remeh temeh seperti menangisi nasibnya.
"Kamu belum mau pulang?" Anggun menoleh ke arah pintu yang terbuka, sosok laki-laki yang tak lain adalah Sabian Ruga masuk ke ruangan Anggun dengan langkah pelan.
Anggun tersenyum lalu menggeleng cepat sebagai jawaban.
"Aku mau menyelesaikan berkas-berkas ini dulu, besok pagi harus dibawa sidang." Jawab Anggun, lalu kembali fokus ke arah laptopnya.
"Kamu pasti belun makan kan?" Tanya laki-laki yang biasa Anggun panggil dengan sebutan 'Mas Abi'.
"Makan dulu!" Titah Abi sembari meletakkan plastik putih berisi sebungkus nasi padang kesukaan Anggun.
"Makasih masss!" Teriak Anggun kegirangan, lalu membuka bingkisan itu dengan semangat.
"Jangan terlalu keras bekerja, masih ada hari esok. Jangan lupa makan juga, kondisi kamu harus dijaga. Ingat kan punya penyakit lambung." Anggun terkekeh, dia memang sering sakit perut efek asam lambung yang naik saat pola makannya tidak dijaga.
"Fokus makan dulu kamu, biar aku bantu lanjut ngetik berkasnya." Abi meraih laptop Anggun, dan terpaku saat perempuan itu memberi kecupan kejutan di pipi kanan laki-laki itu.
"Mulai kan!" Cibir Abi yang disambut tawa jahil Anggun.
Perempuan itu beralih ke arah sofa panjang di samping meja kerjanya. Menghabiskan satu porsi nasi padang dari Abi, sembari memperhatikan laki-laki itu yang tampak serius membantunya.
"Kamu selalu tahu deh mas.'
Satu hal yang selalu Anggun suka dari seorang Abi adalah sikap dewasanya.
Sabian Ruga, laki-laki baik hati yang dia kenal sejak enam tahun lalu. Saat dirinya masih terpuruk dengan keadaan pasca perceraian yang terjadi antara dirinya dan Aham.
Bagaimana tidak, Selepas bercerai, Anggun kembali ke rumah sang kakek.
Tapi lagi-lagi kesialan itu datang, rumah sang kakek sudah ditempati oleh saudara kandung almarhumah sang ibu, ia dan keluarganya tidak mau menerima kehadiran Anggun di rumah itu.
Kehancuran bertubi-tubi yang membuat Anggun akhirnya terpuruk, di saat dia tidak memiliki apapun untuk menjamin hidupnya, keluarga tidak ada yang mau menerima. Dan harapan yang selama ini dia susun ternyata hanya membuat hatinya kecewa.
Hampir setahun penuh Anggun berjuang keras mencari pekerjaan demi menyambung hidup.
Ketika ingin menyerah saja, Anggun seperti dikirim malaikat oleh Tuhan, Abi, laki-laki yang lebih tua lima tahun dari dirinya itu tiba-tiba menghampiri, saat perempuan itu kesulitan membereskan berkasnya yang berserakan karna tidak sengaja terjatuh.
"Terima kasih banyak." Ucap Anggun ketika berkasnya sudah kembali rapi.
"Sama-sama."
"Dari yang aku lihat, sepertinya itu berkas lamaran ya?" Tanya Abi dengan sopan.
Anggun mengangguk ragu ke arahnya.
"Iya, aku memang sedang mencari pekerjaan." Jawabnya.
"Kalau boleh tahu, kamu mau melamar di mana?" Tanya Abi sesaat setelah membawa Anggun duduk di bangku taman.
"Kerja apa saja, aku sedang butuh pekerjaan." Abi tersenyum lalu mengulurkan kartu namanya ke arah Anggun.
"Ini, kantorku sedang butuh karyawan. Jika kamu berminat, bisa datang ke sana kapan saja."
Dari ketidaksengajaan itu, mereka berdua menjadi teman. Bahkan menjalin hubungan serius setahun belakangan ini.
Sabian Ruga adalah pemilik sebuah kantor advokat. Di sana, dia membawahi beberapa pengacara yang bekerja di Firma hukumnya.
Dulu, di awal-awal pertemanan, Anggun bekerja sebagai karyawan umum di kantor milik Abi.
Seiring berjalannya waktu, Abi melihat kemampuan terpendam dari Anggun yang memang layak diasah.
"Aku rasa, kamu sangat akrab dengan pasal-pasal!" Seru Abi.
Anggun tertawa renyah.
"Iya, dulu jaman sekolah aku suka banget sama pelajaran PKn" Jawab Anggun.
"Kayanya kamu berbakat jadi pengacara." Anggun tertegun mendengar ucapan Abi.
"Jangan bercanda, Mas. Mana mungkin aku bisa jadi pengacara. Sekolah aja cuma sampai SMA." Kilah Anggun tampak tidak percaya diri dengan sanjungan Abi.
"Kamu mau nggak sekolah hukum? Biar pihak kantor yang mengupayakan beasiswa untuk kamu. Tapi kuncinya kamu harus serius belajar." Laki-laki itu memberi tawaran.
"Beneran mas?" Tanya Anggun tampak tidak percaya dengan ucapan Abi.
"Iya, aku serius."
Hingga pada akhirnya, Abi memberi beasiswa kepada Anggun untuk mengambil kuliah hukum di salah satu Universitas swasta.
Tidak sia-sia, selama empat tahun menempuh pendidikan di perguruan tinggi, serta mengikuti pendidikan advokat lanjutan, Anggun berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik. Gelar sarjana hukum mampu dia dapatkan, dan Anggun bisa menempati posisi pengacara setara dengan teman-temannya yang bekerja di kantor Abi.
Bukan hanya itu saja, selama dua tahun menjadi pengacara, sudah banyak sekali kasus yang mampu Anggun tangani. Bahkan dengan kasus beratpun berhasil dia menangkan.
"Sini biar aku lanjutin."
"Kamu udah selesai makannya?" Tanya Abi membuat Anggun sontak mengangguk.
Abi mengarahkan laptop kembali pada Anggun.
"Kamu kalo mau pulang, pulang aja. Aku masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai." Ujar perempuan itu lagi.
"Aku temani di sini. Lagian aku juga nggak ada kesibukan." Jawab Abi sembari memainkan ponselnya.
"Ya udah terserah kamu,"
"Kamu yakin bisa memenangkan kasus perceraian Semita besok?" Tanya Abi tiba-tiba.
"Kamu meragukan aku ya?" Pancing Anggun.
"Bukan begitu, tapi aku pikir suami Semita itu bukan orang sembarangan. Dia tentu bisa mencari pengacara hebat untuk mengalahkan tuntutan Semita." Sela Abi.
Abi tahu asal-usul Anggun yang pernah menikah. Dia tahu saat ini status Anggun memang 'janda'. Tapi tentunya, laki-laki itu tidak akan pernah tahu jika kasus yang akan Anggun tangani ada kaitannya dengan mantan suami perempuan itu.
Anggun juga tidak ingin mengatakannya pada Abi. Dia ingin melakukan pekerjaan ini dengan profesional.
"Kamu tenang aja, aku akan berusaha keras kok."
"Kamu akan dapat bonus besar kalo masalah ini bisa kita menangkan!" Celetuk Abi lagi.
Anggun tertawa pelan.
"Pokoknya aku kerja keras dulu, usaha tidak akan mengkhianati hasil kan!"
Selalu begitu, jargon penyemangat yang Abi dan Anggun serukan.
Mengenal sosok Abi bertahun-tahun, mampu membuat Anggun banyak belajar. Dari Abi pula, Anggun sadar pentingnya menjadi perempuan kuat. Hidup ini keras, tidak selamanya kebaikan yang kita tanam dibalas baik juga oleh orang lain.
"Kamu tahu nggak mas, tanpa kebaikan kamu, mungkin aku tidak akan pernah sebahagia dan sekuat sekarang." Abi tersenyum mendengar ucapan tulus Anggun.
"Kamu sering loh ngomong ini." Ujar Abi lalu menatap wajah Anggun dengan lembut.
"Makasih ya mas!" Abi mengangguk mantab.
"Semua yang kamu dapatkan hari ini, bukan semata-mata karna aku aja. Tapi itu juga buah dari kerja keras dan kesabaran kamu selama ini."
"I love you mas!"
"Kalo bilang kaya gitu pasti ada maunya." Celetuk Abi.
"Enggak ada, aku cuma pingin ngucapin itu aja, mas."
"Iya, love you too. Udah, jangan bucin terus! Lanjutin itu berkasnya, biar cepat pulang."
"Siap boss!" Lanjut Anggun sembari tertawa.