"Huh!" Anggun menyandarkan punggungnya di kursi mobil milik Abi.
Laki-laki itu sengaja mengendarai mobilnya untuk menjemput Anggun di pengadilan seusai mengurus kasus perceraian Semita.
"Akhirnya semua perkara selesai," Ujarnya lega sembari menatap suasana jalanan malam ini.
Abi yang tengah fokus melajukan mobil hanya tersenyum mendengar ucapan Anggun yang tampak gembira itu.
Bagaimana tidak, kasus perceraian yang dihadapi Semita dan Aham bukan perkara ringan.
Benar dugaan Anggun, Aham ngotot tidak ingin bercerai dari Semita. Bahkan ketika palu hakim sudah memutuskan perkara mereka dengan putusan 'cerai', Aham diwakili kuasa hukumnya melakukan upaya banding.
Tidak tanggung-tanggung, Aham nekat menyewa dua pengacara sekaligus. Meski berat melawan kuasa hukum laki-laki itu, tapi tidak perlu meragukan kemahiran Anggun dalam menangani semua perkara.
Memang, sejak awal agenda sidang hingga putusan terakhir dan tahap banding sekalipun, Aham tidak menunjukkan batang hidungnya di pengadilan.
Menurut keterangan dari kuasa hukumnya, Aham sedang berada di luar negri untuk kepentingan bisnis.
Hal yang membuat Anggun gatal dan geregetan pada laki-laki itu, segitu gampangnya dia menolak pengajuan cerai yang Semita upayakan, tapi diminta datang ke pengadilan untuk proses mediasi saja, alasan Aham bermacam-macam. Apa bisa disebut tanggung jawab?
Huh! Dasar laki-laki b***t!
Padahal Anggun sangat berharap melihat wajah nelangsa laki-laki itu saat pengajuan bandingnya ditolak. Dia ingin sekali tertawa puas di hadapan Aham. Sayangnya laki-laki bodoh itu lagi-lagi tidak hadir.
"Kamu kenapa ngalamun?" Anggun terperanjat.
"Ah, enggak kok mas, aku cuma senang aja bisa membantu Semita lepas dari pernikahan yang tidak baik ini." Ujar Anggun.
"Bonusnya, besok aku kirim ya." Sahut Abi.
"Aku nggak semata-mata ngejar bonus kok mas, bisa bekerja dengan baik aja aku sudah sangat senang." Ucap Anggun jujur.
Abi mengacak-acak rambut panjang Anggun dengan pelan.
"Aku tahu kok kamu kerja tulus dan Ikhlas untuk klien kita, tapi bonus itu hak kamu." Sahutnya.
"Emm... Besok kan libur tuh mas, gimana kalo kita jalan-jalan." Ajak perempuan itu dengan mata berbinar.
"Aduh, kayaknya aku nggak bisa Nggun. Aku ada rapat di Bogor besok siang." Tolak Abi halus.
"Ah, gitu ya. Emm kalau malam?"
"Aku nggak janji ya, takutnya rapat besok bisa sampai malam." Meski sedikit kecewa, tapi Anggun tetap tersenyum lalu mengangguk.
11
"Ya udah deh, besok kabari aja mas kalo ada waktu luang."
"Iya," Jawab Abi sembari turun dari mobil, dia memutari mobilnya yang berhenti di pelataran parkir, tepat di kawasan apartemen yang Anggun tinggali, kemudian membukakan pintu untuk perempuan itu. Perlakuan kecil yang sangat manis bagi Anggun.
"Ya sudah aku masuk dulu ya, makasih sudah nganterin aku sampai apartemen." Abi mengangguk lalu kembali menutup pintu mobilnya.
"Aku nggak mampir, kamu langsung istirahat jangan capek-capek."
"Iya mas, kamu hati-hati ya!"
"Siap! Aku pulang."
Baru ingin beranjak setelah Abi beserta mobilnya pergi dari parkiran, langkah Anggun terhenti saat suara di belakangnya menginterupsi.
"Anggun Lilian Hamim, S.H!" Anggun menoleh cepat ketika suara yang tidak asing di telinganya, menggema ke seluruh pelataran parkir yang kebetulan sangat sepi.
"Oh, jadi kamu yang dipercaya untuk menjadi pengacara Semita!" Anggun melotot tajam.
Bagaimana mungkin, sosok laki-laki yang hampir empat bulan ini ditunggu-tunggu kehadirannya di pengadilan, namun selalu mangkir. Lalu untuk apa sekarang justru berdiri angkuh di hadapannya.
"Kamu!" Anggun sedikit tergagap.
"Hebat ya! Delapan tahun nggak ketemu, perubahan kamu sungguh luar biasa sempurna." Ujarnya tampak tidak suka.
Anggun berdecih pelan.
"Mau apa kamu ke sini? Dan tahu dari mana aku tinggal di sini."
"Nggak penting, yang pasti aku hanya ingin berpesan pada seorang pengacara yang sekarang sedang diagung-agungkan ini. untuk lebih cerdik lagi menghadapi klien sendiri."
"Apa maksud kamu?!"
"Oh, apa jangan-jangan kamu nggak terima aku berhasil membantu Semita keluar dari jeratan rumah tangga kalian." Pungkas Anggun.
"Kalo mau mengemis cinta, sana di depan Semita. Ngapain malah berdiri di sini! Nggak mau dicerai tapi nggak berusaha mempertahankan sama sekali, wajar kalau gugatan istrimu dikabulkan." Sarkas perempuan itu karna terlanjur kesal.
Abraham, laki-laki yang wajahnya tetap tampan meski sudah memasuki usia tiga puluh lima tahun itu hanya tertawa mengejek ke arah Anggun.
"Kata orang-orang yang pernah
menjadi klien kamu, seorang Anggun Lilian Hamim nggak perlu diragukan kepintaran dan Kehebatannya dalam menghadapi kasus hukum." Aham menjeda ucapannya.
"Tapi aku pikir-pikir, kamu itu tetap Anggun yang terlalu polos sehingga gampang sekali dimanfaatkan orang!" Anggun melotot tidak terima.
"Asal kamu tahu, Semita itu rampok. Aku tidak ingin bercerai dengan dia sebelum hartaku yang dia ambil dikembalikan." Tegas Aham.
30
"Huh, memangnya aku tidak tahu kalo itu termasuk dalam hak dia yang menjadi bagian harta gono-gini." Bantah Anggun.
"Mana ada harta gono-gini meliputi semua aset yang aku punya. Aku memang belum bisa mengumpulkan bukti bahwa dia selicik itu mengganti semua nama sertifikat bahkan sampai ke perusahaan."
"Omong kosong! Aku pernah jadi istri kamu, dan aku sangat tahu kamu itu orangnya seperti apa."
"Kamu sama sekali nggak kenal aku, Nggun!"
"Kenal! Kamu licik, pintar membolak-balikkan fakta. Dan satu lagi, selain sikap kamu yang dingin, aku memang baru tahu kalau kamu bisa KDRT."
"Asal kamu tahu, sekasar-kasarnya aku sama perempuan, aku nggak pernah main tangan ke mereka."
"Nah omong kosong apa lagi itu! Nyatanya Semita punya bukti visum yang menjadi dasar pasal KDRT di pengadilan kemarin." Anggun tidak mau kalah.
"Itu bukti visum palsu! Itu rekayasa yang sengaja Semita siapkan." Anggun mengernyit heran.
Bukan goyah, tapi Anggun merasa itu bukan kepentingannya untuk tahu.
"Aku nggak peduli ya, itu sama sekali bukan urusanku. Yang pasti pekerjaanku dalam mengurus kasus ini sudah selesai." Sambar Anggun cepat, lalu beranjak ke arah unitnya.
"Ku ingatkan pada kamu, jangan terlalu naif dan polos hanya karna kebaikan seseorang! Laki-laki yang mengantar kamu tadi tidak sepenuhnya bisa dipegang kata-katanya." Anggun berhenti tampak terusik dengan tuduhan Aham.
Dia berbalik dan menatap sengit ke arah Aham.
"Jangan asal bicara! Dia jauh lebih baik dan lebih bertanggung jawab dibanding kamu! Jauh! Sangat sangat jauh dan tidak pantas dibandingkan dengan kamu!" Aham tampak terkekeh.
"Pegang kata-kataku, hati-hati jangan-jangan kamu cuma dibodohi." Teriak Aham lagi.
Anggun tidak ingin peduli, langkah lebarnya segera dia ayunkan agar cepat sampai di unitnya.
Percakapan gila ini harus segera dia akhiri. Kehadiran Aham sangat membuat ketenangannya terusik.
Dasar laki-laki b***t! Sudah salah masih berani nuduh-nuduh orang sembarangan.