Sudah hampir tiga hari lamanya, semenjak Abi pamit rapat ke Bogor, nomornya semakin sulit dihubungi.
Seingat Anggun, terakhir keduanya berkomunikasi saat Abi mengantarnya pulang malam itu.
Bukan hal yang aneh memang, kadang kalau Abi sedang sibuk, dia seringkali mengabaikan ponselnya.
Tapi kali ini berbeda, perasaan Anggun mendadak tidak karuan. Entah karna apa, mungkin saja sejak kehadiran Aham malam itu. Dia sangat butuh Abi untuk mengungkapkan kekhawatiran yang saat ini tengah Anggun rasakan.
Anggun beranjak dari sofa, lalu meraih tasnya. Dia bahkan melupakan jam makan siang dan berniat pergi ke kantor, berharap Abi ada di sana.
Sejak perkara Semita selesai, Anggun memang diberi libur sesuai kesepakatan di kantor. Mengingat selama beberapa bulan menangani kasus perceraian itu, Anggun kurang istirahat. Maka Abi memutuskan memberinya waktu libur selama satu minggu.
Namun kerinduan Anggun pada Abi membuatnya tidak peduli dengan jatah libur.
"Pak Abi sudah pulang dari Bogor?" Tanya Anggun pada Ninda, asisten pribadi Abi.
Ninda mengernyitkan keningnya.
"Dari Bogor? Siapa yang ke Bogor, Mbak?"
"Pak Abi, dia rapat ke Bogor kan?" Jelas Anggun.
"Rapat di Bogor? Kayanya nggak ada
rapat minggu-minggu ini mbak." Jawab
Ninda membuat Anggun bingung.
"Selama tiga hari ini pak Abi ada di kantor kok." Lanjut perempuan itu.
Anggun tertegun, "Sekarang pak Abi ada?"
"Ada, masuk aja mbak. Tadi kedatangan tamu perempuan kalau nggak salah."
"Oh, okay. Thanks ya." Ninda mengangguk.
Meski di kantor sang kekasih, Anggun tetap bersikap profesional dan rendah hati pada karyawan-karyawan Abi.
Dia juga selalu menolak jika laki-laki itu memberikan perlakuan istimewa padanya.
Hampir mengetuk pintu, tangan Anggun berhenti di udara. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka, Anggun bisa melihat jika Abi sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
"Semita?" Ucap Anggun lirih.
Dia sedikit terlonjak saat menatap lebih jelas ke dalam ruangan, tepatnya ke arah Semita yang duduk tenang di atas meja kerja Abi.
Laki-laki itu juga tampak tenang berdiri di hadapan Semita, posisinya membelakangi arah pintu.
Anggun sedikit curiga, dua orang yang ada di dalam ruangan itu terlihat sangat intim. Bahkan sesekali Anggun lihat tangan Semita tampak mengusap wajah Abi dengan mesra.
"Kamu lihat kan, aku sudah bisa lepas dari Aham? Aku juga berhasil mengambil perusahaan laki-laki itu. Bahkan rumah dan beberapa harta dia yang lain sudah ada di tanganku sekarang." Anggun mematung di depan pintu, telinganya dia pasang dengan baik. Bak detektif yang sedang mencuri dengar, dia berusaha mencari kebenaran dari apa yang dia lihat saat ini.
"Jangan sampai bukti visum palsu itu kembali diungkit." Pesan Abi dengan nada serius.
"Enggak, yang penting aku sudah lepas dari Aham. Lalu kapan kamu akan mengakhiri hubungan dengan Anggun."
Duarr!
Sepertinya mereka sudah merencanakan sesuatu.
"Kamu tahu kan, kita sudah berjuang cukup lama." Lanjut Semita membuat Abi langsung terdiam.
"Kalau untuk saat ini mungkin belum bisa Sem, kamu tahu kan dia salah satu pengacara yang bisa aku andalkan di sini. Aku nggak mau gegabah dan membuat dia lepas dari kantor ini. Bisa habis pelangganku kalau Anggun nggak ada." Anggun terlonjak mendengar pernyataan itu.
"Tentu aku masih butuh dia untuk menjadi sumber pundi-pundi rupiah di kantor ini."
Tega kamu Mas!
"Kan masih banyak pengacara lain yang kerja di kamu, Bi."
"Iya, tapi nggak sehebat Anggun. Kamu yang sabar ya, aku pasti bisa mengatur semuanya."
"Apa?!" Seru Anggun lantang sembari membuka pintu dengan cukup keras.
"Jadi selama ini, kamu cuma memanfaatkan aku untuk menambah jumlah kekayaan kamu??" Bentak Anggun membuat wajah Abi langsung pucat pasi.
"Kamu jahat mas, kamu licik."
"Anggun.."
"Nggun, semua nggak seperti yang kamu dengar." Ucap Abi sembari meraih tangan Anggun, tapi langsung dihempaskan perempuan itu.
"Nggak seperti yang aku dengar? Lalu apa yang seharusnya aku dengar?"
"Kebohongan kamu? Kata-kata manis kamu?" Sarkas Anggun, air matanya tidak mampu ditahan.
"Aku nggak nyangka kamu bisa seperti ini mas. Aku benar-benar nggak nyangka kamu sejahat ini sama aku." Semita masih berdiri di pojok ruangan, tapi perempuan itu hanya diam, wajahnya masih tampak tenang.
"Ngga perlu kamu cari cara untuk menyingkirkan aku dari kantor ini. Aku cukup tahu diri untuk keluar sendiri!" Anggun muak melihat dua orang yang sedang berusaha bersandiwara di hadapannya itu.
"Nggun!" Abi berusaha mengejar sampai di ambang pintu, namun perempuan itu berlari cepat. Sedangkan tangan Semita menahan Abi untuk tetap berada di ruangannya.
"Nggak usah dikejar, dia berhak tahu semuanya. Lebih cepat lebih baik kan?"
_______________________________________
Tidak peduli sekencang apa Anggun mengemudikan mobilnya, hingga setengah jam berlalu, perempuan itu sudah berhasil sampai di depan Unit apartemennya.
Sepertinya, sudah lama sekali dia tidak meneteskan air mata. Lalu hari ini mungkin bukan hanya menetes lagi, tapi sudah banjir membasahi pipi bahkan wajahnya.
Lagi-lagi Anggun tidak habis pikir. Abi, laki-laki bak malaikat yang membawa perempuan itu meraih kesuksesan, dengan segala doa dan harapan agar hubungan mereka bisa berjalan sebagaimana mestinya. Justru membuat Anggun kembali merasakan pedih, yang hampir saja dia lupa bagaimana rasanya.
Dalam hidup, aku menemukan dua laki-laki berbeda. Tapi menorehkan luka yang sama dalamnya.
Anggun menepuk-nepuk dadanya yang semakin nyeri.
Pantas saja, Abi selalu mewanti-wanti agar Anggun bisa berupaya keras memenangkan kasus Semita dengan iming-iming bonus besar, ternyata alasan di balik itu semua adalah untuk kepentingan Semita dan Abi sendiri.
Bodohnya Anggun yang berfikir bahwa Abi hanya tidak ingin mengecewakan klien yang mempercayakan kasus mereka pada pihak Abi.
Seharusnya Anggun sadar, sejak awal Semita datang ke kantor memang ada yang berbeda, perlakuan Abi lebih istimewa jika dibandingkan dengan klien-klien yang lain.
"Giliran sadar kalo udah dibodohi bisanya cuma nangis." Anggun menoleh ke arah samping.
Di sana berdiri Aham dengan wajah angkuh tampak mengejek ke arahnya. Laki-laki itu sepertinya akan pindahan, ada koper dan ransel besar yang dia bawa di tangan kanan dan kirinya.
"Kamu tuh kaya jalangkung ya! Datang pergi nggak beraturan. Dasar nggak tahu diri." Seru Anggun sembari mengusap kasar air matanya.
Aham tertawa pelan lalu menghela nafasnya.
"Udah baik aku ingetin sejak awal, nggak percaya sih!" Ujar laki-laki itu.
"Makanya, jadi perempuan jangan polos-polos. Jangan terlalu baik sama orang."
Ucapan Aham tidak ada yang Anggun pedulikan, apalagi saat satu panggilan masuk dari Abi menginterupsi.
Berfikir dua kali untuk menerima panggilan atau justru menolak saja. Tapi akhirnya, Anggun memilih menggeser tombol hijau untuk menerimanya.
"Hallo!" Jawab Anggun ketus.
"Kamu nggak bisa seenaknya lepas dari sini, kamu banyak berutang pada kantor ini sejak awal kerja." Sarkas Abi.
"Apa maksud kamu?"
"Hutang budi, kita sudah baik mengangkat derajat kamu hingga menjadi seperti sekarang. Jika masih tahu diri, lakukan kewajiban kamu yang belum selesai."
"Atau kalau tidak, bayar semua kerugian yang ditimbulkan jika kamu nekat keluar. Masih ada lima klien yang membutuhkan jasa kamu, mereka sudah kontrak perjanjian dengan pihak kita. Uang yang mereka keluarkan ratusan juta. Jangan main-main, aku tahu tabungan kamu tidak akan cukup untuk mengganti kerugian." Ujar laki-laki itu dengan nada mengancam.
Anggun kembali mematung saat panggilan diputus sepihak oleh Abi. Anggun tidak menyangka jika laki-laki itu bisa senekat ini.
"Butuh duit?!" Sudah bukan hal aneh lagi jika Aham ikut mendengar ucapan Abi di telfon tadi, mengingat laki-laki itu berbicara dengan berapi-api. Tentu suaranya terdengar jelas.
"Bukan urusan kamu!" Celetuknya galak.
"Aku bisa membantu kamu, asal kita mau bekerja sama." Anggun melirik kesal ke arah Aham.
"Nggak butuh! Terimakasih tawarannya." Perempuan itu langsung membuka pintu, masuk ke unitnya dan menutup pintu dengan kasar.