Anggun duduk dengan gusar di sofa panjang ruang tamunya.
Tidak hilang rasa kecewanya pada Abi, bisa-bisanya laki-laki itu sejahat ini pada dirinya.
Jika mengingat bagaimana usaha Abi untuk membentuk Anggun seperti sekarang, memang tidak akan pernah bisa Anggun membalas jasa-jasa itu.
Tapi pernahkah Abi berfikir, bahwa Anggun juga selalu berupaya membantu kantornya saat berulangkali hampir bangkrut.
Anggun menghela nafas kasar, air matanya sudah kering bahkan tidak bisa keluar lagi. Rugi pula menangisi manusia licik seperti Abi, pikir perempuan itu.
Memang benar, ada lima berkas perkara yang sudah didaftarkan ke kantor Abi. Semua perkara itu ditangani Anggun dengan jangka waktu yang berbeda-beda.
Seharusnya mulai minggu depan, Anggun dan segenap tim mulai menangani kasus itu. Tapi setelah kejadian ini, bagaimana mungkin Anggun masih bisa biasa-biasa saja datang ke kantor.
Sudah pasti setiap hari akan diberi pemandangan memuakkan.
Memaksa otaknya berfikir jernih, justru membuat kepalanya semakin
pusing.
Satu-satunya cara lepas dari Abi saat ini hanya dengan uang. Jika tidak, Anggun tentu akan tetap terjebak pada laki-laki b******k yang tega memanfaatkannya demi rupiah.
"Enggak, aku tetap harus bersikap profesional. Besok aku akan datang ke kantor dan berusaha mengerjakan lima berkas kasus yang sudah dikontrak. Aku pasti bisa!" Pikir Anggun optimis.
Tapi dari kasus itu, Anggun bertekad tidak akan mengambil sepeserpun hasil jerih payahnya. Dia tidak ingin semakin berhutang budi pada Abi dan kantornya.
Satu hal yang membuat Anggun takut saat ini, bagaimana jika Abi masih licik dan menahannya dengan berbagai macam alasan.
"Ya Tuhan, gimana bisa dapat uang buat jaga-jaga." Tentu Anggun merasa sangat bingung.
Aham?
Nama itu langsung muncul di otak Anggun.
"Nggak! Nggak! Dia itu sama liciknya dengan Abi. Nggak boleh kemakan sama kata-kata dia." Tolak sebagian hatinya.
"Tapi nggak ada salahnya aku coba tanya apa maksud tawarannya tadi." Gejolak dalam diri Anggun semakin besar.
"Coba nggak ya?!" Anggun berusaha mempertimbangkan.
Tapi dalam keadaan yang genting dan terjepit seperti sekarang, otak Anggun benar-benar buntu.
Langkah kakinya gamang menuju ke arah pintu dan membukanya pelan. Perempuan itu sangat berharap Aham sudah pergi dari depan unit apartemennya, minimal niat bodoh menuruti tawaran Aham, yang tiba-tiba bersarang di dalam dirinya itu tidak terealisasikan.
Namun sepertinya, godaan buruk itu justru terbuka lebar di depannya. Aham masih berdiri, posisinya membelakangi arah pintu apartemen Anggun. Laki-laki itu tampak sedang berbicara dengan seseorang di balik telfon.
"Aku mohon sama kamu, titip hotel di Bali. Kalau urusanku di sini selesai, aku akan segera ke sana."
Hotel? Oh dia masih ada hotel di Bali.
"Iya, itu juga salah satu aset yang tidak Semita ketahui."
"Enggak, aku nggak mungkin jual Villa di puncak. Bahkan sekarang sedang disewa untuk keperluan syuting."
Oh, setidaknya Aham bukan gelandangan yang luntang-lantung mencari tempat tinggal. Sebagian hartanya masih selamat dari jangkauan Semita.
Anggun tampak berbicara dengan dirinya sendiri, sembari menunggu laki-laki itu selesai menelefon.
"Yah, lumayan lah buat hidup selama urusan perusahaan belum selesai."
"Lagi cari apartemen, cuma satu-satunya kawasan yang harga murah sudah full."
"Ya udah nanti aku kabari lagi."
Aham menutup sambungan telfonnya, lalu berbalik ke arah pintu dan sedikit terkejut melihat Anggun berdiri di depannya.
"Wuihh keluar lagi, gimana? Udah berubah pikiran?" Sahut Aham dengan nada jahil.
11
Anggun berdecak malas lalu melotot tajam ke arah Aham.
"Jelaskan, rencana apa yang ingin kamu tawarkan." Titah Anggun.
"Mudah saja, kasih aku tempat tinggal sementara waktu." Tentu Anggun langsung menggeleng.
"Nggak!" Tolaknya sarkas.
"Tenang aja, aku bayar sewanya. Nggak lama kok, sampai sertifikat rumah bisa ku tebus." Ujar laki-laki itu.
"Kamu kan lagi butuh uang buat ganti duit si Abi-Abi itu. Nah lumayan kan biaya sewa dari aku bisa buat tambah-tambah." Lanjut Aham.
"Tapi ya jangan mahal-mahal, kamu juga tahu kan aku lagi apes!"
"Kenapa kamu nggak cari kontrakan di luar aja kalo apartemen area sini full?" Tanya Anggun.
"Kamu pasti paham, kalo cari kontrakan tentu aku harus beli barang-barang baru. Sedangkan harta yang aku bawa cuma ini sama mobil." Tunjuk Aham ke arah tas dan kopernya.
"Kalo numpang di apartemen kamu, minimal makan aku bisa minta ke kamu."
"Enak aja! Itu namanya aku rugi bandar!"
"Aku bilang nggak akan lama, beberapa waktu aja sampai rencanaku berhasil untuk merebut lagi rumah dan perusahaan yang Semita ambil." Anggun tampak berfikir sejenak.
Dari raut wajah Aham saat ini, bisa perempuan itu lihat jika dia benar-benar butuh bantuan.
Semacam senasib seperjuangan, kali ini Anggun dan Aham sama-sama ditipu, ah tidak lebih tepatnya dimanfaatkan oleh orang licik.
"Sebulan lima belas juta!" Pinta Anggun dengan tegas.
"Mahal amat! Biasanya juga cuma lima jutaan."
"Mau nggak?! Kalo nggak mau ya udah."
"Sepuluh juta aku ambil deh." Tawar Aham lagi.
"Segitu kere-nya ya kamu sekarang." Cibir Anggun.
Aham tampak tidak peduli, dia justru langsung beranjak ke dalam apartemen.
"Eh, aku belum mempersilahkan masuk ya!" Teriak perempuan itu.
"Udah nggak usah banyak mikir, aku benar-benar butuh tempat tinggal. Sekarang, tunjukin dimana kamar aku."
"Bisa-bisanya kurangajar sama yang punya tempat tinggal!"
Anggun memang masih punya dendam dengan laki-laki di hadapannya itu. Tapi dia tetap perempuan baik, meski ingin marah dan merutuki tingkah Aham, Anggun tetap berusaha sabar dan menguasai keadaan.
Perempuan itu berjalan ke arah samping ruang makan dan membuka pintu kayu yang tampak lebar itu.
"Tempat kamu di sini, jangan merusak barang apapun yang ada di dalam." Aham mengangguk acuh.
"Kamu hanya boleh memasuki area dapur, ruang makan, ruang tamu dan balkon di sebelah sana." Tunjuk Anggun.
"Jangan sekali-kali memasuki area kamarku!"
"Nggak penting dan nggak akan!" Tegas Aham sembari melempar tasnya di atas tempat tidur.
"Jangan membuat kekacauan selama tinggal di sini."
"Iya-iya bawel! Udah sana pergi aku mau istirahat."
Aham menutup pintu dari dalam, membuat Anggun menghela nafas pelan.
Sepertinya keputusan Anggun menerima Aham di tempat tinggalnya hanya akan merugikan dirinya sendiri.
Tapi kini fokusnya terpecah belah, rasa kesalnya pada Abi dan Semita jauh lebih besar dari dendamnya pada Aham.
Yang bisa Anggun lakukan saat ini hanya berdoa dan berharap, suatu saat nanti Tuhan akan bekerja membantunya menghadapi orang-orang licik yang sudah menyakiti dirinya.