🪶
TAWARAN PROF. PANDJITO
___o0o___
Ruangan Pandjito penuh rak buku sampai ke langit-langit. Bau kertas lama bercampur kopi dingin.
Ponsel di meja langsung ditelungkupkan begitu Ben masuk. Pandjito tersenyum, terlalu cepat, seperti senyum yang buru-buru dipasang.
"Duduk, Ben."
Ben duduk di kursi kayu di seberang meja, satu-satunya kursi tamu di ruangan itu, kakinya sedikit goyang setiap kali ia bergerak. Map di pangkuannya terasa lebih berat dari isinya.
"Maaf ganggu pagi-pagi, Pak. Saya cuma mau tanya soal—"
"Tawaran kerja dua bulan lalu." Pandjito menyelesaikan kalimatnya, seolah sudah menunggu pertanyaan itu sejak Ben mengetuk pintu. "Masih ingat, ya."
"Iya, Pak. Kalau masih ada, saya... saya tertarik."
Pandjito menatap Ben lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang lebih besar daripada permintaan sederhana itu. Jarinya mengetuk pelan tepi meja, tiga kali, lalu berhenti.
"Tawaran itu sudah lewat," katanya akhirnya.
Dada Ben mengempis. Ia sudah menyiapkan kalimat lanjutan—terima kasih atas waktunya, permisi, sampai jumpa di kelas—tapi Pandjito lebih cepat bicara.
"Tapi ada yang lebih besar," lanjutnya. "Sudah lihat pengumuman di papan FISIP?"
"Sayembara itu?"
"Saya butuh satu orang lagi di tim. Bukan sekadar asisten lapangan." Pandjito membuka laci, mengeluarkan map cokelat tebal, meletakkannya di meja tanpa membukanya.
"Honor bulanan setara peneliti senior. Datamu bisa dipakai untuk skripsi, kalau kamu mau ambil topik arkeologi lapangan."
Pandjito mengetuk-ngetukkan jari di atas map. "Dua masalah selesai sekaligus."
Ben menatap map itu, lalu menatap Pandjito. Ini bukan yang ia bayangkan waktu mengetuk pintu tadi pagi.
"Kenapa saya, Pak? Ada senior-senior lain yang jauh lebih berpengalaman di lapangan."
"Karena saya yang minta, dan saya yang pilih."
Nada Pandjito berubah, lebih tajam dari biasanya, membuat Ben sedikit terkejut. Lalu melunak lagi, seperti sadar sudah bicara terlalu keras.
"Kamu teliti. Sabar. Dua hal yang susah dicari di lapangan. Damar bagus soal geologi, tapi dia buru-buru. Kamu tidak."
Terdengar masuk akal. Tapi ada sesuatu yang tidak pas—cara Pandjito bicara, terlalu cepat, terlalu ingin meyakinkan, seperti orang yang takut ditolak lagi.
"Berapa lama ekspedisinya, Pak?"
"Belum pasti. Tergantung kondisi lapangan. Bisa dua bulan, bisa lebih." Pandjito lancar menjawab cepat, seolah pertanyaan itu sudah ia perhitungkan. "Semua kebutuhanmu ditanggung. Kamu tinggal bawa diri."
"Kuliah saya gimana, Pak? Semester ini masih jalan."
"Saya yang urus izinnya ke fakultas. Sudah biasa, banyak mahasiswa yang cuti riset lapangan untuk proyek seperti ini."
Pandjito mengangkat tangan, seolah meyakinkan Ben bahwa semua sudah dipikirkan sebelumnya, jauh sebelum Ben sendiri sempat berpikir.
"Kamu tidak akan kehilangan semester ini. Malah, kalau beruntung, kamu bisa dapat bahan skripsi paling menarik seangkatanmu."
Ben tidak langsung menjawab. Ada bagian dari dirinya yang ingin percaya semudah itu, dan bagian lain yang bertanya-tanya kenapa semuanya terasa janggal.
Terlalu rapi. Terlalu siap. Seperti Pandjito sudah tahu Ben akan bilang ya sebelum Ben sendiri memutuskan.
"Boleh saya pikir dulu, Pak?"
"Tentu." Pandjito mengangguk. Ia melirik map di meja, lalu ke jam dinding, lalu kembali ke Ben. "Cuma... jangan terlalu lama. Ini kesempatan terakhir saya."
"Terakhir buat apa, Pak?"
Pandjito diam sebentar, seperti baru sadar keluar dari mulutnya kalimat yang tidak seharusnya diucapkan. Tangannya berhenti di udara, di atas map cokelat itu.
"Terakhir buat dapat asisten yang tepat," katanya, terlalu ringan untuk menutupi jeda yang baru saja terjadi.
Ben mengangguk saja, meski jawaban itu tidak menjawab apa-apa. Ia berdiri, berpamitan, dan Pandjito membalas dengan senyum yang sama terburu-burunya seperti di awal.
.
.
.
Di lorong luar, Ben nyaris menabrak seseorang yang keluar dari ruang dosen sebelah. Tangannya penuh map dan gelas kopi kertas.
"Eh, sori—" Ben menoleh, lalu mengenali wajah itu.
Bang Ardi, alumni dua tahun di atasnya. Dulu asisten praktikum yang sering membantunya semester awal, sekarang sudah jadi staf riset paruh waktu di jurusan.
"Ben? Ngapain di sini pagi-pagi?"
Ardi melirik ke pintu Pandjito yang masih terbuka sedikit. Lalu menarik Ben menjauh beberapa langkah, seperti orang yang tidak mau suaranya kedengaran sampai dalam.
"Ketemu Pak Pandjito?"
"Iya. Ditawarin ikut ekspedisi sayembara itu."
Alis Ardi terangkat. "Beneran? Diterima?"
"Belum jawab."
"Oh. Kalau butuh duit terima aja. Gajinya gede. Hidup lo terjamin beberapa tahun di krisis ekonomi gini.”
Ardi menyeruput kopinya, lalu merendahkan suara. "Tapi lo tau nggak, bapak itu udah berubah dari lima tahun lalu?"
"Berubah gimana?"
"Dulu dia paling rame di rapat jurusan. Ide-idenya banyak, sering ngajak mahasiswa ikut penelitian kecil-kecilan. Seru dan asik."
Ardi bersandar ke tembok. "Sekarang jarang keluar ruangan, kecuali buat ngajar. Katanya suka nginep di kampus, lampu ruangannya nyala sampe subuh. Satpam malam yang cerita."
"Mungkin lagi sibuk nulis jurnal."
"Itu yang gue kira juga awalnya." Ardi menggeleng. "Tapi ada yang bilang dia takut tidur karena sering mimpi aneh. Kadang suka senyum dan ngomong sendiri. Kadang juga bikin ribut.”
Ben tertawa kecil, meski tidak sepenuhnya lucu baginya. "Mungkin cuma kecapean, Bang. Orang tua kadang emang aneh-aneh kalau kurang tidur."
“Termasuk ngeramal masa depan? Gue pernah danger dia bergumam ‘gadis itu masih nunggu di gerbang’. Merinding gue dengernya cok.”
‘Gadis?’ Ben hanya diam dan mengulang kata itu dalam hati.
"Ya. Mungkin lo bener." Ardi menepuk bahunya, lalu melirik jam tangan, buru-buru pamit.
"Ya udah, gue duluan. Hati-hati aja. Duit emang penting, tapi pikir-pikir lagi Ben. Kita nyari duit buat hidup. Bukan menantang maut. Gue cuma… nggak yakin sama Pak Pandjito.”
Ardi pergi ke arah tangga. Ben berdiri sendirian di lorong, memikirkan kalimat yang baru saja ia dengar. Gadis.
Harusnya ia tidak terlalu peduli. Mimpi, ramalan, firasat—hal-hal yang menurutnya cuma cara orang menjelaskan kebetulan.
Tapi entah kenapa, segala yang berkaitan dengan ekspedisi ini terus mengusik pikirannya. Ia enggan, tapi sulit mengabaikan.
.
.
.
Ben banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Ia sebenarnya tahu jawabannya, namun butuh alasan untuk membenarkannya.
Di kantin usai kelas siang, ia bercerita ke Doni. Ben hanya memesan segelas kopi hitam, untuk menghemat uang makan hari ini.
"Ambil aja, Ben. Kalau bapaknya aneh, ya paling lo cuma kerja sama orang aneh. Bukan berarti lo yang aneh."
"Enteng bener."
"Ya dibikin mudah aja. Lo yang bikin ribet sendiri." Doni menyandarkan diri ke bangku. "Intinya Lo butuh duit. Ada yang nawarin duit. Titik. Soal keanehan, itu urusan Pak Pandjito, bukan urusan lo.”
"Kalau ternyata bahaya gimana?"
"Bahaya apaan? Lo mau gali reruntuhan desa, bukan perang." Doni menepuk pundaknya.
“Apa nih… Bahaya? Perang?” Seorang gadis tiba-tiba duduk di meja mereka sambil membawa dua kotak makanan dan botol minuman. “Dari event di BEM. Jadi inget kalian.”
Doni buru-buru membuka kotak yang dibawa Arin dengan kelewat bahagia. Ada nasi, rendang, telor, orek tempe, mie, oseng buncis, sambal, kerupuk, lengkap dengan jeruk dan pisang.
“Wow. Gue cinta banget sama lo, Rin. Semua hati gue milik lho, fix.” Doni segera melahap makanan lezat tanpa menunggu Ben.
“Tapi gue cintanya sama Bang Ben. Ups… sori Bang Don.” Arin memeletkan lidah dan menggeser duduknya mendekat ke Ben.
“Serah lo. Yang penting lo tetep inget gue saat inget Ben.”
Arin hanya nyengir sambil melepas almamaternya. Lalu melipat dan menyampirkannya di sandaran bangku. “Jadi apa yang bahaya tadi?”
“Oh, itu. Si Ben—” Doni terdiam menatap empunya, saat Ben menginjak kakinya sekilas.
Arin ikut menatap Ben yang sedang makan dengan tenang. Lalu kembali menatap Doni dengan ekspresi penuh tanya.
“Ben tertarik soal ekspedisi yang lagi rame dibahas itu. Lo tahu kan?”
Arin mengangguk. Ia memiringkan kepalanya berpikir sejenak sebelum beralih ke Ben. “Terus… Bang Ben mau ikut? Kenapa?”
“Rencananya gitu. Tapi ini masih dipikir. Tertarik aja.” Arin menyipitkan mata, kurang yakin dengan jawaban Ben. Namun, ia memilih diam dulu.
Ben tidak mau Arin tahu alasan utamanya. Gadis ini baik—terlalu sempurna untuknya. Cantik, pintar, kaya dan punya segalanya.
Ia bukan tidak suka. Hanya merasa tidak bisa—tidak layak—bersanding dengan gadis seindah Arin. Banyak lelaki yang jauh lebih baik dari dirinya.
Ben sudah menolak Arin setahun lalu, tapi mereka masih sedekat ini. Harus Ia akui, mahasiswi komunikasi tingkat dua ini punya mental baja dan pantang menyerah.
Karena itu Ben selalu menjaga jarak aman. Ia bersikap senormal mungkin dan menegaskan hubungan sebatas teman dekat, agar tidak ada yang baper.
“Bukan soal duit kan? SPP udah dibayar belum? Atau kosan? Aku ba—”
“Udah-udah. Tenang aja. Oke,” potong Ben. Sungguh ia tidak ingin lagi Arin membiayai hidupnya seperti semester lalu. Gadis ini melunasi SPP satu semester tanpa sepengetahuannya.
Ben kesal dan ingin marah. Tapi Arin jauh lebih pemarah sekaligus pemaksa. Rasanya ia selalu kewalahan menghadapi satu-satunya teman dekat wanita yang dimilikinya.
“Jadi lebih sulit mana, Ben. Ikut ekspedisi mencari desa aneh itu atau menjinakkan Arin yang gampang meledak?” Doni menyeringai sambil menutup kotak makannya yang sudah habis.
Arin melempar bungkus sendok ke arah Doni. Tapi pria itu dengan sigap menangkapnya.
“Lo pikir gue bom, dijinakkan. Dah, ah. Gue balik dulu, nanti dicariin panitia yang lain.” Arin kembali memakai almamaternya. “Bang Ben besok jadi kan?”
Ben mengangguk dan tersenyum ke Arin. Gadis itu langsung sumringah membayangkan esok hari.
“Gih, sana! Bagus ikut event aja, nggak usah ikut demo. Ingat itu bahaya.” Arin hanya melengos dan bergegas pergi mengabaikan Doni.
.
.
.
Ben sempat mampir sebentar ke kos sebelum balik ke kampus, cuma untuk ambil map biru tempat ia menyimpan berkas-berkas penting. Bu Marni menyapanya dari teras.
"Jadi bayar kapan, Bang Ben?"
"Kalau lancar, minggu depan saya udah ada kerjaan baru, Bu. Gaji bulanan."
Bu Marni mengangkat alis, setengah percaya setengah tidak. "Kerjaan apa? Bukan yang aneh-aneh, kan?"
"Ekspedisi arkeologi, Bu. Proyek kampus."
"Oh, yang di koran itu? Nyari desa apa ya?" Bu Marni tertawa kecil. "Ya udah, semoga bisa nemu desanya. Kalau nggak ketemu jangan dipaksa ya.”
Ben ikut tertawa. Dalam hati, ia berharap desa itu benar ada dan bisa ditemukan.
Sorenya, sebelum Ben mengubah pikirannya lagi, ia kembali ke ruang dosen. Pandjito masih di sana, seperti tidak beranjak sejak pagi, map cokelat itu masih di posisi yang sama di atas meja.
"Saya mau, Pak."
Wajah Pandjito berubah—bukan sekadar lega, tapi sesuatu yang lebih dalam, hampir seperti orang yang baru saja lolos dari sesuatu yang mengejarnya sejak lama.
"Bagus." Pandjito membuka map cokelat itu dan mengeluarkan berkas yang tersusun rapi. Seolah sudah menyiapkannya sejak lama, jauh sebelum Ben menjawab.
"Tanda tangan di sini, dan sini. Ini kontrak kerja, ini surat pengantar buat pembimbing skripsimu nanti."
Ben menandatangani tanpa membaca detail, terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh hari itu. Tangannya menggores nama sendiri di kolom yang ditunjuk Pandjito, dua kali, tiga kali.
"Briefing resmi minggu depan, di Jakarta. Nanti kamu akan bertemu Pak Hanung, pendananya, dan anggota tim lain—Damar, Nuri, Galang, satu kru dokumentasi."
"Baik, Pak."
Ben berdiri, menyampirkan tas ke bahu, siap pergi. Tapi tangan Pandjito menahan lengannya—cepat, ringan, tapi cukup untuk membuat Ben berhenti melangkah.
"Ben."
"Iya, Pak?"
Pandjito menatapnya lama. Seperti mencari sesuatu di wajah Ben yang tidak seharusnya ada di sana. "Kalau kamu mimpi aneh setelah ini, jangan bilang siapa-siapa dulu. Bilang saya saja."
Ben mengerutkan kening. "Mimpi aneh gimana, Pak?"
Pandjito tertawa, terlalu keras untuk lelucon yang tidak lucu. "Nggak, becanda. Kamu serius amat. Ini bukan film horor.”
Ia melepas lengan Ben, menepuknya pelan, lalu kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa, menunduk ke arah berkas lain di mejanya.
Ben keluar ruangan dengan pikiran yang kembali mengganjal.
Kenapa rasanya itu bukan candaan. Mimpi aneh. Mimpi apa?