🪶
SANG PENDANA
___o0o___
Hotel itu terlalu mewah untuk ukuran Ben.
Lobi berlapis marmer, lampu gantung besar tergantung di tengah langit-langit, dan para penyambut tamu. Mereka berdiri di pintu kaca dengan senyum yang serapi seragamnya.
Di ballroom, karpet merah bermotif emas meredam setiap langkah kaki. Ruangannya dingin, wangi bunga yang menenangkan dan ada samar aroma kopi yang diseduh dari mesin otomatis.
Ben menarik ujung kemejanya yang sedikit kusut—satu-satunya kemeja rapi yang ia punya. Ia berdiri agak belakang sambil memegang cangkir keramik dengan canggung.
Di sekelilingnya, puluhan orang berkumpul. Mahasiswa dari berbagai kampus, peneliti, wartawan, hingga beberapa orang berbaju dinas yang tampak seperti perwakilan dari instansi negara.
"Benjamin!"
Seseorang melambai dari sudut ballroom. Perempuan berkacamata, rambut diikat asal, membawa map penuh kertas yang hampir tumpah dari pelukannya.
"Nuri," katanya, mengulurkan tangan. "Antropologi. Kamu pasti Benjamin, kan? Pak Pandjito cerita banyak soal kamu."
Ben mengangguk memberi salam. "Ben. Cerita apa, Kak?"
"Katanya teliti. Sabar." Nuri tersenyum, seperti sedang menahan tawa. "Semoga bener, karena orang di sana"—ia menunjuk dagu ke arah sofa di dekat jendela—"kebalikannya."
Ben menoleh. Seorang lelaki muda duduk santai di sofa, kaki disilangkan di atas meja kaca, headphone besar terpasang di telinganya.
"Itu Galang. Surveyor. Anaknya baik, cuma... ya, gitu."
"Gitu gimana?"
"Nanti juga tahu sendiri."
Di sisi lain ballroom, seorang lelaki berjaket lapangan berdiri sambil menyilangkan tangan, menatap sekeliling dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara kagum dan curiga.
"Itu Damar," kata Nuri, menurunkan suara. "Geolog. Jangan kaget kalau dia langsung nanya hal teknis ke kamu. Dia gitu ke semua orang baru."
Seperti mendengar namanya disebut, Damar menoleh, mendekat, mengulurkan tangan tanpa basa-basi.
"Kamu yang direkrut Pandjito minggu lalu?"
"Iya, Bang. Benjamin."
"Berapa lama kamu kenal dia?"
Pertanyaan itu datang terlalu cepat, terlalu langsung, membuat Ben sedikit tergagap. "Dua tahun. Beliau pernah jadi dosen metodologi tahun lalu."
Damar mengangguk pelan, seperti sedang mencatat sesuatu di kepalanya. Matanya awas menelusuri Ben dari atas hingga bawah.
"Aneh, kan? Dia buru-buru banget nyari orang. Biasanya proyek sebesar ini seleksinya ketat, bukan dadakan gini."
"Damar," Nuri menyela, "jangan nakut-nakutin orang baru."
"Aku cuma jujur." Damar mengangkat bahu, lalu berjalan lagi ke arah jendela, kembali menyilangkan tangan.
Seorang lelaki lain menghampiri mereka. Ia membawa dua tas kamera besar di masing-masing bahu, napasnya sedikit terengah.
"Ini Rian," kata Nuri, "kru dokumentasi. Jangan heran kalau dia lebih sering ngomong sama kameranya daripada sama kita."
"Nggak segitunya juga, Kak." Rian tertawa kecil, menjabat tangan Ben cepat sebelum sibuk lagi mengecek lensa. "Alat-alat ini agak lama, tapi masih bagus. Semoga aman dipakai perjalanan.”
Galang, yang sejak tadi cuma duduk sambil dengar musik, akhirnya melepas headphone-nya dan ikut nimbrung. "Woy, lo anak baru itu kan?”
Ia mengangguk santai ke arah Ben, tidak repot berdiri. "Gue Galang. Nggak usah sungkan, kita tim sekarang. Ya… walau profesornya agak gila.”
"Gila?"
"Bercanda. Kadang." Galang menyeringai, memasang lagi headphone-nya.
Lagi, dan lagi. Ben dibuat penasaran akan sikap orang-orang yang terlibat ekspedisi. Sekilas tampak terburu-buru. Tapi di sisi lain segala sesuatunya terasa terlalu rapi dan sudah disiapkan jauh hari.
.
.
.
Spanduk besar terpasang di depan panggung: EKSPEDISI PENCARIAN DESA HILANG — Yayasan Nusantara Lestari.
Wartawan ada di barisan depan, kamera dan alat rekam berjejer siap mengambil momen. Ben duduk di baris ketiga bersama tim, tepat di belakang Pandjito yang duduk di kursi khusus panelis.
Lalu Raden Hanung Sadana masuk.
Tubuhnya tinggi, tegap dan tampak sangat sehat untuk pria berusia enam puluh lima tahun. Langkahnya tenang dan penuh wibawa, seolah sudah terbiasa menghadapi situasi serupa.
Hanung duduk di kursi tengah panggung, tersenyum ke arah kamera seolah sudah hafal sudut mana yang paling bagus untuk difoto.
"Selamat siang," katanya, suaranya dalam, terukur. "Terima kasih sudah datang."
Ia bicara panjang tentang sejarah desa itu. Letusan tahun 1963, longsor yang menutup lembah dalam semalam, catatan pemerintah yang cuma satu paragraf hingga dianggap mitos.
Sangat detail dan terperinci. Ben yakin, semua orang yang mendengarkan saat ini terbius dan percaya desa itu benar-benar ada.
“Lalu kenapa tidak ditemukan apapun selama ini?” gumamnya tanpa sadar.
Kabarnya banyak orang hebat berusaha mencari, bahkan ada yang datang dari luar negeri. Tapi hasilnya nihil. Justru cerita legenda dan mitos yang beredar jauh lebih kuat.
Sesi tanya jawab dibuka. Seorang wartawan pria di baris tengah mengangkat tangan lebih dulu.
"Pak Hanung, dana untuk ekspedisi kali ini disebut-sebut jauh lebih besar dari proyek serupa di daerah lain. Apa targetnya cuma penelitian sejarah, atau ada rencana lain—wisata, misalnya?"
"Murni penelitian," jawab Hanung, tanpa jeda. "Kalau nanti hasilnya layak dibuka untuk publik, itu urusan belakangan. Sekarang fokusnya satu: menemukan dan mendokumentasikannya."
Jawaban itu sangat lancar, seperti sudah dilatih berkali-kali. Wartawan perempuan di baris depan mengangkat tangan berikutnya.
"Pak Hanung, ini bukan sayembara pertama Bapak untuk desa yang sama. Tiga sayembara sebelumnya selalu gagal. Kenapa terus mencoba, padahal banyak yang bilang itu cuma mitos?"
Ruangan sedikit hening. Hanung tersenyum menatap tamu undangan dengan penuh percaya diri.
"Bukan gagal, hanya belum tepat.” Hanung menatap sekeliling, sebelum beralih kembali ke kamera wartawan.
"Bagaimana jika desa itu benar ada? Jika kami berhenti di tengah jalan, tidak akan pernah ada penemuan apapun di negeri ini."
"Tapi ini yang keempat kalinya, Pak. Dengan dana yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ada alasan personal?"
Untuk sepersekian detik—begitu cepat hingga Ben nyaris melewatkannya—senyum Hanung lenyap.Wajahnya datar, lalu kembali tersenyum hangat menatap kamera.
"Alasan saya sama seperti alasan siapa pun yang peduli sejarah," katanya, kembali tenang. "Alasan personal saya adalah untuk negeri dan umat manusia."
Sangat tertata. Orang awam akan sulit menemukan celahnya. Namun pertanyaan itu terhenti, digantikan pertanyaan teknis lainnya.
Sayang sekali. Padahal Ben berharap ada pertanyaan, ada apa di desa yang hilang itu, hingga Hanung bersikeras ingin menemukannya.
Ben melirik ke arah Pandjito di kursi panelis, wajahnya datar seperti biasa. Sekilas, dosennya melirik ke arah Hanung di depan dan sesekali Hanung melirik balik.
Mereka dekat, simpul Ben dalam hati.
Bohong, jika mereka baru saling mengenal—seperti yang diucapkan Hanung saat memperkenalkan Pandjito tadi. Entah kenapa mereka menutupinya.
.
.
.
Setelah briefing resmi selesai, ruangan berubah jadi lebih santai. Wartawan berkemas, staf yayasan membereskan meja panelis, sementara tim ekspedisi diarahkan ke ruang kecil di sebelah untuk pengarahan lanjutan.
"Lo udah nyari tahu tiga ekspedisi sebelumnya kenapa gagal?" bisik Damar, berjalan di samping Ben.
“Belum, Bang,” Ben menjawab pelan sambil menggeleng.
"Cari tahu dulu. Jangan kemakan kata-kata manis yang diucapkan depan kamera."
“Bang Damar curiga sesuatu?”
"Nggak gitu. Orang kalangan atas seperti mereka, makna ucapannya berlapis. Tidak sesederhana yang terlihat.”
Sebelum masuk ke ruang pengarahan, Hanung sempat menghampiri Pandjito dan tim, berjabat tangan satu per satu dengan senyum hangat seperti di depan kamera.
"Selamat bergabung," katanya pada Ben, menjabat tangannya lebih lama dari yang diperlukan. "Pandjito bilang kamu salah satu yang paling ia percaya di angkatanmu."
"Terima kasih, Pak," Ben menjawab, tidak yakin harus merasa bangga atau curiga.
Hanung tersenyum sekali lagi. Lalu berlalu untuk menyalami yang lain.
Ben memperhatikan caranya berjalan—tenang, terkendali, seperti orang yang sudah lama terbiasa jadi pusat perhatian. Namun, tetap tak tersentuh dan enggan membuka diri.
Ben mulai merapikan tasnya dan menyusul yang lain ke ruang sebelah. Namun gerakannya terhenti, saat tak sengaja melihat sebuah map biru yang terbuka di meja panelis.
Ada sebuah kertas yang sudah menguning dan sudutnya terlipat—seperti sudah dibawa ke mana-mana selama bertahun-tahun. Ben tidak bermaksud mengintip.
Tapi matanya menangkap sesuatu sebelum ia sempat menahan diri. Sebuah peta tangan lama, dengan tanda tangan kecil di sudut bawah, tinta yang sudah memudar tapi masih bisa dibaca.
Dr. Aryo Wibisono.
Hal yang menarik perhatiannya adalah tanggal di bawah tanda tangan itu—7 Agustus 1973. Ben berhenti sejenak dan menghitung dalam hati.
“Dua puluh lima tahun lalu?” gumamnya lebih pada diri sendiri.
Peta itu bukan salinan resmi seperti yang dibagikan ke tim. Garis-garisnya digambar tangan, beberapa bagian dicoret lalu digambar ulang, seperti orang yang berkali-kali mencoba dan gagal menandai satu titik yang sama.
Di pojok kanan bawah, ada catatan kecil, tulisannya makin memudar: petilasan dan jalur sungai arah sendang—dia yang tahu jalan ke atas.
Ben tidak sempat membaca lebih jauh. Saat map itu tiba-tiba tertutup.
"Benjamin."
Ben nyaris melompat. Pandjito berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit Ben deskripsikan—bukan marah, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan waspada.
"Hati-hati. Jangan gegabah dan bertindak sendirian. Ayo. Pengarahan sudah mau mulai."
"Baik, Pak." Ben melangkah cepat mengikuti langkah dosennya menuju ruang sebelah.
Selama pengarahan perhatian Ben terpecah ke peta lama yang tadi dilihatnya. Banyak sekali pertanyaan di benaknya, tapi urung ia ungkapkan.
Jika Hanung begitu ingin desa itu ditemukan, kenapa tidak membagikan salinan peta lama yang sepertinya hasil dari ekspedisi sebelumnya itu. Dan, kenapa juga dosennya tampak ketakutan.
“Mas Ben, ya?” Seorang staf hotel menghampirinya. Ia sedang menunggu Nuri dan Damar yang izin ke toilet.
“Ya, saya.” Ben mengangguk. Staf itu memberikan kertas yang dilipat padanya, sambil dagunya mengarah ke kanan. Lalu ia buru-buru pergi.
Ben melihat sang pendana menatap ke arahnya dan tak lupa tersenyum hangat. Tak lama pria tua itu keluar dari lobi diikuti para ajudannya.
Jangan percaya siapapun.
Ben membaca sticky note itu beberapa kali, sebelum membuka kertas yang diberikan Hanung. Sesaat matanya melebar, mencerna apa yang terjadi.
Kenapa Raden Hanung Sadana memberi peta lama yang tadi dilihatnya?
Di luar lobi, sedan hitam meluncur pelan meninggalkan pelataran hotel, kaca gelapnya memantulkan lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Di dalam, Hanung melonggarkan dasinya sedikit. Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jas dalamnya—benda kecil, terbungkus kain lusuh yang warnanya sudah tidak jelas lagi.
"Semua berjalan sesuai rencana, Pak?" tanya ajudan di kursi depan, matanya sesekali melirik lewat kaca spion.
"Cukup baik." Hanung menatap ke luar jendela, ke arah gedung hotel yang mengecil di belakang. "Anak itu teliti. Seperti kata Pandjito."
"Yang tadi Bapak titipkan ke staf, itu... aman?"
Hanung memasukkan lagi bungkusan kain ke dalam sakunya. Ia mengetuk pelan jendela dengan buku jarinya, tujuh kali, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang.
"Kita lihat saja.”
"Kalau Profesor tahu Bapak memberikan itu—"
“Harusnya tidak.” Suara Hanung tetap tenang, tapi ada sesuatu yang mengeras di baliknya. "Tapi itu bukan urusan kita."
Ajudan itu mengangguk, memilih tidak bertanya lagi. Mobil berbelok ke jalan besar, menyatu dengan lalu lintas Jakarta yang tidak pernah sepi meski krisis mencekik dari segala arah.
Ben masih berdiri di sudut lobi. Kertas dari Hanung tergenggam erat, saat suara langkah dan tawa mendekat.
"Ben! Sori nunggu lama.” Suara Nuri yang membawa map penuh kertas, diikuti Damar di belakangnya.
Reflek, tangan Ben melipat kertas itu cepat, lalu menjejalkannya ke sela-sela buku catatannya di dalam tas. Kenapa? Tidak tahu. Tubuhnya bergerak lebih dulu, sebelum otaknya.
Damar mengernyit, menatap tas Ben sekilas, yang terlihat grasa-grusu. “Kenapa panik?”
“Kaget aja, Bang. Tadi ngelamun dikit.”
Nuri tersenyum, tidak curiga, dan langsung mengajak ke arah parkiran mobil. Mereka bertiga searah dan Nuri membawa mobil. Wanita itu mengajak keduanya pulang bersama.