Wanita itu tersenyum sopan saat dipersilahkan duduk oleh sang notaris yang sudah dikenalnya.
Jessie, sang notaris muda yang memang biasa menangani legalisasi dokumen antar negara terlihat mengangsurkan berkas yang diminta Tatiana.
“Ini yang kamu minta, dokumen ini memberi wewenang resmi kepada instansi catatan pernikahan di Indonesia untuk menunjuk wali hakim di pernikahan kamu, sementara pihak keluarga papa kamu bertindak sebagai perwakilan pendaftar administratif,” ujar wanita itu dengan aksen british yang kental.
Tatiana mengangguk, mengusap berkas itu dengan kepala yang menggeleng pelan dan bibir yang terkekeh kecil penuh makna.
Lucu sekali hidupnya. Setelah tiga bulan yang lalu dipermalukan oleh kekasihnya yang berkhianat, tiba-tiba kini dia harus menandatangani dokumen surat kuasa untuk pernikahannya dengan seorang pria asing.
Dia pikir Papa akan tetap menutupi aib masa lalunya di depan sang besan dengan tetap menjadi wali nikahnya, ternyata Papa memilih cara yang benar dalam menikahkannya dengan menunjuk wali hakim.
Pikirannya mulai bercabang, dengan bulu kuduk yang masih meremang memikirkan panggilan Papa dua hari yang lalu.
"Perusahaan … mengalami masalah besar, Ta. Ada kegagalan proyek dan kami harus membayar pinalti. Bank sudah memberikan batas waktu hingga minggu depan, jika gagal bayar, semua aset akan disita dan kasusnya dilimpahkan ke ranah hukum.”
Bagi Tatiana, hubungannya dengan Papa tidak pernah berada di titik benci. Papa memang bukan ayah yang sempurna.
Papa tidak pernah memeluknya seperti beliau memeluk Soraya, pun tidak pernah mengenalkan Tatiana pada teman-teman di circle beliau.
Dan semua kejanggalan bentuk kasih sayang Papa itu akhirnya Tatiana temukan jawabannya.
Jika dia adalah anak yang lahir karena sebuah kecelakaan, lahir dari ikatan kotor sebuah hubungan haram.
Papa menyayanginya dengan cara yang pengecut, namun pria itu tidak pernah menelantarkannya.
“Hanya Alastair Tech yang bisa memberikan pinjaman, Nak. Namun bantuan itu mewajibkan adanya penyatuan melalui pernikahan sah antar dua keluarga."
Tatiana yakin keluarga kaya yang ingin membantu itu adalah keluarga terpandang dan jelas kaya raya.
Jika memang akan diadakan pernikahan, tentu saja Soraya adalah kandidat paling sempurna dan masalahnya selesai dengan mudah, kan?
“Tata harus pulang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Soraya dan keluarga itu, Pa?”
Hanya itu tebakan yang ada di kepala Tatiana, namun dia justru menyadari suara Papa terdengar lebih tercekat saat menjawab tanyanya.
Jika yang diminta menjadi pengantin adalah dirinya!
"Tata? Kenapa Tata, Pa? Bukankah Soraya adalah kandidat yang sempurna?”
Pikiran negatif langsung berkeliaran di kepalanya tentang pernikahan wasiat ini.
Tidak mungkin Soraya menolak pernikahan dengan pria kaya raya yang bisa menaikkan reputasinya.
Apakah pria yang akan menikahinya adalah pria tua yang menginginkan istri muda? Sehingga Soraya menolaknya dan akhirnya Tatiana yang dijadikan tumbal?
Bukankah seperti itu terdengar lebih masuk akal?
“Tolong Papa, Nak … Jika perjanjian ini gagal, Papa bukan hanya bangkrut. Papa bisa diseret ke penjara, dan semua yang Papa bangun puluhan tahun akan habis disita negara."
Tatiana menahan napas mendengar nada permohonan itu.
Dia bisa saja menolak, apalagi dia sudah mandiri dan memiliki tujuan yang jelas di London dan memang tidak akan pernah pulang ke Indonesia.
Namun kenyataan itu tidak bisa ditampik, tentang papa yang membesarkannya dengan baik dan selalu peduli meski dengan cara yang kadang sulit Tatiana terima.
“Pernikahannya harus bagaimana, Papa?”
Dan setelah kalimat itu terucap, Tatiana bisa mendengar Papa menggumam terima kasih dengan nada yang terdengar begitu lega, seolah Tatiana baru saja menyelamatkan hidupnya.
“Jadi Tata tidak harus pulang, Pa?”
“Iya, Nak. Mungkin nanti saat pernikahan kalian sudah resmi. Suami kamu yang akan menghubungi kamu.”
“Ya sudah. Papa bisa mengirim draft surat kuasanya ke email Tata. Besok pagi akan Tata tanda tangani dan disahkan notaris di sini. Lalu akan Tata kirim hard copy-nya ke Jakarta.”
“Kamu bisa tanda tangan sekarang,” suara Jessie yang tiba-tiba menggema langsung membuat Tatiana tersentak dari lamunannya.
Tatiana mengangguk sambil menarik napasnya dalam. Saat kembali membaca surat kuasa itu, netranya terpaku pada nama dari sosok yang akan menjadi suaminya.
Pihak Kedua. Ayash Vairendra Alastair.
Tatiana tidak memiliki niat sedikit pun mencari tau siapa sosok pria tua yang akan menjadi suaminya itu.
"Jessie, status sponsor kerja serta proses permohonan visaku di sini tidak akan terpengaruh, kan?”
"Aman, Tiana. Pernikahan itu tidak memiliki pengaruh ke sponsor Skilled Worker Visa kamu. Semua proses yang sedang kamu usahakan untuk bisa tinggal menetap di sini akan baik-baik saja.”
Tatiana mengangguk paham, lalu menyerahkan dokumen yang sudah ditandatangani itu agar diurus dan dikirim langsung ke Jakarta.
Wanita itu lalu keluar meninggalkan gedung notaris. Bibirnya kembali mengulum senyum tipis saat melihat rintik gerimis kembali membasahi kota London, dengan kepala yang mulai kembali rungsing memikirkan tentang kehidupannya.
Dia membiarkan dirinya terikat dengan pernikahan konyol ini demi menyelamatkan Papa dari jeruji besi, sebagai bentuk bakti terakhirnya sebagai seorang anak.
Dan nantinya, dia akan mengirimkan surat gugatan cerai tanpa perlu sekali pun menginjakkan kaki di Jakarta, sama seperti bagaimana pernikahan ini terjadi tanpa adanya tatap muka.
Begitu rencananya. Sempurna, kan? Yang terpenting dia bisa menolong Papa dari krisis perusahaannya terlebih dahulu.
Kini, dia hanya ingin fokus pada tujuannya untuk bisa mendapatkan status permanent residence atau ijin tinggal tetap di London agar hidupnya lebih terjamin.
Kemarin dia sempat goyah karena terlena oleh permainan hati pria brengsekk itu yang sudah mengejarnya sejak S1, dan Tatiana baru berani membuka hati setelah dua tahun pria itu menunjukkan effort yang gila-gilaan, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan setelah Tatiana menyelesaikan magister-nya.
Yang Tatiana tau, pria itu gagal mendapatkan sponsor visa dan harus pulang ke Indonesia setelah Graduate Visa-nya habis di tahun ini.
“It’s okay, Tatiana … Kamu tidak gagal … Apa yang terjadi kemarin anggap saja batu sandungan dan cukup dijadikan pelajaran. Semua masih on track sesuai rencana awal kamu untuk bisa menetap selamanya di sini,” ujarnya membisik lirih dengan senyum yang perlahan terbit.
Sayangnya, wanita muda itu tidak pernah tau bahaya apa yang akan memporak-porandakan hidupnya begitu terikat resmi dengan seorang Ayash Alastair.
***
Pria itu terlihat menyesap kopinya yang sudah dingin, dengan tatapan tajam pada copy dokumen syarat pernikahan yang masih berserakan di meja kerjanya.
Dia lalu beranjak sambil menatap jauh pada pemandangan city light dari ruang kerjanya dengan embusan napas panjang.
Kembali teringat obrolannya dengan Mama dan Papa di malam dirinya memutuskan untuk menikahi wanita yang tidak sesuai dengan ekspektasi kedua orang tuanya.
Mereka berkonfrontasi hebat, hingga berakhir dengan Ayash memberikan ultimatum perihal pilihannya, juga menekankan perihal wasiat keluarga tersebut.
Jika dialah satu-satunya orang yang sudi menjalankan wasita tersebut, maka seluruh aturan main berada di bawah kendalinya.
Dan Ayash tau, Mama masih tidak bisa menerima caranya memutuskan, juga masih meragukan latar belakang Tatiana, sedangkan Papa memberikan ultimatum balik, dan menantang sejauh mana dirinya bisa mengendalikan keputusan ini agar tidak menjadi bumerang untuknya sendiri di masa depan.
“Svara Tatiana ….” bibir pria itu membisik lirih menyebut nama wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
“Memang ada sesuatu yang menarik dari rekam jejak pendidikannya, Pak. Mulai dari sekolah dasar hingga menengah atas, nilai Tatiana tidak pernah mencolok. Nilai-nilainya selalu di batas rata-rata dan memang tidak pernah masuk ranking sepuluh besar. Berbeda dengan saudaranya yang selalu menjadi bintang kelas sekaligus primadona.”
Ucapan Dika, asisten utama yang juga menjadi orang kepercayaannya kembali terngiang di kepala.
"Namun tepat setelah lulus SMA, dia berhasil lolos serangkaian tes dan masuk The London School of Economics dalam sekali coba, dengan beasiswa prestasi. Fully funded. Jika dinalar, itu jelas tidak mungkin bagi siswa yang biasa-biasa saja dan tidak memiliki prestasi apa pun."
Bibir pria itu menyungging seringai tipis saat pikirannya melayang pada makan malam tempo hari, saat Armand dan Nadine mengatakan putri mereka bodoh dan tidak berguna.
“Orang bodoh mana yang bisa menembus London School of Economics dalam sekali coba?” pria itu menggumam sinis dengan tatapan penuh makna.
Kampus tersebut merupakan kampus ekonomi paling bergengsi di dunia yang mencetak banyak tokoh-tokoh ekonomi mulai dari menteri keuangan dari berbagai negara hingga gubernur bank sentral.
"Dia mendapatkan beasiswa prestasi sejak S1 hingga menyelesaikan gelar magisternya di London, Pak,”
Bukan hanya perihal pendidikannya, Ayash bahkan sudah menguliti semua kehidupan wanita yang disebut anak haram Arsyanendra itu tanpa seorangpun tau.
“Setelah lulus magister, dia langsung direkrut salah satu firma akuntansi ternama di UK sebagai Corporate Risk Analyst. Sepertinya dia memang sudah merencanakan tujuan hidupnya sejak awal. Bidang audit dan manajemen risiko memang salah satu sektor prioritas dengan peluang sponsor Skilled Worker Visa tertinggi di UK. Dua tahun setelah kelulusannya, diia langsung mendapatkan sponsor dari firma tersebut."
Mengingat semua informasi itu, senyum sinis kembali tersungging di wajah pria itu.
“Jika berdasarkan aturan, setelah lima tahun bekerja di bawah sponsor Skilled Worker Visa, dia memiliki hak untuk mengajukan permanent residence. Dengan kenyataan dia tidak pernah sekali pun pulang ke Indonesia, sepertinya tujuan akhirnya memang sudah jelas, Pak. Tatiana memang mengincar agar bisa menetap permanen di sana.”
Pria itu lalu kembali ke meja kerjanya, meraih potret Tatiana yang ada di sana dengan jari yang mengetuk-ngetuk ke meja.
Nyatanya wanita itu tidak bodoh, melainkan sengaja menyembunyikan kemampuannya demi bisa melarikan diri dan mengejar kebebasannya di negeri orang.
“Svara Tatiana …”
Bibirnya kembali memanggil nama wanita yang telah resmi menjadi miliknya.
"Kamu berhasil menyusun rencana yang mengagumkan untuk melarikan diri,” pria itu kembali menyungging senyum sinis. “Namun rencana itu tidak bisa kamu lanjutkan, saat kini seluruh alur kehidupan kamu berada di bawah kendaliku.”