“Jam berapa penerbangan saya besok, Dika?” tanya Ayash sambil melepas dasi yang terasa mencekiknya.
“Jam sebelas, Pak.”
Dika menempelkan kartu akses dan mempersilahkan sang atasan masuk ke kamar hotelnya. Mereka sedang ada perjalanan bisnis di Singapore sejak dua hari yang lalu.
“Bagaimana update-nya?”
Dan jelas Dika langsung memahami ‘update’ yang dimaksud Ayash Alastair.
“Bu Tatiana sudah mendarat semalam, Pak. Jam satu pagi, dan langsung pulang ke apartemen yang dia sewa sejak satu minggu yang lalu.”
Dika bisa melihat dengan jelas ada seringai samar yang tersungging di bibir bosnya itu.
Empat tahun pernikahan, bosnya itu tetap terlihat seperti pria lajang, pun sosok wanita yang telah menjadi istrinya itu tidak pernah sekali pun pulang.
Entah jenis pernikahan apa yang sedang mereka jalankan, bahkan di setiap acara perusahaan, Dika yang menjadi saksi bisu jika masih banyak para kolega bisnis yang ‘menawarkan’ putri mereka pada pewaris Alastair Tech yang satu itu karena dipikir masih lajang.
“Tapi, Pak … Pagi ini …. dari orang kita melaporkan jika Bu Tatiana mendatangi salah satu firma hukum, dan bertemu dengan salah satu pengacara perceraian di firma tersebut.”
Informasi tersebut membuat Ayash langsung melirik sinis ke arah Dika dengan bibir yang menyeringai sinis.
“Perceraian?”
“Iya, Pak.”
Berani sekali wanita itu! Bibir Ayash menyungging seringai tipis penuh makna.
“Lalu … beliau juga sudah membeli tiket ke Singapore untuk penerbangan satu minggu lagi, Pak. Lengkap dengan sewa apartemen satu bulan di sana.”
Kening pria itu kembali mengernyit samar sambil menerka-nerka rencana istrinya.
“Armand Arsyanendra tau kepulangan putrinya?”
“Sejauh ini tidak tau, Pak.”
Ayash kembali mengangguk sambil melempar jasnya ke sofa.
“Tetap awasi istri saya.”
“Baik, Pak.”
“Kamu boleh keluar sekarang. Berikan summary meeting hari ini dalam satu jam. Saya tunggu.”
“Baik, Pak,” ujar Dika langsung mengangguk dan keluar dari kamar presidential suite sang atasan untuk menuju ke kamarnya sendiri.
Ayash beranjak dari sofa ruang tamu suite-nya lalu melangkah ke arah bar di sudut ruangan untuk mengambil sebotol air mineral dingin.
Pria itu meraih remote control dan menekan salah satu tombol hingga tirai setinggi langit-langit di ruang tamu tersebut terbuka dan langsung menyuguhkan keindahan Gardens by the Bay dan gemerlap Supertree Grove yang memanjakan mata.
Ayash meneguk air mineralnya perlahan, membiarkan sensasi dingin membasahi tenggorokannya dan berharap bisa mendinginkan hatinya yang memanas mendengar kelancangan rencana istrinya yang penuh kejutan itu.
Namun bibir pria itu kembali menyungging senyum penuh kemenangan.
Dia tau persis bagaimana wanita itu pontang-panting di London selama dua bulan terakhir ini sejak visa sponsornya dicabut oleh perusahaan tempatnya bekerja.
“Kamu memang pantang menyerah, Tatiana …”
Pria itu menggumam lirih, kembali teringat dengan segala laporan Dika tentang apa yang dilakukan Tatiana begitu diberhentikan dan dicabut visanya oleh perusahaan tersebut.
Nyatanya Tatiana tidak langsung menyerah apalagi memutuskan pulang ke Indonesia. Wanita itu memanfaatkan batas enam puluh hari yang diberikan Home Affairs sebelum benar-benar harus meninggalkan London.
Dalam dua bulan masa penganggurannya, wanita itu memilih tetap bertahan di London sambil mengirim berkas lamaran ke berbagai firma di Eropa, bahkan melayangkan portofolionya hingga lintas benua, dari Kanada hingga ke Australia.
Tujuannya jelas terbaca, saat rencananya di London berantakan, wanita itu langsung bangkit alih-alih meratapi nasib.
Paham langkah yang harus diambil jika dia harus segera mendapatkan perusahaan baru di negara-negara yang memang menyambut karyawan asing dengan tangan terbuka dan sudi memberikan sponsor kerja agar bisa tinggal menetap di sana.
“Kamu tidak akan berhasil, Tatiana … karena aku mengatur alurnya seperti itu …” bibir pria itu kembali menyeringai tipis sambil kembali menenggak air mineralnya hingga tandas dengan ekspresi puas.
Nyatanya, Tatiana benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari celah agar tidak perlu menginjakkan kaki lagi di negeri ini.
Pada akhirnya wanita itu ‘terpaksa’ harus kembali ke negeri ini karena masa tinggalnya di London telah habis atau dia akan dideportasi.
Ayash sempat mengira kepulangan wanita itu adalah tanda jika Tatiana akhirnya menyerah dan mungkin akan memilih melanjutkan karir di Indonesia.
Nyatanya wanita itu pulang satu minggu hanya untuk mengajukan gugatan cerai sebelum terbang ke Singapore.
“Bahkan setelah tersudut pun, kamu masih mencari cara untuk lari … How dare you, Tatiana!”
***
“Tatiana?”
Panggilan itu menghentikan Tatiana yang baru saja keluar dari lift di salah satu gedung perkantoran Jakarta.
Dia baru saja menemui pengacaranya setelah kemarin melakukan konsultasi awal, dan hari ini dia kembali datang untuk menyerahkan beberapa berkas yang harus disiapkan untuk memproses permohonan perceraiannya.
Saat dia membalikkan badannya, dia melihat Adrian yang terlihat sedikit berbeda dari empat tahun yang lalu.
Pria itu terlihat lebih berisi, dengan pipi yang juga sedikit chubby dan rahang yang juga ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Kamu pulang?! Kenapa? Tidak bisa move on dariku dan mencoba mengincarku lagi?”
Pria itu dengan pongahnya berbicara, mendekat lancang ke arah Tatiana yang menatapnya muak.
“Tidak ada pria yang sudi menikahi anak haram seperti kamu, ya?” bisik Adrian begitu berdiri tepat di depan Tatiana.
Tatiana tertawa singkat, yang membuat Adrian membatu sesaat.
“Bukankah kamu harusnya lebih mengkhawatirkan putri kamu yang malang itu? Bukankah hari kelahirannya sempat menggemparkan grup alumni dan komunitas diaspora?”
Raut wajah Adrian langsung berubah begitu mendengar ucapan Tatiana.
Nadanya memang tidak mencemooh, pun tatapan Tatiana tidak memancarkan dendam.
Sikap tenangnya justru membuat Adrian merasa wanita itu sedang menghinanya dengan cara yang lebih sialann.
Renata memang menepati janjinya, wanita itu benar-benar memberikan update tentang bukti jika anak Adrian memang lahir kurang dari enam bulan setelah pernikahan mereka.
Renata menyebarkan kabar bahagia yang sesungguhnya aib itu di seluruh grup komunitas mereka di London.
Apalagi memang Adrian cukup terkenal dan memang aktif di komunitas, bukan hanya di kampus, namun juga beberapa komunitas diaspora Indonesia di luar kegiatan kemahasiswaan.
“Jangan terlalu percaya diri, Adrian,” bisik Tatiana sambil menatap pria itu dengan senyum tipisnya. “Aku tidak pernah membuang energiku untuk mengincar seseorang yang sudah terbukti cacat secara moral.”
Tatiana mundur dua langkah sambil memberikan tatapan menghunusnya pada Adrian.
“Kamu menghinaku empat tahun yang lalu karena asal-usul keluargaku, tapi kamu justru terjebak membangun rumah tangga sambil menciptakan aib untuk putri kamu yang malang itu. Aku turut prihatin untuk putri kamu yang tidak berdosa itu," ujar Tatiana yang langsung berlalu pergi meninggalkannya padahal Adrian belum mengijinkan.
“Aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudah, Tatiana!” desis pria itu dengan kilat mengerikan yang terpancar dari tatapan matanya.
Dia sudah akan kembali mengejar Tatiana, namun langkahnya terhenti begitu saja saat melihat siapa rombongan yang baru masuk di depan sana.
Tatiana yang sudah membalikkan badan langsung sambil sibuk mengambil ponsel di sling bag-nya.
Dia berjalan dengan tergesa-gesa karena dia memiliki jadwal online interview dua puluh menit lagi dengan salah satu perusahaan EPC di Singapura, dan dia harus tiba di apartemen dalam lima belas menit.
Sibuk membuka aplikasi ojek online dengan jalan yang tergesa membuat wanita itu tidak memperhatikan jalan hingga beberapa langkah kemudian tubuhnya menabrak sesuatu yang keras.
“Awh!”
Tatiana langsung memekik kecil dengan tubuh yang terdorong ke belakang dua langkah, dan hampir hilang keseimbangan karena dia tersandung kakinya sendiri.
Dia refleks memejamkan matanya saat merasa tubuhnya melayang dan kehilangan tumpuan.
Namun, sebuah rengkuhan hangat langsung melingkari pinggangnya, dan membuat tubuhnya kembali tertarik ke depan dan menempel erat pada tubuh keras seseorang yang helaan napasnya kini menerpa tepat di wajahnya.
“Oh Tuhan ….” bibirnya mendesis lirih dengan mata yang perlahan terbuka.
Dan entah bagaimana, Tatiana merasa jantungnya seperti berhenti berdetak saat tatapannya langsung bertemu dengan tatapan seorang pria.
Tatapan pria itu terlihat sangat gelap, namun menghunus tajam dan menyesatkan, yang membuat bulu kuduk Tatiana meremang seketika dan tubuhnya seperti langsung berteriak waspada.
Pria itu tidak langsung melepaskannya, rengkuhan tangannya di pinggang Tatiana justru mengerat sepersekian detik, mengunci tubuh ramping Tatiana agar tetap menempel pada d**a bidangnya.
Tatiana tercekat, aroma woody yang menguar pekat dari jas pria itu langsung menusuk indra penciumannya, membuat detak jantungnya semakin berdetak kacau.
Dia berusaha untuk melepaskan diri dan menegakkan tubuhnya, namun pria itu justru terlihat tetap mengunci ruang geraknya.
Kini, tatapan pria itu justru turun menyapu wajah Tatiana, dan Tatiana bisa melihatnya walau hanya sekelebat. Atas bagaimana sudut bibir pria itu menyeringai tipis sepersekian detik dan nyaris tak kasat mata.
Pria itu menundukkan kepalanya perlahan, mendekatkan bibirnya tepat di sisi telinga Tatiana.
Hembusan napas hangatnya langsung menyapu ceruk leher Tatiana disusul dengan suara serak yang mengalun rendah.
“Watch your steps, Young Lady.”
Entah kenapa ucapan dan suara itu membuat Tatiana semakin meremang, dan belum sempat akal sehatnya memproses bisikan yang terasa mengerikan itu, cengkraman kokoh di pinggangnya mendadak terlepas.
“Maaf …” Tatiana refleks langsung menunduk singkat dan kembali berjalan tergesa keluar dari gedung tersebut saat teringat dia memiliki urusan penting yang berkaitan dengan hidup dan matinya.
Sedangkan pria itu masih berdiri di sana, memperhatikan langkah kecil Tatiana yang menjauh dan akhirnya masuk ke sebuah mobil.
Tatapannya begitu lekat, menghunus tajam pada tubuh ramping yang rasanya bisa dia remukkan dalam sekali cengkram.
“Sore, Pak Ayash ….”