Wanita itu berdiri di salah satu gedung perkantoran sambil mendekap sebuah berkas dengan logo firma hukum di tangannya.
Dia menarik napasnya panjang sebelum masuk dan menuju ke lobi dengan jantung yang berdebar keras.
Belum ada satu minggu sejak dirinya tiba di Jakarta, rasanya hidupnya masih dipenuhi roller coaster karena sibuk mengurus ini dan itu.
Jelas yang menjadi prioritas utamanya adalah menyelesaikan berkas perceraiannya sebelum dia terbang ke Singapore lusa.
Dia kira semua akan berjalan mudah setelah dia membayar pengacara untuk mengurus perceraiannya, namun kenyataannya berbanding terbalik.
“Pihak Alastair menolak bicara melalui perantara, Bu Tatiana,”
Suara pengacaranya masih terngiang jelas di kepala saat menelponnya kemarin sore.
“Tim legal mereka mengirim surat resmi sore ini. Pak Ayash bersedia mempertimbangkan pengajuan Ibu jika Ibu datang menemuinya di kantor, besok jam empat sore. Jika Ibu menolak dan kita memaksakan sidang sepihak, mereka memiliki kuasa untuk menggantung status pernikahan Ibu bertahun-tahun di pengadilan. Saran saya, lebih baik Ibu datang dan menemui beliau terlebih dahulu agar proses cerai ini bisa secepatnya selesai sesuai dengan harapan Ibu.”
Pada akhirnya, dia harus bertatap muka dengan pria yang berstatus sebagai suaminya sejak empat tahun yang lalu itu untuk mengajukan perpisahan.
Suami yang tidak pernah menghubunginya sejak mereka resmi menjadi suami istri apalagi sampai menemuinya di London.
Namun, yang mengejutkan, pria itu rutin menggelontorkan ribuan dollar ke rekeningnya setiap bulan, seolah pria itu memang sedang memberikan uang nafkah sebagai seorang suami.
Atau lebih tepatnya uang nafkah itu sebagai bentuk peringatan agar Tatiana selalu mengingat statusnya? Dan jelas Tatiana tidak tau jawaban pastinya.
Tentu saja Tatiana tidak menyentuh uang pria itu sepeser pun, dia bahkan dengan sengaja membuat rekening baru dan tidak sudi lagi menyentuh rekening lama yang terus-terusan dikirim uang bulanan oleh Ayash Alastair.
Dia menarik napasnya panjang sekali lagi sebelum mendekat ke arah meja resepsionis dengan ekspresi tenang dan langkah yang tegap.
"Selamat sore. Saya Svwara Tatiana. Saya ada janji temu dengan Pak Ayash Alastair hari ini jam empat sore."
Tatiana sudah akan menyodorkan bukti janji temu yang dikirimkan pengacaranya melalui email pada sang resepsionis.
Namun, belum sempat dia melakukannya, resepsionis yang terlihat masih fokus dengan layar komputernya itu tiba-tiba kembali mendongak dengan ekspresi yang entah kenapa berubah jauh lebih sopan.
"Baik, Ibu. Nama Ibu sudah terdaftar di sistem tamu lantai eksekutif. Mari, biar saya antar ke lift khusus untuk tamu, Ibu."
Dan Tatiana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Bahkan setelah tiba di lantai eksekutif, dia harus melewati meja resepsionis lagi untuk menunggu hingga kemudian ada sosok pria yang tersenyum sopan ke arahnya.
“Selamat sore Bu Tatiana …Perkenalkan saya Dika. Asisten Pak Ayash,” ujar pria itu dengan nada yang ramah.
Sapaan itu membuat Tatiana langsung berdiri sambil mengangguk dengan senyum sopan.
“Senang akhirnya bisa bertemu dengan Anda. Mari saya antar ke ruang Pak Ayash.”
Dan kening Tatiana kembali mengernyit samar mendengar ucapan Dika, bukankah artinya pria itu sudah menantikan pertemuan mereka?
Namun Tatiana tidak bertanya lebih lanjut dan membiarkan Dika membimbingnya menuju ke sebuah ruangan.
Langkah Tatiana terhenti dua langkah di belakang Dika, tatapannya menelisik tajam pada pintu yang ada di depannya.
‘Oh pria itu menjabat sebagai CFO?’
Tatiana membisik dalam hati saat melihat ada plang nama juga status jabatan yang menggantung di pintu.
Ayash V. Alastair ….
Jelas Tatiana masih mengingat nama itu, namun tidak pernah sudi mencari tau seperti apa rupa pria itu.
Dia hanya tidak ingin terus terbayang-bayang wajah pria tua yang sudah menikahinya.
“Silahkan masuk, Ibu … Sudah ditunggu Pak Ayash di dalam.”
Tatiana hanya mengangguk tanpa senyum dan masuk begitu pintu dibukakan oleh Dika.
Tanpa sadar wanita itu kembali menahan napasnya sambil mencengkeram kuat dokumen yang dibawanya.
Begitu pintu tertutup dari luar, tatapan Tatiana langsung terkunci pada sosok yang kini berdiri menghadap ke jendela dan memunggunginya.
Keningnya mulai mengerut samar melihat satu-satunya sosok yang ada di ruangan itu.
Benar, kan, dia Ayash Alastair? Tadi Dika dengan jelas sudah mengatakan jika Ayash Alastair sudah menunggunya di dalam.
Namun, kenapa pria itu memiliki postur yang tegap, dengan tubuh yang tinggi menjulang dan bentuk tubuh yang juga proporsional?
Bayangan pria tua kaya raya yang ingin menikahi wanita muda di kepalanya selama ini jelas pria bertubuh tambun, pendek, dengan perut buncit dan rambut yang mulai memutih.
Bukan seperti apa yang kini ada di depannya!
Saat Tatiana berjalan mendekat, wangi pria itu mulai mengusik indra penciumannya, wanginya yang maskulin dengan perpaduan aroma sandalwood yang pekat dan hint bergamot yang clean dan khas itu membuat kening Tatiana semakin mengerut.
Aroma ini?
Kenapa mirip seperti wangi pria yang kemarin bertabrakan dengannya dan menatapnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri?
Pasti hanya kebetulan wangi mereka sama, kan?!
"Selamat sore, Pak Ayash …”
Suara Tatiana mengalun pelan, mencoba tetap terdengar tenang meski dia belum yakin sepenuhnya apa pria yang masih memunggunginya memang benar Ayash Alastair atau orang lain.
“Saya Svwara Tatiana. Saya datang untuk melanjutkan pembicaraan atas apa yang ditolak oleh perwakilan legal Anda pada pengacara saya kemarin sore.”
Tepat setelah Tatiana selesai berbicara, pria itu perlahan membalikkan tubuhnya.
Dan tubuh Tatiana hampir limbung saat melihat bagaimana seraut wajah pria itu yang jauh dari ekspektasinya.
Pria itu benar-benar pria yang bertabrakan dengannya dua hari lalu?!
Namun bukan hanya itu saja keterkejutannya!
Saat Tatiana memperhatikan lebih detail bagaimana rupa pria itu, jelas pria itu bukanlah pria tua seperti bayangannya selama ini.
Rupa pria itu … Tatiana yakin semua wanita akan sepakat jika wajah pria itu memang di atas rata-rata.
Namun, meski wajahnya seperti pahatan Tuhan yang sempurna dengan rahang yang tegas dan kokoh, tatapan mata pria itu terasa mengerikan, begitu menghunus dan setajam elang yang sedang mengincar mangsanya.
Kini pria itu bergerak mendekat, yang membuat Tatiana diam tak berkutik dengan jantung yang makin berdebar menggila.
Namun hatinya masih tetap mempertanyakan, apakah pria di depannya ini benar-benar Ayash Alastair suaminya? Hatinya yang selama ini meyakini suaminya adalah pria tua jelas terus mempertanyakan kebenarannya.
Langkah pria itu terhenti tepat satu langkah di depannya, dengan tatapan yang mengintimidasi, dan membuat tubuh Tatiana menegang kaku seketika.
Dan Tatiana langsung kembali terkesiap tanpa sempat menghindar karena begitu terkejut saat tangan pria itu dengan lancang langsung merengkuh pinggangnya tanpa aba-aba, dengan tubuh yang menunduk dan bibir yang mendekat ke telinga Tatiana.
“Selamat datang di Jakarta, Istriku,”
Napas Tatiana masih tercekat rasanya, jadi dia benar-benar Ayash Alastair?
“Mari kita bicarakan... berapa harga yang harus kamu bayar untuk kebebasan yang sedang kamu impikan itu.”
Detik selanjutnya bisikan lirih dari suara maskulin pria itu seolah melumpuhkan seluruh persendiannya. Nyatanya bukan hanya tatapannya, suara pria itu pun ternyata sepaket sama mengerikannya.