Dari semua hal yang telah dia selidiki tentang sang istri, hanya satu hal yang belum bisa Ayash pastikan kebenarannya.
Tentang karakter dan bagaimana sosok Svara Tatiana yang sesungguhnya, karena semua itu baru benar-benar bisa dia temukan jawabannya saat berinteraksi langsung dengan yang bersangkutan.
Hampir semua teman yang pernah berinteraksi dengan wanita itu, entah teman sekolah atau teman kuliahnya di London selalu mengatakan satu hal yang sama.
Tatiana adalah sosok yang pendiam, dan cukup pasif di lingkungan pertemanan mereka.
Seolah memang bukan hanya di keluarga Arsyanendra wanita itu tidak ingin terlihat menonjol, namun di mana pun itu Tatiana selalu memilih menghindar menjadi pusat perhatian.
Memilih tenang dengan cara menarik diri dari lingkungan dan fokus pada sesuatu yang menjadi tujuannya sendiri.
Bibir pria itu kembali menyungging seringai tipis saat mendengar pintu ruang kerjanya dibuka, diikuti dengan langkah kaki yang terdengar begitu lambat dan pelan.
Ah, tamu yang ditunggunya telah datang.
Istri yang dengan lancang tidak mengenali wajahnya, padahal sudah empat tahun Ayash ‘berbaik hati’ memberi kesempatan dan kebebasan.
Hingga saat Ayash mendengar suara wanita itu mengalun ragu menyampaikan maksud kedatangannya, seringai penuh makna itu semakin terlihat jelas di wajah rupawannya.
Dia membalikkan tubuhnya untuk melihat sang istri yang akhirnya datang menemuinya.
Wanita itu terlihat sangat terkejut, dan Ayash sangat mudah membaca raut tidak percaya di wajah Tatiana saat akhirnya melihat langsung seperti apa sosok dirinya.
Wanita itu benar-benar tidak mengenalinya sedikit pun!
Namun, saat akhirnya Ayash maju dengan tatapan mengintimidasi juga gesture yang penuh kuasa hingga dia merengkuh pinggang Tatiana, Ayash bisa melihat wanita itu tetap terlihat tenang dan mampu mengendalikan diri.
Pun saat mencoba melepaskan diri, Tatiana tidak memberontak atau berteriak. Wanita itu mencengkeram kuat lengan Ayash, dan satu tangan yang lain mendorong dadaa Ayash dengan tenaga hingga pelukan Ayash berhasil terlepas.
Tatiana mundur dua langkah sambil tetap menatap sosok yang berdiri tinggi menjulang di depannya.
Tingginya hanya 157 cm dan pria itu terlihat memiliki tinggi sekitar 180 cm, jelas secara ukuran dan tinggi dia kalah telak.
Mungkin dalam sekali cengkram dia bisa benar-benar di-smackdown jika tidak berhati-hati dalam negosiasi ini.
“Boleh kita duduk dulu, P-pak?” ujar Tatiana mencoba tetap tenang, sesungguhnya kikuk ingin memanggil pria itu seperti apa.
Dipanggil Pak jelas pria itu tidak terlihat seperti sosok bapak-bapak yang sudah memiliki anak gadis. Memanggilnya nama jelas terasa kurang sopan dan mereka tidak seakrab itu.
Haruskah Tatiana memanggilnya dengan panggilan yang pantas seperti panggilan istri pada suaminya secara sopan? Tapi apa pria itu akan menerimanya?
“Duduk!” tegas Ayash masih dengan tatapan yang penuh intimidasi seolah tidak melonggarkan sedikit pun pengawasannya pada sang mangsa.
Tatiana langsung menuju ke sofa yang tidak jauh darinya, bahkan mendahului Ayash.
Wanita itu kembali menarik napasnya dalam sambil mencoba mencerna maksud ucapan pria itu perihal bayaran yang dimaksud tadi.
Saat kini mereka sudah duduk saling berhadapan, tatapan Tatiana langsung lekat membalas tatapan tajam Ayash.
“Kenapa Anda memilih menikahi saya alih-alih Soraya? Dari pernikahan ini, Anda tau status saya yang sebenarnya, kan?”
Tatiana langsung melempar tanya terlebih dahulu, teringat dengan ucapan Papa di telepon empat tahun yang lalu perihal jika Ayash Alastair sendiri yang memilihnya sebagai pengantin.
Kini, Tatiana mencoba mencari jawaban yang masuk akal saat akhirnya berhadapan dan melihat rupa Ayash Alastair yang jauh dari ekspektasinya.
Jika bukan Soraya yang menolak karena tidak ingin dinikahkan dengan pria tua seperti prasangkanya selama ini, namun justru pria itu yang memilihnya, maka alasan yang mungkin masuk akal adalah …
“Bayaran seperti apa yang Anda minta dalam transaksi pernikahan ini? Apa Anda memiliki wanita lain yang Anda cintai? Sehingga Anda memilih saya alih-alih Soraya? Karena Anda ingin mencari istri yang bisa dibungkam atas apa saja yang Anda lakukan? Anda tidak bisa menikahi wanita yang Anda cintai sebab wasiat pernikahan ini? Begitu?”
Itu yang kini ada di kepala Tatiana, dan jelas langsung dia ungkapkan agar dia tau bagaimana posisinya.
Jika memang dia harus memberikan bayaran terlebih dahulu dengan cara menjadi tameng dari hubungan yang tidak direstui antara sang suami dengan wanita yang dicintainya, maka proses cerai yang dia harapkan tidak bisa dilakukan sekarang.
Pun dia tidak menemukan alasan yang masuk akal kenapa seorang pria potensial dari segi rupa dan harta seperti Ayash Alastair memilih dirinya dibanding Soraya yang merupakan putri mahkota?
Tidak ada satu pun alasan yang normal kecuali jika pria itu memang memiliki motif tersembunyi yang bisa merusak nama baik keluarga apabila wanita yang menjadi istrinya tidak bisa diajak bekerja sama.
Ayash sendiri tidak langsung menjawab saat wanita itu selesai memberondongnya dengan berbagai tanya.
Bibir pria itu hanya menyungging seringai penuh makna dengan ekspresi penuh penilaian.
Menyadari jika sosok yang dikenal pendiam ini ternyata cukup frontal dalam mengutarakan setiap hal yang ada di kepalanya.
Bukan hanya itu, bahkan prasangkanya benar-benar luar biasa.
“Pak?” Tatiana kembali memanggil saat Ayash tidak meresponnya. Dia merasa seperti berbicara dengan tembok karena dari sekian banyak tanya, tidak ada yang ditanggapi.
“Sudah?” tanya Ayash dengan alis yang menukik tajam.
“Maksudnya?” kening Tatiana mengernyit tidak kalah dalam.
“Pertama. Saya bukan Bapak kamu.”
Pria itu duduk sambil bersedekap dengan tatapan yang mengunci pergerakan Tatiana.
“Kedua. Hanya saya yang memiliki hak mengajukan perceraian. Pahami posisi kamu dalam pernikahan ini.”
Tatiana kembali menatap dalam penuh selidik pada sosok yang tidak bisa ditebak itu. Satu pun tanyanya tidak ada yang dijawab, namun pria itu sudah memberikan ultimatum padanya.
“Sampai kapan?” tanya Tatiana cepat, seolah mengejar kepastian sampai kapan dia harus memiliki status yang tidak dia inginkan ini.
Dan Ayash kembali menautkan kedua alisnya sambil memberikan tatapan menelisik pada Tatiana yang terlalu responsif dan frontal.
Namun, tentu saja Ayash tidak sudi memberikan jawaban untuk memuaskan perasaan sang istri.
“Bagaimana mungkin kamu berani mengajukan perceraian setelah empat tahun tidak pernah pulang sejak resmi menjadi menantu Alastair? Kamu kira saya menikahi kamu hanya untuk digugat cerai oleh kamu? Kamu terlalu lancang dan tidak mengenal suami kamu, Tatiana.”
Tatiana sampai menahan napasnya, namun ekspresinya tetap terkontrol.
Pun dia menyadari jika yang diucapkan Ayash tidak sepenuhnya salah. Terutama bagian tidak mengenalnya.
Kenyataannya memang dia tidak mengenal sama sekali sosok Ayash Alastair. Jangankan sosoknya, Tatiana bahkan baru mengetahui rupa pria itu hari ini.
Dan kini, setelah berhadapan langsung dengan sosok suaminya itu, semakin banyak tanya yang runyam di kepalanya, tentang alasan atau motif tersembunyi pria itu, tujuan pernikahan ini sesungguhnya, dan sampai kapan dia harus membiarkan tali kekang pernikahan ini mencekik lehernya?
“Kamu tidak akan pergi ke mana-mana setelah ini. Tidak Singapore, atau negara lain.”
Tatiana langsung membelalak mendengar ultimatum selanjutnya dari sosok pria yang menjadi suaminya itu.
“Anda tidak memiliki ….”
Ucapan Tatiana langsung terpotonga saat suara Ayash langsung menyela dengan tajam.
“Jelas saya memilikinya. Saya memiliki hak sebagai suami kamu, Tatiana.”
Pria itu lalu beranjak, mendekat ke arah Tatiana sambil membungkukkan badannya.
“Mulai sekarang, sudah saatnya kamu menjalankan peran kamu dengan benar,” bisik Ayash meraih dagu Tatiana hingga wanita itu mendongak menatapnya.
“Peran apa yang Anda maksud?” tanya Tatiana sambil balas mencengkeram lengan pria itu. “Peran istri yang bisa dijadikan tameng hubungan Anda dengan kekasih Anda?”
Dan sekali lagi, tanya Tatiana hanya dihadiahi tawa rendah dari Ayash dengan tatapan yang tetap mengintimidasi.
Pria itu mengusap rahang Tatiana sebelum kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik melangkah menjauh.
Tatiana sampai memejamkan mata untuk meredam emosinya.
Sesungguhnya apa inti dari pembicaraan mereka?! Apa maksud semua ucapan pria itu?! Pria itu yang meminta pembahasan perihal ‘bayaran pernikahan’ namun saat Tatiana mencecarnya, tidak ada satu pun jawaban masuk akal dan pasti yang diberikan pria itu!
“Ayo …”
Tau-tau pria itu kembali bersuara, yang membuat Tatiana terkesiap dari lamunannya, dengan kening yang lagi-lagi mengernyit atas setiap ucapan yang keluar dari lisan pria itu.
“Kemana?”
“Pulang,” ujar pria itu enteng yang kini berjalan menuju pintu keluar.
“Pardon?!”
Alis Tatiana kembali bertaut tajam mendengar ucapan Ayash.
Apa maksud pria itu?! Pulang ke mana maksudnya?! Rumah siapa yang disebut pria itu sebagai ‘pulang’?
Bagaimana bisa tujuannya yang ingin menyelesaikan gugatan perceraian justru berakhir pria itu mengajaknya pulang seolah mereka suami istri normal?!