“Kita bisa melanjutkan pernikahan sebagaimana yang kita jalani empat tahun ini. Bukankah itu kondisi terbaik untuk kita? Mari hidup masing-masing saja.”
Tatiana beranjak dari duduknya sambil menatap lekat pada Ayash yang sudah hampir membuka pintu ruangan.
Nadanya memang tidak menuntut, namun terdengar tegas dan tenang, jelas Ayash bisa memahami jika wanita itu bukan sedang melakukan negosiasi, namun memaksa agar Ayash menyetujui sarannya.
“Kamu tidak memiliki hak untuk mengatur alur pernikahan ini, Tatiana.” Ayash kembali menjawab dengan nada penuh penekanan.
Wanita itu benar-benar belum menyadari posisinya, dan sepertinya belum sadar berhadapan dengan sosok yang seperti apa.
“You didn’t make it clear, Ayash Alastair!”
Kini, Ayash bisa melihat bagaimana wanita itu menahan segala kecamuknya, namun masih mempertahankan nada suaranya agar tidak naik.
"Which part of it wasn't clear, Tatiana?" balas pria itu dengan nada yang sarkas dan ekspresi sinis.
Pria itu akhirnya kembali mendekat pada sang istri yang terlihat mulai habis kesabaran karena tujuannya dipatahkan berkeping-keping.
“Tidak akan ada perceraian selama bukan aku yang menginginkan, dan kita akan pulang sekarang,” desis pria itu sambil meraih tangan Tatiana dan menyentaknya sedikit kuat hingga tubuh mereka hampir merapat.
“Kenapa?” Tatiana kembali mencoba melepaskan diri.
“Stop questioning me, Tatiana.”
Ayash memberikan tatapan tajam pada istrinya.
“Ikut aku pulang dengan cara baik-baik, atau kamu ingin mengundang perhatian semua orang dengan bagaimana cara aku menyeret kamu pulang?” Nada suara pria itu kembali sarat penuh intimidasi.
Dan … kenapa juga pembicaraan mereka kini selangkah lebih akrab? Dari saya dan anda menjadi aku dan kamu?!
Apa pria itu benar-benar serius perihal “pulang” dan perihal peran yang sudah seharusnya Tatiana lakukan? Namun peran istri yang seperti apa maksudnya?!
“Saya permisi, Pak Ayash …” ujar Tatiana dengan nada penuh sindiran dan langsung melangkah mendahului Ayash.
Namun, yang membuat Tatiana lagi-lagi tidak paham, kenapa pria itu justru berjalan di sisinya?!
Bukankah lebih baik Tatiana yang keluar lebih dulu? Dan pria itu bisa keluar beberapa saat setelahnya agar mereka tidak menjadi bahan gosip?!
Atau memang pria itu sengaja ingin menjadi bahan pembicaraan para karyawan?!
Segala keruh dan kemelut yang tadi terpancar jelas di wajah Tatiana langsung hilang berganti dengan ekspresi yang tidak terbaca saat semua orang langsung memberi perhatian penuh dan mengangguk dengan senyum sopan ke arah mereka, lebih tepatnya ke Ayash Alastair.
Tatiana yakin setelah ini mereka semua akan bergosip dan mulai mencari tau siapa dirinya dan apa hubungan Tatiana dengan atasan mereka.
Saat dia melirik sang suami yang berjalan di sisinya, Ayash hanya menunjukkan ekspresi angkuh yang tidak sudi sedikit pun membalas sapaan para karyawan.
Mereka memasuki lift eksekutif dan pria itu langsung menekan tombol menuju basement.
Tatiana sendiri langsung bersandar di kotak besi itu sambil memejamkan mata dan mengembuskan napasnya panjang, mencoba mencerna semua yang terjadi di luar rencananya.
Bagaimana dengan semua rencana karirnya dan bagaimana dia melepaskan diri dari pernikahan ini jika kini dia benar-benar harus ‘hadir’ sebagai istri dengan tujuan pernikahan yang tidak bisa dia prediksi?
Apa yang harus dia lakukan dengan hidupnya setelah ini? Dengan status baru yang tidak dia inginkan, namun juga tidak bisa dia hindari.
“Berikan saja alamat Bap …”
“Saya bukan Bapak kamu!” Ayash langsung menatap nyalang dan memotong ucapan Tatiana.
“Aku harus pulang ke apartemen dulu, M-mas …” bisik Tatiana dengan nada kikuk.
Memilih mengikuti alur pria itu terlebih dahulu sembari dia kembali menyusun rencana dan membaca keadaan agar bisa memutuskan tujuan baru dengan pikiran yang jernih.
Jelas rencananya yang ingin bercerai sudah gagal total, dengan kenyataan dia akan diseret pulang sebagai istri Ayash Alastair, dan bukan lagi hanya sebatas istri di atas kertas seperti empat tahun pernikahan mereka selama ini.
Dan itu membuat Tatiana menggigit bibir tanpa sadar.
Apa artinya dia harus bersilaturahmi kepada keluarga besar pria itu? Terutama kepada sosok yang secara status Mama dan Papa mertuanya?
Di mobil yang pada akhirnya melaju meninggalkan gedung mewah perkantoran itu pun Tatiana lebih memilih sibuk bergelut dengan kemelut hati dan pikirannya sambil menatap ke jalanan.
Kedua tangannya saling mengepal di pangkuan dengan ekspresi sendu juga lelah dengan nasib yang sering tidak berpihak padanya.
Nanti setelah tiba di rumah pria itu dia akan memesan taksi online untuk kembali ke apartemen dengan alasan mengambil barang-barangnya.
“Besok malam kita ke rumah Mama dan Papa …”
Dan Ayash bisa melihat kegelisahan wanita itu yang kini terlihat larut dengan pikirannya sendiri.
Tatiana langsung menoleh sambil menahan napasnya. “Tidak bisa ditawar waktunya?”
Dia belum siap rasanya, menerima kenyataan perceraiannya gagal dan dia tiba-tiba diseret pulang saja dia masih begitu syok, apalagi diajak bertemu mertuanya untuk pertama kali setelah empat tahun menjabat sebagai menantu.
Menantu bayangan lebih tepatnya, sebab dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Entah seperti apa pandangan mereka pada sosok menantu sepertinya.
Ayash hanya menautkan kedua alisnya tajam sambil memberikan seringai tipis sebagai jawaban.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan gaya arsitektur modern minimalis dua lantai, dan Tatiana langsung ikut turun tanpa menunggu supir membukakan pintu untuknya.
“Nyonya …”
Sapaan itu membuat Tatiana hanya tersenyum kikuk melihat seorang pria paruh baya mendekat padanya sambil mengangguk hormat.
“Barang-barang Anda sudah ada di kamar utama. Jika ada yang masih tertinggal, Anda bisa menghubungi saya.”
Tatiana kembali mengernyitkan keningnya bingung.
“Barang-barang apa, ya, Pak?”
“Semua barang Anda di apartemen. Sudah dipindah dan dibawa ke sini, Nyonya.”
Dan saat Tatiana menatap pria itu yang baru keluar dari mobil untuk menuntut jawab, Ayash hanya menyeringai puas sambil menautkan kedua alisnya.
Wanita itu menggigit bibir sambil kembali menghela napas panjang, bagaimana bisa pria itu mengetahui tempat tinggalnya? Dan masuk ke apartemennya tanpa izin bahkan bisa mencuri semua barang-barangnya?
Apa pria itu sosok yang sangat berkuasa dan bisa melakukan apa saja yang diinginkan?
Siapa sesungguhnya sosok Ayash Alastair yang kini menjadi suaminya?
“Mas sadar kan pembicaraan kita belum selesai? Bahkan belum dimulai.”
Tatiana kembali mencecar saat mereka memasuki rumah.
“Pembicaraan apa lagi? Bagaimana bisa … peraih beasiswa fully funded di LSE yang berhasil lolos one shot, dan langsung direkrut firma akuntansi paling bergengsi di UK tidak memahami kalimat sesederhana peran seorang istri?”
Nada pria itu kembali sarkas, yang membuat Tatiana kembali menerka-nerka.
Pria itu … rasa-rasanya tau cukup banyak tentang dirinya, bukan hanya perihal tau statusnya sebagai putri tidak sah Armand Arsyanendra.
Dan saat pria itu membuka sebuah kamar dengan Tatiana yang masih mengikutinya, langkah wanita itu berhenti tepat di depan pintu kamar dengan napas yang memburu.
Dia melihat kopernya masih ada di samping pintu, pun semua skincare-nya sudah tertata rapi di meja rias kamar tersebut.
Kepalanya refleks menggeleng pelan dengan ekspresi yang terlihat lelah hati.
Lelah hati dan jiwa untuk memahami maksud semua yang terjadi begitu bertubi-tubi sejak detik pertama dia bertatap muka dengan Ayash Alastair.
Jadi semua barang-barangnya benar-benar sudah diangkut ke sini? Ke kamar pria itu?
“Maksud Mas apa? Ini kamarku?” tanya Tatiana masih bertahan berdiri di pintu masuk.
“Kamar kita,” ujar Ayash enteng sambil melonggarkan dasinya.
“Mas konyol …”
Tatiana tertawa hambar sambil mengusap tengkuknya yang meremang melihat pria itu yang terlihat santai setelah mengucapkan ‘kamar kita’.
“Sebelum Mas memberi kepastian mengenai status pernikahan ini dan batas akhirnya, aku tidak …”
“Kita tidak sedang tawar-menawar, Tatiana …” pria itu kembali memotong ucapan sang istri, dengan nada mengintimidasi. “Status pernikahan ini sah dan resmi. Apa lagi yang ingin kamu pertanyakan? Justru kamu yang terlihat konyol sekarang."
Ayash lalu beranjak menuju kamar mandi setelah memberikan peringatan sekali lagi pada istrinya itu.
"Sekali lagi aku peringatkan. Pahami posisi kamu, Tatiana.”
Dan rahang Tatiana mengetat melihat bagaimana pria itu semakin otoriter dengan kuasanya.
Kesabaran dan ketenangan yang selama ini melekat dalam dirinya seolah diacak-acak begitu berhadapan dengan sosok asing yang sialannya adalah suaminya.
Tatiana kembali menghela napasnya panjang dan menuju ke ruang tamu, belum sudi rasanya berada di kamar yang terasa pengap dan membuatnya tercekik itu.
“Tuhan … kenapa … kenapa pria itu justru memilihku? Di saat dia bisa memilih Soraya yang memiliki segalanya?”
Sungguh, Tatiana benar-benar ingin tau setengah mati kenapa pria itu menjatuhkan pilihan padanya!