Jika memang dirinya harus berakhir sementara menjadi seorang istri, artinya semua rencana hidupnya harus dia pending untuk sementara waktu hingga pernikahan ini berakhir.
Dia baru bisa memulai kembali semua rencana karir dan tujuan hidupnya saat kembali menjadi wanita yang bebas dan tidak terikat oleh apa pun.
Dan Tatiana tau, portofolionya yang selama ini sudah mentereng sebagai Corporate Risk Analyst di salah satu firma akuntansi terkemuka di UK tidak boleh berakhir begitu saja.
Dia harus tetap memastikan karirnya berjalan dengan baik di Jakarta, agar tidak ada jeda karir saat nanti dia mulai kembali melamar ke perusahaan-perusahaan internasional di berbagai negara yang bersedia memberikan sponsor visa kerja untuknya bisa menetap di sana.
“Kanada atau Australia harusnya masih memiliki peluang yang besar untuk beberapa tahun ke depan,”
Wanita itu menggumam lirih sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Sejak perusahaannya mengumumkan adanya restrukturisasi dan efisiensi klien wilayah Asia Pasifik hingga menyebabkan beberapa karyawan diberhentikan, rasanya Tatiana tidak pernah benar-benar beristirahat.
Dia sibuk mengejar segala kemungkinan untuk bisa mendapatkan perusahaan baru secepatnya, namun hingga ijin tinggalnya di London berakhir, belum ada satu pun kontrak kerja baru yang dia dapatkan.
Ujungnya dia berakhir di sini sekarang, dengan kenyataan yang tidak pernah dia prediksi jika dia harus kembali hidup di Jakarta.
“Nyonya … mau saya buatkan teh?”
Tatiana yang sedang memejamkan matanya dan masih duduk di sofa ruang tamu langsung terkesiap dan menegakkan duduknya.
“Oh tidak usah, Bi ….”
Tatiana langsung berdiri dan mengangguk sopan.
“Saya Bi Uni, Nyonya … Jika butuh apa-apa Nyonya bisa selalu mengatakannya pada saya. Ada tiga ART di sini, saya bagian dapur, Nyonya …”
Tatiana mengangguk paham sambil tersenyum tipis. “Panggil Tiana saja, Bi.”
Dan Bi Uni hanya tersenyum sambil menggeleng, lalu kembali berpamitan dengan nada yang begitu sopan.
Tatiana pada akhirnya memilih kembali ke kamar pria itu dengan kepala yang kini penuh memikirkan bagaimana menjalani pernikahan ini agar dia tidak dirugikan terlalu banyak.
Wanita itu lalu kembali duduk di sofa kamar, membuka ponsel untuk mencari segala informasi tentang Ayash Alastair itu.
Nama Alastair langsung muncul di bagian paling atas yang membuat ekspresi Tatiana mengernyit pelan dan tanpa sadar menggigit bibirnya.
Ternyata keluarga besar itu seperti gurita raksasa yang merajai hampir seluruh lini industri di negeri ini.
Mulai dari sektor perhotelan, pariwisata, hingga jaringan retail swalayan, bahkan merambah ke farmasi dan kesehatan yang dikelola oleh masing-masing keluarga.
Dan keluarga suaminya itu bisa dikatakan merajai industri teknologi di negeri ini, dan sudah menyentuh ranah skala global yang tidak main-main.
Di jajaran pimpinan tertinggi Alastair Tech, nama Elan Devanaka Alastair masih eksis sebagai pimpinan komisaris.
Apakah dia papa mertuanya? Sosok Elan Alastair dikenal sebagai pemimpin yang sangat disegani mulai dari kalangan pengusaha hingga pejabat.
Sementara itu, saudara kembar Ayash menjabat sebagai Chief Executive Officer, dan sosok CEO itu nyatanya sering menghiasi sampul majalah bisnis dan ekspansi global.
“Saudara kembar?”
Tatiana membaca artikel tersebut dengan kening yang mengernyit bingung, kini tangannya dengan lincah mencari informasi yang lain di browser pencarian ponselnya.
“Kembar tiga?!” Bibirnya membeo tanpa sadar dengan kening yang mengernyit semakin dalam.
Dan Ayash sendiri menjabat sebagai Chief Financial Officer, seperti yang tertera di plang jabatan pintu ruangan pria itu di kantor tadi.
Ibarat kata, jika CEO adalah nakhoda yang menentukan arah kemajuan dan ekspansi perusahaan, maka CFO-lah yang memegang kendali untuk menentukan apakah setiap langkah ekspansi itu layak dilanjutkan atau tidak dengan melihat peluang dan resiko dari sisi finansial dan stabilitas jangka panjang.
“Mungkinkah karena itu? Saat perusahaan Papa diambang kebangkrutan, Ayash Alastair akhirnya yang bersedia mengambil alih setelah memperhitungkan segala resiko dan keuntungannya?”
Tatiana menggelengkan kepalanya pelan dan memilih menutup ponselnya tepat saat dia mendengar pintu kamar mandi dibuka.
Pria itu keluar hanya memakai bathrobe dan tidak terlihat canggung sama sekali, dan kini dengan lancang berjalan ke arahnya.
Tatiana refleks memeluk tubuhnya sendiri dengan ekspresi waspada terhadap sosok yang mungkin bisa menerkamnya saat ini juga dengan embel-embel alasan ‘peran istri’.
“Aku ingin membuat perjanjian pernikahan, Mas ….” ujar Tatiana langsung mengutarakan niatnya.
Bagaimanapun, perjanjian pernikahan adalah tameng terbaik yang sah secara hukum untuk melindungi statusnya dalam pernikahan ini. Agar pria itu tidak semena-mena.
“Harus sah secara hukum dan ditandatangani notaris.”
Dan pria itu kini kembali duduk di depannya dengan santai, kontras dengan ketegangan yang dialami Tatiana melihat tubuh pria itu hanya berbalut bathrobe.
Besar kemungkinan pria itu menolaknya, sehingga Tatiana langsung kembali melanjutkan. “Jika Mas menolaknya ….”
Dan bibir Tatiana langsung terkatup rapat tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya saat Ayash justru menanggapi permintaannya dengan serius.
“Kamu ingin meminta apa?” tanya pria itu sambil bersedekap dan kembali menatap Tatiana dengan tatapan mengintimidasi.
Tatiana tau-tau beranjak untuk mengambil sling bag dan membuka dompetnya. Lalu mengeluarkan sebuah kartu debit juga buku tabungan dari rekening yang baru dia urus beberapa hari yang lalu.
“Ini uang yang Mas kirimkan selama empat tahun ke rekeningku. Sudah aku pindah ke rekening bank lokal, dengan jumlah yang sesuai. Aku kembalikan utuh tanpa berkurang satu sen pun.”
Ayash langsung menautkan kedua alisnya dengan tatapan nyalang ke arah Tatiana.
“Yang pertama. Aku ingin pemisahan harta, agar saat kita berpisah nanti tidak perlu dipusingkan dengan harta gono-gini, ya meski aku juga tidak akan menuntutnya. Mas juga tidak perlu menafkahiku.”
Bibir pria itu langsung berkedut sinis mendengar poin pertama yang diinginkan sang istri.
“Ditolak,” ujar Ayash enteng yang membuat Tatiana langsung mendelik, namun wanita itu tetap melanjutkan ke poin selanjutnya.
“Aku tidak menuntut status di depan publik. Akan lebih baik jika Mas tidak pernah mempublikasikan pernikahan ini. Namun jika pada akhirnya Mas harus mempublikasikan pernikahan kita demi kepentingan bisnis dan keluarga, artinya Mas harus menjaga batasan dan jangan pernah menimbulkan skandal yang merugikanku sebagai istri sah.”
Dan kini pria itu terlihat mengangguk-angguk sambil tersenyum miring ke arah Tatiana.
"Jika aku sampai dirugikan, aku akan menempuh jalur hukum untuk menuntut kerugian, termasuk menuntut wanita itu tanpa ampun atas tuduhan perzinahan."
“Bisa dipertimbangkan,” jawab Ayash kali ini.
Dan Tatiana refleks tertawa saat pria itu secara tidak langsung menyetujui poin tersebut.
Nyatanya benar, pria itu memilihnya karena menjadikan Tatiana pion dalam hubungan terlarangnya.
Sialann memang!
“Karena jelas pernikahan ini akan berakhir dengan perceraian, jadi aku tetap meminta kamar terpisah.”
Detik itu Ayash kembali tertawa sarkas dengan tatapan sinis ke arah Tatiana.
“Perjanjian pernikahan macam apa itu, Tatiana?” ucap pria itu dengan nada yang mengejek, namun Tatiana tetap melanjutkan poin-poin yang sudah dia susun di kepala.
“Dan jelas tidak akan ada hubungan ranjang dalam pernikahan ini. Aku juga tidak ingin memiliki anak dengan alasan apapun.”
Tatiana refleks melingkarkan satu tangan di perutnya dengan senyum getir yang melintas samar di wajahnya mengingat apa yang dia lalui di London bertahun-tahun lalu.
“Kamu tidak ingin ada anak di pernikahan ini?”
Dan Tatiana langsung mengangguk mantap, menatap serius pada Ayash yang lagi-lagi terlihat memberikan ekspresi menantang.
Seolah pria itu memang hobi mengobrak-abrik seluruh rencana Tatiana.
“Jika begitu, kita lihat sejauh mana usaha kamu untuk mewujudkan hal itu. Berusahalah sekuat tenaga untuk mencegah adanya anak di antara kita, karena aku akan melakukan yang sebaliknya.”
Tatiana langsung membelalak sambil mengepalkan tangannya di pangkuan mendengar nada pongah pria itu.
“Apa maksud Mas?!”
“Kamu terus bertanya apa maksudku, padahal sudah jelas aku mengatakan agar kamu menjalankan peran istri yang selama ini kamu ingkari dalam empat tahun. Semua peran seorang istri, tanpa terkecuali, Tatiana.”
“Maka katakan padaku apa tujuan sesungguhnya Mas menikahiku!”
“Jelas untuk membantu Papa kamu membayar hutang ratusan milyar agar dia tidak diseret ke penjara empat tahun yang lalu.”
Pria itu kembali tersenyum miring, dan merasa puas melihat bagaimana wanita yang dikenal pendiam itu terlihat tidak mampu mengontrol emosinya yang meledak-ledak saat berhadapan dengannya.
“Mas jelas tau bukan itu maksudku! Maksudku tujuan Mas memilihku alih-alih Soraya!”
Tatiana kembali menekankan dengan gamblang maksudnya, namun Ayash lagi-lagi hanya terkekeh penuh makna dan tidak sudi menjawab tanyanya.
“Jika kamu menginginkan perjanjian pernikahan, aku akan mengabulkannya. Anggap saja hadiah penyambutan kepulangan kamu. Namun jelas, semua klausul yang kamu ajukan tadi tidak akan ada di dalamnya,”
Dan rahang Tatiana kembali mengetat penuh emosi mendengar ucapan pria itu yang jelas sengaja mencemoohnya.
Untuk apa perjanjian pernikahan dibuat jika semua poin yang Tatiana sebutkan ditolak mentah-mentah?!
“Jika kamu tidak menginginkan anak, maka berusahalah sekuat tenaga untuk keinginan kamu itu,” bisik Ayash tepat di telinga sang istri.
Tatiana bahkan tidak sadar saat pria itu tau-tau sudah mengungkung ruang geraknya saking larut dengan emosinya.
Tangan Tatiana menahan pelan dadaa pria itu dengan napas yang kembang kempis dan tatapan nyalang pada Ayash.
“Dan aku akan berusaha sebaliknya, Tatiana. Membuat kamu hamil secepatnya, dan memastikan agar anak kita segera hadir dalam pernikahan ini,”
Pria itu mengusap lembut rahang Tatiana dengan kilat tekad yang begitu kuat di matanya, dan membuat jantung Tatiana rasanya lolos ke perut begitu saja.
“Kamu harus tahu satu hal, aku selalu berhasil mencapai semua tujuanku, jika kamu ingin menjegalnya, maka kamu harus berusaha keras hingga titik darah penghabisan. Paham?” bisik pria itu tepat di telinganya.
Tatiana langsung mengepalkan tangan untuk mengendalikan gemetar tubuhnya saat merasa posisi mereka begitu intim, bahkan Tatiana bisa merasakan hawa panas dari napas pria itu yang menerpa kulitnya, dengan bibir pria itu yang rasanya hanya berjarak satu centi dari kulitnya.
Pria itu lalu kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum miring ke arah Tatiana sebelum berbalik untuk melangkah menuju walk in closet.
Meninggalkan Tatiana dengan jantung yang bergejolak hebat dan perut yang rasanya mual mendengar semua ucapan mengerikan pria itu.
Kenapa setelah menyeretnya untuk menjalankan peran istri, pria itu juga memiliki keinginan untuk menghadirkan anak di antara mereka?
Tatiana langsung memeluk perutnya sendiri dan menggeleng kuat dengan tubuh yang rasanya menggigil mengingat semua 'ancaman' pria itu yang mengerikan.