“Ayo turun ….”
Suara pria itu yang terdengar santai lagi-lagi justru memberatkan hati Tatiana.
Wanita itu lantas memejamkan mata dan menarik napasnya dalam sambil menyungging senyum miris.
Dia melihat sang suami sudah keluar lebih dulu dan kini hanya ada dirinya di dalam mobil.
“Ya sudah, Tata … Apa yang kamu khawatirkan? Bukankah seumur hidup kamu bersahabat dengan yang namanya penolakan? Jika kali ini kehadiran kamu ditolak pun, kamu sudah terbiasa, kan? Rasa sakitnya sudah familiar dan menyatu dalam aliran darah kamu,” bibirnya membisik lirih dengan senyum miris.
Wanita itu mencoba menenangkan dirinya sendiri. Impian sederhananya bisa menikah dan memiliki mertua yang menyayanginya layaknya orang tua kandung mungkin lagi-lagi akan menjadi mimpi yang kandas dan tidak akan pernah terwujud.
Keluarga terhormat mana yang sudi memiliki menantu dari anak yang lahir di luar pernikahan? Yang jelas jika status itu nantinya terungkap ke publik, pasti akan membawa skandal yang merugikan, kan?
Ditambah lagi selama empat tahun ini dirinya juga tidak menunjukkan respect dengan datang dan bersilaturahmi pada sang mertua. Lengkap sudah bentuk kebencian mereka untuknya.
“Silahkan, Nyonya …” Pintu akhirnya dibuka oleh Pak Danar karena Tatiana tidak kunjung keluar.
Wanita itu kembali mengembuskan napas panjang saat tau-tau tangannya diraih oleh sang suami yang menariknya untuk segera masuk ke rumah.
“Mas ….” panggil Tatiana menoleh sekilas pada sosok pria yang tidak terbaca sama sekali ekspresinya itu.
“Kenapa?” Pria itu balas menoleh sambil menautkan kedua alisnya. “Jika kamu gugup aku tidak akan menenangkan kamu. Itu urusan yang harus kamu atasi sendiri. Bukankah ini efek sebab-akibat atas perbuatan kamu yang tidak sopan karena tidak pernah berkunjung?”
Bibir Tatiana lantas terkatup rapat mendengar jawaban menjengkelkan pria itu.
“Siapa juga yang butuh ditenangkan? Bahkan aku ragu kamu memiliki kemampuan untuk memberikan ketenangan, karena kenyataannya kamu lah sumber kegaduhan dari semua ini, Mas!”
Tatiana lantas mendecih memberikan balasan, melirik sinis pada pria itu sebelum akhirnya kembali menatap ke depan, pada pintu besar yang masih tertutup rapat di depannya itu.
Dia sudah membaca seluruh profil keluarga suaminya itu, pun mengenali semua wajah mereka dan latar belakangnya.
“Mas bahkan membawaku ke rumah orang tua tanpa memberikan brief apa-apa tentang sosok mereka.”
Tatiana kembali bersuara, namun pria itu hanya menyungging senyum penuh makna dengan tatapan yang mengejek.
“Kamu sudah empat tahun menjadi menantu mereka, bagaimana bisa kamu belum mengenal keluarga suami kamu? Kamu bukan lagi orang baru, Tatiana.”
Pria itu menyindir dengan pedas, yang membuat Tatiana lagi-lagi langsung memalingkan wajah.
Memang berbicara dengan pria itu hanya menimbulkan kedongkolan di hati!
Tatiana kini kembali terngiang pada sosok mama mertuanya itu.
Rinai Ayuna, nama dari mama mertuanya yang entah mengapa membuat Tatiana merasa gugup namun hatinya tidak memungkiri merasa jatuh hati dengan parasnya yang cantik dan terkesan lembut.
Dari potret yang dia lihat di internet, beliau terlihat seperti sosok yang keibuan dan sangat hangat. Meski Tatiana tidak yakin apakah kenyataannya sama seperti kesannya di foto.
Kini, saat akhirnya pintu utama dari kediaman Elan Alastair dibuka dari dalam, Tatiana merasa tubuhnya panas dingin dengan jantung yang bertalu hebat.
Ternyata, sosok yang sejak tadi memenuhi kepalanya seperti sudah menunggu mereka tepat di ruang tamu.
Tatiana tersenyum canggung saat kedua mertuanya itu mendekat, dan Tatiana tidak melihat senyum di wajah mereka.
“Selamat sore … Om … Tante …” ujarnya menunduk sopan sambil menyalami keduanya. Tidak berani lancang memanggil mereka dengan panggilan mama dan papa.
Dan Tatiana merasakan uluran tangannya tidak bersambut karena sang mama mertua yang buru-buru melepaskannya, bahkan tidak mengijinkan Tatiana mengecup punggung tangan beliau.
“Empat tahun kamu tau status kamu telah berubah dan tercatat secara sah sebagai bagian dari keluarga ini. Empat tahun juga kamu tidak pernah sekalipun menunjukkan etika untuk memperkenalkan diri.”
Mereka bahkan tidak mempersilahkan sang tamu untuk duduk terlebih dahulu, sebab sosok ratu di rumah tersebut langsung menunjukkan kemelut amarah yang kentara di wajahnya.
Suara Ayuna mengalun penuh sarkasme namun nada suaranya tidak naik, dan Tatiana hanya bisa menelan ludahnya susah payah karena memang tidak memiliki pembelaan.
“Setiap tahun kamu memiliki jatah cuti kerja yang panjang. Tapi satu kali pun kamu tidak pernah sudi menggunakan jatah cuti kamu itu untuk bersilaturahmi pada kami. Apakah tinggal sepuluh tahun di Eropa membuat kamu menganggap tata krama keluarga adalah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja? Atau memang pada dasarnya kamu adalah wanita yang tidak punya etika, Tatiana?”
Segala cercaan itu menghujam tajam dan membuat ruangan terasa mencekam.
Tatiana hanya bisa menggigit pipi bagian dalamnya mendengar segala amarah mama mertuanya yang memang beralasan.
“Kamu ingin beralasan sibuk? Atau beralasan jarak London-Jakarta jauh? Baik, saya bisa menerima. Namun setelah dengan lancang tidak pernah berkunjung pun, kamu tidak ada sedikit pun usaha untuk menghubungi kami dan meminta maaf karena belum bisa datang.”
Ayuna menatap lekat pada sosok menantunya yang telah memiliki nilai cacat sejak bertahun-tahun lalu.
Dulu dia masih bersabar dan berbesar hati menunggu kepulangan wanita muda itu untuk mengunjunginya, namun hingga tahun kedua berlalu dan Tatiana bahkan tidak pernah datang atau sekedar menghubunginya, rasanya kesabarannya habis di sana.
Pandangannya berubah, dia tidak pernah keberatan dengan status sang menantu di keluarga Arsyanendra, dia bukan sosok yang akan menghakimi seseorang karena latar belakangnya.
Namun saat perangai Tatiana sebagai sosok individu jelas tidak menunjukkan respect sedikit pun, acuh tak acuh, dan tidak bisa menghormati orang tua, padahal wanita itu tau dengan jelas jika keluarganya telah diselamatkan dan wanita itu telah menikah, Ayuna benar-benar mengubah seluruh penilaiannya.
"Saya tidak bermaksud bersikap tidak sopan, Tante," sahut Tatiana pelan, menatap sosok yang bahkan saat menunjukkan kebencian padanya itu, Tatiana tetap merasa jika sesungguhnya beliau adalah sosok yang hangat.
Ya memang salahnya sendiri, dan mungkin setelah melihat tingkah lakunya selama empat tahun ini yang tidak tau diri, Tante Ayuna akhirnya memiliki penilaian buruk tentangnya.
Dan mungkin penilaian buruk yang berhasil beliau buktikan itu menjadi lebih kuat saat beliau mendengar hal-hal buruk lain tentangnya dari keluarga Arsyanendra.
"Selama ini saya membatasi diri karena menyadari posisi saya sejak awal hanya …. "
"Menyadari posisi?" Ayuna langsung memotong dengan cepat, kembali mendengus tidak suka. “Jika kamu benar-benar tau posisi, kamu tidak akan menunggu sampai empat tahun untuk akhirnya menginjakkan kaki di rumah saya."
Ayuna beralih menatap Ayash dengan tatapan yang menuntut.
Dulu, di malam saat Ayash memutuskan untuk menikahi Tatiana, firasatnya meragukan bagaimana perangai dan karakter Tatiana sendiri.
Dan kini, semua intuisinya ternyata terbukti, jika menantunya itu benar-benar tidak memiliki etika dan bersikap kurang ajar.
Ayuna jelas telah menyelidiki seluruh latar belakang Tatiana bersama suaminya, memang tidak ada yang mengecewakan.
Wanita muda itu terlihat menjalani hidupnya yang tenang di London tanpa pernah membuat masalah, bahkan karirnya sangat gemilang.
Namun kenyataannya, semua rekam jejak hidupnya tetap tidak bisa menutupi cacatnya karakter wanita muda itu yang telah bersikap lancang dan tidak tau diri.
"Mama harap kamu tahu bagaimana harus mendidik seorang istri, Ayash. Jangan biarkan seseorang yang tidak mengerti tata krama mempermalukan nama keluarga ini di luar sana nantinya."
“Sudah, Mama ….”
Suara berat milik Elan akhirnya memecah ketegangan. Tatapannya tidak hangat, namun pembawaannya bisa langsung meredam ketegangan yang mencekam di ruangan.
“Kita tidak menyambut tamu dengan perdebatan panjang, Mama. Biarkan mereka duduk dengan tenang dan menikmati makan malam terlebih dahulu."
Meskipun terkesan seperti meredakan suasana, Tatiana jelas tau, sosok papa mertuanya itu juga tidak menyambut hangat dirinya sebagai bagian dari menantu keluarga ini.
Ayash yang sejak tadi berdiri diam di samping Tatiana akhirnya bergerak, ikut mengambil alih kendali ruangan yang mulai tidak kondusif, dengan aura dominan yang tidak kalah seperti sang papa.
Memang sejak tadi dia sengaja diam karena paham bagaiamana perasaan mama, dan membiarkan beliau mengungkapkan apa yang selama ini ditahan perihal sosok sang menantu.
“Mama tidak perlu khawatir. Tatiana istri Ayash, dan bagaimana perilakunya menjadi urusan Ayash. Ayash yang menjamin jika dia tidak akan mempermalukan siapa pun di rumah ini.”
Tatiana sendiri memilih bungkam, tidak ingin lagi mendebat sosok yang telah menjadi orang tuanya. Meski dia lagi-lagi menjadi ‘anak’ yang tidak diinginkan.
Kini, sang suami kembali menggenggam tangannya untuk menuju ke meja makan.
Tatiana menatap sendu pada punggung Tante Ayuna di depannya. Tidak ada kebencian di hati pada sosok mama mertuanya itu, meski Tante Ayuna dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan.
Sebab hatinya justru dengan lancang mendamba pada sosok yang dari fotonya saja bisa memancarkan kehangatan dan ketulusan, meski di kenyataan yang Tatiana rasakan justru sebaliknya.
“Tante … Maaf sudah menjadi menantu yang mengecewakan … hanya saja … Tata ….”
Ah, Tatiana bahkan tidak sanggup mengatakan alasan kenapa dirinya tidak pernah pulang meski kesempatan dan pilihan itu terbuka lebar.
Hatinya hanya mampu merepih pilu, menatap nanar pada sosok yang dekapnya pasti selalu hangat untuk anak-anaknya, namun malam ini harus terluka karena kecewa dengan segala tindak-tanduknya.