Bel apartemen berbunyi dan hal itu membuat Zira menoleh dengan wajah mengernyit. Ini pukul sepuluh malam. Aro sudah bergelung di bawah selimut.
Zira beranjak dari kamar karena tenggorokannya haus. Memang saat ini bukan terlalu malam tetapi ini bukanlah jam normal untuk bertamu.
Suara bel terdengar kembali. Sebelum suara bel itu membangunkan Aro Zira berjalan menuju pintu apartemen.
Zira berusaha menyalakan alat yang katanya bisa melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Tetapi Zira tidak menemukan tombol menyalakannya.
Suara bel kembali terdengar dan Zira mau tidak mau membukanya. Dengan hati yang ketar-ketir Zira membukanya sedikit.
Ternyata orang yang familiar dan dikenal Zira tengah berdiri di depan pintu. Menggendong bayi mungil di pelukannya, Yasmin.
Perempuan itu terlihat menangis dan membuat Zira segera membuka pintu dengan lebar.
"Yasmin, astaga! Masuklah di luar dingin" Zira merangkul Yasmin dan membawanya masuk.
Yasmin mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dibukanya selimut yang membungkus bayi mungil yang ternyata sedang terlelap.
"Kau baik-baik saja ?" tanya Zira yang diangguki oleh Yasmin tetapi perempuan itu menangis kembali.
"Duduklah di sini dan tenangkan pikiranmu. Aku akan mengambil tempat tidur bayi dulu" ucap Zira sambil berlalu pergi meninggalkan Yasmin.
Zira membuang semua pikiran buruk yang mulai menguasainya dan mengacaukan pikirannya sendiri.
Dengan cepat Zira mengambil tempat tidur bayi yang memang di sediakan di sini. Serta mengambil minuman untuk Yasmin.
Sepertinya Yasmin sedang dalam rasa tertekan. Entah masalah apa yang sedang dihadapinnya sampai Yasmin memilih untuk datang kesini.
Dapat di yakini jika tujuan Yasmin kesini bukan untuk menemui Zira melainkan menemui Aro. Tentu saja hal itu bukanlah hal aneh.
Aro merupakan sahabat baik Yasmin dan mereka sudah mengenal sejak lama sebelum Zira hadir. Bukan begitu ?
Tidak sepantasnya Zira merasa begini.
Zira kembali dan menemukan Yasmin yang terlihat melamun. Dengan perlahan Zira menghampirinya dan mengusap pundak Yasmin.
Yasmin sedang hamil dan Zira sedikit khawatir melihat Yasmin melamun seakan sedang memikirkan sesuatu yang sedang dihadapinya.
Zira mengangkat Azel setelah meminta ijin pada Yasmin. Dipindahkannya Azel ke dalam tempat tidur. Azel masih terlihat tenang dan nyaman.
Zira memberikan minuman yang dibawaya dan Yasmin meneguknya sedikit kemudian menaruhnya di meja.
Ketika ingin menanyakan keadaan Yasmin. Langkah kaki terdengar memenuhi Apartemen yang sedang sunyi.
Aro berjalan menuruni tangga dengan tangan mengusap matanya. Ternyata Aro terbangun entah karena gerangan apa.
"Zira, kenapa kau turun dari ranjang hm ?" Gumam Aro yang sepertinya belum menyadari kehadiran Yasmin.
Entah kenapa ucapan Aro yang baginya sedikit ambigu membuat wajah Zira memerah tanpa sebab.
Aro menurunkan tangannya dan terlihat memfokuskan matanya. Hingga Aro tersadar jika ada Yasmin di samping Zira.
"Yasmin" ucap Aro sambil melangkah kakinya menuruni tangga dengan sedikit cepat.
Suasana canggung langsung terasa. Entah hanya Zira yang merasa canggung atau suasana memang berubah sejak Aro datang.
"Kenapa kau malam-malam datang kemari ?"Aro berhenti tepat di depan mereka berdua.
Zira diam dan menatap reaksi Yasmin yang ternyata sudah berkaca-kaca. Aro seakan tau apa yang sedang dipikirkan Yasmin.
Atau kedua orang di depannya saat ini memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Zira tidak mengatakan apapun tetapi Aro seakan tau dan menghela nafas.
Masih sibuk dengan keterdiamannya dan pikiran yang menerka-nerka. Tiba-tiba tatapan mata Aro teralih kepadanya.
Aro menatap Zira dengan pandangan yang sulit diartikan. Tetapi entah kenapa Zira sedikit merasa sakit di dadanya.
"Bawalah Azel ke kamar. Ada yang perlu kubicaraka dengan Yasmin"
Zira semakin terdiam dan rasa sakit di dadanya mulai merebak. Bukankah kata-kata Aro merupakan pengusiran
Pergilah aku ingin berduaan.
Bukankah begitu maksud dari ucapan Aro itu. Namun Aro seakan mengerti dengan keterdiaman Zira.
Aro mengusap rambut Zira dengan sayang dan penuh kelembutan. Aro menatapnya dengan senyuman kecil ketika Zira mendongak menatapnya
"Kau pasti lelah bukan. Aku akan menyusulmu nanti" ucap Aro dengan suara yang seakan berusaha menenangkan hatinya.
Namun sepertinya sia-sia. Zira beranjak dengan diam dan mengambil Azel dari tempat tidur. Tidak mungkin Zira mengangkat tempat tidur Azel ke atas.
Zira berjalan menuju tangga. Keinginan terbesarnya saat ini adalah menoleh kebelakang dan melihat apa yang sedang dilakukan Aro dan Yasmin.
Tetapi rasa gengsinya lebih mendominasi. Rasa kesal karena seakan 'diusir' dari percakapan yang akan berlangsung.
"Terima kasih, Zira" ucap Yasmin yang membuat Zira berhenti tanpa membalikkan badannya.
"Tidak masalah" Zira berlalu berpergi menuju kamarnya dengan Aro di lantai atas.
Zira menaruh tubuh mungil Azel ditengah kasur king size di kamar ini. Ranjang terlihat sangat besar untuk makhluk semungil Azel.
Setelah memastikan bayi mungil itu nyaman Zira mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.
Pikirannya sedang menerawangg yang saat ini memenuhi pikirannya. Bagaimana bisa Zira dengan lugas mengatakan 'Tidak masalah'
Padahal pikiran dan hatinya saat ini sedang bermasalah. Hatinya menyuruh untuk kembali memantau apa yang sedang dibicarakan Aro dan Yasmin.
Namun pikirannya mengatakan jangan melakukan hal bodoh yang bisa saja membuatnya malu sendiri.
Memangnya sepenting apa yang sedang dibicarakan dua makhluk di bawah itu. Sampai-sampai Zira tidak diperbolehkan untuk ikut mendengar. Itu sangat menyebalkan.
*_*_*
Aro membuka pintu kamar dengan perlahan berusaha tidak menimbulkan suara yang mungkin saja bisa mengganggu dua orang yang bergelung di tengah ranjang.
Dengan perlahan juga Aro memasukkan tempat tidur bayi yang diangkatnya dari bawah.
Menempatkan tempat tidur tepat di samping ranjangnya bersama Zira. Perempuan itu terlihat tidur dengan menyampingkan tubuhnya.
Dengan hati-hati dan penuh kelembutan Aro mengangkat tubuh Azel. Bayi lak-lakinya yang sangat dirindukannya.
Dikecupnya kening jagoannya itu sebelum menaruhnya di tempat tidurnya sendiri.
Hal itu dilakukan supaya tidak ada yang mengganggu teritorialnya di tempat tidur bersama Zira.
Setidaknya di tempat tidur Aro tidak mau berbagi dengan siapapun termasuk anaknya sendiri.
Seratus persen Zira adalah miliknya ketika di kamar ini. Bukan bagian Azel untuk mengganggunya.
Aro menempatkan dirinya di samping Zira. Hinga sesuatu di sadari oleh Aro.
Mata Zira sembab menunjukkan jika perempuan itu baru saja menangis. Jika dilihat dari bentuk mata Zira sekarang sepertinya tidak sebentar Zira menangis.
Atau bisa saja Zira menangis sejak masuk ke dalam kamar ini meninggalkan dirinya dan Yasmin di lantai bawah.
Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua lebih tepatnya tubuh Zira yang terasa dingin sekali.
Sepertinya Zira tertidur karena asik menangis sampai lupa untuk memakai selimut di kamar yang dingin.
Diusapnya rambut Zira yang sangat lembut di tangannya. Entah bagaimana bisa mengusap rambut Zira adalah kegiatan favorit Aro.
Namun hal itu hanya mampu dilakukan jika Zira tengah lengah atau ketika Zira tertidur seperti ini.
Rasa malu dan gengsi membuat Aro tidak berani melakukannya secara terang-terangan.
Aro sangat kesal dengan sikapnya sendiri karena selalu bertindak seperti remaja yang sedang kasmaran dengan Zira.
Hal itu sangat menyebalkan bagi Aro.
Dengan lembut Aro mengusap pipi Zira yang juga terlihat memerah karena menangis tadi.
"Kenapa kau menangis hm ?"
*_*_*