Aro menatap Zira yang terihat duduk dengan Aneh. Beberapa kali Zira terlihat memindahkan posisi duduknya seperti tidak nyaman.
Bahkan Zira juga membolak-balikkan buku menu dengan bingung. Sudah selama lima menit Zira tidak segera memilih menunya.
Aro menghela nafasnya pelan dan mengambil buku menu yang dipegang Zira. Hal itu membuat Zira kaget dan menatapnya.
"Aku akan memilihkan menu untukmu" Aro mengangkat tangannya dan mulai memesan menu untuk mereka berdua.
Zira terlihat menggaruk kepalanya dengan senyum kecilnya. Aro hanya menganggukkan kepalanya.
Sejak tadi Zira terlihat kebingungan dengan menu apa yang akan di pesannya. Semua ini terasa sangat membingungkan dan membuatnya merasa malu.
"Apakah ini termasuk restoran mahal ?" Bisik Zira yang membuat Aro hanya tersenyum kecil. Bagaimana bisa Zira melontarkan pertanyaan polosnya dengan wajah yang tak kalah polos itu.
"Memangnya kenapa jika begitu ?" Balas Aro yang membuat Zira hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ato
Aro menyandarkan tubuhnya dan melipat tangannya di depan d**a. Menatap Zira yang juga masih menatapnya.
"Mulailah terbiasa dengan semua ini. Menurutku kau juga bukan dari kalangan bawah, pekerjaanmu yang dulu berpenghasilan tinggi bukan ?" Ucap Aro yang sangat tepat sekali.
Zira menerawang jauh. Ya dulu Zira bukanlah orang kekurangan sesuatu jika Zira mengikuti lapar mata saja.
Gaji yang diterimanya ketika bekerja bukanlah termasuk dikit. Bahkan itu termasuk gaji yang sangat cukup jika digunakan berdua dengan Mom.
Namun gaya hidup Mom membuat Zira mau tidak mau hidup sederhana dan menahan lapar mata. Lagian Zira juga tidak masalah dengan hal itu. Tidak terlalu menyulitkannya.
Tetapi dengan usaha yang keras Zira bisa memiliki tabungan. Persiapan dirinya jika harus jatuh ketitik terendah. Seperti saat Mom menugatakan jika rumah telah di gadaikan.
Ya digadaikan pada pria yang duduk di hadapannya saat ini
"Jika gaya hidupmu tinggi aku yakin kau tidak akan terkejut dengan semua ini. Jujur saja semua tentang dirimu sudah kupantau sebelum menikah"
Zira yang tersadar dengan lamunannya dan mentap Aro. Mendengar ucapan Aro Zira hanya tersenyum kecil.
"Hal itu tidak membuatku terkejut. Kau benar jika aku bisa membeli apa yang kuinginkan. Tetapi aku tau bisa membuatku gelap mata"
Zira terdiam sejenak dan Aro tampak menanti apa lanjutan yang akan dikatakan oleh Zira. Pria itu selalu seakan bisa menebak dengan apa yang dilakukan Zira.
"Setidaknya aku tidak mau jatuh miskin dikemudian hari. Sederhana tidak membuatku mati" Ucapan mereka terputus dengan datangnya pelayan yang mengantarkan pesanan untuk mereka.
Zira membantu menatap meja dengan menu yang dipesankan Aro. Hal itu membuat pelayan itu heran dan sungkan.
Namun Zira tidak mempedulikannya dan meletakkan tatanan makannya sendiri. Hal itu membuat Zira tak menyadari jika Aro menatapnya.
Dengan tatapan dalam yang tidak dimengerti Zira apakah maksud dari tatapan yang ditujukan padanya.
'Aku mengetahui semuanya'
*_*_*
Zira menaruh masakan yang dibuatnya dan menaruhnya di meja makan. Aroma segar langsung tercium kedalam hidung Zira.
Aro bergabung di meja makan dengan pakaian yang sudah rapih dan wangi. Hari ini Aro akan berangkat kerja.
Setelah melalui hari bersama dan malam bersama entah kenapa Zira seakan merasa sesuatu.
Pikiran Zira mengelola jika setelah pernikahan mereka Aro pamit bekerja dan tidak kembali dalam waktu sangat lama.
Apakah hal itu akan terjadi lagi dan apartemen ini hanya tempat berlabuh sementara saja.
"Kau tidak berniat makan ?" Tanya Aro dan Zira menganggukkan kepalanya dan menaruh makanan untuk Aro.
Mereka berdua melewatkan sarapan dengan hening. Memakan makanan mereka masing-masing dan segera menghabiskannya.
Tanpa obrolan hal random yang mungkin saja bisa mereka bicarakan berdua. Aro juga terkadang melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja makan.
"Aku selesai" ucap Aro dan pria itu meminum air putih yang disediakan untuk Aro.
Zira menganggukkan kepalanya dan berdiri berniat mengantarkan Aro untuk berangkat kerja.
Tetapi Aro melambaikan tangannya menyuruh Zira mendekat. Dengan perasaan yang canggung Zira berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Aro.
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan mengeluarkan dompet yang bisa ditebak Zira merupakan dompet mahal karena sangat mengkilap.
"Ini untuk kau belanja keperluan rumah tangga. Kartu satunya adalah hak milikmu kau bisa menggunakannya untuk belanja. Jangan membuat hidupmu terbebani"
Aro memberikan kartu tersebut ditangan Zira. Sedangkan mata Zira melotot ketika Aro memberikan dua kartu tersebut pada Zira.
"Jika kartu berbelanja barang rumah aku menerimanya. Jika kartu untuk berhura-hura aku tidak bisa, lagian aku tidak suka belanja"
Aro menggelengkan kepalanya sambil memasukkan dompetnya kembali ke dalam saku celananya.
"Kau takut terbiasa belanja dan tidak bisa berhenti atau kau takut aku bangkrut ?" Zira mengigit bibirnya dan menggelengkan kepala.
"Tidak, aku tau seberapa kaya kau dan kupikir kau sulit untuk bangkrut. Hanya saja aku tidak mau bergantung"
"Bergantung dengan suami sendiri tidak memiliki kesalahan sama sekali" ucap Aro yang membuat Zira mengangukkan kepalanya ragu.
Ucapan Aro sangat benar adanya tetapi semua ini tidak semudah itu. Mereka bukan terbangun dari hubungan yang seharusnya terjadi. Tidak bisa dijabarkan dengan lisan tetapi Zira yakin jika Aro bisa memahami maksudnya.
Tetapi Aro yang merasa jika ada sesuatu yang ingin dikatakan Zira. Aro mengangkat sebelah alisnya. Seperti biasa menunggu hal lainnya yang akan dikatakan Zira padanya.
"Kau bisa mengatakan apapun yang ada di dalam kepala kecilmu" Ucap Aro cepat ketika Zira tidak mengatakan apapun seperti dugaannya.
"Aku tidak mau bergantung karena bisa saja hubungan kita tidak bertahan lama" Jawab Zira langsung dan sebuah senyuman muncul di sudut bibir Aro
"Bercerai maksudmu ?" Zira mengangukkan kepalanya sedikit keraguan dan rasa takut dengan Aro
Aro tertawa renyah dan megacak-acak rambut Zira dengan nyaman seakan itu bukanlah hal yang canggung dan aneh.
"Aku tidak suka perceraian, Zira. Kau bisa tenang tentang hal itu. Baiklah aku akan berangkat kerja"
Aro tersenyum dan membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan meja makan.
Zira ragu menatap punggung Aro yang berjalan menjauh dan seakan semakin tak tergapai dengan Zira.
Rasa ketakutan itu menyerang Zira kembali. Mungkin saja ini terakhir kalinya Zira menatap punggung Aro.
Setelah itu pria itu akan menghilang dalam waktu yang lama atau kemungkinan paling buruk tidak akan kembali lagi.
Rasa panik dan ketakutan itu membuat Zira melangkah selangkah dengan memegang erat kartu yang ada di dalam genggamannya.
"Kau akan pulang nanti ?" lontaran pertanyaan dengan begitu saja meluncur dari mulut Zira.
Aro membalikkan badannya dan senyuman di bibir Aro terlihat mengembang dan membuat ZIra semakin ketar-ketir.
"Tentu saja. Inilah rumahku untuk kembali" ucap Aro yang membuat wajah Zira memerah dan rasa senang langsung membuncah.
*-*-*