Zira membuka matanya dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Dapat di lihat dari sudut pandang matanya Aro sedang mengambil baju di lantai.
Tak hanya bajunya saja tetapi Aro juga membereskan baju Zira juga. Hal itu membuat wajah Zira memerah karena malu.
Jika boleh jujur hal itu sedikit membuat hati Zira terenyuh. Pria sukses seperti Aro mau membereskan baju dari lantai bahkan juga mengambil bajunya.
Zira hanya diam saja berusaha memulihkan rasa pegal-pegal di badannya ketika suara air bergemericik dari kamar mandi.
Setelah sepuluh menit berlalu Aro keluar dari kamar. Pandangan mata Aro langsung tertuju kepada Zira.
Hal itu membuat mereka berdua saling pandang. Senyuman kecil terlihat dari sudut bibir Aro yang sukses membuat tubuh Zira panas dingin.
"Kau sudah terbangun ?" ujar Aro sambil mendekat ke arah Ranjang. Zira tersenyum malu hanya menganggukkan kepalanya di balik selimut yang ditarik hingga dagu.
Aro menundukkan badannya dan mengambil sesuatu dari bawah lantai. Ternyata itu adalah tablet yang digunakan Aro tadi malam
Ternyata tablet itu tidak disimpan dengan baik karena sangking lupanya hingga berakhir di lantai yang dingin selama semalaman.
"Apakah pecah ?" tanya Zira khawatir.
Zira tentu saja tau jika itu bukan tablet seharga makannya sehari. Melainkan itu tablet dengan harga fantastis yang digunakan kalangan orang kaya.
Aro menatap Zira sambil memegang tablet di tangannya. Aro mengedikkan bahunya.
"Bukan masalah besar. Mandilah, ini sudah pukul sepuluh" Aro berjalan menuju nakas sebelah ranjang bagian Aro.
"Kau tidak bekerja ?" Zira sangat kaget karena ternyata jam sudah pukul sepuluh pagi.
"Sudah terlambat jika berangkat sekarang. Aku akan bekerja di rumah saja"
Aro berjalan menjauh dan membuka salah pintu yang terhubung dengan kamar ini. Tempat itu merupakan ruang kerja Aro.
Setelah memastikan Aro telah menghilang dan pintu tertutup. Zira menyibak selimut. Memastikan keadaan sekali lagi sebelum beranjak menuju kamar mandi.
Membersihkan tubuhnya.
*_*_*
Zira membuka lemari pedingin dan melihat apa yang ada di dalam lemari pendingin. Kemarin Zira tak hanya belanja baju.
Melainkan Zira juga belanja isi bahan makanan di apartemen yang menipis. Hal itu sangat disyukuri oleh Zira.
Setidaknya Zira tidak akan malu jika Aro berada di rumah seperti ini. Jika bahan masakan kosong hal itu menandakan jika Zira tidak becus mengurus rumah tangga.
Melihat lemari es yang terisi penuh membuat mood pagi ini menjadi bertambah. Dengan cekatan Zira mengambil berbagai bahan masakan.
Pagi ini Zira akan membuat menu yang sedikit spesial. Selama dua minggu Aro tidak pulang Zira hanya memasak makanan yang simpel untuk dimakan sendiri.
Setelah tiga puluh menit memasak dan bergelut dengan alat masak. Makanan akhirnya selesai hanya tinggal di tata.
Suara langkah kaki terdengar dari tangga depan pantry. Aro terlihat turun dari atas sambil celingukkan.
Hingga tatapan mata Aro bertemu dengan Zira yang sedang menuangkan makanan ke dalam tempat makan.
"Kukira kau pergi keluar" ucap Aro sambil berjalan mendekat. Zira hanya tersenyum dan menggeleng.
Entah kenapa Zira masih merasa malu dengan kegiatan mereka tadi malam. Rasa malu dan aneh masih terasa bagi Zira.
Namun sepertinya Aro terlihat biasa saja dan tak berpengaruh apa-apa bagi Aro. Bahkan saat ini Aro berdiri di samping Zira dan meneguk minuman.
"Kau terbiasa sarapan ?" Tanya Zira sambil menaruh makanan di meja bar. Selama makan sendiri Zira selalu makan di meja bar bukannya di meja makan.
"Tidak masalah" Ucap Aro setelah menjauhkan gelas dari bibirnya dan mengangguk.
Zira tersenyum kecil dan ikutan menganggukkan kepalanya. Kurang tiga piring lagi yang belum di tata oleh Zira.
Suara denting gelas yang beradu terdengar di pantry. Ketika Zira membalikkan badannya ternyata Aro ikut membantu membawakan piring.
Pria itu membantu Zira untuk menyiapkan sarapan yang sudah sangat terlambat ini. Tetapi perut Zira sudah protes karena terbiasa sarapan.
Setelah semuanya tertata dan terhidang di meja. Zira ikut bergabung dengan Aro yang sudah duduk.
"Aku terbiasa makan di sini. Kau tidak masalah?" Tanya Zira sambil mengulurkan piring makan pada Aro.
"Tentu saja tidak apa. Kenapa kau terdengar canggung denganku ? Apa itu karena semalam ?"
Pertanyaan Aro yang terlalu to the point membuat wajah Zira memerah seketika. Hal itu membuat Zira tidak tau harus menjawab apa dan lebih memilih diam.
Melihat Zira yang kicep dan tidak memberikan jawaban apapun. Aro hanya menampilkan senyum yang bagi Zira sangat menyebalkan.
"Kalau diam tandanya tidak ada revisi" ujar Aro sambil menyuapkan makanan.
Blush wajah Zira memerah tidak bisa terkontrol lagi.
*_*_*
Zira duduk di depan TV dengan rasa bosan yang sudah menumpuk. Selama dua minggu sendirian dirumah.
Zira sama sekali tidak merasakan kesepian, Tetapi entah kenapa hari ini Zira merasa bosan. Berkali-kali Zira melihat salah satu pintu di kamar ini.
Pintu yang merupakan ruang kerja Aro. Sejak berjam-jam lalu Aro tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Sejak siang pukul tiga sore tadi.
Di kamar ini memiliki tiga pintu. Satu pintu merupakan pintu keluar masuk, satunya pintu kamar mandi dan pintu ruang kerja Aro.
Jika kalian berpikir tempat itu adalah tempat haram untuk dikunjungi Zira kalian salah. Didalam ruangan itu juga ada satu meja yang disediakan untuk tempat kerja Zira.
Walaupun Zira sudah tidak bekerja tetapi Aro tetap menyediakan tempat untuk Zira.
Hal itu membuat Zira merasa terenyuh dan juga berpikir. Jika apartemen ini sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Disini sudah sangat lengkap bahkan barang yang cocok dengan Zira sudah tertata dengan rapih. Namun Zira menepis hal itu karena menurutnya itu hanya kebetulan.
Sekali lagi Zira menatap pintu ruangan itu dan memiliki sedikit harapan jika pria yang ada di dalam ruangan itu dapat keluar.
Tanpa disadari dan diketahui Zira. Ternyata seorang pria sedang menatap laptop yang menayangkan sosok perempuan yang duduk di ranjang yang sedang menatap pintu kerjanya.
Wajah Aro tersenyum melihat kegiatan konyol yang sejak tadi dipantau oleh Aro. Sudah dua puluh menitan Aro merasa jenuh dengan pekerjaan dan membuka camera cctv yang dipasangnya.
Bukan untuk hal aneh-aneh. Hanya saja untuk memberikan keamanan lebih. Kamera ini sudah dipasang sebelum dirinya bertemu dengan Zira.
Tingkah laku yang dilakukan perempuan itu entah kenapa mampu membuat Aro tersenyum-senyum layaknya ABG yang sedang kasmaran.
Aro mengusap wajahnya dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Menertawakan sikapnya yang seperti ini.
Aro memilih menutup laptopnya dan beranjak dari meja kerjanya. Berjalan mendekati pintu keluar dan berhenti ketika tangannya hendak menyentuh knop pintu.
Dengan sikap yang tidak bisa dijelaskan Aro menghela nafasnya seakan menyiapkan diri sebelum membuka pintu.
Tangan Aro membuka knop dan menarik pintu. Dengan sikap sok cool Aro keluar dari ruang kerja.
Dapat dilhat dari sudut pandang matanya Zira terlihat kelabakan seperti orang yang ke gep.
Aro berusaha menahan senyumannya dan terlihat biasa saja. Aro perlahan membalikkan badannya menghadap Zira yang duduk di ranjang.
"Kau ingin keluar jalan-jalan ?" Tanya Aro.
Jika bisa mengumpat dan tak perlu di tahan. Karena tatapan berbinar mata Zira sangat membuat Aro sedikit kelimpungan. Entah karena apa.
Aro dapat melihat tatapan berbinar dari mata Zira. Tetapi perempuan itu terlihat menahannya.
"Kemana ?" Aro dapat menebak Zira ingin loncat-loncat tetapi ditahannya hingga suaranya terdengar pelan.
"Terserahmu saja sekalian Dinner. Cepatlah bersiap" ucap Aro sambil berjalan keluar kamar tanpa melihat reaksi yang diberikan Zira.
Aro berjalan menuruni tangga dengan senyuman yang tidak bisa ditahan lagi.
Sialan kenapa dirinya seperti mengajak kencan!
*_*_*