Zira menatap Aro yang ternyata sudah berdiri di samping mejanya dengan Rora. Aro hanya sendiri tanpa kehadiran Yasmin.
Hal itu sangat disyukurin oleh Zira karena jika sampai Yasmin mendengar obrolan dengan Rora mau ditaruh mana mukanya di depan Yasmin
Zira tersenyum kaku sambil mengambil burger yang diterlantarkan Zira tadi karena ucapan Rora.
"Kau mau burger ?" Tanya Zira seakan berusaha menghindar dari amukan Aro
Aro terlihat kesal mendengar ucapan Zira seakan telah tidak terjadi apa-apa. Tetapi memang tidak terjadi apapun di sini kecuali obrolan tuduhan yang dilayangkan kepada Aro.
"Aku akan pulang. Kau tak ingin pulang ?" Tanya Aro yang membuat Zira mengernyitkan keningnya.
"Tapi aku baru saja sampai dan makan. Ya, kan Ra ?"
Aro menatap Rora yang terlihat canggung karena menjadi biang dari obrolan tadi.
"Mr. Ignasius maafkan atas skenario sinetron yang kuucapkan tadi. Saya tidak bermaksud untuk menggiring opini"
"Jangan mengatakan hal itu lagi. Jika tidak, mungkin saya dan istri saya akan bertengkar" ucap Aro yang membuat Zira susah payah menelan burgernya.
Zira hanya diam dan berusaha tidak memberikan reaksi apapun terhadap ucapan Aro yang sedikit mengganggunya.
"Aku akan menemani Rora sedikit lebih lama lagi. Sepertinya kau harus pulang sendirian" ucap Zira yang sedikit bermakna pengusiran.
Aro yang merupakan manusia peka terhadap sindiran Zira hanya mengangkat sebelah alisnya menatap Zira dengan tatapan aneh.
Namun semuanya tidak berjalan seperti kemauan Zira. Bukannya Aro mengiyakan dan memilih pulang sendiri. Aro malah melepaskan jasnya dan duduk di samping Zira.
Hal itu membuat Zira dan Rora terkejut bukan main. Tetapi Aro seakan tak peduli tentang hal itu.
Aro malah mengambil gelas minuman Zira dan meminumnya hingga separuh. Zira tidak mengalihkan tatapan kebingungannya dari Aro.
"Kau tidak pulang ?" Tanya Zira yang membuat Aro menatapnya
"Aku akan menemanimu belanja" ucap Aro yang membuat Zira menggelengkan kepalanya
"Aku tidak berniat belanja. Aku hanya ingin bertemu dengan Rora" Aro menganggukkan kepalanya dan menaruh gelasnya kembali.
"Tetapi aku ingin kau belanja" ucap Aro yang Zira terdiam dan mengedipkan matanya beberapa kali.
Sedangkan Rora yang merasa terjebak dengan perdebatan suami istri di depannya itu meneguk minumannya dan ingin menyudahi ini semua.
"Ehm... Zira dan Mr. Ignasius sepertinya saya harus pergi sekarang" ucap Rora yang membuat Zira menoleh dan memberikan tatapan tajam untuk Rora
Zira sangat tau tabiat Rora. Sahabatnya itu ingin kabur dan meninggalkannya sendiri.
Tentu saja itu adalah hal menyebalkan yang membuat Zira melayangkan tatapan tajamnya.
"Jika dilihat dari tatapan Zira. Istri saya tidak mengijinkan kau pergi. Bisakah kau menemani istriku ? Saya juga akan membayar belanjaanmu"
*_*_*
Zira dan Rora berjalan berdampingan keluar dari pintu Mall. Sahabatnya itu menenteng tas belanjaan yang tak kalah banyak dari Zira.
Itu adalah hasil buruan mereka berdua.
"Kau yakin suamimu tidak mengomel karena belanjaanku segini banyaknya. Aku tidak ingin mendengar berita kau dibunuh karena menguras uang" ucap Rora yang membuat Zira menggelengkan kepalanya.
"Dia yang mengajakmu sendiri. Bukan aku, jadi bukan salahku dong" Rora menggangukkan kepalanya dengan kesal.
"Ya aku tau. Tapikan kau yang memilihkan semua barang ini dan memasukkannya ke dalam list belanjaanku" Bisik Rora yang membuat Zira mengedikkan bahu.
Entah kenapa Zira ingin melihat seberapa kaya pria yang saat ini berjalan di belakangnya. Namun rasa penasarannya malah membuat Zira menyesal sendiri.
Pria itu hanya mengiyakan ketika membayar semua belanjaannya dengan Rora. Bukannya menggunakan kartu kredit. Melainkan Aro menggunakan ATM-nya.
Tidak terhitung barang dan belanjaan yang dibeli Zira dengan kalap. Apalagi mengambil banyak belanjaan untuk Rora.
Mobil Corman berhenti di depan Lobby Mall dengan selamat. Diikuti oleh sebuah mobil mewah yang ternyata menggunakan Valet Parkir.
Petugas itu memberikan kunci mobil mewah itu untuk Aro. Tenyata itu adalah mobil milik Aro.
Corman mendekati Zira dan mengambil tiga paper bag di tangannya. Kemudian membuka bagasi untuk menaruhnya.
Kemudian Corman mengambil paperbag lainnya yang ada di tangan Aro yang merupakan sisa dari belanjaannya.
Paperbag berwarna hitam yang terakhir kali dimasukkan membuat wajah Zira memerah.
Paperbag itu berisi pakaian dalam yang entah darimana dapat dibeli Aro. Pria itu mengatakan jika itu untuk Zira karena kata Aro modelnya bagus.
Zira mengalihkan pandangannya kearah lain dari paperbag itu. Sangat memalukan dan membuat panas tubuh Zira meningkat.
"Kau pulang naik apa ?" Tanya Zira yang membuat Rora mendongakkan kepalanya dari ponsel.
"Aku tadi bareng teman kantor. Aku mungkin akan pesan taksi" Zira melihat cuaca yang terlihat mendung dan membuat suasana malam menjadi sedikit menakutkan.
Sebuah tangan melingkar di pinggang Zira yang membuat Zira menoleh. Bukannya wajah seseorang yang dilihatnya.
Melainkan leher menggiurkan dengan aroma manis tersaji di depannya. Tinggi badan Aro sangat berbeda dengan tinggi badan Zira.
Hal itu membuat tingginya hanya seleher Aro. Pria itu begitu tinggi menjulang.
"Tidak perlu, Nona Aurora. Corman akan mengantarmu pulang dan Zira ikut dengan mobilku"
Aro menatap Zira seakan menyuruhnya untuk menyakinkan Rora untuk diantarkan Corman saja daripada naik taksi.
"Ya, aku bersama Aro" ucap Zira dengan senyuman canggungnya untuk diberikan pada Rora.
Tak lupa tatapan melototnya agar Rora mengiyakan. Rora dengan cepat mengangguk aneh dan tertawa garing.
"Baiklah, Terima Kasih banyak Mr. Ignasius dengan kebaikannya hari ini"
Zira dan Aro menatap Rora yang berjalan menjauh mengikuti Corman yang juga mengambil alih barang belanjaan Rora.
Rora masuk ke dalam mobil Corman dan mulai meninggalkan Lobby Mall yang ramai dengan orang berlalu lalang.
Menyadari jika hanya bersama pria di depannya. Suasana dan aura seketika berbeda dan leher Zira sedikit meriang.
*_*_*
Zira keluar dari kamar mandi dengan membawa handuk untuk mengeringkan rambutnya. Mandi air panas membuat Zira lupa jika pemilik rumah yang asli sudah kembali.
Aro duduk di sisi ranjang sebelah kanan dengan memegang sebuah tablet. Pria itu sepertinya sedang menyelesaikan sesuatu.
Menyadari jika Zira sudah selesai mandi Aro mendongakkan kepalanya dan seakan menilai ZIra.
Tatapan pria itu menyusuri dari atas hingga ke bawah. Hal itu membuat Zira merasa kikuk ketika mengeringkan rambutnya.
Daripada merasa malu dan semakin gila. Zira memilih berjalan menuju meja rias di ujun ruangan dan menggunakan beberapa treatment mukanya.
Dari posisinya saat ini Zira dapat melihat jika Aro masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sebelum Aro menggelengkan kepalanya dan memilih fokus dengan tablet di tangannya. Zira menghela nafasnya dan segera menyelesaikan pekerjaannya
Dua puluh menit sudah berlalu dan Aro masih berada di posisi awalnya. Sedangkan Zira yang sudah menyelesaikan kegiatannya sejak lima menit yang lalu sudah mulai bosan.
Ingatan Zira kembali bekerja dan ingat dengan semua paperbag yang sudah di taruh Corman di sofa kamar ini.
Zira berjalan menuju sofa tersebut dan mengabaikan tatapan Aro yang lagi-lagi seperti mengawasinya saat beranjak.
Posisi sofa yang berada di belakang tubuh Aro membuat Zira tidak merasa canggung lagi. Melainkan Zira dapat dengan leluasa memandangi punggung kokoh Aro.
Ketika sedang asik membuka semua barang belanjaannya ucapan Rora mengganggu pikirannya. Entah bagaimana otak Zira langsung memutar ucapan Rora kembali.
"Ehm... Kapan Azel tinggal dengan kita ?" ucapan Zira meluncur dengan cepat.
Dengan harap-harap cemas Zira melihat tubuh Aro yang tidak terlihat berbeda. Tubuh Aro tidak memberikan respon apapun.
"Kau mau mengurus anak yang bukan merupakan anakmu sendiri ?" Pertanyaan balik yang dilayangkan Aro membuat Zira terdiam.
Mengurus anak yang bukan anaknya ?
Apa maksud dari kata-kata yang dilayangkan Aro ? Tidak, ayolah pikiran buruk Zira cepat sekali merespon jika dalam hal seperti ini.
"Ehm, apa maksudmu. Apa Azel itu..." Zira tidak dapat melanjutkan perkataannya. Benaknya bekerja dengan keras sekarang.
"Jangan lanjutkan pikiran sinetronmu itu. Azel bukan dari hubungan gelapku dengan Yasmin" ucap Aro yang membuat tatapan Zira kembali menatap punggung Aro kembali.
"Kau tau alasan utama Azel tinggal dengan Yasmin dan Gale" ucap Aro yang masih memunggungi Zira yang berada di sofa.
"Baiklah" Zira menganggukkan kepalannya sendiri walaupun dapat dipastikan jika Aro tidak akan melihat responnya itu.
"Kemarilah, Zira" ucap Aro dengan menaruh tabletnya di sebelah kanan badannya.
Zira meneguk ludahnya dengan susah payah. Apa yang akan dilakukan Aro memanggilnya untuk datang.
"Ada apa ?" Respon Zira karena merasa aneh dengan perintah Aro.
"Datanglah kemari, Zira" ucap Aro lagi yang membuat jantung Zira berdetak dengan cepat.
Dengan perlahan Zira berjalan menuju sisi ranjang yang diduduki oleh Aro. Ketika Zira berdiri di depan Aro.
Pria itu mengulurkan tangannya. Aro menarik tubuh Zira untuk duduk disebelah kiri tubuhnya.
"Apakah aku memiliki sifat penebar benih kepada setiap perempuan ?" Pertanyaan Aro sukses membuat wajah Zira memerah.
Sialan pertanyaan macam apa itu!
"Aku... Aku tidak tau" jawab Zira dengan terbata. Senyuman tipis dipertunjukkan oleh Aro.
"Yasmin dinyatakan hamil seminggu yang lalu. Kemungkinan Azel akan tinggal dengan kita. Tetapi Yasmin dan Gale masih belum rela lepas dari Azel" Ungkap Aro yang membuat Zira terdiam.
"Mereka pernah berkata jika berhasil dinyatakan positif hamil. Mereka akan membiarkan Azel kurawat. Kandungan Yasmin sangat lemah karena hal itu Yasmin tidak diperbolehkan kerja terlalu berat"
Zira hanya menganggukkan-anggukkan kepalanya tanda jika dirinya mengerti dengan maksud Aro.
Suasana hening sejenak setelah percakapan itu. Hingga Aro menghadapkan tubuhnya kearah Zira.
"Ehm... Jika aku mau sekarang bagaimana ? Boleh ?" Zira melototkan matanya mendengar ucapan Aro.
Belum sempat Zira memberikan respon Aro mendekatkan tubuhnya dengan mengangkat dagu Zira yang tadi sempat tertunduk.
Tatapan Aro belum dalam dan terasa berbeda dari biasanya. Hal itu membuat tubuh Zira meremang merasakannya.
*_*_*