Zira membuka matanya dan kamar mewah langsung menyambut matanya yang baru saja terbuka
Selama dua minggu ini pemandangan yang sama terus menyambutnya. Dari membuka mata saat bangun pagi ataupun ketika akan tidur
Zira menyibak selimut dan mendudukkan tubuhnya. Zira mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk tetapi hari harus segera dimulai dan di selesaikan.
Ditolehkan kepalanya kearah kanan dan melihat segelas air putih yang dibawanya tadi malam. Diambilnya gelas itu dan meneguknya.
Dinginnya air itu langsung melembabkan tenggorokan. Rasa dingin kamar langsung menyerangnya juga tak kalah kuat.
Sepertinya apartemen ini diberikan percuma untuknya setelah menikah. Sehari setelah menikah Aro meninggalkan apartemen
Belum kembali hingga saat ini. Setelah dua minggu berlalu dari acara pernikahan mereka berdua Aro tak kunjung kembali.
Jika kalian bepikir jika kami berdua sudah melakukan 'Itu'. Kalian salah besar karena kami tidak melakukan apapun.
Beberapa jam setelah menikah. Aro seketika berubah menjadi orang yang paling sibuk. Pria itu mendekam di ruangan kerja.
JIka boleh jujur Zira sangat bersyukur tentang hal itu. Zira sebenarnya merasa takut dan ragu melakukan hal itu untuk 'Kebutuhan Aro'
Memikirkan kata-kata seperti itu membuat wajah Zira memerah karena malu sendiri. Ayolah Zira tidak pernah memikirkan hal itu bahkan sampai untuk Zira menginjak 26 Tahun.
Namun hal yang mengganggu Zira selama dua minggu itu masih mengganggunya hingga saat ini.
Pikiran unik dan menurut Zira terlalu keperempuan. Sikap pemikir tentang hubungan dan statusnya sebagai istri.
Semua yang dilakukan Aro setelah menikah membuat Zira semakin yakin jika sebenarnya Zira hanya dijadikan Istri Simpanan.
Mungkin saja saat ini Aro sedang kembali ke rumah istrinya. Atau lebih parahnya lagi saat ini Aro sedang mengunjungi wanita yang lainnya lagi. Astaga pikirannya kenapa begitu kotor.
Zira kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pikiran itu sungguh mengganggunya. Bukan dilandasi oleh rasa cemburu.
Tetapi itu adalah sikap normal perempuan, tidak ingin menjadi nomer dua.
Menjadi simpanan atau malah istri kedua bukanlah title yang baik untuk disandang. Tidak Zira tidak suka dengan pemikirannya yang seperti itu.
Merasa jika otaknya hampir gila Zira memutuskan untuk berdiri dan memilih menjalankan aktivitas.
Sebelum pikirannya menghancurkan akal sehatnya
*_*_*
Zira melihat kesekeliling Foodcourt yang didatanginya. Sejam yang lalu Rora mengirimi pesan jika hari ini Rora sedang ada meeting di luar.
Peraturan yang diterapkan kantor sangat meringankan para pegawai jadi kami tidak diharuskan kembali ke kantor setelah memiliki meeting di luar kantor.
Jadi karena hal itu Rora mengajak Zira keluar. Tentu saja Zira tau jika sahabatnya itu mengajak bertemu untuk melihat perkembangan setelah menikah.
Zira dapat menyakinkan kepada sahabatnya itu jika sahabatnya itu akan kecewa besar-besaran.
Dapat diingat dengan jelas jika Rora terus saja memuji ketampanan yang dimiliki Aro. Setidaknya Zira sedikit beruntung menikah dengan Aro.
Tetapi bagi Zira tidak ada sedikit keberuntungan kecuali nama pemilik rumah Mom sudah berganti menjadi sah milik Zira.
Setidaknya jika begitu Mom tidak akan bisa menjual atau menggadaikannya dengan seenaknya sendiri.
Bisa-bisa Zira akan menikah dengan para duda yang lainnya. Memikirkan hal itu saja Zira merinding.
Suara dering ponselnya membuat Zira tersadar dengan ketermenungannya. Nama Rora terpampang disana.
"Kenapa kau malah melamun seperti orang bodoh seperti itu" ucap Rora yang membuat Zira melihat kesekeliling Foodcourt lagi.
Lambaian tangan seseorang membuat Zira tersadar dan mematikan panggilan mereka.
Zira berjalan mendekat kearah Rora dan duduk di depan sahabatnya itu. Rora memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Dari sini aku dapat melihatmu yang termenung seakan tanpa nyawa. Apakah seperti itu ciri khas pengantin baru"
Zira memutar matanya mendengarkan ucapan Rora. Sahabatnya itu sungguh sangat bisa menyusun kata untuk menyambutnya yang baru saja datang.
"Katanya mau traktir kok malah disindir sih" ucap Zira yang membuat Rora tertawa.
"Darimana ada kata mau traktir. Seharusnya ya Mrs. Ignasius yang mentraktir rakyat jelata seperti hamba"
"Sorry belum dapat jatah bulanan" ucap Zira sambil menyeruput minuman Rora.
Rora terlihat terbengong-bengong dan menggelengkan kepalanya dengan senyuman menyeramkan yang menandakan jika Rora memiliki pikiran buruk.
"Mrs. Ignasius pake di kasih jatah bulanan ? Kukira kasih kartu gesek-gesek dengan mudah. Servis lo kurang nih"
"Sialan lo!" Zira melemparkan tisu kotor yang ada di atas meja. Sahabatnya itu tertawa dengan keras.
Deringan ponsel Rora berbunyi dan Rora memberikan tanda jika dia akan mengangkat panggilan dulu.
Zira memilih berdiri dan melihat-lihat menu makanan di foodcourt ini. Perut Zira berbunyi karena memang Zira belum makan dari tadi pagi.
Sepotong burger, sekotak kentang, dan segelas besar Cola sepertinya enak untuk mengganjal perut.
Dengan cepat Zira memesan makanannya dan menunggu pesanannya dibuat. Disini adalah self service jadi semuanya harus melakukan sendiri.
Ketika menunggu pesanannya sambil menatap kesekeliling Foodcourt tatapannya langsung terpaku dengan sebuah pemandangan.
Sepertinya bukan hanya Zira saja yang melihat pemandangan itu. Melainkan orang-orang yang terpanah oleh pesona pasangan itu juga terpaku.
Disana dapat dilihat dengan mata Zira jika Aro sedang berjalan dengan Yasmin yang berada di sampingnya. Tak lupa pula Azel berada di gendongan Yasmin.
Hatinya tidak sakit karena cemburu membakarnya. Tetapi sentilan kecil berhasil menyenggol Hati Zira.
Aro dan Yasmin terlihat sangat serasi dan mungkin saja orang yang melihatnya akan mengira jika kedua orang itu adalah pasangan serasi dengan anak yang terlelap manis.
"Nona! Pesanan Anda" suara yang sedikit keras itu membuat Zira tersadar dan membalikkan badannya.
Pelayan itu sudah menyiapkan pesanannya dan terlihat sedikit kesal. Sepertinya sudah beberapa kali pelayan itu memanggil namanya. Tetapi Zira tidak mendengarnya.
"Maaf dan terima kasih" Zira mengangkat nampan pesanannya dan berjalan kembali ke bangku yang diduduki Rora.
Ditaruhnya nampan tersebut ke meja dan duduk kembali ketempatnya. Pukulan ditangannya membuat Zira menatap Rora dengan pandangan sebalnya.
"Apaan sih! Sakit tau" ucap Zira yang sepertinya tidak dihiraukan oleh Rora. Sahabatnya itu masih memukulinya.
"Tuh suami barumu" bisik Rora yang membuat Zira memutar matanya kesal.
"Kenapa kata-katamu seakan aku seorang janda dan menikah lagi. Cih 'Suami baru'" Zira tidak menghiraukannya dan membuka kertas pembungkus Burgernya.
"Lihat tuh peremuan itu bukannya perempuan yang kau kata sahabat Suamimu yang merawat anak tirimu?"
Zira menggigit burger yang dibelinya. Rasa enak itu langsung membuat mood Zira kembali naik.
Bahkan burger yang dipegangnya membuat Zira lupa jika suaminya sedang bersama perempuan lain di tempat yang sama dimana Zira berada.
Tetapi sahabat laknatnya itu seakan tidak mau Zira melupakan fakta jika Aro sedang bersama perempuan lain.
"Kau tidak merasa aneh kenapa suamimu itu malah dengan perempuan lain. Oh atau kenapa Azel dirawat oleh sahabat Aro?"
"Kau tau anak pancingan ? Seperti itulah lagian sejak Azel lahir Aro sangat sibuk jadi ya Yasmin yang merawatnya" Ungkap Zira.
Tetapi Rora melayangkan tatapan tidak percayanya sambil menatap Zira yang memakan burgernya.
"Tetapi kenapa otakku seakan mengatakan itu faktanya ?" Bisik Rora yang membuat Zira memutar matanya.
"Hentikan pikiran sinetronmu, Ra. Jangan merusak cita rasa burger ini" Bukannya tersindir dan diam dengan perkataan Zira.
Rora malah mengangkat tangannya dan menggerak-gerakkannya seakan tidak setuju dengan jawaban ZIra.
"Oh tidak bisa. Kita harus memikir dugaan-dugaan yang mungkin saja terjadi, sayang. Misalnya suamimu mencintai perempuan bernama Yasmin itu'
Zira ingin mengelak dan mulutnya akan terbuka. Tetapi ucapan Rora selanjutnya membuat Zira seketika terdiam dan tidak tau harus mengatakan apa.
"Atau mungkin Azel adalah anak dari hubungan gelap mereka berdua! Kemudian mereka tutupi karena Yasmin sudah memiliki suami. Kau tidak pernah tau ibu Azel atau istri Aro sebelumnyakan ?"
Benar
Hanyalah kata yang dapat menggambarkan arti ucapan Rora. Hingga detik ini Zira sama sekali tidak tau siapa istri Aro sebelumnya.
Ataupun ibu kandung Azel. Fakta atau tuduhan yang dikatakan Rora barusan bisa saja terjadi dan memang itu adalah kebenaran.
Keheninganpun terasa setelah perkataan Rora terhenti. Suasana antara Rora dan Zira juga berubah.
Zira menghentikan acara makannya dan menaruh burger diatas nampannya kembali.
Merasakan perubahan suasana hati Zira yang menyikapi ucapan Rora membuat Rora menggaruk lehernya.
"Itu hanya pikiran sinetron saja. Kenapa kau menyikapinya dengan serius sih" ucap Rora yang membuat Zira tersenyum getir.
"Mungkin saja kau benar"
"Menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya lebih dahulu bukanlah hal yang baik, istriku"
*_*_*