Wajah Aro berubah sangat dingin yang membuat wajah Zira terlihat memucat.
Bahkan Zira sampai memundurkan tubuhnya. Tetapi Aro hanya diam dan memandang Zira.
"Kepercayaan itu mahal. Kau pikir aku bisa dengan mudahnya mempercayaimu?"
Zira menghentikan langkahnya dan mengernyitkan kening. Kepercayaan yang dibicarakan Aro?
Apakah pria di depannya ini mengalami masalah tentang 'Kepercayaan'. Pria tegap dan kokoh di depannya kepercayaannya pernah di hancurkan?
Oleh siapa?
"Jika itu yang kau maksud. Kenapa aku? Kenapa kau tidak membiarkanku melunasi utang Mom saja. Daripada menikah denganmu"
"Sampai bertahun-tahunpun hutang Ibumu itu akan sulit di lunasi. Lagian anaknya cantik kenapa aku harus menolak?"
Tatapan Aro seakan memandangi tubuh Zira dari kepala hingga ke kaki. Wajah Zira memerah tetapi rasa marah menyelimuti hatinya.
Dengan tatapan seperti itu Aro seakan menelanjangi nya dan melecehkannya. Ingin rasanya Zira marah tetapi Zira tau jika hal itu akan memanasi suasana.
"Jangan terlalu terbang karena perkataanku. Lagian Azel membutuhkan figur Ibu dan aku yakin kau mampu. Jika mampu menjadi ibu tentu kau bisa menjadi istri"
Zira hanya diam saja mendengarkan penuturan Aro untuk merevisi ucapannya. Sekarang Zira semakin marah karena kekesalannya sendiri.
Kenapa dirinya saat ini begitu lemah. Dengan mudahnya Aro memberikan pujian untuk melayangkan hatinya. Kemudian dengan mudahnya menjatuhkan ke Liang lahat.
"Perlu ku tegaskan. Kemanapun kau pergi tetap ijin denganku. Aku tidak suka perempuan pembangkang"
Aro berjalan melewati tubuh Zira yang masih diam di tempatnya. Zira memejamkan mata dan hanya suara langkah kaki sepatu mahal Aro yang terdengar.
Hingga suara langkah kaki itu berhenti di belakang tubuhnya.
"Kemasi barangmu dan kau tak kuijinkan menginap" Aro melanjutkan langkah yang meninggalkan kesunyian di taman belakang rumah Rora.
Kehidupannya tidak akan tenang lagi. Hanya itu yang diketahui oleh Zira saat ini.
Zira dengan malas membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang tamu rumah Rora.
Dilihatnya Rora yang terlihat canggung duduk di sofa padahal ini adalah rumah Rora. Tetapi sahabatnya itu seperti tahanan yang terintimidasi di sini
"Corman, siapkan mobil" Suara Aro memberikan perintah yang langsung dijalankan oleh Corman.
Zira membuka jas milik Aro dan menggunakan bajunya. Kemudian mengambil blouse yang diselampirkannya.
"Kau sungguh mengujiku, Zira" Suara Aro terdengar di depan pintu rumah Rora.
Zira berlagak seakan tak mendengarnya dan memeluk Rora. Sahabatnya itu juga membalas pelukannya.
"Aku akan mengirimimu pesan ketika sampai" Ujar Zira yang diangguki oleh Rora.
"Mungkin lain kali aku akan mengijinkan Zira menginap. Jika Zira meminta ijin padaku terlebih dahulu" Ujar Aro yang membuat Rora menatap Zira dan hanya dibalas senyuman
"Kau di sini saja. Tidak usah diantarkan keluar. Bye, Rora. See you soon" Zira melambaikan tangannya kepada Rora.
Rora terlihat memberikan anggukan sopan kepada Aro yang juga dibalas dengan kaku. Zira berjalan mendekati Aro dan menyodorkan jas yang digunakannya tadi
"Kau bawa saja. Udara sedang dingin" Aro menyampirkan jas itu ke tubuh Zira lagi dan menarik Zira untuk keluar dari rumah Rora.
*-*-*
Zira menatap wajahnya yang terpantul dari cermin. Disana terlihat perempuan cantik dengan make up sederhana.
Tetapi sepertinya semua orang dapat melihat jika wajah Zira terlihat tak bahagia. Make up itu hanya berusaha mengkamuflase wajahnya.
Zira menghela nafas pelan dan melihat jam yang menunjukkan pukul delapan pagi. Pernikahan akan dilaksanakan pukul sembilan.
Tangannya yang sudah dihiasi oleh sarung tangan memegang sisi d**a Zira. Jantungnya saat ini sangat berdebar.
"C'mon Zira. Ini bukan pernikahan sungguhan yang begitu mewah. Ini hanya pernikahan kecil. Hanya beberapa orang yang datang" Gumam Zira kepada dirinya sendiri.
Apakah Mom hari ini akan datang ke pernikahan ini? Bukankah Mom yang mengajukan pernikahan ini dan anggap saja menjadi dalang dari semua ini?
Sudah lama sekali Zira tidak mendengar kabar Mom. Mungkin Mom saat ini sedang menikmati liburan mewah dengan kekasih barunya. Seperti dulu dengan mantan kekasih Mom.
Rasa gugup entah kenapa mendominasi perasaan Zira hari ini. Kenapa rasa gugup ini timbul? Ini bukan pernikahan sesungguhnya.
Orang yang dikenal di acara hari ini hanyalah Rora dan Yasmin. Setaunya semua undangan yang datang adalah orang sewaan Aro.
Ketukan di pintu membuat jantung Zira seakan berhenti sejenak. Dengan suara bergetar Zira memberikan izin orang itu untuk masuk.
Kepala Yasmin muncul dari sela pintu. Perempuan itu terlihat manis dengan bando putih di atas kepalanya.
"Ini saatnya" Ujar Yasmin yang membuat Zira tersenyum kaku.
*-*-*
Selesai.
Kata itulah yang ditunggu Zira sejak pagi. Tidak ada acara lain setelah acara pukul 9 pagi tadi.
Hanya acara makan Kecil-kecilan yang dihadiri oleh Aro, Zira, Rora, Yasmin, dan suami Yasmin, Gail.
Setelah acara makan selesai Corman muncul dan mengatakan jika Zira akan pulang bersama Corman.
Sedangkan Aro akan menyelesaikan beberapa urusan yang belum selesai. Rora terlihat iba ketika Zira hanya mampu ikut saja seperti boneka hidup yang diatur-atur.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Mungkin inilah jalan takdir yang harus dilalui oleh Zira.
Zira melihat dua koper barangnya yang dikeluarkan dari bagasi oleh Corman. Saat ini mereka sudah sampai di basement gedung apartemen Aro.
"Tuan menyuruh kita untuk menunggu hingga beliau datang" Ujar Corman yang seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepala Zira kenapa mereka hanya diam di sini.
Zira hanya menganggukkan kepalanya pelan dan terdiam. Tatapan mata Zira terarah ke lantai basement yang pasti terasa dingin itu.
Corman yang melihat Zira hanya diam saja terlihat iba. Corman tau jika Zira adalah perempuan baik yang sayangnya harus terseret ke dalam masalah ini.
Dengan langkah pelan Corman berjalan mendekati Zira yang masih sibuk dengan lamunannya.
"Semua ini tidak menjamin kehidupan akan berakhir buruk, Nona" Ucapan Corman membuat Zira mendongak dan tersenyum tetapi Corman dapat melihat jika senyuman itu tidak sampai mata.
"Tetapi juga tidak menjamin akan berakhir baik, Corman"
Corman diam karena tau jika ada benarnya ucapan Zira. Setelah itu keheningan tercipta dan suara deru mesin mobil mendekat membuat mereka berdua serempak menoleh.
Mobil Aro tiba dan berhenti tepat di samping mobil yang dikendarai oleh Corman. Aro terlihat keluar dari mobil dan berjalan mendekat kearah Zira dan Corman.
"Kita pergi keatas sekarang" Ucap Aro yang langsung melewati tubuh Zira tanpa menoleh.
Corman memberikan tanda agar Zira segera mengikuti Aro. Dengan malas Zira mengikuti Aro serta menyeret koper kecil yang berada di depannya tadi.
Tangan Corman berusaha menghalangi Zira yang ingin membantu. Tetapi Zira lebih cekatan dan menghindar.
"Aku hanya membantu. Tenang saja aku tidak akan melemparkan koper ini ke Tuanmu"
Zira berjalan mendahului Corman dengan koper mininya. Mengikuti Aro menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke apartemen milik Aro.
Lift naik dengan cepat membawa mereka ke lantai dimana Apartemen itu berada.
Pintu lift terbuka dan pemandangan Apartemen langsung terlihat dengan jelas. Pemandangan Apartemen yang masih sama dengan terakhir kali Zira datang.
Welcome home, Zira
*-*-*