Zira menghela nafas dengan berat merentangkan kedua tangannya. Seperti boneka jerami di tengah sawah.
Pemilik butik yang sedang didatangi oleh Zira. Sedang mengukur baju untuk dikenakan ketika pernikahan.
Pagi tadi Corman menjemputnya dan mengatakan jika hari ini akan diantarkan untuk mengukur baju.
Selama tiga hari ini Corman yang mengantarkan Zira untuk mengukur baju, mengurus beberapa surat pernikahan yang memerlukan tanda tangannya.
Perancang busana itu menuliskan sesuatu di dalam bukunya dan bertepuk tangan. Zira mengembangkan senyuman ketika Corman memberikan tanda anggukkan.
Tanda jika sesi pengukuran baju sudah selesai. Akhirnya yang ditunggu-tunggu selesai.
Zira membenarkan letak blouse yang di lepasnya tadi dan berjalan menghampiri Corman yang sedang membawa tasnya.
Dengan rasa bahagia Zira mengambil tas itu dan mengucapkan Terima kasih pada Corman.
"Setelah ini apa?" Tanya Zira yang membuat Corman melihat jamnya dan menggeleng.
"Saya akan mengantarkan Nona pulang. Atau Nona ingin ke suatu tempat dulu?" Ucap Corman yang diangguki oleh Zira.
"Kau hari ini tidak perlu mengantarku pulang. Hari ini aku dijemput temanku. Aku mau menginap di rumahnya"
Suara deringan ponsel Zira membuat mereka berdua menoleh kearah tas Zira. Diambil ponselnya dan melihat nama Rora di dalam sana.
"Temanku sudah sampai di depan ternyata. Bye Corman, aku pergi dulu" Ucap Zira sambil melambaikan tangannya.
"Nona harus ijin ke Tuan" Ucapan Corman membuat Zira menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Tuanmu akan tau dengan sendirinya tanpa kuberitahu. Hati-hati dijalan Corman"
Zira mendorong pintu butik dan melihat mobil Rora yang berhenti di pinggir jalan.
Zira segera berlari menuju mobil itu sebelum mobil Rora di tabrak mobil lain karena berhenti di pinggir jalan sembarangan.
"Yuk buruan" Ucap Zira ketika baru mendaratkan bokongnya.
"Loh dari butik wedding? Loh mau nikah?" Ucap Rora bengong bukannya menjalankan mobilnya.
Zira memukul lengan Rora ketika mobil belakang membunyikan klakson sangat kencang.
"Ayo jalan! Sebelum klakson mobil belakang rusak bodoh" Ucap Zira kesal.
Rora dengan panik menjalankan mobilnya. Tetapi masih melayangkan tatapan 'Utang penjelasan!'
*-*-*
"Jadi kau seriusan nikah sama orang bertitle 'Sugar Daddy' ?" Tangan Rora melakukan gerakan seperti tanda kutip yang membuat Zira memutar matanya ketika memakan pizza miliknya.
"C'mon panggilan itu rasanya geli tau nggak" Ucap Zira dengan mulut penuh dengan potongan pizza.
Rora menghadap televisi di depannya yang menampilkan acara televisi yang sedang dilihat mereka.
Wajah shock Rora terlihat dibuat-buat yang membuat Zira menggelengkan kepalanya dengan drama queen satu ini.
"Kau akan menikah dengan pria yang sama sekali nggak kukenal. Kukira kita bisa menyiapkan pernikahan kita di masa depan"
Zira terkekeh mendengar ucapan Rora. Yep, dulu Zira dan Rora memang memiliki mimpi mereka akan saling membantu menyiapkan pernikahan mereka di masa depan.
Namun sekali lagi benar kata pepatah. Tidak ada yang tau takdir seperti apa yang akan terjadi kedepannya.
Zira menatap sekotak pizza yang hampir habis di atas pangkuannya. Mereka berdua memesan 4 kotak pizza dan akan memakannya bersama malam ini.
Pikiran Zira melayang tentang hal yang akan terjadi nanti. Takdir yang tidak diketahui Zira atau bahkan tidak dapat diterawang oleh Zira bagaimana jadinya.
"Kau tau semuanya. Pernikahan ini tidak akan menjadi pernikahan impianku, Ra"
Rora menatap Zira dan cemberut. Melihat perubahan suasana karena ucapannya Zira menoleh melihat wajah Rora yang berubah.
"Peyukk" Ucap Rora sambil membentangkan tangannya.
Zira ikut memeluk Rora dan mereka berpelukan dengan erat. Rora mengusap punggung sahabatnya dan air mata mengalir di mata Zira.
Runtuh sudah apa yang menjadi bebannya sejak kemarin. Zira menangis di pelukan sahabatnya.
Memendam rasa sedih sendiri bukanlah hal mudah bagi Zira yang memang tidak pernah menutupi apapun dari Rora selama mereka bersahabat.
"Kenapa Mom tega jual aku, Ra. Kenapa?" Bisik Zira dengan tangisannya.
Rora mengusap punggung Zira berusaha memberikan ketenangan untuk sahabatnya itu. Sahabatnya yang sedang rapuh dan membutuhkan sandaran
Mendengar Zira yang semakin sesenggukan. Rora memilih melepaskan pelukannya dan menatap sahabatnya itu
"Zira, mungkin semua temanmu tau bagaimana karakter Ibumu itu. Aku nggak bisa apa-apa buat menolongmu. Tapi kau tau aku ada buat kau"
Zira menganggukkan kepalanya dan Rora memilih mengambilkan minuman untuk Zira.
Dengan perasaan melow yang masih melingkupi hatinya. Zira mengambil potongan Pizza dan memakannya kembali.
Belum sempat Rora kembali dengan segelas air. Ketukan dipintu membuat Zira dongkol. Perasaannya sedang sedih dan orang itu bertamu di rumah Rora.
Zira berdiri dan menaruh kotak pizzanya ke meja kembali. Dengan wajah yang pastinya masih sembab Zira berjalan menuju pintu.
Suara ketukan lagi seakan menambahkan jika orang yang bertamu sudah tidak sabar.
Zira membuka pintu dan melihat dua pria yang berdiri di depan pintu dengan jas mahal mereka.
Aro terlihat kaget melihat Zira. Sama seperti Zira yang kaget setengah mata Aro ada di rumah Rora.
Tetapi bukan hal itu yang membuat Aro kaget menatap Zira. Apalagi wajah Corman terlihat canggung dengan hal yang terjadi depannya.
Belum sempat memberondong dengan berbagai pertanyaan untuk Aro. Jas mahal beraroma mask menutup tubuh mungil Zira.
Bahkan sepertinya tubuh Zira akan tenggelam karena jas yang jauh lebih besar dari ukuran tubuh Zira.
"Astaga! Ada apa ini?" Suara Rora terdengar kembali dari dapur.
Rora menaruh gelas air dan berjalan mendekat ke pintu rumahnya yang terbuka separuh. Dengan tubuh Zira tertutupi oleh jas.
Rora menarik pintu supaya terbuka lebar agar Rora dapat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Siapa, Zi? Jas siapa ini?" Tanya Rora menunjuk Aro yang berdiri menjulang di depannya dan menunjuk Zira.
Zira yang tersadar karena hanya menggunakan tanktop menahan jas tersebut agar tetap menutupi tubuhnya.
"Corman ehm... Dan Aro" Ucap Zira sambil menunjuk kedua pria itu.
Rora yang mengerti maksud perkataan Zira melototkan matanya. Kemudian menatap pria di depannya dengan perasaan canggung.
Aro berdehem menjernihkan suaranya. Sedangkan Corman masih berdiri dengan tegap di samping Aro.
"Aro, calon suami Zira" Ucap Aro sambil mengulurkan tangan pada Rora yang langsung dibalas uluran tangannya oleh Rora.
"Aurora, sahabat Zira" Ucap Rora dengan suara tergagapnya.
Mereka melepaskan salaman mereka dan sekarang Aro menatap Zira yang ada di depannya.
"Oh ya ya, silahkan masuk. Silahkan" Ucap Rora yang langsung berusaha menjadi pemilik rumah yang baik.
Aro dan Corman berjalan masuk ke dalam rumah minimalis milik Rora. Punggung putih Zira yang terekspos karena jas Aro menutupi hanya bagian depan Zira.
Tangan Aro menjulur kedepan untuk menarik jas Aro untuk menutupi juga pemandangan indah punggung Zira.
Hal itu membuat Wajah Zira memerah dan perasaan canggung juga di rasakan nya. Ketika mereka akan duduk tiba-tiba Aro bertanya pada Rora.
"Bolehkah aku berbicara berdua dengan Zira?" Tanya Aro yang membuat Rora yang merasakan aura d******i Aro hanya menganggukkan kepalanya kecil.
"Kalian bisa berbicara di taman belakang"
Zira yang mendengar hal itu langsung berjalan menuju taman belakang tanpa menghiraukan Aro.
Tetapi kaki panjang Aro segera menyusul Zira dan menarik jas tersebut agar menutupi tubuh Zira.
"Kau bisa melepasnya. Sudah tidak ada pria di sini" Ucap Zira ketika sampai di taman belakang rumah Rora.
"Kau pikir aku bukan pria hm?" Ucap Aro yang membuat Zira terdiam dan tidak mengatakan apapun.
Perasaan Zira sedang tidak menentu sekarang. Zira tidak ingin memperpanjang ngobrolan ini dengan Aro.
"Kenapa kau tidak mau diantarkan Corman. Kau tau Corman kuberi tugas untuk mengawalmu. Kau harus tetap dalam pengawasan Corman" Ucap Aro setelah terdiam cukup lama.
"Aku bukan anak kecil yang harus dikawal ke sana kemari, Tuan. Aku masih memiliki kehidupan sosial" Sinis Zira yang membuat Aro terlihat kesal.
"Kau akan menjadi istriku. Tentu saja aku harus memberikan pengawal untukmu. Aku juga harus tau apapun yang kau lakukan"
Zira tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ucapan Aro terdengar lucu di telinga Zira.
"Kau sudah mengetahui apapun dariku. Kau memberikan penyadap di tas dan ponselku. Aku tau semua itu Aro, semua yang kau lakukan untuk memata-mataiku!" Ucap Zira yang begitu kesal dengan semua ini.
Zira mengusap rambutnya dan menatap Aro yang berdiri di depannya dengan wajah dingin.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa yang menjadikan alasan semua ini? Kurasa Bukan hanya masalah utang Mom"
*-*-*