Zira membuka pintu dan pria berjas hitam dan formal berdiri di depannya. Zira membuka pintu rumahnya dengan lebar karena tau siapa pria itu.
"Ada apa ?" tanya Zira dengan suara lelahnya.
Zira baru saja bangun tidur dan hendak membuat sarapan. Tetapi suara bel rumahnya berbunyi membuat Zira mau tidak mau menunda kegiatannya.
Ketika membuka pintu mood Zira langsung turun ke titik terendah. Zira tau jika pria di depannya ini adalah suruhan Aro.
Bukan itu yang membuat Zira kesal. Melainkan Zira kesal karena Aro selalu dengan seenaknya sendiri keluar masuk ke dalam rumahnya.
Seakan-akan itu hal yang normal. Menerobos atau menyuruh orang untuk dapat ke rumahnya adalah hal yang tidak baik. Hal itu selalu membuat Zira kesal sendiri.
"Mr. Ignasius memerintahkan Saya menjemput Anda" ucap Pria di depannya yang membuat Zira menghela nafas.
Setelah membuat keributan dengan mengirimkan uang ke dalam rekeningnya dalam jumlah fantastis. Sekarang Aro menyuruh orang untuk menjemputnya.
Memang berbakat sekali Aro menjadi petinggi perusahaan dan pemilik kekuasaan. Sikap dominan dan otoriternya sangat melekat pada sisi Aro.
Zira mengangguk dan mempersilahkan pria itu masuk. Tetapi bukannya masuk tetapi pria itu malah terlihat bingung menatap Zira.
"Namamu siapa ?" tanya Zira dengan jengah menatap pria di depannya.
"Corman, Nona" jawab pria itu yang membuat Zira mengangguk mengerti.
"Baiklah Corman. Apakah kau bisa memasak ?" tanya Zira yang diangguki cepat oleh Corman walaupun wajah pria itu terlihat bingung.
"Bisakah kau memasakkan sesuatu untukku selagi aku bersiap ? Perutku sudah sangat lapar jika harus menunggu tuanmu memberiku makanan" ucap Zira yang membuat wajah Corman seketika terlihat geli.
Bawahan Aro itu mengangguk dengan patuh dan membuat Zira tersenyum manis. Kemudian mengucapkan terima kasih setelah meninggalkan Corman di dapur.
Sepertinya Zira harus segera bersiap dan menyelesaikan semua kegiatannya. Semakin cepat bersiap semakin cepat juga Zira makan
*_*_*
Mobil berhenti di salah satu basement gedung tinggi yang pernah dilintasi oleh Zira ketika pulang kerja atau main dulu.
Zira keluar dari mobil tanpa menunggu Corman yang ingin membukakan pintu untuknya. Zira sama sekali tidak memiliki bakat orang kaya jadi tidak perlu diperlakukan seperti itu.
Corman berdiri di samping Zira ketika Zira hanya menoleh kearah kanan dan kiri. Di basement ini hanya berisikan beberapa mobil dan bukanlah basement yang menyeramkan.
Dominasi warna putih membuat Basement ini tidak terlihat menyeramkan seperti basement-basement yang lainnya.
"Dimana kita ini ?" tanya Zira sambil menghadap Corman yang masih berdiri tegap layaknya penjaga.
Corman mengeluarkan sebuah kartu dan buku kecil dan menyerahkan pada Zira. Dengan wajah bingung dan bertanya-tanya. Zira mengambil kartu itu dan melihat tulisan 'Mrs.Ignasius'
"Itu kartu akses yang bisa Anda gunakan untuk naik ke apartemen. Mr. Ignasius sudah menunggu Anda di atas" ucap Corman yang membuat Zira mengernyit dan menganggukkan kepala.
"Kau tidak ikut ?" tanya Zira yang dibalas dengan gelengan Corman.
"Baiklah, aku akan naik ke atas. Oh ya, Corman. Masakanmu sangat enak kurasa kau lebih baik menjadi koki daripada penjaga Aro yang menyebalkan"
Senyuman tulus terlihat dari bibir Corman yang membuat Zira ikut tersenyum dan melambaikan tangan. Zira naik keatas menggunakan kartu akses yang diberi tadi.
Pintu lift terbuka dan pemandangan super mewah langsung tersuguhkan begitu saja. Zira menggelengkan kepalanya dan melangkah masuk.
Mungkin inilah apartemen milyaran rupiah yang hanya dapat dimiliki pria kaya seperti Aro. Apartemen ini sangat luas diisi oleh perabotan berkelas dan mewah.
Zira menoleh ke segala sisi dan menemukan sebuah figura yang masih tertutup dengan kertas coklat. Sepertinya itu barang baru atau malahan barang yang akan di buang ?
Jika itu barang yang akan di buang. Kira-kira barang apa yang ada di dalam sana. Zira masih sibuk dengan pikirannya suara langkah kaki yang mendekat membuat Zira membalikkan badannya.
Aro mendekat dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celananya. Hal itu entah mengapa membuat Zira terdiam.
Tetapi pikirannya langsung teringat tentang permasalahan yang dibuat Aro. Pria itu sukses membuat Zira diintograsi besar-besaran oleh Rora.
Hingga saat ini sahabatnya itu juga seperti selalu menelfonnya seakan-akan ingin memastikan dengan benar jika Zira sudah memiliki 'Sugar Daddy' sungguhan.
Lalu bagaimana bisa Aro mengetahui jika Zira mengatakan dan membuat lelucon kata 'Sugar Daddy's
Zira merasa jika Aro menyeramkan dan diyakini memiliki mata-mata untuk Zira. Memang terdengar terlalu percaya diri.
Tetapi alasan yang masuk ke logika sudah tidak ada lagi kecuali 'Aro memiliki mata-mata untuk Zira'
"Ada yang ingin ku katakan padamu" Ucap Zira dengan daku terangkat tinggi. Seakan menandakan jika Zira tidak akan bisa di injak-injak.
Bibir tipis Aro terlihat terangkat sedikit seperti menertawakan Zira. Tetapi itu hanya terlihat sebentar sekedipan mata. Digantikan dengan Alis tebal pria itu terangkat.
"Katakan" Ucap Aro yang semakin dekat dan membuat Zira seketika menjadi gagu ingin mengatakan.
Mengerti posisinya seperti aneh. Zira membalikkan badan dan menjauh dari Aro. Mendekati ruang tamu yang ada di depannya.
"Kenapa kau mengirimkan uang ke dalam rekeningku? Dengan nominal sangat besar. Kau bisa menjelaskan?" Ucap Zira dan membalikkan badannya.
Setelah yakin jika dirinya sudah sedikit menjauh dari posisi tadi. Memberikan jarak yang cukup jauh antara dirinya dan Aro adalah hal penting.
"Oh tentu saja. Semua pasti ada penjelasan bukan?" Ucap Aro yang membuat Zira menganggukkan kepalanya mengamini.
Ya, Aro benar. Semua tindakan pria itu pasti memiliki penjelasan. Zira sudah sangat penasaran dengan penjelasan tersebut.
"Menjadi calon istriku tidak mungkin kau bertangan kosong bukan?" Ucap Aro yang membuat Zira mengernyitkan kening.
"Aku tidak 'setidak punya uang itu' sampai harus kau beri uang" Ucap Zira dengan nada kesalnya.
Aro di sini sudah sangat merendahkannya. Memang posisi Zira adalah sesuatu yang sudah di jual pada Aro. Tetapi sikap dan perbuatan pria itu sudah membuat Zira malu.
"Aku juga tidak menganggapmu 'Setidak punya uang itu' hanya saja. Jika aku akan menikahmu aku akan berusaha memenuhi semua yang kau penuhin. Dalam segala konteks keperluanmu"
Aro mengedikkan pundaknya seperti semua ini bukanlah hal besar dan celotehan kecil. Zira menggenggam tangannya erat terlihat menahan kesal.
Zira yang entah mengapa ber firasat jika semua ini tidak akan ada ujung jika memperdebatkan masalah kiriman uang itu.
"Baik terserah kau saja. Lalu bisa kau jelaskan padaku kenapa kau bisa tau tentang ehm... Sugar Daddy! Kau pasti memata-mataiku" Ucap Zira berusaha menahan segala rasa malunya.
Sialan! Kenapa ruangan ini sangat panas dan membuat Zira seperti terbakar begini.
Sebuah senyuman tipis terlihat di sudut bibir Aro yang membuat Zira meneguk ludahnya. Entah kenapa pria itu terlihat semakin tampan
Astaga setan apa yang sedang membodohinya saat ini.
"Tidak. Aku hanya menaruh perekam suara di tasmu" Ucap Aro sambil menunjuk tas kecil yang sedang di pegang oleh Zira.
Sangking terkejutnya mendengar hal itu tas Zira sampai terjatuh ke lantai. Bahkan mulut Zira sedikit terbuka mendengar hal itu. Sangat tak menyangka jika Aro melakukan hal itu.
"Jika kau berpikir itu memata-matai, kau salah. Aku hanya ingin tau kau menyembunyikan sesuatu atau main serong dibelakang atau tidak"
Zira melihat yang sibuk dengan keterkejutannya sampai tidak menyadari jika Aro sudah mendekat dan mengambilkan tas miliknya.
Ketika Aro mengambil tangan Zira saat itu Zira baru tersadar karena perasaan aneh yang dirasakan Zira ketika tangan Aro menyentuhnya.
Aro mengambil tas itu dari lantai dan mengembalikannya ke tangan Zira. Seakan semua kosakata nya hilang Zira hanya diam dan melihat Aro yang berada dalam jarak sangat dekat di depannya.
"Itu tidak penting dan tidak perlu di bahas. Ada hal yang lebih penting kita bicarakan" Ucap Aro sambil sedikit menjauh untuk melihat wajah Zira secara jelas.
"Ini adalah apartemen yang akan kita tinggali setelah menikah. Kau memiliki akses penuh untuk keluar masuk ke dalam sini. Aku tidak akan membatasi siapa saja yang kau ajak masuk ke sini. Asalkan kau tau batasan" Ucap Aro yang membuat Zira ingin protes.
Tetapi Aro mengangkat tangannya yang membuat Zira terdiam dan menghentikan aksinya.
"Aku belum selesai, Zira. Segala fasilitas yang kau butuhkan bisa kau katakan padaku atau Corman bisa mengurusnya" Aro masih berdiri sempurna di depan Zira dengan santai.
Sedangkan Zira hanya terdiam bungkam mendengarkan segala penuturan Aro. Seakan-akan Aro sedang mendiktekan segala peraturan. Tetapi sepertinya memang seperti itu.
"Oh ya satu lagi. Kau ku perbolehkan bekerja. Tetapi setelah kau dinyatakan mengandung anakku kau harus berhenti dan aku tidak ingin ada penolakan"
Aro berjalan mendekat ketika Zira tidak memberikan respon apapun dan hanya diam membisu.
Jarak mereka berdua sangat dekat. Bahkan Aro dapat mencium aroma manisnya nggak keluar dari tubuh Zira. Aroma memabukkan.
Aro mendekatkan bibirnya tepat di telinga Zira yang masih berdiam mematung.
"Aku tidak masalah jika kau sebut 'Sugar Daddy' Baby Girl"
*-*-*