Zira terbangun terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Entah siapa yang ingin merobohkan pintu rumahnya pagi buta seperti ini.
Dilihatnya jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Oho ini bukan pagi buta lagi. Zira segera menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang.
Zira menutup pintu kamar dan bergegas mendekati pintu rumahnya. Kemudian membuka pintu dan seorang pria yang baru tadi malam di temuinya berdiri di depan pintunya.
Jadi pria ini yang mau merobohkan pintu rumahnya. Zira menyenderkan kepalanya dan membuka pintu supaya pria itu masuk.
Pria itu menatap jam dipergelangan tangannya dengan tatapan tidak suka. Tetapi Zira tidak peduli dan memilih membalikkan badannya.
Semalaman Zira menangisi kisah hidupnya yang mengenaskan seperti ini. Hingga Zira tertidur ketika pukul lima pagi.
Kemudian dibangunkan oleh manusia yang ternyata ikut masuk hingga ke dapur rumah Zira. Tidak, dapur rumah pria itu.
Bukankah rumah ini sudah menjadi hak milik pria itu. Sampai Zira resmi menjadi istrinya dan rumah ini akan beralih menjadi miliknya
Omong kosong
Zira mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas dan meneguknya. Seakan mengabaikan pria yang duduk di kursi bar seperti tadi malam.
"Ini adalah berkas yang perlu kau baca dan tanda tangani" ucap Aro yang membuat Zira membalikkan badan.
Zira melihat dokumen di atas meja yang ternyata di bawa oleh Aro tanpa di sadari oleh Zira. Dokumen itu dilapisi oleh map hitam elegan.
Entahlah apa isi dokumen itu. Dari pada rasa penasarannya terus menggerogoti. Zira memutuskan mendekat dan menaruh gelasnya.
Dibuka map tersebut dan membaca judulnya 'Surat Perjanjian' Zira meneguk ludahnya dengan susah payah dan menghela nafas.
Zira membuka laci kecil di meja bar dan mengambil bulpoin. Tanpa membaca apa saja isi dari surat perjanjian itu. Zira membumbuhi tanda tangan di sana.
Hal itu membuat Aro terlihat kaget dan tidak bisa ditutupi. Pria itu semakin heran ketika Zira memilih menutup dokumen itu dan menyodorkan kembali pada Aro.
"Kau tidak ingin membacanya ?" Tanya Aro yang tidak bisa menutupi suara terkejutnya akan hal itu.
"Tidak perlu, aku sudah memikirkan semuanya. Utang Mom jugalah utangku, aku sudah berpikir panjang tadi malam" ucap Zira yang membuat Aro menghela nafas.
"Jadi menikah denganku bukan hal sulit ?" gumam Aro yang dibalas anggukan ragu oleh Zira.
"Tidak"
Aro berdehem sebentar dan menyandarkan tubuhnya di kursi bar. Menatap Zira yang menundukkan kepalanya memainkan bulpoin di tangannya.
"Bersiaplah. Kau akan ikut ke perusahaanku" ucap Aro dan berdiri di depan Zira.
Pria itu membalikkan badannya dan berniat pergi. Namun entah gerangan apa Aro berhenti tetapi tidak menoleh kearah Zira.
"Kau mengatakan dengan lantang 'kata tidak' tetapi kau menangisi menikah denganku" Suara langkah kaki sepatu mahal milik Aro meninggalkan dapur dingin yang mencekam bagi Zira untuk saat ini
*_*_*
Zira mengusap mulutnya di depan wastafel toilet. Zira merengut menatap kaca dan menghela nafas.
Bukannya pergi ke 'Perusahaan' yang dimaksud oleh pria itu. Melainkan pria itu mampir ke salah satu restoran bintang lima
Hanya sarapan di hotel bintang lima. Cih, gaya hidup macam apa itu.
Zira mengeringkan tangannya dengan tisu yang sudah diambil sebelumnya. Pria itu memaksa Zira untuk memakan sepiring waffle.
Baru beberapa menit yang lalu mereka menandatangani perjanjian itu dan sekarang pria itu sudah mengatur layaknya suami.
Entah bagaimana kehidupan pernikahan mereka nantinya. Zira hanya berharap supaya Zira tidak berakhir mengenaskan seperti di berita baru-baru ini
Memiliki suami psycho dan berakhir tewas mengenaskan
Mengerikan.
Tanpa sadar Zira bergidik ngeri membayangkan jika harus berakhir seperti itu. Ayolah hidupnya harus bahagia.
"Oh permisi! Bisakah kau membantuku?" Suara perempuan membuat Zira menoleh.
Menemukan perempuan yang menggendong bayi yang terlihat kesulitan dan terburu-buru.
"Ya?" Zira maju dan perempuan itu juga mendekatinya.
"Perutku sangat sakit. Bisakah kau menggendongkan bayi ini sampai aku selesai? "
Zira menganggukkan kepalanya dan mengambil alih bayi tersebut. Perempuan itu terlihat sangat lega dan mengucapkan terimakasih.
Sebelum berlari menuju salah satu bilik toilet. Zira menatap bayi laki-laki yang sedang terlelap.
Tampan dan menggemaskan.
Zira sedikit terpanah dan tersenyum. Tidur aja tampan apalagi bangun ya? Zira refleks menimang-nimang bayi itu supaya bayi itu semakin nyenyak.
Perempuan itu kembali dengan wajah sumringah dan super lega. Zira tersenyum menatap perempuan itu.
"Kau sangat menolongku. Jika tanpa kau mungkin bayi ini akan terbujur di wastafel" Ucap perempuan itu.
Zira mengembalikan bayi tersebut ke gendongan perempuan itu dan bayi itu masih bergelung nyaman.
"Aku Yasmin, siapa namamu?" Tanya perempuan itu dengan mengulurkan tangannya.
"Panggil saja Zira" Ucap Zira dengan membalas uuluran tangan perempuan itu.
Hingga suara pintu terbuka membuat Zira dan Yasmin menoleh.
Perempuan yang menggunakan seragam hotel itu masuk. Terlihat sungkan ketika melihat Zira dan Yasmin.
"Permisi, apakah Anda yang bernama Nona Zira?" Ucap perempuan itu yang membuat Zira angkat tangan.
"Ya ada apa ?" Perempuan itu terlihat lega dan mengangguk.
"Mr. Ignasius menyuruh saya memeriksa apakah Anda baik-baik saja di toilet? Anda pergi terlalu lama" Ucapnya yang membuat Zira mengangguk kikuk.
Ke toilet saja sedikit lama langsung seperti ini. Bagaimana jika Zira memilih pergi dan menghilang.
Zira yakin juga pria itu akan mengorek sampai ke bumi bagian dalam. Agar Zira tidak kabur dan membayar hutangnya.
"Oh baiklah. Sampai bertemu kembali Yasmin. Aku tidak mau bossku sampai marah. Bye"
Zira tidak menghiraukan dan langsung pergi. Tidak memperhatikan bagaimana raut wajah Yasmin.
Zira sedikit menoel pipi bayi itu dan berbalik pergi mengikuti perempuan yang diutus Aro.
Aro entah kenapa nama pria itu masih terdengar misterius dan tidak enak di dengar di telinga Zira.
Seperti ada aura magis, tidak-tidak itu hanya pikiran kreatif Zira saja. Tetapi jika tentang aura menyeramkan pria itu memang memilikinya.
Zira melihat Aro yang duduk membelakangi nya. Pria itu memang terlihat sangat spesial dengan balutan baju seperti itu.
Entah bagaimana Tuhan dapat menciptakan pria sesempurna itu. Tetapi kelebihan selalu memiliki kekurangan.
Hingga saat ini Zira sudah melihat beberapa keburukan pria itu. Suka mengomel, diktator, dan tidak memiliki ekspresi.
Zira merenggut mengingat semua itu tetapi tetap berjalan menuju meja mereka tadi. Aro melirik sebentar kearah Zira yang datang dan berdiri disamping Aro.
"Pergilah dan selanjutnya ada yang membereskan" Ucap Aro kepada perempuan itu.
Hingga perempuan itu pergi dan menghilang. Zira mengetukkan kakinya dan menatap Aro. Menunggu omelan apa lagi yang akan keluar dari mulut pria itu
Jika harus pergi kenapa pria itu tidak segera beranjak. Jika tetap di sini kenapa pria itu menyuruhnya segera selesai.
"Kita akan pergi?" Tanya Zira yang membuat Aro melirik nya lagi tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu sebentar" Ucap Aro yang membuat Zira menghela nafas dan mengangguk.
Mungkin pria itu sedang mengambil nafas dan pemanasan, super aneh.
Suara langkah kaki mendekat membuat Zira ingin bersuara dan menyapa. Tetapi sudah terpotong dengan ucapan Yasmin.
"Aro"
Zira tidak menutupi wajah kebingungan tentang apa yang terjadi di sini.
Yasmin mengenal Aro!
Apakah ini sebuah petaka ?!
*-*-*