"Kau mengenal Aro?" Tanya Zira yang membuat Aro dan Yasmin langsung menatap Zira.
"Dan kau mengenal Yasmin, sayang?" Pertanyaan balik Aro membuat wajah Zira langsung berubah, memerah.
Sayang? Demi apa pria itu memanggilnya sayang. Hal sekecil itu saja langsung membuat Zira wajahnya memerah.
Zira bahkan sampai salting menatap Aro dan Yasmin secara bergantian. Entah kenapa Zira ingin sekali tertawa terbahak-bahak sendiri setelah mendengar Aro memanggilnya 'Sayang'
Astaga!
"Kami bertemu di toilet" Jawab Yasmin dengan suara halusnya.
"Obrolan kita terputus karena Zira ditunggu oleh Bosnya. Benar Zira?" Lanjut Yasmin yang membuat Zira menggigit bibirnya.
"Aha... Jadi kau akan menikahi bosmu?" Sahut Aro.
Seketika itu Zira ingin sekali menenggelamkan diri sedalam-dalamnya sampai ke inti bumi. Zira menatap wajah Aro yang terlihat dingin.
Aro terlihat dingin menatap Zira yang menyengir dan menggaruk kepalanya yang sungguh tidak gatal. Ekspresi Aro memang biasa saja, datar seperti biasa. Tetapi Zira sedikit takut dengan Aro jika seperti itu.
"Yeah, kau bosku" Kepalang tanggung Zira mengatakan itu dengan mengigit bibirnya
Aro menghela nafas dan menggeleng. Bagaimana bisa ada perempuan polos dan menyebalkan secara bersamaan.
Aro berdiri dan membenarkan letak jasnya. Pria itu tidak menatap Zira sama sekali. Melainkan lebih memilih berbalik menghadap Yasmin.
Bayi lucu yang tadi di gendong Zira terlihat masih terlelap. Tanpa terganggu oleh suasana tegang saat ini
Mungkin hanya Zira yang merasakan suasana tegang sendiri. Karena kebohongan bodohnya.
Zira melototkan matanya ketika dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Aro mengambil bayi mungil itu.
Bahkan Aro juga membenarkan letak selimut di tubuh bayi itu. Dapat diketahui oleh Zira jika Aro terlihat menyayangi?
Astaga tatapan macam apa itu. Zira masih terdiam melihat hal itu. Bagaimana mungkin Aro terlihat berbeda jika berhadapan dengan bayi mungil.
Hal yang lebih mengagetkan lagi Aro memberikan bayi itu pada Zira dan menatap mata Zira dengan tatapan dingin.
"Belajarlah untuk menggendong anak dari bosmu"
*-*-*
Aro menatap pria paruh baya yang sedang berdiri dan mengobrol tentang beberapa tender.
Tetapi sejak tadi matanya tidak bisa beralih dari perempuan yang sedang menggendong bayi mungil.
Zira sejak tadi juga tidak melepaskan pandangannya dari bayi mungil yang ada di pelukannya. Ternyata berjenis kelamin laki-laki.
Begitu menggemaskan dan membuat Zira ingin terus mendekap bayi itu. Apalagi sejak tadi bayi itu tidak terbangun dan terlelap nyenyak.
Sedangkan Aro sejak tadi terus memperhatikan Zira yang menoel-noel pipi bayi itu.
Hal itu membuat Aro terkekeh pelan. Tanpa sadar membuat pria paruh baya di depannya mengikuti arah pandangnya.
"Sudah menemukan perempuan yang tepat?" Tanya pria bernama Mr. Alex.
Aro mengontrol wajahnya dan menatap Mr. Alex dengan wajah profesionalnya. Tidak ada senyuman seperti sebelumnya.
"Dia calon istri saya" Ucap Aro yang membuat Mr. Alex tersenyum dan mengangguk.
"Yeah, i see" Ucap Mr. Alex dan Aro menggelengkan kepalanya dengan senyum formal.
Mereka melanjutkan percakapan mereka dan Aro berusaha mengabaikan perempuan yang sibuk dengan bayi mungil.
*-*-*
Aro duduk di kursi kekuasaannya. Perempuan mungil yang sudah terlihat pantas menggendong bayi, sedang duduk di depannya.
Dengan bosan Aro mengetuk-etukkan bulpoinnya sambil menatap perempuan di depannya.
Sudah lima belas menit perempuan itu duduk didepannya dan hanya fokus pada bayi mungil.
Ayolah itu anaknya! Tetapi entah kenapa ada rasa cemburu ketika perhatian harus terbagi.
"Kita akan bicara. Apa perlu jika Azel kutitipkan pada Yas?"
Zira langsung mendongak dan menatap Aro. Zira menggeleng dan melihat bayi itu.
"Bayi ini bernama Azel?" Aro mengangguk dan menatap kembali Azel dengan pandangan Azel.
"Wah, namamu gemes sekali ya, Azel" Gumam Zira yang mau tidak mau membuat hati Aro menghangat ketika melihat Zira memang menaruh perhatian pada anaknya.
"Kita perlu membicarakan hal penting. Kuharap kau fokus" ucap Aro yang membuat Zira mendongak dan tersenyum canggung.
Aro mengangkat sebelah alisnya seakan menunggu kesediaan Zira untuk mau membicarakan hal yang bagi Aro penting.
Zira yang merasa canggung dan aneh karena Aro hanya diam saja dan mengangkat sebelah alisnya hanya mengernyitkan keningnya.
Dengan kepala pelan Zira mengangguk kecil sebagai tanda jika Zira mengerti dan menunggu Aro juga untuk berbicara.
"Apa yang akan kau bicarakan?" ucap Zira yang membuat sebuah senyuman muncul di sudut bibir Aro.
Bukannya langsung berbicara Aro malah berdiri dari duduknya dan memutari meja. Hal itu membuat Zira dag dig dug setengah mati.
Menebak-nebak apa yang akan dilakukan Aro. Belum lagi hatinya juga takut apa yang akan di katakan Aro. Apakah itu menyangkut hidup matinya ?
Aro menyandarkan tubuhnya di meja kebesarannya di sambil Zira. Aro melipat tangannya dan menatap Zira yang harus mendongak untuk menatap Aro.
Pria itu begitu tinggi dan besar. Dengan postur tubuh seperti itu Aro seakan ingin menegaskan kekuasaannya akan Zira saat ini. Begitu mendominasi.
"Sebulan lagi kita akan menikah dan semuanya sudah terurus. Ini pernikahan secara tertutup dan kuharap kau tidak akan kecewa karena hal itu"
Tidak kecewa ? Tidak, Zira sama sekali tidak kecewa tetapi hatinya sedikit tersentil karena hal itu. Tertutup ? Sebegitu memalukannya menikah dengan Zira sampai semuanya tertutup.
"Tidak masalah" ucap Zira dengan suara pelan dan Aro seakan tidak menangkap kesedihan Zira dan hanya menganggukkan kepalanya.
"Kau hanya perlu duduk diam dan mengikuti alur yang sudah diarahkan. Setelah itu kau akan tinggal di apartemenku"
Zira tanpa sadar mengernyitkan keningnya setelah mengetahui hal itu. Apartemen ? Zira yakin jika pria seperti Aro memang mampu membeli segedung apartemen.
Tetapi Zira tidak yakin jika Aro hanya memiliki Apartemen saja. Apakah setelah menikah Zira akan tinggal di apartemen dengan bayi Aro ? Atau secara terpisah dengan bayi Aro ?
Oh kenyataan yang saat ini sedang melintas di pikiran Zira langsung memukul palu hati terdalam Zira.
Zira bukanlah siapa-siapa.
Tetapi memikirkan tinggal di apartemen setelah menikah membuat Zira berpikir jika dirinya adalah selingkuhan Aro.
Pernikahan tertutup dan sebuah apartemen. Cih tidak hanya fakta jika di jual oleh ibunya ternyata Zira juga dijadikan simpanan saja.
"Apakah tidak boleh jika tinggal di rumah Mom saja ?" Gumam Zira tanpa sadar dan Aro terdiam mendengarnya dan menatap dengan wajah aneh.
"Maksudku kau mengatakan jika rumah Mom akan beralih nama menjadi milikku setelah kita menikah. Kenapa kita tidak tinggal disana saja. Lingkungan rumah lebih baik daripada apartemen untuk Azel" ucap Zira.
Aro tertawa pelan tetapi suara tawanya tidak terdengar seperti orang senang atau apa. Hanya kehambaran di dalam suara itu.
"Siapa yang bilang kita akan tinggal dengan Azel ?" Ucap Aro dengan senyuman kecilnya.
Zira meneguk ludahnya dengan berat. Tidak tinggal dengan Aro ? Semakin yakin jika Zira hanya dijadikan selingkuhan semata.
Menjadi selingkuhan seorang pengusaha kaya tidak pernah masuk di dalam daftar impian yang pernah dibayangkan oleh Zira.
Zira menggelengkan kepalanya pelan dan tak menyadari jika Aro sejak tadi memperhatikannya. Bahkan sudut bibir Aro terangkat membentuk senyuman geli.
"Jika kita tinggal dengan Azel akan lebih sulit untuk memberikan Azel adik" Lanjutan ucapan Aro membuat Zira mendongak dan menatap Aro.
Sebelum mata Zira melotot memahami apa yang dimaksud oleh Aro. Didukung oleh senyuman m***m yang entah sejak kapan Zira tau apa maksudnya.
"Maksudmu kita akan ?" Ucapan Zira tidak bisa dilanjutkan dan mulutnya tertutup kembali.
Aro memajukan tubuhnya yang membuat Zira terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di belakangnya.
Terperangkap oleh tubuh besar Aro yang menutup semua ruang gerak Zira. Tangan Aro terulur yang membuat Zira semakin melototkan matanya.
Aro akan menyentuhnya! Oh tidak! Apakah dia pria gila. Ada anaknya yang masih kecil dan Aro ingin melakukan hal aneh-aneh.
Dia pria tidak waras!
Belum selesai Zira mengutuk Aro di dalam pikirannya. Ternyata pikiran Zira salah. Tangan Aro terulur untuk menutupi telinga mungil Azel yang terlelap.
Zira bingung dan menatap tangan Aro dan wajah Aro secara bergantian. Untuk apa menutup telinga Azel ? Satu telinga Aro lainnya menempel pada d**a Zira dan telinga satu lagi ditutupi oleh tangan besar Aro.
Aro tersenyum kecil dan membuat Zira hampir lupa ingatan seketika. Ditambah dengan aroma tubuh Aro yang menguar di sekeliling Zira.
"Tidak hanya menikah saja denganku. Tetapi kau juga harus memenuhi 'Kebutuhanku'" ucap Aro dengan suara pelannya dan mata Zira melotot kembali, mungkin saja saat ini matanya akan lepas.
"Kau tidak mau anakku dengar tentang 'Kebutuhan Ayahnya' bukan ?"
*_*_*