Hotel Mulia bersinar seperti istana kaca di tengah malam Jakarta.
Aku melangkah keluar dari taksi bukannya bus, karena Dante telah mengirimkan amplop berisi uang transportasi pagi tadi, seolah menegaskan bahwa sekretarisnya tidak boleh naik kendaraan umum ke acara penting. Gaun hitam sederhana yang kupakai terasa terlalu murah untuk tempat ini, tapi itu bagian dari penyamaranku. Clara si sekretaris polos tidak akan datang dengan gaun desainer.
"Selamat malam, Mbak." Seorang pria berjas hitam menyambutku di lobi. "Bapak Morano sudah menunggu di ballroom. Silakan ikuti saya."
Aku mengangguk dan mengikutinya melewati lobi hotel yang berkilauan emas. Lampu kristal menggantung di langit-langit. Tamu-tamu berbusana mahal tertawa renyah di sudut-sudut lounge. Semua begitu normal, begitu beradab, begitu jauh dari gambaran "jamuan mafia" yang selama ini kubayangkan.
Tapi serigala tidak selalu menunjukkan taringnya di siang hari, pikirku.
Pria itu membawaku ke ballroom di lantai tiga. Pintu besar terbuka, dan pemandangan di dalam membuat langkahku melambat sejenak.
Ruangan itu dihias dengan tema hitam dan emas. Meja bundar dengan taplak sutra hitam. Lilin-lilin tinggi yang nyalanya bergetar pelan. Tamu-tamu dalam gaun malam dan jas mahal. Pelayan membawa nampan sampanye. Piano live di sudut ruangan, memainkan lagu klasik yang tidak kukenal.
Semua tampak seperti pesta pernikahan kelas atas.
Kecuali satu hal: di setiap sudut ruangan, ada pria berjas hitam yang berdiri dengan tangan terlipat. Mereka tidak minum. Tidak bicara. Hanya menonton.
Seperti di kantor. Seperti di mana pun Dante berada.
"Clara."
Aku menoleh. Dante berjalan ke arahku.
Malam ini ia mengenakan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Rambutnya disisir rapi, tapi ada sesuatu di matanya yang lebih gelap dari biasanya. Mungkin karena pencahayaan. Mungkin bukan.
"Tepat waktu," katanya, sudut bibirnya terangkat tipis. "Bagus."
"Terima kasih, Pak."
Ia mengulurkan lengannya. "Kau akan duduk di mejaku malam ini."
Aku menatap lengannya, lalu menatap wajahnya. "Bukankah saya seharusnya duduk di meja belakang? Biasanya sekretaris—"
"Malam ini kau bukan sekretaris," potongnya. "Malam ini kau... tamu saya."
Ada penekanan aneh pada kata "tamu". Tapi aku tidak punya pilihan selain menerima lengannya.
Sentuhan itu—tanganku di lengannya—membawa kembali seribu kenangan yang tidak kuinginkan. Lengan yang sama yang dulu membimbingku ke mobil saat ia menculikku. Lengan yang sama yang pernah kupukuli dengan tinju kecilku sambil menangis histeris, dan ia hanya diam.
Fokus, perintahku pada diriku sendiri.
Dante membawaku ke meja utama. Di sana sudah duduk empat orang yang langsung membuat kewaspadaanku naik ke level maksimum.
"Perkenalkan. Clara, sekretaris pribadi saya yang baru." Dante menarik kursi untukku—sebuah gestur yang membuat beberapa tamu mengangkat alis. "Clara, ini Tuan Hendrawan, pemilik grup media. Di sebelahnya, Nyonya Indira, pengusaha properti. Lalu Tuan Ruslan, importir. Dan di ujung sana, Tuan Agus, kolega lama."
Semua nama terdengar legal. Semua jabatan terdengar resmi. Tapi caranya memperkenalkan mereka—dengan jeda mikro di setiap nama, seolah memilih kata dengan hati-hati—membuatku yakin bahwa ini bukan sekadar pengusaha biasa.
Aku tersenyum dan menyapa satu per satu. Mereka membalas dengan sopan. Tapi aku bisa merasakan tatapan mereka menilaiku.
"Jadi," kata Nyonya Indira—wanita berambut pendek dengan kalung berlian yang terlalu besar untuk sekadar aksesori—"Dante akhirnya punya sekretaris baru. Yang sebelumnya... kemana, ya?"
"Pindah ke luar negeri," jawab Dante datar.
Aku mencatat itu dalam kepalaku. Sekretaris sebelumnya. Pindah ke luar negeri. Atau dikubur di luar negeri?
---
Jamuan dimulai dengan sopan. Makanan datang—steak yang empuk, kentang truffle, asparagus panggang. Sampanye mengalir. Obrolan ringan tentang bisnis, properti, dan berita terkini.
Tapi di balik semua itu, ada arus bawah yang hanya bisa kurasakan karena aku mencarinya.
Tuan Hendrawan menyebut "pengiriman barang" yang tertunda di pelabuhan. Tuan Ruslan menanyakan "persentase baru" dengan suara yang terlalu rendah untuk didengar meja lain. Dan Tuan Agus—pria tua dengan janggut putih—terus menatapku dengan senyum yang membuat kulitku merayap.
"Clara masih muda," kata Tuan Agus tiba-tiba, memotong obrolan yang sedang berlangsung. "Berapa umurmu, Nona?"
Semua mata di meja beralih padaku.
"Dua puluh tiga, Pak."
"Dua puluh tiga." Ia mengangguk pelan. "Sama seperti anak saya. Tapi anak saya tidak secantik Anda."
Tawanya pecah. Beberapa orang di meja ikut tertawa.
Aku tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak."
Dante tidak tertawa. Di sebelahku, ia meletakkan pisau steiknya dengan gerakan yang terlalu pelan, terlalu hati-hati.
"Clara adalah aset berharga," kata Dante, suaranya tenang tapi penuh makna. "Saya harap semua orang di meja ini bisa menghargainya."
Itu peringatan. Jelas sekali. Bahkan Tuan Agus yang tampaknya cukup berpengaruh langsung berhenti tersenyum.
"Tentu saja," katanya, mengangkat gelas. "Untuk sekretaris baru yang cantik."
Semua orang minum. Aku ikut mengangkat gelas.
Tapi mataku menangkap sesuatu: tangan Tuan Ruslan di bawah meja, mengetik cepat di ponselnya. Dan beberapa detik kemudian, ponsel Dante bergetar.
Dante melirik layar ponselnya. Wajahnya tidak berubah. Tapi rahangnya menegang—sangat tipis, hampir tidak terlihat.
Sesuatu sedang terjadi.
---
Makan malam berakhir pukul sembilan. Tapi acara belum selesai.
"Ruang merokok," bisik Dante padaku, bangkit dari kursinya. "Ikut."
Aku mengikutinya—bukan ke ruang merokok, melainkan ke koridor belakang ballroom, lalu ke sebuah lift kecil yang sepertinya hanya untuk staf. Dante menekan tombol dengan kode akses, dan lift mulai turun.
"Ada apa, Pak?"
"Kau akan lihat."
Lift berhenti di lantai parkir bawah tanah. Pintu terbuka.
Dan aku langsung tahu bahwa malam ini tidak akan berakhir dengan sampanye dan steak mahal.
Di depan kami, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, seorang pria berlutut. Tangannya diikat di belakang punggung. Wajahnya bengkak, berlumuran darah. Dua pria berjas hitam berdiri di sampingnya—salah satunya memegang pistol.
"Ini," kata Dante, berjalan ke arah pria itu dengan langkah santai, "adalah Andi. Mantan karyawan saya. Dia pikir dia bisa mencuri dari saya dan lolos begitu saja."
Nama Andi muncul di salah satu dokumen yang k****a minggu lalu. Bendahara bawah. Mengelola rekening kecil.
Kau ketahuan, pikirku getir. Kasihan sekali kau.
Dante berjongkok di depan Andi. "Aku sudah memberimu gaji besar, Andi. Rumah. Mobil. Sekolah untuk anakmu. Dan kau membalasnya dengan mencuri tiga miliar dari perusahaanku?"
"Da-Dante... aku janji akan kuganti... tolong..."
"Aku tahu kau akan mengganti." Dante berdiri. "Tapi ini bukan tentang uang. Ini tentang kepercayaan."
Ia menoleh padaku.
"Clara. Ke sini."
Darahku membeku.
Aku berjalan mendekat, berusaha menjaga wajahku tetap tenang. Para bodyguard menatapku dengan ekspresi datar.
"Pegang ini."
Dante menyodorkan pistol—sebuah Glock hitam mengilap—ke tanganku.
"Pak..." Suaraku bergetar, dan kali ini bukan akting. "Saya tidak mengerti..."
"Kau tidak perlu mengerti. Pegang saja."
Aku mengambil pistol itu. Tanganku gemetar—nyata, bukan palsu. Sudah lama sejak terakhir kali aku memegang senjata api, dan tidak pernah seperti ini. Tidak pernah dengan seorang pria berlutut di depanku memohon ampun.
"Bagus," bisik Dante. Ia berdiri di belakangku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan dadanya menyentuh punggungku. "Sekarang... arahkan ke dia."
"Pak..."
"Arahkan."
Aku mengangkat pistol itu. Ujung laras bergetar mengarah ke dahi Andi. Pria itu menangis sekarang. Air mata dan darah bercampur di pipinya.
"Tidak... tolong... aku punya anak..."
"Aku tahu," kata Dante. "Itu kenapa aku tidak membunuh keluargamu. Hanya kau."
Ia mencondongkan kepalanya ke telingaku. Suaranya rendah, hanya untukku.
"Tapi aku ingin kau yang menarik pelatuknya, Clara."
Aku tidak bergerak.
"Kau lihat," lanjut Dante, "seorang sekretaris biasa mungkin akan pingsan sekarang. Atau menjerit. Atau memohon padaku untuk berhenti. Tapi kau..."
Aku merasakan tangannya menyentuh tanganku yang memegang pistol—lembut, hampir seperti belaian.
"Kau hanya berdiri di sini, memegang senjata, dengan detak jantung yang bahkan tidak meningkat."
Aku tidak bernapas.
"Jadi," bisik Dante di telingaku, "sekarang katakan padaku... siapa kau sebenarnya?"
---
Detik-detik berikutnya terasa seperti selamanya.
Suara Andi yang menangis. Dengung lampu neon di atas kepala. Jantungku sendiri yang berdegup di telinga—ternyata dia salah, jantungku meningkat, hanya saja aku sudah terlatih untuk menutupinya.
Dia tidak tahu, kataku pada diriku sendiri. Ini jebakan. Dia menduga, tapi dia tidak tahu. Kalau dia tahu, kau sudah mati.
Aku menurunkan pistol itu perlahan.
"Saya Clara," kataku, suaraku bergetar dengan intensitas yang tepat—cukup untuk terdengar ketakutan, tidak cukup untuk terdengar palsu. "Saya sekretaris Bapak. Saya tidak tahu apa yang Bapak inginkan dari saya, tapi saya... saya tidak bisa membunuh orang."
Dante diam.
Lalu ia tertawa.
Bukan tawa jahat yang kudengar dari film-film. Tapi tawa rendah, dalam, hampir terdengar... kagum?
"Kau mengecewakanku," katanya. Tapi senyum di wajahnya mengatakan sebaliknya. "Kupikir kau akan lebih... menarik."
Ia mengambil pistol dari tanganku dengan gerakan cepat, mengarahkannya ke Andi, dan—
Dor!
Satu tembakan.
Andi jatuh ke samping. Darah menggenang di lantai beton parkiran.
Aku tidak menutup mata. Aku tidak berpaling. Aku memaksakan diriku untuk menonton.
Karena Clara si sekretaris polos mungkin akan pingsan sekarang. Tapi Valeria—Valeria yang pernah melihat mayat dibuang ke sungai, Valeria yang pernah tidur di kamar sebelah ruang penyiksaan—Valeria hanya menatap dengan mata lebar dan lutut gemetar, dan itu sudah cukup untuk terlihat "normal".
"Bersihkan ini," perintah Dante pada anak buahnya. Lalu ia meraih lenganku dan membawaku kembali ke lift.
Pintu lift tertutup. Kami naik dalam diam. Musik klasik dari ballroom terdengar sayup-sayup begitu pintu terbuka.
Dante melepaskan lenganku. Ia menatapku lama—terlalu lama.
"Kau berbeda dari sekretaris yang lain," katanya akhirnya.
"Saya tidak tahu apa maksud Bapak."
"Tentu saja kau tahu." Ia merapikan dasi kupu-kupunya di pantulan kaca lift. "Dan aku akan mencari tahu apa yang kau sembunyikan, Clara... atau siapa pun namamu."
Pintu lift terbuka ke lobi utama.
"Besok masuk seperti biasa," kata Dante, melangkah keluar. "Dan jangan terlambat."
Aku berdiri di dalam lift, menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Dia tahu ada sesuatu, pikirku, jantungku akhirnya berdegup kencang sekarang. Tapi dia belum tahu apa.
Aku menekan tombol lobi. Lift turun.
Saat aku berjalan keluar hotel, malam Jakarta menyambutku dengan angin hangat dan suara klakson. Aku naik taksi, menutup pintu, dan baru di dalam taksi aku membiarkan diriku bernapas.
Tanganku gemetar hebat. Bukan karena melihat pembunuhan. Bukan karena hampir disuruh membunuh.
Tapi karena satu momen itu—saat Dante berbisik di telingaku, saat tangannya menyentuh tanganku—aku merasakan sesuatu selain takut.
Aku merasakan... amarah.
Bukan pada Dante. Bukan pada situasi.
Tapi pada diriku sendiri. Karena untuk satu detik—satu detik yang sangat singkat—aku hampir lupa bahwa pria itu adalah monsternya.
Dan monster tidak seharusnya membuatmu merasa dilindungi.
---
Pukul 02.13 dini hari.
Aku tidak bisa tidur. Aku duduk di lantai apartemenku, di depan papan investigasi, menatap foto-foto yang tertempel.
Tanganku masih sedikit gemetar.
Di ponsel pribadiku, ada pesan dari teman lamaku—satu-satunya orang yang tahu identitas asliku.
"Gimana hari pertama?"
Aku mengetik balasan:
"Dia curiga. Tapi belum tahu."
"Hati-hati, Val. Dia bukan orang bodoh."
"Aku tahu."
Aku meletakkan ponsel dan menatap foto Dante di papan. Foto itu diambil dari kejauhan—Dante sedang keluar dari mobilnya, jas hitam, wajah datar.
"Kau ingin tahu siapa aku?" bisikku pada foto itu. "Aku adalah hantu yang kau kira sudah mati. Dan aku akan menghancurkanmu... setelah aku selesai mengambil semua yang kau miliki."
Aku menempelkan foto baru di papan: sketsa kasar denah lantai bawah tanah Diamond Corp yang berhasil kucatat dalam ingatan malam ini.
Satu langkah lebih dekat.