Seminggu berlalu sejak malam di parkiran bawah tanah. Aku tidak bisa tidur nyenyak selama seminggu itu. Setiap kali memejamkan mata, aku mendengar suara tembakan. Setiap kali terbangun, aku melihat wajah Andi. Pria yang bahkan tidak kukenal berluluran darah di lantai beton.
Bukan rasa bersalah yang membuatku terjaga. Aku sudah terlalu lama hidup di dunia gelap untuk merasakan itu.
Yang membuatku terjaga adalah pertanyaan yang terus berputar di kepalaku: Seberapa banyak yang Dante ketahui?
Dia mencurigaiku. Itu jelas. Tapi mencurigai bukan berarti mengetahui. Selama dia belum punya bukti, selama dia belum menghubungkan "Clara si sekretaris" dengan "Valeria si gadis culikan", aku masih aman.
Setidaknya itulah yang terus kuulangi pada diriku sendiri.
---
Hari Senin pagi, aku tiba di kantor pukul 07.30. Lebih awal dari biasanya.
Lobi masih sepi. Bahkan Mira si resepsionis belum datang. Hanya ada dua satpam yang mengangguk malas saat aku menunjukkan kartu identitas karyawan.
Lift meluncur ke lantai empat puluh dua. Pintu terbuka. Lantai eksekutif kosong. Tidak ada Rina. Tidak ada bodyguard di sudut-sudut. Hanya deretan meja kosong dan pintu kayu gelap Dante di ujung lorong.
Ini kesempatan, bisik sebuah suara di kepalaku.
Aku berjalan ke mejaku seperti biasa. Siapa tahu ada kamera tersembunyi. Menaruh tas, menyalakan komputer, dan minum seteguk air dari botol. Lalu aku bangkit dan berjalan ke pantry.
Pantry kosong. Tapi bukan itu tujuanku. Di sebelah pantry, ada pintu kecil bertuliskan "RUANG SERVER—HANYA PETUGAS". Pintu itu selalu terkunci. Tapi hari ini... hari ini ada kabel ekstensi yang menjulur dari bawah pintu, menjepitnya sedikit terbuka.
Seseorang menggunakan ruang server tadi malam dan lupa menguncinya rapat-rapat.
Aku melirik ke kiri-kanan. Tidak ada siapa-siapa.
Langkahku pelan saat mendekati pintu itu. Jemariku menyentuh gagangnya. Dingin.
Kalau ada kamera di sini, aku bisa bilang aku mencari Rina. Tersesat. Polos.
Aku mendorong pintu itu.
Ruangan kecil dengan dinding abu-abu dan rak-rak logam yang dipenuhi perangkat keras. Dengung rendah dari puluhan server yang bekerja. Udara dingin AC yang disetel maksimal. Lampu neon putih yang satu di antaranya berkedip-kedip.
Tidak ada orang.
Aku melangkah masuk.
Server-server itu dilabeli dengan kode-kode: FIN-01, HR-02, OPS-03. Masing-masing mewakili divisi berbeda. Tapi yang kucari adalah label yang berbeda—label yang tidak standar.
Dan aku menemukannya.
Di rak paling belakang, sebuah server kecil dengan stiker hitam bertuliskan: AR-00.
AR. Archive? Atau... sesuatu yang lain?
Aku tidak bisa mengakses isinya dari sini. Tapi aku bisa melakukan sesuatu yang lebih sederhana: memasang bug kecil di bagian belakang server itu—sebuah chip sebesar kuku yang bisa merekam data yang masuk dan keluar dari server ini. Aku sudah membawanya setiap hari di dalam lipstik palsu, menunggu momen yang tepat.
Jemariku bekerja cepat. Buka casing. Pasang chip. Tutup kembali.
Tiga puluh detik. Tidak lebih.
Aku berbalik dan berjalan keluar. Pintu kututup seperti semula—masih sedikit terbuka karena kabel, persis seperti saat kutemukan.
---
Pukul 08.00, Rina datang. Pukul 08.15, para bodyguard mulai berdatangan dan mengambil posisi. Pukul 09.00 tepat, Dante muncul.
Aku sudah duduk di mejaku, mengetik laporan yang diminta Rina, seolah tidak ada yang terjadi.
"Clara." Dante berhenti di depan mejaku. Hari ini ia memakai jas abu-abu gelap, lebih muda dari biasanya, tapi tetap dengan aura yang sama: dingin, tajam, berbahaya.
"Selamat pagi, Pak."
"Masuk ke ruangan saya. Sekarang."
Jantungku mencelos. Apakah dia tahu? Apakah ada kamera di ruang server yang tidak kulihat? Apakah—
"Sekarang, Clara."
Aku bangkit dan mengikutinya.
---
Ruang kerja Dante terasa lebih pengap dari biasanya. Atau mungkin hanya perasaanku.
Dante duduk di kursinya, membuka laptop, dan memutar layarnya ke arahku.
"Ini."
Aku menatap layar. Sebuah tabel. Angka-angka.
"Saya tidak mengerti, Pak."
"Laporan keuangan kuartal ini. Aku butuh kamu menyusun ringkasan eksekutif untuk rapat pemegang saham minggu depan."
Aku hampir tertawa lega. Laporan keuangan. Hanya laporan keuangan.
"Rina biasanya yang mengerjakan ini, tapi dia sedang overload dengan persiapan audit." Dante menyandarkan punggungnya. "Kamu bilang di CV kamu punya pengalaman administrasi keuangan."
"Ya, Pak."
"Kalau begitu, buktikan. Aku ingin draft-nya di mejaku besok pagi."
Aku mengangguk. "Akan saya kerjakan, Pak."
Saat aku berbalik untuk pergi, suara Dante menghentikanku.
"Clara."
Aku menoleh.
Ia menatapku dengan mata cokelat gelap itu—mata yang selalu terlihat seperti sedang membaca sesuatu yang tersembunyi.
"Kamu datang jam setengah delapan tadi pagi," katanya.
Aku tidak menjawab.
"Kenapa?"
"Tidak bisa tidur, Pak. Jadi saya memutuskan untuk masuk lebih awal."
Dante memiringkan kepalanya. "Dan apa yang kamu lakukan selama setengah jam sebelum Rina datang?"
Napasku tertahan sepersekian detik. Dia punya akses ke rekaman CCTV. Dia sudah memeriksanya. Dia tahu aku tidak hanya duduk di meja.
"Saya ke pantry, membuat kopi. Lalu saya sempat mencari toilet. Saya masih belum hafal letaknya."
Dante menatapku lama. Terlalu lama.
"Toilet ada di sebelah kiri lift," katanya akhirnya. "Bukan di dekat pantry."
"Seperti yang saya bilang, Pak. Saya masih belum hafal."
Detik-detik berlalu. Dante menutup laptopnya.
"Kamu boleh pergi."
Aku keluar dari ruangannya dengan langkah yang kupaksakan tetap stabil. Begitu sampai di mejaku, aku duduk dan menatap layar komputer tanpa benar-benar melihatnya.
Dia tahu aku berbohong. Dia tahu aku bukan tersesat ke toilet. Tapi dia tidak menuduhku langsung.
Kenapa?
Karena dia belum punya bukti.
Atau karena dia sedang memainkan permainan yang lebih panjang?
---
Sore harinya, saat jam kerja hampir selesai, ponsel kantorku bergetar.
Bukan pesan teks. Panggilan.
Dari Dante.
Aku mengangkatnya. "Ya, Pak?"
"Ke ruangan saya. Bawa barang-barangmu. Kita ada janji di luar."
"Janji? Saya tidak ingat ada jadwal—"
"Karena ini bukan jadwal bisnis." Suaranya pelan, tapi tidak bisa dibantah. "Lima menit."
Klik. Panggilan berakhir.
Aku menatap ponsel itu dengan perasaan tidak enak. Tapi aku tidak punya pilihan.
Lima menit kemudian, aku sudah duduk di kursi penumpang mobil Dante—sebuah Maybach hitam yang interiornya berbau kulit mahal dan sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu seperti asap cerutu dan bahaya.
Dante menyetir sendiri. Tidak ada sopir. Tidak ada bodyguard yang mengikuti—setidaknya tidak yang terlihat.
"Kita ke mana, Pak?"
"Kau banyak bertanya."
"Itu bagian dari pekerjaan saya. Mengatur jadwal dan tahu ke mana kita pergi."
Sudut bibir Dante terangkat tipis. "Ada tempat. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Aku tidak bertanya lagi.
Mobil melaju meninggalkan pusat kota, melewati jalan-jalan yang kukenal terlalu baik. Jalan yang dulu kulewati setiap hari saat aku masih tinggal di rumah Dante. Jalan yang mengarah ke—
Tidak.
Tidak mungkin.
Maybach itu berbelok ke sebuah gerbang besar yang dijaga dua pria bersenjata. Gerbang terbuka. Mobil melaju masuk ke halaman luas yang ditumbuhi pohon-pohon tua dan rumput yang terpotong rapi.
Dan di ujung jalan kecil itu, berdirilah rumah itu.
Rumah Dante.
Rumahku. Dulu.
Rumah tiga lantai dengan fasad batu abu-abu dan jendela-jendela besar yang kini kulihat dengan mata yang berbeda. Dulu, jendela itu adalah jeruji penjaraku. Dulu, pintu itu adalah gerbang ke neraka yang tidak bisa kutinggalkan.
Dan sekarang... sekarang Dante membawaku kembali ke sini.
"Kenapa kita di sini?" Suaraku hampir bergetar. Hampir.
Dante mematikan mesin mobil dan menoleh padaku. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Aku mengikutinya dengan kaki yang terasa seperti batu.
Kami berjalan melewati pintu depan—pintu kayu jati dengan ukiran rumit yang kuingat dengan sempurna. Lorong dengan lampu kristal. Tangga melengkung ke lantai atas. Ruang keluarga dengan perapian yang tidak pernah kusentuh karena aku terlalu takut.
Semuanya sama.
Dan saat kami berbelok ke ruang duduk di sayap timur...
Aku melihatnya.
Seorang wanita tua duduk di kursi roda. Rambutnya putih seluruhnya, matanya sayu, kulitnya keriput. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang langsung kukenali. Garis rahang. Bentuk mata.
Ibu Dante.
Wanita yang dulu pernah kulihat sekilas—dan yang dulu kuanggap sebagai hantu yang menghuni rumah ini tanpa suara.
"Nak Dante," kata wanita itu, suaranya gemetar karena usia. "Kamu bawa tamu?"
Dante berjalan mendekatinya, berlutut di samping kursi rodanya. Gestur yang sama sekali tidak kuduga. Gestur yang... lembut.
"Bu," katanya, suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih... manusia. "Ini Clara. Sekretarisku yang baru."
Wanita tua itu menatapku. Dan kemudian—tanpa peringatan—ia tersenyum.
"Clara," ulangnya. "Kamu cantik. Mirip sekali dengan..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi aku tahu apa yang akan ia katakan.
Mirip sekali dengan Valeria.
---
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana, membeku di tempat.
Dante bangkit dan menatapku. "Ibuku sakit Alzheimer. Kadang dia ingat banyak hal. Kadang dia lupa segalanya. Tapi dia selalu... selalu bertanya tentang seseorang yang dulu pernah tinggal di sini."
"Kenapa Bapak membawa saya ke sini?" bisikku.
Dante menatap ibunya yang sudah kembali menunduk, memainkan ujung selimut di pangkuannya.
"Karena dia terus menanyakan gadis itu. Setiap hari. Dan aku pikir... mungkin dengan melihatmu, dia bisa tenang."
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Dante Morano—CEO mafia yang membunuh tanpa berkedip, pria yang menculikku dan mengurungku di rumah ini selama bertahun-tahun—kini berdiri di samping ibunya yang ringkih, dengan ekspresi yang tidak pernah kukenal sebelumnya.
Kerentanan.
Dan untuk pertama kalinya dalam misiku, aku merasakan sesuatu yang tidak seharusnya kurasakan.
Keraguan.
---
Malamnya, di apartemenku, aku duduk memeluk lutut di sudut kamar.
Papan investigasi di depanku. Foto Dante di tengah. Garis-garis merah yang menghubungkannya ke kejahatan-kejahatannya.
Tapi sekarang, di kepalaku, ada gambar lain: Dante yang berlutut di samping kursi roda ibunya. Dante yang suaranya berubah lembut. Dante yang menyebutku "sekretarisku" tapi membawaku ke rumahnya, ke keluarganya, ke satu-satunya tempat di dunia ini yang membuatku rapuh.
Dia monster, tegasku pada diriku sendiri. Dia membunuh orang tuaku. Dia menculikku. Dia menghancurkan hidupku.
Tapi kenapa—kenapa aku merasa ada sesuatu yang retak di dalam diriku malam ini?
Aku menatap foto orang tua angkatku di sudut papan. Wajah mereka yang tersenyum, memudar dimakan waktu.
"Aku janji," bisikku. "Aku akan menyelesaikan ini."
Tapi untuk pertama kalinya, suaraku tidak terdengar yakin.