Tiga hari sejak kunjungan ke rumah Dante, dan aku masih belum bisa menenangkan pikiranku.
Setiap malam aku terbangun dengan keringat dingin, mimpi yang sama berulang-ulang: seorang wanita tua di kursi roda, menatapku dengan mata sayu dan berkata, "Kamu mirip sekali dengan Valeria."
Aku tidak boleh goyah. Tidak sekarang. Tidak ketika aku sudah sedekat ini.
Bug yang kupasang di server AR-00 mulai mengirimkan data ke laptop usang yang kusembunyikan di balik papan investigasi. Malam ini, untuk pertama kalinya, aku punya cukup file untuk dianalisis.
---
Pukul 23.47.
Apartemenku gelap, hanya diterangi cahaya biru dari layar laptop. Di luar, hujan gerimis mengguyur Jakarta, suaranya seperti bisikan konstan di balik jendela.
Aku mengklik folder pertama.
File-file itu sebagian besar adalah laporan keuangan. Angka-angka yang tidak berarti bagiku. Transfer antar rekening dengan kode-kode aneh. Tapi ada satu folder yang berbeda.
"MORANO_INTERNAL_2011"
1. Tahun saat aku diculik. Tahun saat orang tua angkatku dibunuh.
Tanganku gemetar saat mengklik folder itu.
Isinya puluhan dokumen. Kontrak-kontrak. Foto-foto. Dan satu file PDF dengan nama yang membuat napasku tercekat:
"LAPORAN_OPERASI_MALAM_14_OKTOBER_2011.pdf"
14 Oktober 2011.
Malam saat hidupku hancur.
Aku membuka file itu.
---
Laporan itu ditulis dengan bahasa formal, bahasa militer, seolah ini operasi resmi dan bukan pembantaian berdarah.
Operasi: Pembersihan
Lokasi: Kompleks Villa Indah Blok C-7, Jakarta Selatan
Target: Pasangan suami istri (identitas terlampir)
Status: Terselesaikan
Target. Orang tuaku hanyalah "target".
Aku memaksa diriku untuk terus membaca, meski setiap kata terasa seperti pisau.
Detail Operasi:
Tim masuk pukul 21.30 melalui pintu depan dengan kunci duplikat. Target pria ditemukan di ruang tengah, target wanita di kamar tidur lantai dua. Kedua target dilumpuhkan tanpa perlawanan. Barang bukti dari dalam rumah telah diamankan.
Barang bukti? Barang bukti apa?
Aku scroll ke bawah. Lampiran. Foto-foto.
Dua foto pertama adalah gambar orang tua angkatku—wajah mereka yang kukenal seumur hidupku, sekarang hanya jasad dengan mata terbuka. Aku memaksa diriku untuk tidak menutup laptop dan memuntahkan isi perutku.
Tapi foto ketiga...
Foto ketiga membuatku berhenti bernapas.
Itu adalah foto sebuah ruangan. Ruangan bawah tanah. Dinding beton abu-abu. Lantai yang dilapisi plastik. Dan di tengah ruangan itu—sebuah meja logam dengan tali pengekang di keempat sudutnya.
Di atas meja itu, ada seorang anak perempuan.
Rambut hitam dikepang dua. Gaun merah—gaun yang sama yang kupakai di foto bersama orang tua angkatku. Wajah pucat, mata sembab, pipi basah oleh air mata.
Itu aku.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Di bawah foto itu, ada keterangan:
Barang bukti #3: Korban selamat (perempuan, usia 7 tahun) ditemukan di ruang bawah tanah properti target. Kondisi: dehidrasi, malnutrisi ringan, tanda-tanda kekerasan fisik. Korban diidentifikasi sebagai Valeria, menghilang dari panti asuhan "Kasih Ibu" tiga minggu sebelumnya. Status: dievakuasi oleh tim.
Duniaku berhenti berputar.
Dievakuasi.
Ruang bawah tanah.
Tanda-tanda kekerasan fisik.
Aku scroll lebih jauh. Mataku menemukan sebuah paragraf yang membuat semua yang kuketahui tentang masa laluku runtuh seketika.
Kesimpulan Investigasi Awal:
Pasangan suami istri yang menjadi target operasi teridentifikasi sebagai bagian dari jaringan perdagangan anak internasional. Properti mereka digunakan sebagai rumah aman untuk menampung anak-anak korban penculikan sebelum dikirim ke luar negeri. Korban selamat (Valeria, 7 tahun) adalah salah satu dari sedikit korban yang berhasil diselamatkan sebelum transaksi terjadi.
Tidak.
Tidak. Tidak. Tidak.
Orang tua angkatku. Mereka yang menyelamatkanku dari panti asuhan. Mereka yang membelikanku gaun merah. Mereka yang membacakan dongeng sebelum tidur.
Mereka adalah penjahat?
Mereka akan menjualku?
---
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana, menatap layar laptop dengan mata yang tidak berkedip.
Hujan di luar semakin deras.
Aku membaca ulang laporan itu. Dan lagi. Dan lagi. Mencari kesalahan. Mencari bukti bahwa ini palsu, bahwa Dante sengaja menanam file ini untuk menghancurkanku.
Tapi detailnya... detailnya terlalu akurat.
Alamat rumah. Deskripsi ruangan. Warna gaunku. Bahkan ada laporan medis dari malam itu—dokter yang memeriksaku setelah "evakuasi", mencatat luka-luka di pergelangan tanganku akibat ikatan tali.
Aku ingat luka-luka itu.
Aku ingat bertanya pada ibuku—ibu angkatku—kenapa tanganku sakit. Dan ia menjawab, "Kamu jatuh dari sepeda, sayang."
Aku tidak pernah jatuh dari sepeda.
Aku tidak pernah punya sepeda.
---
Pukul 03.00 dini hari.
Aku menelepon seseorang. Satu-satunya orang yang kupercaya.
Dua kali dering. Tiga kali.
"Halo?" Suara serak di ujung sana. "Val? Ini jam tiga pagi—"
"Revan." Suaraku bergetar. "Aku butuh bantuanmu."
Revan—teman sekaligus mantan jurnalis investigasi yang membantuku menyusun identitas palsu—langsung berubah waspada. "Ada apa? Dante menemukanmu?"
"Belum. Tapi... aku menemukan sesuatu." Aku menelan ludah. "Orang tuaku, Revan. Orang tua angkatku."
"Hm?"
"Aku perlu kamu selidiki mereka. Pakai semua kontakmu. Semua aksesmu. Aku perlu tahu... apa mereka benar-benar..."
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.
Revan diam sejenak. "Val, apa yang kamu temukan?"
"Aku tidak bisa cerita sekarang. Kirim saja hasilnya secepat mungkin. Tolong."
"Baik. Aku akan mulai besok pagi."
"Terima kasih."
Aku menutup telepon dan menatap langit-langit kamar yang retak.
Kalau laporan itu benar...
Kalau orang tua angkatku benar-benar bagian dari jaringan perdagangan anak...
Maka Dante tidak membunuh orang tuaku.
Dia membunuh para penculikku.
Dan aku—aku yang diculik dari panti asuhan, ditahan di ruang bawah tanah, akan dijual ke luar negeri—aku diselamatkan oleh monster yang selama ini ingin kuhancurkan.
---
Pagi datang dengan warna kelabu.
Aku tiba di kantor pukul 08.00, mataku sembab karena kurang tidur. Rina menatapku dengan alis terangkat tapi tidak bertanya. Para bodyguard di sudut lorong tidak memedulikanku.
Aku duduk di mejaku dan menatap pintu ruang kerja Dante.
Dia tahu, pikirku. Selama ini dia tahu. Dia tahu siapa orang tuaku sebenarnya. Dia tahu aku diculik. Dia tahu... dan dia tidak pernah memberitahuku.
Kenapa?
Kenapa dia membiarkanku membencinya selama ini?
Kenapa dia membiarkanku percaya bahwa dialah monsternya?
Pintu ruang kerja Dante terbuka. Ia melangkah keluar, mengenakan jas biru tua hari ini. Matanya menemukanku seketika.
"Clara. Masuk."
Aku bangkit dan mengikutinya. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca.
Begitu pintu tertutup, Dante duduk di kursinya dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa k****a.
"Kamu terlihat kurang tidur," katanya.
"Saya baik-baik saja, Pak."
"Tidak, kamu tidak." Ia menyandarkan punggungnya. "Tapi itu bukan urusanku. Ada hal lain yang ingin kubicarakan."
Aku menunggu.
"Minggu depan ada acara tahunan di rumahku. Penggalangan dana untuk yayasan Alzheimer—atas nama ibuku." Dante memainkan pulpen di jemarinya. "Aku ingin kamu hadir."
"Sebagai sekretaris?"
"Sebagai pendampingku."
Aku terdiam.
"Semua petinggi akan hadir," lanjutnya. "Mitra bisnis. Kolega. Orang-orang yang perlu melihat bahwa aku... stabil. Punya seseorang di sisiku."
"Kenapa saya?"
Dante meletakkan pulpennya. "Karena kamu berbeda. Aku sudah bilang itu."
Aku berbeda karena aku Valeria, pikirku getir. Dan kau tahu itu, kan? Kau pasti tahu.
Tapi aku hanya mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan hadir."
"Bagus." Dante membuka laptopnya, memberi isyarat bahwa pertemuan selesai.
Aku berjalan ke pintu. Tapi tanganku berhenti di gagangnya.
"Pak."
"Hm?"
Aku berbalik. "Malam itu... malam di parkiran. Anda bertanya siapa saya sebenarnya."
Dante mendongak. Matanya meredup.
"Kenapa Anda tidak pernah..." Aku berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Kenapa Anda tidak memaksa saya untuk menjawab?"
Detik-detik berlalu.
"Karena," kata Dante akhirnya, suaranya rendah, "aku ingin kau yang memutuskan sendiri kapan kau siap memberitahuku."
Ia kembali menatap laptopnya.
"Kamu boleh pergi sekarang, Clara."
Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Bukan takut. Bukan benci. Tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Penyesalan.