Clangg!!! Clangg!!!
Kedua senjata tersebut tiba-tiba patah hanya karena jepitan Dewa Maut. Semua kejadian ini berlangsung sangat cepat sekali. Kedua orang tua asing itu sangat terkejut setengah mati.
Seumur hidup, mereka baru mengalami kejadian yang sangat memalukan ini. Keduanya tokoh kelas atas, kejadian yang mereka alami sekarang benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya. Kebesaran nama yang sudah mereka pupuk selama puluhan tahun, ternyata harus rela runtuh hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat.
Dunia seakan hancur. Begitu juga dengan ketenarannya. Semuanya luluh lantak menyatu dengan tanah.
Amarah dan benci dalam tubuhnya terasa semakin kental. Kedua orang tua itu menggertak gigi. Mereka melanjutkan serangan berikutnya yang tidak kalah hebatnya.
Kutungan masing-masing senjata dua orang itu diputar lalu di tusukan ke arah kerongkongan dan d**a sebelah kanan.
Wushh!!!
Sinar kehitaman meluncur sangat cepat sekali. Tidak ada perubahan yang terjadi. Yang nampak hanyalah sinar itu meluncur deras ke arah kedua tokoh tersebut.
Detik berikutnya adalah serangan yang dilancarkan mereka berhenti di tengah jalan. Seluruh gerakan mereka juga terhenti. Niat untuk membunuh Dewa Maut dengan kutungan senjata yang tersisa ternyata hanyalah khayalan.
Keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Karena begitu gerakan mereka berhenti, kehidupannya juga berhenti. Nyawa mereka melayang tanpa disangka-sangka. Kedua orang tua itu tidak dapat melihat serangan macam apa yang dilakukan oleh Dewa Maut.
Mereka hanya mampu melihat kelebatan sinar hitam yang menerjang ke arahnya. Selanjutnya kedua orang tua tersebut merasakan ada benda yang sangat dingin telah menembus tenggorokannya.
Satu kali Dewa Maut melancarkan serangan, dua nyawa telah melayang. Entah bagaimana cara pemuda itu melakukan dua serangan sekaligus, yang jelas semua ini sungguh diluar dugaan siapapun.
Kecepatannya dalam menusuk, ketepatannya dalam menyerang, benar-benar dilakukan dengan perhitungan yang sangat-sangat matang. Di dunia ini, mungkin hanya dia atau beberapa orang saja yang sanggup melakukan hal tersebut.
Darah muncrat ke segala arah. Rumput yang kering menjadi basah oleh percikan darah dua tokoh tua tersebut. Tetapi meskipun darah itu muncrat ke mana-mana, ternyata tidak setetes pun darah yang menempel di Golok Iblis itu.
Golok itu masih hitam. Masih membawa hawa kematian. Masih membawa rasa menyeramkan. Sama sekali tidak berubah. Seperti juga Dewa Maut sendiri yang tidak akan berubah.
Dua sosok ambruk ke tanah dalam posisi telungkup. Keduanya tewas tanpa mengeluarkan rintihan ataupun erangan saat menjelang kematiannya. Bibir mereka seolah terkunci oleh rasa mengerikan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Angin musim dingin berhembus menerpa tubuh Dewa Maut. Rambutnya berkibar dengan anggun. Bau amis darah tercium oleh sapuan angin tersebut.
Dewa Maut melanjutkan langkah kakinya. Langkahnya masih sama. Cara jalannya pun masih sama.
Hanya saja dalam waktu singkat, ternyata Dewa Maut telah berada jauh dari tempat pertarungannya tadi. Perlahan namun pasti, Dewa Maut sudah hilang dari pandangan. Tubuhnya seakan tertelan oleh sinar keemasan yang diberikan oleh Sang Surya.
###
Dewa Maut tadinya merupakan pemuda yang sangat ramah kepada siapapun. Dia mempunyai banyak sahabat yang dekat sekaligus dapat diandalkan. Pemuda itu selalu percaya kepada orang lain.
Tetapi akibat dari kepercayan itu, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan pada akhirnya terjadi. Adik wanitanya yang sangat dia sayangi, bahkan mungkin Dewa Maut lebih menyayanginya dari pada menyayangi nyawa sendiri, telah tewas dibunuh oleh sekelompok orang.
Saat kejadian itu, usia adiknya baru menginjak delapan belas tahun. Usia delapan belas tahun adalah masa-masa terindah bagi setiap remaja. Baik itu pria maupun wanita.
Sayangnya, keindahan dan keseruan masa remaja tidak dapat dirasakan lebih lama oleh adik Dewa Maut yang bernama asli Anjasari Kencana Puteri. Gadis maha cantik itu tewas mengenaskan. Kematiannya diketahui setelah beberapa hari dari kejadian tragis tersebut. Hal itu dapat diketahui karena pada saat Dewa Maut menemukannya, seluruh tubuh Anjasari sudah kaku dan sedikit mengeluarkan bau busuk.
Dia ditemukan di belakang rumah sederhana yang dibelikan oleh kakaknya sendiri, Dewa Maut. Bahkan yang menemukan jasadnya juga Dewa Maut sendiri.
Belasan luka tusukan dan sayatan ditemukan di sekujur tubuhnya. Leher sang adik hampir putus. Wajahnya juga penuh dengan luka senjata tajam.
Saat itu, hati Dewa Maut benar-benar hancur. Hatinya terasa seakan ditusuk oleh puluhan ribu duri yang sangat tajam. Sakitnya bukan alang kepalang. Di dunia ini, mungkin tidak ada kesakitan yang dapat menyamai sakitnya saat itu.
Dewa Maut merasa bahwa dunia benar-benar jahat kepadanya. Langit seperti pilih kasih. Kehidupan bahagia yang telah dijalani bersama adik kesayangannya selama sepuluhan tahun terakhir, harus berakhir tragis.
Di dunia ini, siapa yang dapat membayangkan bagaimana perasaan Dewa Maut pada saat menemukan jasad adiknya tersebut?
Siapapun tidak akan ada yang dapat merasakannya.
Setiap masalah yang dihadapi oleh seorang manusia, pasti membawa perasaan tersendiri. Dan terkait bagaimana perasaan itu, tidak akan ada yang pernah mengetahuinya secara pasti.
Orang lain hanya berusaha untuk mengerti. Hingga saat ini, belum ada satu orang pun yang dapat benar-benar mengerti tentang perasaan manusia lainnya.
Kalau manusia benar-benar mengerti tentang perasaan manusia lainnya, mungkin di dunia ini tidak akan ada kejahatan. Sebab siapapun pasti akan berpikir ribuan kali sebelum melakukan kejahatan itu sendiri.
Semenjak kematian adiknya tersebut, sosok Dewa Maut telah berubah drastis. Dia yang tadinya ramah menjadi sangat dingin. Pemuda yang tadinya selalu tersenyum, sekarang justru seperti orang yang tidak bisa senyum. Orang yang dikenal selalu senang bersahabat, menjadi orang yang tidak sudi mempunyai sahabat.
Semua itu terjadi hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat.
Kesedihan yang terlalu mendalam memang selalu memberikan akibat yang mengerikan. Kesedihan bisa menciptakan apa saja. Dan kesedihan juga bisa membuat segalanya berubah.
Sedahsyat itukah yang namanya kesedihan?
Dewa Maut benar-benar berubah menjadi pribadi yang sangat berlawanan dengan hari-hari sebelumnya.
Dia lebih suka menyendiri. Lebih suka untuk tidak banyak bicara. Dan yang utama, dia tidak mau percaya lagi kepada manusia. Kalau pun dia harus percaya, Dewa Maut harus memastikan dulu segalanya.
Bagaimanapun juga, kepercayaan pernah mendatangkan kecewa kepada dirinya. Ke dalam hidupnya.
Akibat terlalu percaya kepada manusia, dia menjadi mengalami sesuatu yang sangat mengerikan.
Kematian adik kesayangannya benar-benar menyedihkan. Walaupun tidak ada yang memberi tahu, tetapi Dewa Maut sudah tahu. Dia sudah paham bahwa di balik pembunuhan adiknya tersebut, ada seorang sahabat dekat yang ikut membunuhnya pula.
Namun terkait siapa nama sahabatnya itu, belum ada seorangpun yang tahu hingga saat ini.
Yang mengetahui hanya dirinya sendiri.
Menurut pandangan mata dan ketajaman perasaannya, dia yakin bahwa yang membunuh adiknya lebih dari tiga lima orang. Mungkin sekitar lima orang atau bahkan lebih. Tapi pelaku utamanya tentu hanya satu orang. Sedangkan sisanya hanya merupakan pembantu.