Tapi berapapun jumlah orang yang telah membunuh adiknya, Dewa Maut tetap bertekad untuk membunuh semuanya.
Jangankan hanya beberapa orang, sekalipun seratus atau bahkan seribu orang, Dewa Maut tetap akan membunuh mereka semua. Demi membalaskan kematian sang adik kesayangan, dia rela melakukan apapun.
Jika perlu, dia akan menantang para Dewa untuk berduel dengannya. Kalau memang harus, mungkin dia juga akan bertanya kepada langit, kenapa adiknya harus tewas di usia yang masih sangat muda?
Terkadang demi seseorang yang paling disayang, setiap manusia, siapapun orangnya, dia rela melakukan apa saja. Jangankan begitu, walau harus menyeberangi lautan api atau bahkan menghabisi nyawa sendiri, biasanya orang itu akan melakukannya dengan senang hati.
Rasa sayang hampir mirip dengan rasa cinta. Keduanya mempunyai kekuatan yang sangat besar. Keduanya juga mampu menyuruh manusia untuk melakukan apa saja.
Sebenarnya, kekuatan mana yang paling kuat? Rasa sayang? Atau rasa cinta?
Malam telah tiba.
Rembulan menggantung di atas cakrawala. Sebagian sinarnya tertutup oleh gumpalan awan kelabu. Seperti hati Dewa Maut yang saat ini sedang kelabu.
Suara decitan kelelawar dan suara jangkrik terdengar memecahkan keheningan. Suasana yang sepi mendadak terasa ramai. Sayangnya, suara-suara binatang malam itu tidak dapat meramaikan suasana hati Dewa Maut yang selalu merasa sepi.
Setelah kematian adiknya yang tewas mengenaskan itu, Dewa Maut sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia tidak memiliki teman, keluarga, atau bahkan sahabat. Teman setianya hanya kesepian. Sahabat karibnya hanya kesunyian. Dan keluarganya hanya kesendirian.
Selain mereka, siapa lagi?
Dewa Maut hanya mempunyai musuh. Musuh utamanya yang sekarang memang hanya beberapa orang, tetapi entah nantinya. Karena dia yakin, setiap melakukan pembunuhan, jumlah musuhnya akan selalu bertambah.
Dewa Maut berhenti berjalan. Sepasang kakinya tiba-tiba membawa dia ke pinggir sebuah danau yang luas.
Air danau itu berwarna biru sekaligus sangat jernih. Airnya sangat tenang. Angin malam berhembus membelai seluruh tubuhnya. Rambut panjang Dewa Maut turut berkibar tertiup hembusan angin.
Pantulan cahaya rembulan di atas permukaan air tampak indah. Seindah kenangan bersama adik kesayangannya. Sayang, semua keindahan itu tidak akan terulang kembali. Sebab sekarang, adiknya sudah mempunyai alam yang berbeda dengan dirinya.
Dewa Maut mulai termenung memikirkan hari-hari yang paling menyakitkan itu. Dia sedang mengingat kembali berbagai macam bentuk luka yang ada pada tubuh adiknya.
Dia adalah orang yang sangat cerdas. Sangat cekatan. Bahkan sangat berbakat dalam hal ilmu silat. Selain itu, dia juga mempunyai ingatan yang sangat tajam. Di Tanah Pasundan, mungkin tidak ada orang yang mampu mengalahkan kecerdasan ataupun ketajaman ingatannya.
Setelah beberapa saat mengingat kembali, Dewa Maut mulai teringat kepada berbagai macam luka yang ada di tubuh adiknya.
Dari luka itu, dia sudah dapat menduga siapa saja pelaku yang telah membunuh adiknya tersebut. Setelah semuanya jelas, Dewa Maut benar-benar dibuat terkejut setengah mati.
"k*****t. Tidak kusangka bahwa dia merupakan pelaku utama di balik peristiwa berdarah itu," gumam Dewa Maut seorang diri.
Siapakah sosok dia yang dimaksud? Apakah temannya, atau sahabatnya?
Hati Dewa Maut mendadak diliputi rasa dendam. Sekarang dia sudah mengetahui siapa tokoh utamanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang itu sanggup berbuat sekeji itu kepadanya.
Padahal, siapapun telah mengetahui bahwa orang itu adalah sahabatnya sendiri. Sahabat dalam segala situasi dan kondisi.
Siapa sangka, ternyata seorang sahabat juga sanggup melakukan perbuatan rendahan.
Rembulan semakin menggeser ke barat. Decitan suara kelelawar yang sedang bercanda bersama rekannya terdengar lebih ramai. Dewa Maut masih berdiri termenung.
Tubuhnya sedikitpun tidak bergerak. Jika dia memutuskan untuk tetap diam, jangankan nyamuk, tamparan manusia pun mungkin tidak akan mampu membuatnya bergerak walau sedikit.
Wushh!!!
Tiba-tiba desingan angin tajam lewat tepat satu buku jari dari telinganya. Tapi Dewa Maut masih tetap tak bergerak sedikitpun. Desingan barusan berasal dari luncuran pisau kecil yang dilempar dengan kecepatan luar biasa.
Kalau itu orang lain, mungkin saat ini satu telinganya sudah kutung jatuh ke bawah. Untungnya orang yang menghadapi pisau kecil tadi adalah Dewa Maut.
Dia hanya perlu memiringkan sedikit kepalanya agar bisa selamat dari pisau itu sesaat setelah jaraknya benar-benar dekat. Dia menghindari luncuran pisau tanpa menengok ke belakang sedikitpun. Saat menghindari serangan barusan, Dewa Maut tetap diam pada posisinya.
Yang bergerak hanya kepalanya. Itu pun cuma sedikit gerakan saja. Seolah kepala itu mempunyai mata di belakang sehingga bisa tahu ke mana harus bergerak.
"Akhirnya kau menampakkan diri juga," ujar Dewa Maut tanpa membalikkan badan.
Suasana di sana masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada seorang manusia pun kecuali dirinya. Namun siapa sangka, baru saja Dewa Maut berkata demikian, satu sosok berpakaian putih lusuh tiba-tiba sudah ada di sana.
Sosok itu berdiri dengan kokoh di belakang Dewa Maut. Caranya berdiri memperlihatkan bahwa dia bukanlah orang sembarangan.
"Apakah kau mencariku?" tanya sosok putih yang baru saja datang.
"Benar. Karena itulah aku rela menunggumu di tempat ini,"
"Oh? Apakah kau ingin bertanya sesuatu?"
"Tepat sekali," jawab Dewa Maut masih dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.
"Untuk apa kau mencariku?"
"Aku hanya yang ingin mengajukan tanya,"
"Lanjutkan,"
"Di mana kediaman si Pedang Setan Kembar?"
"Aku tidak tahu,"
Dewa Maut langsung merasa kesal saat itu juga. Dia paling benci jika bertanya kepada seseorang yang sebenarnya tahu, tapi pura-pura tidak tahu.
"Aku tidak menyangka bahwa Kakek Tua Berpengetahuan Luas ternyata masih bisa berbohong seperti saat ini,"
"Aku benar-benar tidak tahu," jawab si Kakek Tua Berpengalaman Luas.
"Dusta. Jika kau dapat memberitahuku, aku akan memberikan seratus keping perak untukmu," kata Dewa Maut dengan dingin.
Si Kakek Tua Berpengetahuan Luas atau yang bernama asli Surya Rasa mendadak menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku tidak berbohong," lanjut Dewa Maut lalu kemudian melemparkan satu kantong kecil kepada orang tua itu.
"Hehe, terima kasih," jawab si kakek tua itu setelah menerima seratus keping perak dari Dewa Maut.
"Sekarang katakan di mana kediaman si Pedang Setan Kembar,"
"Dia adalah orang yang menyukai kesendirian. Dia juga menyukai kesunyian, jadi tempat tinggalnya berada di atas bukit,"
"Bukit apa?"
"Bukit Pemakan Manusia,"
Dewa Maut sedikit terkejut. Bukit Pemakan Manusia adalah sebuah bukit yang katanya dipenuhi dengan segala jenis binatang liar. Setiap beberapa waktu sekali, selalu terjadi kasus-kasus kematian yang sulit dipecahkan.
Apakah kematian itu karena binatang liar penunggu bukit? Ataukah kematian itu diakibatkan karena keberadaan satu pendekar pedang kembar yang sakti mandraguna?
Tidak ada yang tahu pasti terkait dua pertanyaan di atas.
Namun yang jelas, setiap orang yang mampus di Bukit Pemakan Manusia, pasti kepalanya terbabat buntung. Selain kepala, anggota tubuh lainnya tidak ada yang mengalami luka sedikitpun.
Jadi, apakah ada seekor binatang yang mampu menebas buntung kepala manusia?