Beberapa hari berlalu, dan kehidupan Alana kembali pada rutinitasnya. Pagi hari yang tenang di kafe itu selalu memberinya waktu untuk berpikir, menciptakan cerita, dan menemukan inspirasi. Namun, satu hal yang selalu mengganggunya adalah pikiran tentang Reyhan.
Ia sering kembali teringat pada mata cokelat yang hangat itu, pada tawa yang meski singkat, namun memberikan rasa nyaman. Perasaan yang asing namun familiar, seperti sebuah kenangan yang terpendam. Alana berusaha fokus pada pekerjaannya, tetapi entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang hilang.
Hari itu, saat ia tengah menulis, pintu kafe terbuka lagi. Ia mendongak, dan untuk kesekian kalinya, ia melihat pria itu, Reyhan, masuk ke dalam kafe. Keduanya saling tersenyum saat mata mereka bertemu. Reyhan berjalan ke meja Alana, dan kali ini, ia duduk di depannya tanpa ragu.
"Kamu masih menulis?" tanya Reyhan, sedikit tersenyum.
Alana mengangguk, meski hatinya sedikit berdebar. "Iya, mencoba menyelesaikan sesuatu. Bagaimana dengan kamu?"
"Aku sedang mencari objek baru untuk foto. Tapi, mungkin aku bisa menemani kamu menulis, siapa tahu aku bisa jadi inspirasi," jawab Reyhan, dengan nada bercanda yang membuat Alana merasa lebih santai.
Hari itu, mereka berbicara lebih banyak tentang hidup, tentang mimpi, dan tentang perjalanan yang mereka lalui. Ternyata, Reyhan baru saja kembali dari luar negeri setelah melakukan pemotretan di beberapa negara. Ia berkeliling dunia untuk mengejar impiannya sebagai seorang fotografer, tetapi entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang belum ia temukan di luar sana.
"Aku merasa, meskipun aku sudah melihat banyak tempat, ada satu hal yang selalu aku cari-cari," kata Reyhan, menatap jauh ke luar jendela. "Dan aku rasa, aku menemukannya di sini."
Alana menatapnya dengan bingung. "Apa itu?"
"Dirimu," jawab Reyhan dengan lembut, hampir seperti sebuah bisikan.
Alana terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Perasaannya pun mulai kacau. Apakah ini cinta? Atau hanya perasaan sesaat yang akan hilang begitu saja?
Pertemuan itu tidak bisa begitu saja diabaikan. Seiring berjalannya waktu, mereka semakin dekat. Saling mengenal, saling berbagi cerita, dan saling melengkapi. Namun, ada satu hal yang selalu mengganjal dalam hati Alana. Reyhan seolah menyembunyikan sesuatu, ada rahasia yang tidak pernah ia ungkapkan.