Pagi itu, Reyhan mengundang Alana untuk berjalan-jalan di sepanjang pantai. Seperti biasa, hujan baru saja reda dan udara terasa segar. Mereka duduk di atas batu besar, menikmati pemandangan laut yang luas.
"Aku akan pergi ke luar negeri lagi," kata Reyhan tiba-tiba, dengan suara yang berat.
Alana menatapnya, perasaan hangat yang mulai tumbuh dalam hatinya tiba-tiba memudar. "Ke luar negeri lagi? Bukankah kamu sudah sering melakukannya?"
Reyhan mengangguk. "Tapi kali ini lebih penting. Aku mendapat tawaran besar untuk sebuah proyek di Paris."
Alana merasa seolah dunia berhenti sejenak. Ia tahu ini adalah kesempatan besar bagi Reyhan, namun ia juga merasa terikat dengan pria ini. Sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, namun sangat kuat.
"Jadi, kamu akan pergi lagi?" tanya Alana, suaranya nyaris tak terdengar.
Reyhan mengangguk pelan. "Ya, tapi aku ingin memberi tahu kamu terlebih dahulu. Karena... aku tak ingin meninggalkanmu tanpa kata."
Alana terdiam. Ada kekosongan yang muncul dalam hatinya, sebuah rasa kehilangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku tak tahu harus berkata apa, Reyhan."
"Aku tahu ini sulit, Alana. Tapi aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja."
Mereka duduk dalam keheningan selama beberapa menit, saling merenung tentang pilihan-pilihan yang ada. Masing-masing mereka tahu bahwa kehidupan mereka akan berubah, dan mereka tidak tahu apakah itu akan membawa mereka lebih dekat atau malah menjauhkan mereka satu sama lain.