Malam sebelum keberangkatan Reyhan, mereka bertemu di kafe yang sama. Reyhan duduk di hadapan Alana, wajahnya tampak serius.
"Aku harus pergi besok," katanya, matanya penuh dengan perasaan yang sulit dipahami. "Tapi, sebelum aku pergi, aku ingin membuat janji."
Alana menatapnya, hatinya dipenuhi dengan berbagai emosi. "Apa janji itu?"
"Janji untuk kembali. Aku akan kembali untukmu, Alana. Aku tahu apa yang aku rasakan, dan aku tidak ingin ini berakhir begitu saja."
Tetesan hujan mulai terdengar di jendela. Di luar, dunia seakan berhenti, dan di antara mereka, ada keputusan yang harus diambil. Alana merasa bingung, namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal: ia tak ingin kehilangan Reyhan.
"Janjimu itu... aku akan menunggu," jawab Alana, suaranya penuh dengan harapan.
Waktu berlalu, dan Alana melanjutkan hidupnya dengan segala kesibukan dan impian yang masih harus dicapainya. Namun, setiap kali hujan turun, ia selalu menunggu, berharap bahwa suatu hari Reyhan akan kembali.
Dan akhirnya, saat musim hujan kembali datang, pintu kafe itu terbuka lagi. Seorang pria dengan mantel basah berdiri di sana. Mata mereka bertemu, dan Alana tahu, inilah saat yang ditunggu-tunggu. Reyhan sudah kembali.
"Aku kembali, Alana. Seperti yang aku janjikan," katanya dengan senyuman yang tidak pernah terlupakan.
Di bawah hujan yang turun, mereka saling berpegangan tangan, siap menjalani kisah cinta mereka yang baru.