Waktu berlalu begitu cepat. Keberadaan Reyhan di samping Alana semakin menumbuhkan rasa nyaman di dalam hati mereka. Setelah lama terpisah, hubungan mereka kini tumbuh dalam ketenangan yang Alana rasa tak pernah ada sebelumnya. Di balik senyum Reyhan, ada kedamaian yang membuat setiap hari terasa berarti.
Namun, meskipun hujan sudah reda, ada beberapa hal yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Alana masih merasa ada sesuatu yang tertinggal—sebuah luka yang belum sepenuhnya sembuh. Reyhan memang kembali, tetapi ia tak menceritakan dengan jelas alasan ia pergi begitu lama. Setiap kali Alana mencoba menanyakan tentang kehidupannya selama di Paris, Reyhan selalu mengalihkan pembicaraan.
Pada suatu malam, setelah selesai makan malam bersama, Alana memutuskan untuk menanyakan hal itu sekali lagi. Mereka sedang duduk berdua di balkon apartemen Alana, memandangi langit yang kini mulai cerah, dengan bintang-bintang yang berkilauan di atas mereka.
"Reyhan," Alana memulai, suaranya penuh dengan ketegangan. "Kamu tidak pernah bercerita banyak tentang waktu yang kamu habiskan di Paris. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"
Reyhan terdiam beberapa detik, matanya menatap jauh ke horizon. Ia menghela napas panjang, seolah mencari kata-kata yang tepat. Alana bisa merasakan ketegangan di udara, seperti ada sesuatu yang ia takutkan untuk diungkapkan.
"Aku... aku sebenarnya punya alasan lebih besar mengapa aku pergi, Alana," jawab Reyhan, dengan suara yang agak berat. "Aku tidak pergi hanya untuk pekerjaan. Aku pergi karena aku merasa... aku kehilangan arah. Aku tidak tahu apa yang aku inginkan lagi dalam hidupku. Aku merasa aku sedang mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa aku raih, dan aku butuh waktu untuk menyendiri, untuk menemukan siapa diriku sebenarnya."
Alana mendengarkan dengan seksama, namun hatinya sedikit tergores. Kenapa Reyhan tidak pernah memberi tahu perasaannya yang sesungguhnya? Kenapa ia harus pergi tanpa penjelasan? Semua pertanyaan itu terpendam begitu saja, terbungkus oleh janji manis yang mereka buat.
"Aku merasa kehilangan, Alana," lanjut Reyhan, matanya kini tertuju pada tangan Alana. "Dan di Paris, aku menemukan jawabannya—aku menemukan diriku, dan aku sadar bahwa yang paling aku butuhkan, yang paling aku inginkan, adalah kamu. Aku ingin kembali kepadamu, Alana."
Alana menatapnya, namun hatinya masih dipenuhi keraguan. "Tapi kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal? Kenapa kamu harus pergi tanpa alasan yang jelas?"
Reyhan menunduk, merasa cemas dengan reaksi Alana. "Aku takut, Alana. Aku takut kamu tidak akan mengerti, atau bahkan mungkin kamu akan meninggalkanku. Aku takut jika aku memberitahumu, kita akan berpisah. Jadi, aku memilih untuk diam dan pergi."
Alana menatapnya dalam-dalam. "Dan sekarang? Apa yang kamu harapkan?"
Reyhan meraih tangan Alana, menggenggamnya dengan lembut. "Aku berharap kamu bisa memaafkanku. Aku ingin kita mulai lagi, dan kali ini, aku akan jujur padamu tentang semuanya. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita."
Alana menarik napas dalam-dalam. Perasaan yang selama ini terpendam mulai tumbuh kembali, namun ada satu hal yang membuatnya ragu. Dia tidak bisa begitu saja melupakan ketakutan dan keraguan yang ditinggalkan Reyhan.
"Aku ingin percaya padamu, Reyhan," kata Alana perlahan, suaranya tegas meski hati yang terpecah. "Tapi aku butuh waktu. Aku butuh waktu untuk bisa sepenuhnya percaya, dan aku harap kamu mengerti itu."
Reyhan mengangguk, matanya penuh dengan pengertian. "Aku akan menunggumu, Alana. Aku tahu aku tak bisa memaksamu. Aku hanya berharap kamu akan memberikanku kesempatan."