Pagi itu, langit membentang biru cerah tanpa sedikit pun awan menutupi, matahari bersinar hangat menyinari seluruh penjuru kota, seolah turut merestui hari baru yang penuh harapan. Sesuai perintah kemarin sore, Dara datang ke kantor lebih awal dari biasanya, sudah berpakaian rapi namun nyaman, lengkap dengan tas berisi berkas desain, alat ukur, dan catatan kecil yang sudah ia persiapkan matang-matang semalam. Rasanya sangat antusias dan juga sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia akan turun langsung ke lokasi proyek dan bekerja berdampingan sedekat ini dengan Raka Adhitama. Di benaknya masih terngiang-ngiang kalimat pengakuan singkat Raka kemarin: "Kali ini... cukup baik." Tiga kata sederhana itu, yang keluar dengan berat dan ketus, tapi bagi Dara itu adalah kemenangan terbesar, lebih berharga daripada pujian panjang lebar dari orang lain mana pun. Itu tandanya ia mulai diterima, mulai dianggap, dan mulai bisa menembus sedikit saja tembok tinggi yang mengelilingi hati laki-laki itu.
Tepat pukul tujuh pagi, mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang kantor. Pintu terbuka, dan Raka keluar dengan penampilan yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia tak lagi mengenakan jas formal kaku dan dasi ketat seperti di kantor, melainkan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang kancing atasnya dibuka sedikit, dan celana bahan yang pas di badan. Penampilan ini membuatnya terlihat lebih santai, lebih muda, namun tetap berwibawa dan memancarkan pesona yang sulit dijelaskan. Rambutnya yang hitam legam sedikit berantakan tertiup angin pagi, menambah kesan gagah dan alami. Dara yang sedang menunggu di dekat gerbang seketika terdiam dan hampir lupa bernapas, terpesona melihat sosok itu. Di luar dugaan, Raka yang tampil lebih santai justru terlihat jauh lebih menawan daripada saat ia berdandan formal lengkap.
"Cepat masuk. Jangan melamun di sana," suara berat Raka memecah lamunan Dara, meski kali ini nadanya tak setajam biasa, malah terdengar agak lembut. Ia sudah duduk di kursi pengemudi, menatap Dara lewat kaca jendela yang terbuka, ada kilatan senyum samar yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya.
Dara tersentak kaget, wajahnya memerah padam karena malu ketahuan sedang menatap bosnya sendiri. Ia buru-buru membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil dengan gerakan tergesa-gesa. "S-siap, Pak! Maaf," jawabnya gugup, menundukkan wajah berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Di dalam mobil, suasana hening namun terasa nyaman. Hanya terdengar suara mesin halus dan alunan musik klasik yang pelan. Dara duduk diam, tangannya memegang erat tas di pangkuannya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang tak wajar. Di sebelahnya, Raka menyetir dengan tenang dan fokus, tangannya yang besar dan kekar memegang kemudi dengan mantap. Sesekali ia melirik ke arah Dara sekilas, matanya meneliti gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah ada rasa puas yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya.
"Kamu tidur semalam?" tanya Raka tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya tetap lurus ke depan, tapi pertanyaan itu jelas ditujukan padanya.
Dara mengangkat wajah sedikit, bingung. "Tidur kok, Pak. Kenapa?"
Raka mendengus pelan. "Matamu masih terlihat lelah. Jangan berpikir kalau sudah diterima kerjanya, kamu boleh sakit-sakitan. Saya butuh kamu sehat dan fokus seharian di lapangan nanti. Di sana tidak ada waktu buat istirahat atau pingsan."
Dara tersenyum kecil dalam hati. Lagi-lagi cara bicara Raka selalu berbalut ketus dan perintah, tapi maknanya jelas: ia peduli. Ia khawatir. Perhatiannya selalu disampaikan dengan cara yang sulit dimengerti, khas Raka Adhitama.
"Jangan khawatir, Pak. Saya kuat kok. Semangat saya lebih besar dari rasa lelah saya," jawab Dara percaya diri, menatap samping wajah Raka dengan senyum cerah.
Raka tak menjawab lagi, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Di dalam hatinya, ia sangat menyukai semangat dan keteguhan hati gadis ini. Hal yang sudah lama hilang dari hidupnya, kini kembali hadir lewat sosok mungil yang duduk di sebelahnya ini.
Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Lokasi proyek pembangunan taman kota itu berada di pinggiran kota, di lahan luas yang dikelilingi pepohonan rimbun dan pemandangan alam yang indah. Begitu turun dari mobil, udara segar dan sejuk langsung menyapa hidung mereka, jauh berbeda dengan udara kota yang berdebu dan panas. Di sana sudah menunggu kepala tukang dan para pekerja yang langsung menyambut kedatangan mereka dengan hormat dan segan. Semua orang tahu betul siapa Raka Adhitama, bos besar yang jenius tapi sangat tegas dan sulit dipuaskan.
Selama berjam-jam berikutnya, Dara melihat langsung betapa hebatnya sosok Raka di tempat kerjanya. Ia bukan sekadar bos yang memberi perintah dari jauh. Raka turun langsung ke lokasi, berjalan mengelilingi setiap sudut lahan, mengukur, mengecek, meneliti setiap detail, dan memberi arahan pada para pekerja dengan sangat jelas, rinci, dan tegas. Pengetahuannya luar biasa luas, mulai dari struktur bangunan, jenis tanah, bahan material, hingga perhitungan teknis yang rumit sekalipun ia kuasai semuanya dengan sangat baik. Di saat memberi arahan, suaranya lantang, berwibawa, dan penuh keyakinan, membuat siapa pun yang mendengarnya langsung percaya dan patuh. Namun yang paling membuat Dara kagum, Raka juga sangat menghargai pendapat pekerja, mendengarkan masukan mereka, dan bersedia berdiskusi jika ada kendala teknis. Di mata Dara, Raka terlihat sangat bersinar saat sedang bekerja. Ia menyadari betul: sifat kaku dan dingin Raka itu muncul karena ia sangat mencintai pekerjaannya, sangat bertanggung jawab, dan sangat ingin hasil yang terbaik dan sempurna.
Dara sendiri tak diam saja. Ia ikut berkeliling, memegang berkas gambarnya, menjelaskan maksud desain, membantu mengukur, dan memastikan visi yang ia tuangkan di atas kertas bisa terwujud nyata di tanah ini. Sering kali ia dan Raka berbeda pendapat di lapangan, terjadi perdebatan kecil yang hangat namun sehat. Di satu sisi Raka memikirkan kekokohan dan ketahanan jangka panjang, di sisi lain Dara memikirkan keindahan, kenyamanan, dan keselarasan dengan alam. Namun setiap kali berbeda pandangan, mereka selalu menemukan jalan tengah yang brilian, menggabungkan ide keduanya menjadi sesuatu yang jauh lebih hebat dari rencana awal. Kerja sama itu berjalan begitu alami, begitu serasi, seolah mereka sudah bekerja bertahun-tahun bersama, bukan baru beberapa hari.
Menjelang siang, matahari bersinar semakin terik dan panas menyengat kulit. Keringat mulai membasahi dahi dan leher Dara, membuat rambutnya sedikit berantakan menempel di wajah dan leher. Ia berhenti sejenak di bawah pohon besar untuk beristirahat sebentar, mengipasi wajahnya dengan tangan sambil menghela napas lelah. Tenggorokannya terasa sangat kering, tapi ia lupa membawa botol minum sendiri. Ia melihat botol minumnya tertinggal di dalam tas yang ada di mobil, dan ia terlalu malas berjalan jauh kembali ke sana.
Tiba-tiba, sebuah botol air mineral dingin disodorkan tepat di depan wajahnya. Dara terkejut dan mendongak. Di sana berdiri Raka, wajahnya juga berkeringat, kemejanya sedikit basah di bagian punggung dan lengan karena keringat, tapi ia tetap tampak tenang dan gagah. Ia menatap Dara dengan pandangan yang sulit dimengerti, campuran antara perhatian dan ketegasan.
"Minum. Jangan sampai dehidrasi dan pingsan di sini. Saya tidak mau harus menggendongmu pulang," ucap Raka singkat, lalu meletakkan botol itu ke tangan Dara. Sentuhan jari mereka bersentuhan sekilas, dan Dara merasakan aliran listrik halus menjalar sekujur tubuhnya. Tangan Raka terasa hangat, kasar, tapi sangat nyaman dan menenangkan.
"Makasih, Pak," jawab Dara pelan, menundukkan wajah menyembunyikan rasa malu dan senangnya. Ia membuka botol itu dan meminumnya perlahan, air dingin itu terasa sangat segar dan melegakan tenggorokannya.
Raka berdiri di sana diam-diam, menatap wajah samping Dara yang sedang minum. Ia melihat butiran keringat yang meluncur turun di pipi gadis itu, melihat rambut hitamnya yang berantakan tertiup angin, dan melihat senyum kecil puas yang terukir di bibirnya. Hati Raka bergetar hebat, rasa yang asing namun kuat sekali merayap masuk ke seluruh relung hatinya. Selama bertahun-tahun, tak ada satu pun wanita yang bisa menarik perhatiannya lebih dari lima menit. Ia selalu merasa semuanya sama saja, dangkal, dan hanya tertarik pada harta dan namanya saja. Tapi Dara berbeda. Gadis ini datang tanpa kepura-puraan, datang dengan kemampuan nyata, datang dengan semangat yang menular, dan datang dengan ketulusan yang jarang ditemukan. Di samping Dara, Raka merasa dirinya bukan lagi bos besar yang ditakuti dan dijauhi, tapi sekadar Raka biasa, laki-laki yang bisa tertawa, bisa berdiskusi, dan bisa merasakan kehangatan kembali.
"Kamu tahu tidak?" suara Raka terdengar pelan dan berat, memecah keheningan di bawah pohon itu. "Selama saya bekerja bertahun-tahun, baru kali ini saya merasa proyek pembangunan terasa menyenangkan. Biasanya saya selalu buru-buru, selalu ingin cepat selesai, selalu melihatnya sebagai beban atau kewajiban. Tapi hari ini... rasanya berbeda. Rasanya seperti sedang membangun sesuatu yang punya arti."
Dara berhenti minum, menoleh dan menatap lurus ke manik mata Raka yang tampak jernih dan dalam. Di sana, tak ada lagi bos yang galak dan dingin. Di sana, terlihat laki-laki yang jujur, yang sedang membuka sedikit lagi pintu hatinya.
"Itu karena kita membangunnya bukan cuma pakai tangan dan pikiran, Pak. Tapi kita membangunnya pakai hati. Seperti yang saya bilang kemarin... bangunan ini nanti bakal jadi tempat orang-orang berkumpul, tertawa, bercerita, dan berbahagia. Kalau kita bangun dengan hati yang senang, kebahagiaan itu bakal menular ke siapa saja yang datang ke sini nanti. Dan... saya senang sekali bisa kerja sama sama Bapak. Bapak hebat banget, Pak. Saya belajar banyak hal hari ini, hal yang tidak bisa saya dapatkan dari buku atau kuliah."
Raka tersenyum lebar kali ini, senyum yang tulus, indah, dan menerangi seluruh wajahnya. Senyum yang jarang sekali dilihat orang lain, tapi kini terlihat jelas di depan mata Dara. Senyum yang membuat jantung Dara mau copot rasanya karena terlalu indah.
"Kamu memang gadis ajaib, Dara..." gumam Raka pelan, suaranya begitu lembut seolah hanya ingin didengar oleh angin saja. "Kamu datang mengubah segala hal yang saya yakini selama ini. Kamu masuk ke dunia saya yang kaku dan sepi ini, dan tiba-tiba semuanya jadi berwarna, jadi hidup, jadi indah. Saya takut kamu tahu... saya takut sama perasaan saya sendiri. Saya takut kalau saya mulai terbiasa sama kamu, nanti kamu hilang, atau kamu kecewa sama saya. Saya sudah pernah hancur sekali, Dara. Saya gak sanggup kalau harus hancur lagi."
Kalimat itu terucap begitu saja, keluar dari lubuk hati yang paling dalam, tanpa disaring lagi oleh akal sehat atau rasa gengsi. Dara terharu luar biasa, air matanya hampir jatuh mendengar pengakuan itu. Ia mengerti sekarang. Di balik segala kekakuan, keangkuhan, dan kesempurnaan yang ditampilkan Raka, tersembunyi rasa takut kehilangan yang begitu besar, rasa takut dikhianati yang begitu mendalam. Laki-laki ini sebenarnya sangat rapuh, sangat kesepian, dan sangat butuh seseorang yang bisa memegang tangannya dan berkata: "Aku ada di sini, aku tidak akan pergi."
Dara memberanikan diri, mengangkat tangannya yang kecil dan halus, lalu meletakannya di atas lengan kekar Raka yang terbuka lebar di samping tubuhnya. Sentuhan itu lembut, hangat, dan penuh kepastian.
"Pak Raka, lihat saya. Saya bukan orang yang datang cuma buat sementara. Saya ada di sini karena saya suka pekerjaan ini, karena saya menghargai Bapak sebagai atasan dan sebagai orang yang hebat. Dan percayalah... saya tidak akan pernah pergi kalau Bapak tidak mengusir saya. Saya tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Bapak. Kita sama-sama belajar ya? Bapak ajari saya soal ketelitian dan kekokohan, saya ajari Bapak soal kehangatan dan keindahan. Kita bangun semuanya sama-sama, di bawah langit yang sama ini."
Raka menatap tangan kecil di lengannya, lalu mengangkat wajahnya menatap mata Dara lekat-lekat. Di detik itu, di bawah naungan pohon besar, di tengah lahan kosong yang kelak akan jadi tempat bahagia banyak orang, ikatan di antara mereka berdua terjalin semakin kuat dan tak terlihat. Rasa yang samar-samar berubah jadi rasa yang jelas, rasa yang tumbuh diam-diam kini mekar indah.
Namun Raka sadar, ini baru permulaan. Masa lalu kelamnya belum sepenuhnya hilang, dan dunia luar yang keras belum tentu merestui hubungan mereka. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka merasa berani. Ia merasa punya alasan kuat untuk berjuang, untuk melupakan rasa sakit lama, dan untuk melangkah maju ke depan. Semuanya karena gadis bernama Dara ini.
"Ayo lanjut kerja," kata Raka pelan, tapi suaranya jauh lebih ringan dan bahagia dari sebelumnya. Ia menurunkan tangan Dara perlahan, tapi tak melepaskannya, malah menyentuh jari-jari gadis itu sekilas sebelum berjalan kembali ke arah para pekerja. "Kita harus pastikan taman ini jadi tempat paling indah di kota ini. Tempat yang mengingatkan kita pada hari ini."
Dara tersenyum bahagia, mengangguk mantap, lalu mengikuti langkah Raka dari belakang. Di bawah langit yang sama, matahari bersinar semakin terang, seolah menjadi saksi bisu dimulainya kisah cinta yang indah, kuat, dan kokoh seperti bangunan yang sedang mereka bangun bersama.